Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 25


__ADS_3

Zea mengoceh sepanjang jalan. Burhan tidak menemani Lingga sejak pagi. Lelaki tampan itu mengendarai mobil sendiri.


Jika Zea berbicara sepanjang jalan, Syam hanya terdiam. Anak kecil laki-laki itu hanya memandangi jalanan yang macet.


Ponsel Lingga berdering. Ia pun mengambil ponselnya, ada panggilan masuk dari sang mama. Lingga memasang bluetooth headset.


[Hallo ma?]


[Hallo Ga? Di mana?]


[Di jalan, habis jemput Zea. Kenapa?]


[Kamu jemput Zea?]


[Iya Ma. Udah bilang kok sama Tante Helen sama Om Glen. Besok kan Lingga udah mulai ke kantor. Jadi ya, Lingga puas-puasin main dulu]


[Iya sih. Ajak sekalian Zea ke sini Ga. Mama masak banyak hari ini. Ya?]


[Eum...iya Ma]


[Oke, mama tunggu ya? Bye...?]


[Iya Ma]


Lingga meletakkan headset nya lagi. Lalu ia melihat Syam dari kaca spion.


"Ze, mama minta ajak kamu ke rumah. Mau kan?"


"Mau lah bang. Ajak Syam sekalian ya?",rayu Zea. Syam yang merasa di sebut namanya langsung menolak.


"Ngga. Aku mau pulang." Meski dengan nada datar, Lingga tahu apa yang di cemaskan Syam.


"Nanti Abang yang bilang sama Kak Galuh, kamu ikut ke rumah Abang sebentar ya?",ajak Lingga lagi.


"Tidak terima kasih. Tapi saya mau pulang saja. Lagi pula, tidak baik pulang sekolah mampir-mampir. Kata kak Galuh seperti itu!"


Lingga menghela nafas. Nasehat Galuh memang benar, tapi tidak selalu seperti itu konteks nya. Toh ini tidak tiap hari.


"Abang telpon kak Galuh dulu kalo gitu. Kalo emang kak Galuh ngga ngijinin, Abang antar kamu pulang Syam."


Syam tak menyahut apa pun. Sedang Zea sendiri cemberut karena belum tentu Syam mau ikut dengannya.


Lingga menghubungi istrinya yang sedang istirahat di kamar. Dia memang cukup lelah tapi tidak sampai yang lemas sekali.


Galuh hanya butuh istirahat sebentar. Setelah itu, tenaga nya akan kembali pulih. Dan gadis itu akan kembali beraktivitas seperti biasa.


Ponsel Galuh berdering nyaring. Galuh yang sedang rebahan pun mengambil ponselnya di atas nakas.


[Hallo, assalamualaikum]


[Eum... walaikumsalam, Luh.]

__ADS_1


[Kenapa mas? Kalian sudah sampai? Syam mana?]


[Aku mau ajak Syam ke rumah ku. Tadi mama ku telpon katanya mau ketemu sebentar. Ngga apa-apa kan? Sama Zea kok ke sananya. Nanti aku bawa Syam pulang kok. Aku ngga bakal culik Syam!]


Galuh menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Mana mungkin dia akan percaya begitu saja pada ucapan seseorang yang baru ia temui lagi sejak bertahun-tahun yang lalu meskipun dia suaminya sendiri.


[Luh, aku janji kok. Cuma sebentar]


[Memangnya di mana rumah mama kamu?]


[Rumah mama mertua kamu juga Luh]


Galuh memutar bola matanya malas. Mungkin dia satu-satunya nya menantu yang tidak tahu siapa mertuanya. Nama mertuanya saja tidak tahu, boro-boro rumahnya. Pernikahan aneh!!!


[Tapi jangan lama-lama!]


[Iya, aku janji. Makasih ya Luh!]


[Heum]


Lingga pun mematikan ponselnya. Zea sangat girang akhirnya Syam ikut ke rumah tantenya.


"Hore, kak Galuh ijinin kan??",Zea bertepuk tangan girang. Syam sendiri hanya melipat kedua tangannya di dada.


Beberapa menit berlalu, mobil Lingga sudah berhenti di depan sebuah rumah mewah. Rumah milik keluarga Arya.


"ayo turun!",ajak Lingga kepada kedua adiknya. Adik ipar dan juga adik sepupunya.


Gita mendengar suara mobil dia pun bergegas keluar untuk membukakan pintu.


"Ma...!",sapa Lingga saat ibunya membuka pintu.


"Hai Tante!",sapa Zea.


"Hai sayang!",Gita menyalami Zea dan memeluknya.


"Lho, ini siapa?",tanya Gita.


"Temen ku Tante!", kata Zea. Syam pun mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Gita. Gita tertarik dengan kesopanan Syam.


"Ya udah, cuci tangan dulu yuk kita makan bareng-bareng!"


Syam sempat ragu, tapi melihat kakak iparnya memberi kode Syam pun ikut masuk meski terpaksa.


Setelah cuci tangan, mereka berempat duduk di meja makan. Zea tampak antusias sekali kali ini. Biasanya dia paling malas jika di suruh makan. Tapi karena ada Syam, dia jadi bersemangat.


"Sebentar ya, mama panggil papa dulu!", Gita meninggalkan ruang makan untuk memanggil suaminya.


Mereka bertiga menunggu Arya lebih dulu sebelum memulai makan. Bagaimana pun juga, Arya adalah orang tua yang harus di hormati dan di dahulukan.


Selang beberapa menit, Gita dan Arya berada di meja makan. Tatapan Arya langsung beralih pada ketiga bocah yang ada di meja makan.

__ADS_1


"Hai Om!",sapa Zea riang.


"Hai Ze. Di jemput sama Abang mu?",tanya Arya basa basi entah menyindir Lingga yang menunda masuk ke kantor.


"Iya om, Zea bawa temen Zea ngga apa-apa kan om?"


"Heum, iya!",jawab Arya datar. Gita menyendokkan nasi uduk suaminya lebih dulu. Baru ia mengambilkan untuk anak bungsunya dan keponakannya.


"Siapa tadi ya namanya nak? Tante lupa!",Tanya Gita saat akan mengambil lauk untuk Syam.


"Arsyam Tante!",jawab Syam. Tangan Gita melemas beberapa saat. Dan Arya sendiri menghentikan aktivitas makannya beberapa detik, itu yang Lingga lihat.


"Oh, iya. Syam! Mau lauk apa ?",tanya Gita dengan suara yang cukup bergetar.


"Apa aja Tante!",jawab Syam tenang. Iya lah, dia juga sadar diri. Meskipun Tante Gita orang kaya, tapi tetap saja kan Syam sedang numpang makan di sini. Tidak sopan rasanya kalau pilah pilih semaunya sendiri.


Arya melirik ke arah Syam. Membaca name tag yang ada di seragam Syam.


Arsyam N.S.


Arya membaca nama itu. Entah pikiran dari mana, sampai Arya berani bertanya pada Syam. Padahal selama ini dia hampir tak begitu dekat dengan anak kecil. Hanya Zea yang mau dekat dengannya. Yang lain, takut padanya.


"Syam?", panggil Arya. Semua yang ada di situ menoleh ke arah Arya.


"Ya om?", Syam menghentikan makannya.


"Siapa nama lengkap kamu?",tanya Arya. Gita menoleh ke suaminya. Gita mungkin menyadari jika suaminya pasti sedang mengingat almarhum putra bungsu mereka.


"Arsyam Nadir Saputra, om!",jawab Syam dengan tenang. Arya dan Gita sama-sama terpaku.


Nama Syam, sama persis dengan nama anak mereka meskipun sudah tidak ada di dunia ini.


"Usia kamu?",tanya Arya lagi.


"Lagi makan Pa, kenapa di tanya terus!", kata Lingga. Sebenarnya Arya ingin marah, tapi ucapan Lingga memang benar. Dan seharusnya, Arya tak menanyakan itu. Sudah jelas bukan dia teman Zea, itu artinya dia baru tujuh tahun. Itu artinya....


"Papa sudah selesai."


Arya langsung bangkit menuju ke kamar nya lagi. Dia menghubungi seseorang.


[Hallo!]


[.....]


[Cari tahu di mana alamat anak kecil bernama Arsyam Nadir Saputra, dia sekolah di SD Xxx kelas 1]


[.....]


[Heum!]


Arya mematikan ponselnya. Ia ingin mencari tahu apakah Syam adalah bayi yang ia beri nama waktu itu. Seandainya iya, sudah pasti dia adalah adik dari gadis yang menjadi pendonor ginjal istrinya. Arya tak mau istrinya mengetahui tentang hal itu.

__ADS_1


__ADS_2