
"Lho...sepi? Pada ke mana? Katanya Puja pulang?", monolog Helen saat memasuki rumah kakaknya.
"Helen?", panggil Arya yang melihat adik iparnya seperti sedang mencari-cari sesuatu. Di belakang Helen, Glen dan Zea menyusul.
"Mas, mba Gita ke mana ya? Terus puja dan sekeluarga juga? Di mana mereka? Bukannya pada pulang?", cerca Helen.
Arya tak langsung menjawab, dia memilih duduk di sofa. Helen serta Glen dan Zea mengintil di belakangnya.
"Mereka pergi?!", jawab Arya singkat.
"Pergi? Pergi ke mana? Liburan kok ngga ngajak-ajak!", kata Helen.
Arya tersenyum miris.
"Ke kampung menantunya!", sahut Arya sambil membaca tabloid bisnisnya. Akhir pekan, dia memang biasa di rumah. Jika biasanya Gita yang menemaninya, sekarang justru adik ipar dan keluarganya.
"Maksudnya ke kampung Galuh, mas?", Helen meminta kejelasan.
"Huum!", gumam Arya.
"Kok bisa mereka ke sana? Puja dan Vanes juga?", tanya Helen lagi.
"Iya!", jawab Arya singkat.
"Kenapa mas Arya ngga ikut?", tanya Glen. Zea memilih diam.
"Menurut mu?", tanya Arya balik tanpa menatap Glen dan masih membuka-buka tabloid nya.
"Mas! Lingga sekarang sudah hebat. Dia sukses tanpa campur tangan mas Arya!", ujar Glen. Helen menoleh singkat pada suaminya.
"Ckkkk apa yang dia punya sekarang belum seberapa andai mau jadi ahli waris ku Glen!", Arya membuka halaman demi halaman.
"Mas, untuk ukuran anak muda seusia Lingga, pencapaiannya sudah sangat tinggi. Bahkan dia bisa menguasai beberapa aspek bisnis. Dari bisnis industri pertanian, bahan bangunan bahkan minimarket dan kafe. Apa bukan hebat itu namanya mas?"
__ADS_1
Glen memberitahu kakak iparnya jika keponakan dari istrinya itu bukan lah lelaki biasa.
"Lalu aku harus apa Glen? Standing aplouse? Bagiku...selama dia masih tidak menurut apa perintah ku dan rencana yang sudah ku susun untuk masa depannya, dia masih rendah di mataku!"
Arya memang mengatakan dengan pelan, tapi tidak bisa di ragukan lagi jika gaya bicaranya memang penuh penekanan.
"Tapi...!"
"Apalagi dia memberikan keturunan dari bibit bebet bobot yang tidak sepadan dengan keluarga kita."
Hati Helen merasa teremas. Dia ingat betul jika suaminya juga memiliki darah daging dari kalangan biasa yang tak lain adalah adik ipar dari keponakan kesayangannya.
Helen takut! Pemikiran mertuanya tak seperti Arya. Bagi keluarga suaminya, memiliki cucu laki-laki adalah sebuah kebanggaan dan keharusan. Helen takut jika keluarga suaminya ada yang tahu jika Glen memiliki anak selain Zea, terlebih dia laki-laki, keluarganya akan menghempaskan Helen dan Zea. Walaupun... Glen sudah sering kali mengingatkan jika dia tidak akan melakukan apa yang Helen pikirkan.
"Kalau Mba Gita ke kampung sana, berati...dia sudah tahu kondisi Lingga sekarang?", tanya Helen.
"Ya!"
Glen tak lagi berani berkomentar. Dia takut jika nanti istrinya akan kembali marah padanya.
.
.
Suasana seperti ini membuat angel yang terbiasa hidup di luar negri merasa sangat antusias. Dia merasa sedang piknik di pegunungan. Padahal...memang tempat tinggal unclenya di tempat seperti ini.
"Kak!", panggil Syam.
"Apa dek?",Galuh menoleh. Syam pun berbisik kecil pada kakaknya.
"Tanya Abang, kalo sama Abang boleh, berati sama kakak boleh. Tapi kalo Abang ga ngijinin, Kakak juga ngga!", kata Galuh. Karena dia duduk di antara adik dan suaminya.
"Apa?", tanya Lingga yang mendekat ke arah Syam tapi tepat di depan perut Galuh.
__ADS_1
"Pengen beliin ps bang, tadi abis badminton main PS seru deh bang. Boleh ya bang?", rengek Syam manja.
Gita dan yang lain tersenyum melihat sikap manja Syam pada Lingga.
"Heum? Kamu kan punya uang!", kata Lingga.
"Punya ,tapi kan Syam ngga bisa beli nya ke sana kalo ngga sama Abang. Ya kan???",Syam masih dalam mode merayu.
"Heum! Oke! Nanti kita beli, sekalian ajak Angel. Gimana An? Mau ikut uncle sama Syam?", tawar Lingga.
"Kemana Uncle Hans?"
"Ke pusat pertokoan elektro di kabupaten kota sana."
"Eum....boleh deh!", kata Angel.
"Aku ngga ikut lho bang!", tolak Galuh lebih dulu.
"Aneh, kebanyakkan cewek suka belanja kok kamu malah ga mau. Apa capek karena perut nya udah besar?", tanya Gita. Galuh menggeleng kecil.
"Menantu mama ini paling susah di ajak ke mall ma. Beli baju aja, Lingga yang beliin. Beruntung sekarang banyak marketplace yang cod-an."
"Ngga gitu juga kali bang?!", kata Galuh. Suasana akrab begitu terasa di sana. Diam-diam Salim mengambil foto candid kebersamaan Gita dengan anak dan menantunya.
Salim mengirimkan foto itu pada Arya di kota sana.
Ting!
Pesan masuk dari supir pribadinya. Arya langsung membuka pesan gambar tersebut.
Digambar itu, terlihat Gita tertawa lepas. Begitu pula dengan anak dan menantunya. Seolah-olah seorang Gita tak memiliki beban apa pun. Padahal dia memiliki suami yang masih butuh ia perhatikan.
Jemari nya meremas melihat keakraban mereka. Antara iri dan gengsi melebur menjadi satu yang membuat seorang Arya semakin angkuh.
__ADS_1
***
kapan sadar nya nih bapak???