Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 174


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Acara doa bersama di kediaman megah milik Arya sudah selesai. Semua kembali ke aktivitas seperti semula.


Puja dan Vanes sibuk dengan perusahaannya masing-masing juga Angel yang memilih berada di asrama setelah memutuskan untuk sekolah di sekolah Islam terpadu. Puja benar-benar ingin berubah dan mengarahkan keluarganya menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.


Tak jauh berbeda dengan keluarga Lingga. Mereka semua tengah mempersiapkan pernikahan Sekar dan Salim. Meski terbilang sederhana, tetap saja mereka menyiapkan segala sesuatunya. Apalagi, mereka tinggal di kampung dan cukup di kenal. Kenalan Lingga pun tidak sedikit. Mengingat sebelumnya, banyak yang berharap bisa mendekati ibu mertuanya makanya Lingga mengundang rekan-rekan bisnisnya yang pernah berusaha mengambil hati Sekar.


Bukan ingin pamer, tapi hanya ingin menunjukkan bahwa ibu mertuanya sudah tak sendiri. Jadi tak ada harapan untuk mendekati ibu mertuanya lagi.


Halaman yang luas di sulap menjadi pelaminan sederhana yang akan di gunakan untuk acara akad dan mini resepsi karena Sekar merasa malu melihat usianya yang tak lagi muda.


.


.


.


"Ibu cantik banget!", puji Galuh memeluk Sekar dari belakang dan menatap cermin. Sekar tersenyum tipis.


"Kak!", bisik Sekar.


"Heum? Kenapa Bu? Deg-degan ya?", tanya Galuh.


"Ibu sudah mengkhianati bapak kamu!", kata Sekar dengan mata yang mengembun.


"Astaghfirullah! Kenapa atuh ibu ngomong kaya begitu?", tanya Galuh.


"Ibu...ibu udah ngga setia lagi sama bapak kamu!", kata Sekar menunduk meremas jemari lentiknya.


Galuh berjongkok di hadapannya.


"Bu, ibu ngga pernah mengkhianati bapak. Ibu berhak melanjutkan masa depan ibu. Justru ibu sangat setia Bu. Bertahun-tahun bapak meninggal, ibu baru bisa membuka hati ibu untuk orang baru dalam hidup ibu!", Galuh mengecup punggung tangan Sekar.


Sekar terdiam.


"Insyaallah mang Salim adalah orang yang tepat untuk menemani ibu. Kakak tahu, bapak tidak akan pernah tergantikan di hati ibu. Begitu pula dengan Kakak. Tidak ada yang bisa menggantikan beliau!"


Mendadak Galuh merasa cengeng tapi dia tersenyum.


"Bu, kakak bahagia kalau ibu bahagia. Jadi jangan bersedih seperti ini. Ibu ngga pernah mengkhianati bapak! Ya?"


Sekar akhirnya mengangguk tipis. Ia berusaha tersenyum hingga ketukan pintu membuat sepasang ibu dan anak itu menoleh.


Syam masuk ke kamar ibunya dengan wajah sumringah.


"Ijab kabul udah selesai Bu, ayo ajak ibu keluar kak!", pinta Syam. Sekar melebarkan matanya.

__ADS_1


"Apa dek? Udah selesai?", tanya Sekar. Syam mengangguk dan tersenyum lagi.


Terlihat sekali jika bocah itu bahagia.


"Iya... Nyonya Ahmad Salim Supriatna!", ledek Syam. Galuh terkekeh mendengar ledekan Syam pada ibunya.


"Jangan gitu dek, nanti nyonya Salim mekar hidungnya!", tambah Galuh yang semakin membuat Sekar salah tingkah. Tapi setelah itu justru ia merasa terharu.


Sekar memeluk dua buah hatinya itu. Terdengar isakan kecil dari bibir Sekar.


Syam dan Galuh membalas pelukan sang ibu. Mereka bahagia sekaligus terharu. Baik Galuh atau Syam mengusap punggung Sekar yang berbalut gamis lebar berwarna putih.


Ya, Sekar tak ingin memakai kebaya. Mungkin terlalu sadar jika dirinya tak lagi muda.


"Jangan nangis dong Bu, nanti make up ibu luntur!", celetuk Syam.


Perlahan Sekar melepaskan pelukan kedua anaknya. Sekar menjewer telinga Galuh dan Syam bersamaan.


"Awshhh....ibu!", pekik keduanya. Untung Galuh memakai hijab jadi tak terlalu berasa.


"Kalian seneng banget meledek ibu!", tukas Sekar yang tentu saja tak benar-benar menjewernya.


Tapi setelah itu ia mengusap puncak kedua anaknya bersamaan.


"Terimakasih sudah jadi anak-anak ibu!", lalu ia merangkul Galuh dan Syam di sisi keduanya.


Tiba-tiba pintu terbuka, muncul sosok Gita dan Vanes yang masuk ke dalam kamar Sekar. Di susul oleh Angel dan Zea juga Helen.


Ketiga orang itu menoleh ke arah pintu yang sudah di penuhi oleh kerabatnya.


"Ayo Sekar, suami kamu udah nunggu lho!", kata Gita. Gita tersenyum malu mendengar kata 'suami kamu' dari mulut Gita.


"Adek ngga bohong kan Bu!", kata Syam. Sekar mengusap bahu Syam dan mengiyakannya.


Tapi saat mata Sekar bertemu dengan mata Helen yang tengah menatapnya. Istri dari ayah kandung Syam itu tersenyum menatap Sekar. Sekar pun membalas senyuman perempuan cantik itu.


Syam dan Galuh menggandeng lengan Sekar di sisi kanan kirinya menuju ke halaman rumah yang sudah disulap.


Semua mata tertuju pada sosok cantik yang di apit kedua anaknya. Salim yang sudah selesai melakukan ijab kabul menatap takjub wajah Sekar yang di poles tipis tapi tetap membuat nya semakin cantik meski bukan gadis berusia dua puluhan lagi.


Beberapa detik berlalu hingga Sekar sudah berdiri di samping Salim. Keduanya saling memandang dengan rasa kagum versi mereka.


Sekar mengulurkan tangannya untuk mengecup punggung tangan Salim, baru setelah itu ia mengecup puncak kepala Sekar.


Syam di temani Glen yang ternyata sudah sejak tadi berdiri di sampingnya. Tangan Glen merangkul bahu Syam. Syam mendongak menatap ayah kandungnya. Kedua pasang mata itu saling menatap. Syam melihat senyum paksa yang Glen tunjukan pada nya.

__ADS_1


Aku tahu apa yang ada di hati papa, tapi ini yang terbaik! Jangan ada hati lain yang nantinya akan terluka lagi. Cukup aku! Batin Syam membalas senyuman Glen.


Galuh memeluk pinggang Lingga. Ibu satu anak itu terharu melihat ibunya akhirnya bisa kembali membuka hatinya setelah bapak nya meninggal.


"Kok malah mewek?", bisik Lingga. Ganesh di pegang oleh Arya. Lelaki itu sangat merindukan cucu lelakinya tersebut sejak ia ke Jakarta beberapa hari lalu.


"Terharu Abang!", jawab Galuh lirih.


"Tapi seneng kan?", tanya Lingga. Galuh mengangguk.


"Ya udah kalo seneng mah jangan mewek dong!"


"Iya-iya!", sahut Galuh.


Acara demi acara pun usai. Hingga menjelang siang, semua tamu sudah tidak ada di rumah Sekar kecuali keluarga dan pekerja yang memang membantu acara tersebut.


"Udah azan dhuhur, sholat dulu Bang!",pinta Galuh pada suaminya.


"Iya, ambil Ganesh dari papa. Abang mau ajak papa solat juga!"


Galuh pun menghampiri mertuanya yang sedang bercengkrama dengan pengantin baru. Terlihat Glen juga turut bergabung di antara mereka.


Lingga mengajak papanya ke mushola yang ternyata di ikuti oleh kaum Adam yang lain termasuk Salim sendiri.


"Nesh, ayah ke mushola dulu ya!", kata Lingga menguyel-uyel pipi Ganesh.


"Iya Ayah!", sahut Galuh mewakili Ganesh. Lingga tak menjawabnya tapi tangannya masih fokus pada pipi sang putra.


"Aku juga udah mulai sholat ntar!", kata Galuh tersenyum. Lingga yang awalnya fokus pada Ganesh pun tersenyum smirk.


"Heum! Kode di terima dengan baik, ibu negara!", kata Lingga. Lalu keduanya pun terkekeh bersama.


Lingga pun mengekor di belakang Arya, Puja, Salim,Surya dan Glen serta Syam. Mereka benar-benar seperti keluarga dekat yang terhubung satu sama lain. Padahal...tak semuanya memiliki hubungan darah yang sama.


Tapi namanya hubungan kekeluargaan, sebaiknya memang seharusnya di rawat dengan baik agar tak terjadi perselisihan.


Berhubung tidak ada kaum Adam di rumah, orang-orang Arya berada di sekitar rumah Sekar.


Sebenarnya tidak berharap hal buruk, tapi yang namanya waspada tetaplah perlu untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.


*****


14.59


Lanjut nanti lagi. Udah sah aja tuh kan??? Skip ijab qobul sama malam pertama mereka ya ✌️✌️✌️

__ADS_1


Serius, jangan minta yak 🤭🤭🤭✌️✌️✌️🙈


Terimakasih banyak-banyak 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2