
Surya menyuruh para cucunya untuk melihat bayi Galuh lebih dulu karena lebih dekat dengan arah mereka tadi.
Dinding kaca bening memperlihatkan beberapa bayi yang sama-sama sedang berada di inkubator.
"Bayi kak Galuh yang mana?", tanya Syam.
"Itu Bang, ada namanya Ganesh Rajendra Mahaputra/Galuh Prastian", tunjuk Zea pada sebuah kotak kaca berisi bayi mungil sekali.
"Kecil banget!", kata Syam yang berdiri bersebelahan dengan Zea.
"Namanya bayi prematur karena dia lahir sebelum waktunya lahir. Makanya dia kecil mungil begitu dan perlu waktu cukup lama untuk dirinya agar siap di dunia luar seperti bayi pada umumnya karena organ tubuhnya belum sesempurna bayi yang lahir cukup bulan", kata Salim.
Surya, Glen dan dua bocah itu menoleh bersamaan pada Salim. Salim sendiri menggaruk tengkuknya.
"Tahu dari internet saya mah!", katanya tanpa di tanya. Keempatnya pun hanya mengangguk pelan.
Zea menatap bayi kecil yang di pasang beberapa alat di anggota tubuhnya.
Ada rasa sesal di sudut hati gadis kecil itu. Andai kata dia tak kasar dengan mendorong Syam dan Galuh, mungkin bayi itu masih bisa berkembang dengan baik di perut Galuh.
Alih-alih senang melihat Ganesh, Zea justru terisak pelan. Syam yang menyadarinya pun menoleh pada gadis kecil itu.
"Kenapa?", tanya Syam datar.
Zea hanya menggeleng. Ingin rasanya ia cepat-cepat meminta maaf pada Galuh.
"Kamu menyesal sekarang sudah mendorong kami?", tanya Syam dengan mode juteknya lagi. Zea mendengus pelan.
Tebakan Syam benar, tapi ngga usah diingatkan lagi dosanya juga kan???
"Udah, yang udah berlalu ya udah. Ambil aja hikmahnya! Setidaknya... kita bisa lebih cepat ketemu sama dedek Ganesh!", kata Syam bijak yang juga di dengar oleh para orang tua di belakangnya.
"Kak Galuh sama abang pasti marah banget sama aku ya bang ...eh...Syam!", kata Zea.
"Pasti!", sahut Syam.
Nyali Zea menciut.
"Kak Galuh orangnya bawel. Jarang marah. Tapi sekalinya marah, issshhh...serem! Bang Lingga aja sampai takut kalo sampai bikin kakak marah!", kata Syam meyakinkan Zea.
Gadis kecil itu semakin ketakutan.
"Opa??!", rengek Zea pada Surya.
"Jangan di takut-takuti begitu dong Bang! Kasian adik kamu ini yang udah siap mental buat minta maaf sama kak Galuh!", kata Surya menasehati Syam.
Tapi Syam tak menyahuti, dalam hatinya ia juga tertawa. Kakaknya memang bawel, tapi dia yakin jika Galuh akan dengan mudah memaafkan Zea.
"Semoga saja Kakak mau maafin kamu Ze!", kata Syam yang meninggalkan Surya, Zea dan Glen. Tapi tangannya menggandeng Salim.
"Mang Salim tahu kan ruangan kakak?", tanya Syam sambil berjalan mendahului ketiga orang di belakangnya. Salim pun mengangguk.
Mau tak mau, Glen dan yang lain mengekor di belakang Syam dan Salim.
Glen cukup iri saat melihat Syam sedikit lebih akrab dengan Salim. Padahal setahu dirinya, Salim pun baru-baru ini mengenal Syam.
Lima menit berjalan, mereka sudah sampai di depan ruangan Galuh. Saat tangan Syam terulur untuk membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.
"Ibu!", panggil Syam.
__ADS_1
"Lho, adek? Sama siapa?", tanya Sekar saat melihat keberadaan putra kecilnya.
"Tadi pulang sekolah di jemput mang Salim, langsung ke sini!", jawab Syam. Sekar beralih pada sosok yang ada di belakang Syam.
"Terimakasih mang Salim!", kata Sekar tulus.
"Sama-sama, Bu Sekar!", kata Salim.
Lalu beberapa saat kemudian, Sekar melihat ayah dari putranya serta anak dan bapaknya berjalan menuju ke arah mereka.
Sekar masih terus berusaha menenangkan dirinya agar traumanya tidak lagi datang tiba-tiba. Dia harus menerima kondisi saat ini. Semua sudah membaik! Batin Sekar.
Untuk sepersekian detik, mata Sekar dan Glen bertemu. Tapi dengan segera, Sekar memutuskan pandangannya tersebut.
Dia tak ada maksud apapun, perempuan yang menuju empat puluh tujuh tahun itu hanya sedang mencoba untuk menghilangkan rasa trauma dan takutnya pada sosok lelaki yang sudah melecehkannya dulu.
Jika pemikiran Sekar seperti itu, beda lagi dengan pemikiran Glen. Lelaki berparas tampan itu tak bisa menghilangkan rasa bersalahnya saat mengingat betapa bejatnya dirinya saat itu. Setiap melihat wajah cantik Sekar, Glen pasti.... sudah lah! Tak usah di bahas!
"Permisi Sekar, kami mau menjenguk Galuh. Boleh?", tanya Surya. Sekar mengangguk pelan.
"Silahkan, tuan!", jawab Sekar.
Glen mengangguk pelan saat melintas di depan Sekar, begitu pula sebaliknya. Sungguh! Ikatan keduanya hanya karena Syam, selebihnya mereka tak mengenal satu sama lain.
Giliran Salim yang berada di luar dengan Sekar.
"Mang Salim ikut masuk aja ngga apa-apa!", kata Sekar.
"Ngga apa-apa Bu, nanti saja. Gantian! Saya di sini saja, Bu!", kata Salim. Sekar menghela nafas lalu menoleh ke dalam dimana Galuh yang sedang di kelilingi oleh Syam dan Zea. Tapi setelah itu, Sekar justru keluar dan menutup pintu ruangan Galuh.
Salim sempat bingung, tapi dia mencoba memahami kondisi Sekar yang memang pastinya akan merasa canggung saat bersama ayah biologis Syam.
"Atuh boleh Bu, silahkan!", kata Salim berdiri mempersilahkan. Tapi justru Sekar menautkan alisnya.
"Kenapa mang Salim berdiri?", tanya Sekar.
"Em...ngga enak saya Bu, saya teh supir besan ibu! Sama aja atuh ibu teh majikan saya!", jawab Salim yang segan duduk bersebelahan dengan Sekar. Meski dalam hatinya ia menginginkannya.... oopss!
Sekar tersenyum tipis.
"Duduk saja Mang. Kita sama aja lah, ngga ada istilah begitu. Toh yang majikan mang Salim kan pak Arya dan Bu Gita, bukan saya. Saya mah apa atuh!", kata Sekar. Salim menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jadi, boleh saya duduk di sini?", tanya Salim. Sekar pun mengangguk. Lagi pula, bangkunya terdiri dari lima tempat duduk. Keduanya juga duduk berjauhan, tapi Salim nya saja yang sungkan. Sedang Sekar sendiri tak pernah mempermasalahkan. Dan, ya ...Salim duduk di ujung bangku seperti halnya dengan Sekar.
Setelah itu, obrolan ringan pun berlanjut di antara keduanya. Sekar yang selama ini tak pernah dekat dengan laki-laki dewasa selain menantunya pun merasa nyaman bercerita dengan Salim yang ternyata sudah lama bekerja dengan keluarga Arya. Perlahan, rasa trauma dan ketakutan itu akan pudar. Apalagi, Sekar bisa melihat jika Salim begitu menjaga jarak dengan dirinya. Itu artinya, lelaki itu menghormati dirinya.
Beralih ke kamar Galuh.....
Galuh menatap Syam dan Zea bergantian. Jika Syam seperti biasanya, memasang muka datar, Zea justru memasang wajah pucat.
Galuh menyapa Surya dan Glen dengan anggukan ringan sebagai tanda hormat pada orang yang lebih tua darinya. Perempuan yang baru melahirkan itu justru heran pada sikap Zea yang sepertinya sangat ketakutan dan berwajah begitu pucat.
"Katanya mau ngomong sama kakak, gera ngomong??", kata Syam ketus. Galuh menoleh cepat pada adik nya itu.
"Adek, sering kakak bilangin jangan ketus begitu. Ngga boleh!", tegur Galuh. Surya dan Glen saling menukar pandangan.
"Abang aja yang ngomong!", kata Zea dengan suara bergetar.
"Ogah!!!", kata Syam.
__ADS_1
"Adek!", tegur Galuh lagi. Dia juga bingung saat Zea memanggil Syam dengan sebutan 'abang'. Apa ada yang Galuh lewatkan????
"Kak!", kata Zea dengan suaranya bergetar.
"Kenapa Ze?", tanya Galuh pelan.
"Zea...min-min-min....!", kata Zea tersendat.
"Man min Man min!", sela Syam. Galuh melotot tajam pada adiknya yang jarang bicara banyak, tapi sekalinya ngomong suka ngeselin. Tapi akhir-akhir ini sejak kedatangan Arya, Syam jauh lebih banyak bicara tidak pendiam seperti dulu.
"Adek! Kakak ngajarin sopan santun sama kamu ya, jangan kaya gini. Kakak ngga suka!", kata Galuh. Syam pun mengangguk pelan.
"Zea mau ngomong apa?", tanya Galuh beralih pada Zea.
"Zea minta maaf kak. Zea udah bikin kak Galuh kaya gini! Zea nyesel. Maafin Zea kak hiks...hiks....!", kata Zea terisak-isak.
"Sssssttt....udah Zea! Kakak udah maafin Zea, kakak tahu Zea ngga sengaja! Udah ya, ngga usah nangis!", Galuh mengusap bahu Zea yang terguncang.
Kamu memang sangat baik, Luh! Batin Glen dan Surya.
"Bener kakak maafin Zea?", tanya Zea. Galuh mengangguk pelan.
"Iya, benar sayang. Nggak apa-apa. Yang penting sekarang kakak dan adik bayi sehat kan? Bahkan.... karena peristiwa ini, kita bisa lebih cepat ketemu sama adik bayi", jawab Galuh sambil tersenyum.
Kok omongannya sama kaya Syam??? Batin Glen, Surya dan Zea.
"Makasih ya kak!", Zea menghambur memeluk Galuh. Tapi karena terlalu kencang, Galuh justru merintih.
"Awshh....!", rintihan Galuh terdengar oleh Syam.
"Kenapa kak? Sakit ya? Ze, jangan kenceng-kenceng dong Ze!", kata Syam. Zea melepaskan pelukannya dari Galuh.
"Maaf kak!", kata Zea.
"Udah, ngga apa-apa Ze. Jahitannya belum kering jadi masih nyeri sedikit!", kata Galuh.
"Sekali lagi maaf ya kak! Tadi nya Zea takut mau minta maaf, soalnya bang Syam bilang Kakak itu galak!", adu Zea. Mata Galuh menatap tajam pada Syam yang cengar-cengir.
"Syam bilang Kakak galak?", tanya Galuh tanpa mengalihkan pandangannya dari Syam.
"Iya, tanya aja papa atau Opa. Tadi Syam bilang begitu kak. Katanya kakak jarang marah, tapi sekalinya marah serem. Abang aja sampai takut kalo bikin kak Galuh marah."
"Oh ya, Syam bilang begitu?", tanya Galuh. Zea mengangguk cepat.
"Adek!",panggil Galuh geram.
"Bercanda kak, ya ampun! Zea aja yang percaya di takut-takuti kaya gitu!", kata Syam.
"Oh, jadi Abang cuma nakutin aku?", tanya Zea. Syam hanya mengedikkan bahunya.
"Nanti kalo Kakak udah sembuh, kakak bakal hukum kamu dek karena bilang kakak galak!", kata Galuh pada adiknya itu. Syam sendiri hanya cengengesan dan suatu hari dia akan menerima hukuman dari kakaknya tersayang.
*******
Arya belum beraksi nih....sabar ya ....✌️✌️✌️
Gara2 kebijakan baru NT, jadi agak uring-uringan nih. Bikin down aja! Kasih semangat dong Mak othor nya 😭😭😭
sebenarnya udah di up dari sebelum Maghrib, tapi ngga tahu tumben proses review editor masih on proses.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir 🙏✌️🙏