
"Syam, boleh kakek peluk Syam?", tanya Surya. Syam menoleh pada kakak dan ibunya, melihat ibunya dan kakaknya tidak bereaksi ia menoleh pada kakak iparnya yang sudah ia anggap Abang kandungnya sendiri.
"Boleh bang?", tanya Syam pada Lingga. Lingga hanya mengangguk tipis dan tersenyum yang hampir tak terlihat.
Sedekat itu kah hubungan mereka? Batin Surya.
Melihat Lingga mengijinkan Syam, anak tampan itu mendekati Surya yang duduk berhadapan dengannya.
Dengan cepat Surya memeluk tubuh bocah tampan itu. Ia mengusap kepala Syam dengan lembut. Terlihat jika Surya memang tulus menyayangi Syam meski hari ini adalah pertemuan mereka yang pertama.
Surya menyugar rambut Syam. Mengecup keningnya berkali-kali dengan mata berkaca-kaca.
"Seandainya nenek mu masih ada, kakek yakin dia akan sangat bahagia memiliki cucu setampan dan sebaik Syam!", ucap Surya.
Syam tersenyum tipis. Bahagia? Mungkin iya! Selama ini dia tak pernah merasakan seperti apa memiliki ayah, apalagi kakek dan nenek!
Tapi sekarang, seorang lelaki dewasa menyebut dirinya kakek padanya.
"Kakek tidak akan memaksa apapun sama Syam, tapi... kakek hanya minta Syam memanggil kakek. Karena kakek adalah kakek kandung Syam. Maafkan papa kamu yang sudah membuat mu jauh dari kakek selama ini! Kalau kamu tidak mau menganggap Glen papa kamu, tidak apa-apa. Tapi tolong, kakek mau...Syam sayang sama kakek. Huuum?", Surya menakupkan kedua tangannya di pipi Syam.
Syam yang terharu pun mengangguk pelan. Surya kembali memeluk tubuh kecil itu.
__ADS_1
"Iya ...ka-kek!", ucap Syam terbata.
Surya semakin mengeratkan pelukannya pada sang cucu. Galuh meraih bahu Sekar, Galuh tahu jika ibunya merasa cemburu.
"Ibu dengarkan? Om Surya tidak akan mengambil Syam dari kita!", bisik Galuh menenangkan ibunya. Sekar pun mengangguk pelan.
Galuh benar, Syam pun berhak tahu keluarganya siapa saja. Sekar tidak boleh egois hanya mementingkan keinginan sendiri.
Usai saling menghormati satu sama lain, baik Surya maupun keluarga Arya pun berpamitan. Jika Arya kembali ke Jakarta, Surya kembali ke hotel menemui Glen yang masih lemas karena wajahnya bonyok tak beraturan. Mungkin besok pagi atau siang, mereka baru akan kembali ke ibukota kota.
"Papa!", Syam memanggil Arya. Bukan hanya Arya yang berhenti, tapi juga Surya karena dia mendengar Syam menyebut papa, pada siapa?
Syam memeluk pinggang Arya. Tangan Arya terulur mengusap kepala Syam. Surya merasa sedih ternyata cucunya lebih dekat dengan orang yang sama sekali tak ada hubungan darah dengannya. Tapi....sebisa mungkin Surya berlapang dada.
"Papa akan kembali lagi ke sini kan?", tanya Syam mendongakkan kepalanya. Angel memutar bola matanya malas. Dia iri dengan Syam yang sekarang dekat dengan opa nya.
Arya tak langsung menjawab tapi menatap sang menantu yang juga sedang menatapnya dengan pandangan yang tak bisa diartikan.
"Papa akan kembali, dua Minggu lagi saat acara tujuh bulanan Kak Galuh!", jawab Arya tanpa mengalihkan pandangannya pada menantunya.
Mata Galuh berkedip sesaat tapi setelah itu ia tersenyum. Melepaskan rangkulan Lingga dari bahunya lalu berjalan ke arah Arya dan Syam yang sudah tak memeluknya.
__ADS_1
Dengan sedikit keraguan, Galuh meraih punggung tangan papa mertuanya yang selama ini dia pikir sangat membenci dirinya.
Nyatanya, itu semua hanya prasangka dari diri sendiri. Arya hanya takut akan menyayangi dirinya dan akan sangat sedih jika sudah terlanjur sayang padanya justru....Galuh akan meninggalkannya. Itu yang Galuh pahami.
Arya tak memberi penolakan. Adegan seperti di sinetron itu membuat haru yang ada di situ. Mungkin hanya Surya yang tidak tahu bagaimana hubungan keluarga mereka.
"Terima kasih pa, terimakasih. Jika papa ingin tahu keinginan terbesar Galuh selama ini apa? Ini jawaban dari doa-doa Galuh. Allah sudah menjawab doa-doa Galuh. Terimakasih, terimakasih papa sudah menerima kehadiran Galuh dan calon cucu papa! Terimakasih!", Galuh terisak pelan. Tapi tidak ada yang bisa menenangkannya hingga....
Arya mengusap pelan puncak kepala Galuh.
"Harusnya papa yang minta maaf!", kata Arya. Galuh mendongakkan kepalanya memastikan jika apa yang baru saja dia dengar keluar dari bibir papa mertuanya. Dan ia melihatnya sendiri, papanya tersenyum padanya.
Entah dimana kesopanan yang Galuh ajarkan selama ini pada Syam, Galuh reflek memeluk papa mertuanya. Ia menumpahkan tangis kebahagiaan di pelukan papa mertuanya.
(Bukankah papa mertua juga mahram, ya ga sih??? Maafkan ko salah tolong di luruskan 🙏🙏🙏)
Lingga pun tak kalah terharu. Bongkahan es batu di hati papanya sudah mencair.
*****
Dikit ya??? Ngga apa-apa kan 🤭🤭🤭
__ADS_1
Makasih