
Galuh sudah bangun sejak dini hari. Padahal dia baru tidur sekitar jam sebelas malam. Tapi ada kewajiban yang harus ia kerjakan. Karena pagi ini jadwal mengirim sayur ke pasar induk. Jadi dia juga harus memberikan uang jalan pada supir serta pekerja yang lain.
Sudah cukup rasanya kemarin beban itu ia berikan pada adik lelakinya yang bahkan baru akan menginjak usia remaja.
Tapi Lingga bilang, kelak bisnis sayur ini memang akan di teruskan oleh Syam. Kenapa?
Karena pada dasarnya Syam memang suka bercocok tanam, lalu minat bisnisnya sudah terlihat sejak ia masih kecil.
"Lho, mang Salim kok belum tidur?", sapa Galuh saat dirinya melewati dapur karena ingin ke kebun belakang di mana para pekerjanya sedang mengangkut sayur.
"Iya non, tadi mah udah tidur. Tapi ga tahu kenapa pengen bangun aja. Eh, pas keluar rame orang ngangkutin sayur ke mobil."
"Oh...maaf mang kalo keganggu."
"Ngga atuh. Kenapa non Galuh teh harus minta maaf!", kata mang Salim.
"Ya udah atuh, saya ke amang-amang itu dulu ya!", pamit Galuh. Salim mengangguk lalu mengamati obrolan antara Galuh dan pekerjanya.
Terlihat Galuh memberikan uang beberapa lembar pada salah satu dari mereka. Dan sepertinya mereka semua sangat menaruh hormat pada Galuh.
"Apa ada yang bisa saya bantu non?", tanya Salim.
"Ngga mang. Mending sekarang mang Salim mah istirahat aja. Saya juga mau ke kamar lagi kok. Tuh, masih jam dua pagi."
"Iya non."
.
.
Azan subuh bersahutan menggema di seluruh kampung. Galuh, Sekar dan Syam sudah selesai mengerjakan dua raka'at mereka.
Tapi.... mereka tak melihat para tamu mereka di pagi buta ini. Hanya mang Salim yang ada di dapur turut bergabung dengan tiga penghuni rumah tersebut.
"Mang Salim udah ngopi?", tanya Galuh.
"Udah bikin ini non!", jawab Salim. Galuh membuat teh untuk dirinya juga ibunya. Sedang Syam di buatkan susu.
"Assalamualaikum!", suara art masuk dari pintu dapur.
"Walaikumsalam!", jawab mereka semua tak terkecuali mang Salim.
__ADS_1
"Eh, neng Galuh teh udah pulang?", sapa si bibik yang bernama Mumun. Perempuan berusia empat puluh lima tahun dengan tubuh gempal dan berisi namun cekatan dalam melakukan pekerjaan rumah.
"Iya bik, pulang semalam", jawab Galuh.
Syam sudah siap dengan setelan olah raganya. Hari ini libur sekolah. Karena sejak pandemi dulu, pembelajaran di sekolah hanya dari Senin hingga Jumat saja. Jadi setiap Sabtu, Syam yang hobi bermain bulutangkis itu menghabiskan waktu liburnya untuk berolahraga.
"Kak, nanti Syam mau main ke kali ya?", pamit Syam saat akan meminumnya susu nya. Alih-alih meminta ijin pada sang ibu, justru anak lelaki tampan itu meminta ijin pada kakaknya. Apalagi jika abangnya di rumah, pasti dia akan meminta ijin pada Lingga.
"Tapi pulang nya jangan terlalu siang ya Syam!", kata Sekar.
"Iya, Bu. Nanti kalo udah beres main bulutangkis baru ke kali. Sebelum dhuhur insya Allah Syam udah pulang."
Sekar mengangguk. Ia tak mempermasalahkan jika Syam lebih meminta ijin pada kakaknya ketimbang dirinya.
Galuh sendiri juga memaklumi sikap adik beda ayah tersebut.
"Jangan lupa bawa minum. Mau bawa bekal ngga?", tanya Galuh.
"Bekal apa?", tanya Syam.
"Ada kue di kulkas. Atau buah-buahan? Yang penting air putih Syam?!"
"Bik Mumun, punten siapin bekal kue sama buah buat Syam. Jangan lupa minum nya ya Bik!", ujar Galuh.
"Siap neng!", sahut Bik Mumun yang langsung gercep menyiapkan bekal Syam.
"Mang, biasanya teh mama bangun jam berapa ya?", tanya Galuh pada Salim.
"Ngga tahu sih Non. Setahu saya mah siang. Apalagi tuan besar kan sudah lama ngga ke kantor pagi-pagi sekali. Soalnya di kantor sudah ada orang kepercayaannya. Jadi tuan besar datang ke kantor agak siang."
Galuh mengangguk. Usai sarapan alakadarnya, masing-masing melanjutkan kegiatannya. Syam pun berangkat ke lapangan badminton bersama teman-temannya menggunakan sepeda.
Bik Mumun juga melanjutkan acara masak-memasaknya. Apalagi ada tamu agung di rumah majikannya, jadi dia berniat masak yang lebih dari biasanya.
"Perlu dibantu teh?", tanya Salim.
"Eh, ngga usah kang. Saya biasa ngerjain sendiri. Kadang di bantu ibu kalo ngga neng Galuh sih."
Salim mengangguk.
"Teteh udah lama ikut kerja sama tuan muda? Eh maksudnya Mas Lingga?"
__ADS_1
"Eum, belom sih. Baru dua tahunan ini. Kenapa kang?", tanya Mumun.
"Oh, ngga sih. Kayanya teteh akrab banget sama non Galuh."
Salim meletakkan ponselnya di atas meja dekat dengan kopinya.
"Hehehe di sini mah semua juga akrab sama neng Galuh, sama den Lingga. Cuma den Syam aja yang emang pendiam jadi susah akrab."
"Kok bisa sih?", tanya Salim.
"Bisa atuh. Mereka mah baik sama semua orang. Mereka tuh ya, biarpun udah sukses seperti sekarang ngga lupa kalo mereka juga pernah susah."
"Oh ya? Masa sih susah? Mas Lingga itu anak orang kaya lho di kota."
"Iya kah??? Tapi pas baru ke sini mah mereka kaya kita-kita aja kok. Cuma ya ... mungkin karena keturunan orang pinter plus orang kaya sih, makanya bisa sukses kaya sekarang."
"Mungkin!", mang Salim menimpali.
"Dulu mah, rumah ini peninggalan almarhum bapaknya neng Galuh. Cuma gubug biasa deh. Tapi sama den Lingga, di bagusin pelan-pelan bahkan sampe kaya sekarang."
"Sebelum punya pabrik batako, pabrik penggilingan beras juga, mereka cuma nanam sayur. Kaya di kebun belakang ini."
Salim mengangguk pelan.
"Tapi namanya orang baik mah ya, ada aja pertolongan yang datang dari arah ngga di duga. Pelan-pelan usahanya lancar. Dari pengusaha sayuran kecil-kecilan lama-lama kebunnya makin banyak. Terus den Lingga juga punya ide bikin pabrik batako sama batu bata. Mungkin karena adanya peluang sekaligus modal sih. Di sini toko bangunan jauh kang, minimal kalo beli batako di pabrik nya den Lingga jadi lebih irit karena lebih dekat."
"Karyawannya banyak dong?!", tanya Salim.
"Banyak atuh!"
"Kebanyakan orang sini ya?",Salim menyesap kopinya.
"Iya. Alhamdulillah banget, sejak ada usaha den Lingga kami jadi punya pekerjaan tetap. Sama itu ,eum... meski udah ada pabrik gede sejak dulu, tapi baru-baru ini jalanan bagus kang. Itu juga karena sumbangan Den Lingga sama neng Galuh. Katanya...biar jadi amal jariyah kalo mereka udah ngga ada terus jalan masih di pake sama orang banyak. Baik bener ya mereka."
"Masyaallah, beruntung sekali mas Lingga punya istri non Galuh. Padahal dulu mah mas Lingga anak manja. Tapi sekarang, dia membuktikan jika dirinya sukses dan bukan anak manja lagi. Apalagi mengandalkan harta orang tua."
[Saliiiiimmmmm]
Terdengar suara melengking dari telpon genggam Salim. Ternyata sejak tadi ia sengaja menghubungi tuan besarnya agar tahu jika anak dan menantunya sudah sukses. Bukan hanya materi, tapi juga sukses di mata masyarakat.
Sebenarnya Salim diminta Arya untuk mengawasi istrinya. Tapi entah dapat ide dari mana ia justru ingin menunjukkan bahwa Lingga menjadi 'besar' bukan karena Arya, melainkan usahanya sendiri. Salim sudah sejak muda ikut dengan Arya. Makanya ia banyak tahu tentang keluarga majikannya tanpa ikut campur urusan mereka.
__ADS_1