
"Yang, kang Usep ngga masuk hari ini. Jadi Abang mau gantiin kang Usep nganterin barang ke kabupaten. Ngga apa-apa kan?", tanya Lingga pada istrinya yang sedang menepuk-nepuk Ganesh di ranjang mereka.
Galuh menghela nafas sesaat.
"Kenapa atuh ngga cari sopir cadangan Bang?", tanya Galuh.
Lingga mendekati istrinya yang memunggungi nya. Lelaki itu mengusap lengan atas Galuh pelan.
"Bukan Abang ngga mau cari supir cadangan."
"Terus kenapa?"
"Kang Usep kan udah lama banget ikut kita Yang, kalau tiba-tiba dia di gantiin orang baru kan kasian. Nanti dia jadi gimana-gimana."
"Tapi kan paling ngga buat situasi seperti ini? Masa harus Abang juga yang turun tangan?", Galuh mendengus kesal. Perempuan itu bangkit sambil membenahi kancing dasternya karena sudah selesai menyusui Ganesh.
"Sayang, denger Abang. Cuma hari ini kok."
"Kan ada kang Juned!", sahut Galuh ketus.
"Kang Juned kan bawa mobil sayur tadi malam. Masa sekarang suruh anterin ini juga. Kasian atuh?", Lingga masih membujuknya.
Galuh masih memonyongkan bibirnya karena kesal. Mood nya masih naik turun tak jelas setelah melahirkan.
Tiba-tiba sedih! Tiba-tiba nangis! Tiba-tiba khawatir! Pokoknya banyak tiba-tiba yang tak jelas.
Galuh bangkit dari ranjangnya dengan menghentakkan kakinya menjauh dari Lingga. Melihat istrinya merajuk, Lingga juga bingung harus apa. Di satu sisi, dia tak ingin membuat sang istri seperti sekarang. Tapi di sisi lain, dia juga tak mau mengecewakan pelanggannya.
Lingga turut bangkit. Dia menahan pinggang Galuh dan memeluknya dari belakang.
"Sebenarnya apa yang kamu cemaskan sayang??? Heum?", tanya Lingga sambil mengecup bahu Galuh yang terbuka.
Galuh tak menjawab apapun hanya lelehan air mata yang keluar dari matanya. Lingga menyadari hal itu. Ia pun mengusap wajahnya pelan.
Lingga tak bisa memarahi Galuh karena sikapnya saat ini. Dia harus bisa menekan egonya agar tak menyalahkan kondisi Galuh yang tak stabil seperti ini.
"Dengerin Abang Yang, Abang cuma anterin aja. Habis itu balik ke rumah lagi. Lagi pula dia ni juga udah lewat Dhuhur, Abang ngga mungkin lama-lama di sana."
Lingga memutar badan Galuh hingga berhadapan.
"Yang, jangan pernah sedikit pun berpikir Abang akan macam-macam di luar sana. Kamu tahu, seperti apa perasaan Abang ke kamu."
"Tapi aku takut....!", Lingga membungkam mulut istri nya dengan telunjuknya.
"Ssst.... kita sama-sama dewasa. Sama-sama sudah melewati kesulitan yang tak mudah buat kita taklukkan. Dan Abang tahu, istri Abang adalah wanita hebat. Lawan ketakutan kamu Yang! Berpikir positif seperti yang sudah-sudah! Ya???", Lingga mengusap pipi Galuh yang masih chubby.
Dengan sedikit menundukkan kepala, Lingga meraih bibir mungil istrinya itu.
"Sudah lewat empat puluh hari kan kalau habis akikah besok heum?", tanya Lingga menarik dagu Galuh. Galuh mengangguk pelan.
"Jangan biarkan pikiran negatif kamu membuat kamu berprasangka buruk sama Abang. Paham?"
"Iya bang, paham?!"
"Kemarin bilang paham, tapi masih aja begini buktinya kan?", ledek Lingga.
"Abang pasti kesel ya sikap ku berubah-ubah Mulu!"
"Kesel sih sebenernya!", kata Lingga.
"Tuh kan????!", Galuh merajuk lagi.
"Abang kesel! Tapi Abang lebih sayang sama kamu Yang. Di banding kesel, cinta dan sayang Abang lebih besar."
"Helehhh... gombal banget deh!", sahut Galuh hingga membuat keduanya terkekeh.
Akhirnya aku bisa membuat mood mu balik lagi Yang! Batin Lingga sambil mengusap kepala istrinya dengan sayang.
"Jadi, Abang boleh kirim barang kan Yang?", tanya Lingga lagi. Galuh menghela nafas berat.
"Iya! Tapi hati-hati!", kata Galuh.
"Insyaallah Abang hati-hati Yang. Kan ada kamu sama Ganesh yang nunggu Abang pulang."
Galuh mengangguk dan tersenyum tipis.
"Kalau sudah selesai kirim langsung pulang!", kata Galuh posesif sambil melingkarkan tangan nya di leher Lingga.
"Iya sayang ku!", Lingga mengecup kening Galuh berkali-kali.
"Ini nya ngga?", tanya Galuh sambil menunjuk bibirnya dengan jarinya sendiri. Lingga menyentil dahi Galuh pelan hingga membuatnya manyun.
"Lama-lama ngelunjak nih!", kata Lingga pura-pura melotot. Tapi ternyata dia menuruti keinginan istri...ehm...ralat! Keinginannya juga sih hehhehe
"Udah? Apa masih mau lagi?", tanya Lingga.
"Sekarang udah, nanti lagi heheh!", sahut Galuh. Lingga mencubit hidung pesek Galuh.
"Istri ku makin kesini makin bikin gemes tahu ngga? Padahal dulu galaknya minta ampun!"
''Bahas gitu Mulu! Jadi jalan ngga? Mumpung aku belom berubah pikiran nih Bang!", ancam Galuh.
"Heheh iya! Abang jalan yang! Jagain Ganesh!"
__ADS_1
Tak lupa Lingga meninggalkan kecupan di kening Galuh lagi. Setelah itu ia beralih ke ranjang untuk mencium pipi Ganesh.
"Nesh, bapak kamu mau cari uang dulu yang banyak. Biar nanti kita bisa liburan lama yan Nesh!", kata Galuh. Lingga menoleh sambil melotot tajam pada istrinya.
"Jangan bapak dong Yang! Kesannya tua banget deh!", kata Lingga manyun.
"Ya kan emang udah tua pak, udah tiga puluh empat tahun."
"Ishhhh....Ambu kamu Nesh, berasa masih muda aja!", balas Lingga.
"Iiih...masa Ambu Bang? Kesannya kaya nenek nya Deni deh!", sahut Galuh.
Tapi setelah itu mereka berdua tertawa bersama hingga Ganesh merasa terusik karena ulah kedua orang tuanya tersebut.
"Bang, jadi bangun kan???", kata Galuh.
"Kamu juga Yang! Bukan cuma salah Abang!"
Ganesh diangkat oleh Galuh dan di timang-timang sebentar. Beruntung bayi itu tak rewel.
Akhirnya Lingga pun berangkat kirim pesanan pelanggan setelah drama panjang dengan istri dan anaknya.
Sesampainya di pabrik....
"Den Lingga yang mau gantiin bawa dump truk nya kang Usep?", tanya salah satu karyawannya.
"Iya, barang harus kirim sekarang kang!", jawab Lingga.
"Sayang ya Den, saya ngga bisa nyetir dump truk hehehehe. Terpaksa den Lingga sendiri yang jalan kan?''
"Udah ngga apa-apa kang. Lagian kan ada anak-anak yang ikut di belakang juga."
"Den Lingga, biar mamang aja yang kirim. Kasih tahu aja alamatnya di mana? Masa den Lingga sendiri yang kirim?", kata Salim.
"Hehehe calon bapak mertua!", kata Lingga. Karyawan Lingga terkejut mendengar ucapan Lingga barusan. Sedang Salim sendiri merasa kikuk.
"Den Lingga....!", tegur Salim lirih.
"Udah mang, aku yang kirim ngga apa-apa. Bukan pertama kalinya juga Mang."
"Tapi kan...?"
"Kalo mang Salim mau ikut ya udah ayok!", ajak Lingga.
Lha??? Kenapa aku jadi kaya anak kecil begini? Batin Salim.
"Ngga usah deh Den. Saya bantu anak-anak di sini saja!", tolak Salim.
"Heum! Iya! Takut papa ngasih tugas mendadak ke Mang Salim."
Salim di todong berbagai pertanyaan oleh anak-anak yang ada di pabrik sampai kewalahan. Tapi Salim tak mau menjawab pertanyaan mereka karena...memang belum ada kejelasan antara dirinya dengan Sekar.
.
.
.
"Ternyata berkebun menyenangkan ya!", kata Gita pada Sekar.
"Iya mba!", sahut Sekar. Kedua nenek itu sedang duduk di teras samping yang memang di tanami beberapa bunga anggrek yang Sekar rawat dengan baik.
Galuh mendekati kedua ibunya. Ibu kandung dan ibu mertuanya.
"Eh, cucu Oma!"
Gita meraih Ganesh dari gendongan Galuh. Sekar pun turut menowel pipi Ganesh pelan-pelan.
Galuh tersenyum melihat tingkah dua nenek Ganesh tersebut. Melihat wajah sang ibu, ia jadi ingat percakapan antara dirinya dengan Lingga.
Ibu dan mang Salim sama-sama memiliki perasaan yang....??? Entah lah!!!
"Kenapa kak? Kenapa liatin ibu kaya gitu?", tanya Sekar.
"Ngga Bu. Ngga apa-apa. Liat ibu masih cocok kok punya bayi hehehe."
"Sembarangan!", kata Sekar. Tapi Gita dan Galuh terkekeh.
"Kalau kamu mau istirahat, biar Ganesh sama nenek atau Oma, Kak!"
Entah kenapa tiba-tiba Galuh kepikiran mendiang bapaknya yang sudah lebih dari lima belas tahun meninggal dunia. Galuh ingin melihat foto-foto kenangan masa kecil nya dengan bapaknya. Tentu saja ia menyimpan nya di tempat yang aman di dalam gudang.
"Heum, ya udah Bu, Ma! Galuh nitip Ganesh sebentar ya!", kata Galuh. Dua nenek itu dengan senang hati menerima mandat tersebut.
Galuh menuju ke dalam gudang untuk mengambil sebuah foto album kecil yang berisi beberapa foto dirinya dan juga ayah ibunya.
Tak sulit bagi Galuh menemukan foto tersebut. Dia selalu membawa kemana pun foto tersebut. Entah dulu di kontrakan, di warung makannya hingga kembali ke rumah ini.
Di raihnya foto album yang sudah terlihat buluk tapi masih jelas penampakan fotonya.
Galuh mengambilnya lalu keluar dari gudang menuju ke teras rumah yang lain. Jangan tanya ada berapa teras rumah Galuh ya hehehe...
Perempuan cantik itu duduk di salah satu bangku sambil memandangi foto bapaknya yang terlihat tampan dan gagah saat mudanya itu.
__ADS_1
Tapi...yang tak habis pikir, kenapa bapaknya ditemukan meninggal dengan alasan yang tak masuk akal.
"Bapak...ibu mau menikah lagi! Bapak seneng ngga?", monolog Galuh seolah ia sedang berbicara dengan bapaknya.
"Galuh seneng pak. Tapi...apa iya ibu sudah melupakan bapak? Bukan berarti Galuh ngga suka ibu mau nikah lagi. Cuma..."
Galuh tak meneruskan kata-katanya. Hanya ada tetesan bening yang mengalir di pipinya. Dengan cepat ia menghapusnya.
Sebuah tangan mengusap kepala Galuh dengan pelan hingga membuat perempuan itu mendongak.
"Papa?", kata Galuh lirih.
"Kamu kangen sama bapak kamu?", tanya Arya yang duduk di samping Galuh. Galuh pun mengangguk pelan.
"Peluk papa!", pinta Arya. Galuh mengerjap pelan.
"Katanya kangen bapak? Papa memang ngga akan bisa menggantikan bapak kamu, tapi papa adalah bapak kamu sekarang kan?", tanya Arya. Mata Galuh berkaca-kaca. Ia pun langsung memeluk Arya dan menumpahkan tangisnya.
Tangan Arya mengusap kepala Galuh yang ada dalam pelukannya.
"Makasih Pa, makasih...!", kata Galuh tergugu dan berucap lirih.
"Heum!", gumam Arya. Setelah beberapa saat, Galuh pun melepas pelukan pada papa mertuanya.
Apa kata orang jika ada yang melihat posisi mereka seperti itu? Di kiranya dia ada main dengan mertuanya? Astaghfirullah...
"Coba, papa mau lihat foto almarhum besan papa!", kata Arya. Galuh tersenyum lalu menyerahkan foto album berukuran 3r tersebut.
Arya menatap foto-foto kenangan keluarga Galuh. Foto yang menampakkan kebahagiaan. Tak banyak foto yang ada di album tersebut, mungkin karena keterbatasan di jaman itu.
Saat Arya melihat foto paling belakang, dia melihat foto nya ketika masih remaja. Arya menoleh pada Galuh.
"Ini...?", tanya Arya menggantung.
"Yang ini, bapak waktu masih muda Pa. Waktu lulus SMP, papa kerja di salah satu rumah orang kaya di kota Pa."
Arya mengernyitkan alisnya.
"Bapak kerja di sana sejak remaja. Tapi kata bapak, waktu istri kedua majikannya meninggal, dia memutuskan untuk keluar dari majikannya itu Pa. Beberapa tahun kemudian, bapak nikah sama ibu dan pindah ke sini."
Arya masih mendengar cerita Galuh.
"Lalu?", tanya Arya semakin penasaran.
"Waktu Galuh SMA, bapak di temukan meninggal di tempat yang tak lazim. Tapi... orang-orang bilang, bapak meninggal karena tersengat listrik. Padahal....!"
Galuh menghentikan ceritanya karena tak kuat untuk menceritakan kesedihannya itu.
"Pras? Prastian?", Arya menyebut nama bapak Galuh.
"Iya, sehari-hari bapak di panggil Pras. Usia bapak sama ibu memang cukup jauh waktu mereka menikah."
Arya meraih foto itu lagi lalu di lihat nya dengan seksama. Anak lelaki remaja yang bersama Pras di foto itu adalah dirinya. Dan Pras keluar dari rumah itu setelah ibunya Arya meninggal dunia...
"Pras?", gumam Arya. Galuh menoleh ke wajah papa mertuanya yang tampak bengong.
"Papa kenapa?", tanya Galuh yang heran pada mertuanya tersebut.
"Prastian? Kamu putri Prastian?", tanya Arya dengan mata berkaca-kaca.
Galuh yang heran pada mertuanya pun hanya mengangguk.
Kenapa papa mertuanya tanya seperti itu? Bukankah dia tahu kalau Galuh anak Prastian? Di lihat dari namanya saja sudah tahu, Galuh Prastian?!?!
"Kamu tahu siapa laki-laki yang ada di samping bapak kamu?", tanya Arya pada Galuh. Galuh mengangguk.
"Iya, bapak bilang itu foto teman bapak. Eh...bukan sih! Anak majikan bapak, tapi....dari istri keduanya."
Arya memejamkan matanya sesaat.
"Bapak juga pernah cerita, kalau anak majikannya itu sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari kakak-kakak tirinya. Tapi...bapak yang cuma pembantu di situ, tidak bisa berbuat apa-apa. Kata bapak yang penting mereka berteman."
Arya meraih bahu Galuh dan mendekap nya begitu erat! Di kecup nya berulang-ulang puncak kepala menantunya tersebut.
"Pantas kamu begitu baik dan pemaaf Nak! Itu ajaran bapak kamu!", kata Arya lirih.
Galuh masih terpaku karena tindakan Arya barusan.
"Foto lelaki di samping bapak kamu, itu...papa!", kata Arya.
Otak Galuh mendadak oleng. Dia bingung!
Ya Tuhan!!! Betapa banyak kesalahan yang sudah ku lakukan pada menantu ku! Putri dari orang yang sudah berjasa pada ku! Monolog Arya dalam hati.
Sekar yang awalnya ingin menawarkan minuman untuk besannya pun urung saat mendengar percakapan antara anak dan besannya.
*****
11.59
Kagak plot twist kok ....😁😁😁
Lumayan panjang kayaknya heheheh
__ADS_1
Makasih.... targetnya mau secepatnya kelar biar ngga kepanjangan, kalo terlalu panjang yang ada mah bosen hehehe
Yak kannnn??? Terimakasih 🙏🙏🙏🙏