
Lingga mengobrol panjang lebar dengan istrinya. Mereka berdua saling merindukan satu sama lain.
Bagaimana tidak? Galuh, Lingga dan Ganesh berada di tempat yang berbeda. Jika Ganesh bersama Galuh mungkin Lingga jauh lebih tenang. Tapi nyatanya dua orang terkasihnya berada di tempat yang berbeda.
[Gimana kondisi Ganesh,Yang?]
[Alhamdulillah cukup stabil dan perkembangannya juga sangat bagus. Signifikan sekali kaya dokternya mah]
Lingga pun mengangguk pelan.
[Kamar Abang bagus ya?]
[Heum, sebagus apa pun kalo ngga ada kamu percuma Yang]
[Aku ngga bisa bayangin waktu Abang baru nikah sama aku harus tidur di gubuk reyot, pasti sangat tidak nyaman]
[Iya...sih, Abang terbiasa tinggal di kamar Abang seperti ini. Tapi...dari sana Abang juga merasakan kalau abang ini adalah laki-laki beruntung yang bisa menjadi pendamping kamu Yang]
Lingga mengedarkan kameranya untuk menunjukkan pada istrinya tentang kondisi kamarnya.
[Banyak piala sama medali bang? Abang dulu pasti pinter!]
[Heum! Ya... Alhamdulillah, Abang sama kak Puja ngga punya waktu untuk bermain. Waktu kami habis untuk sekolah, les, dan belajar di rumah. Seperti itu setiap hari]
[Masa sih? Perasaan pertama kali ketemu Abang kaya anak urakan gitu deh heheheh]
[Iya...sejak di bangku kuliah, Abang mulai berontak sama papa. Tapi...Abang tak punya cukup keberanian untuk menolak keinginan papa sampai tega ninggalin kamu dan Ibu. Padahal kalian itu tanggung jawab Abang]
[Tapi sekarang Abang udah amat sangat tanggungjawab apa aku, ibu , Syam dan juga Ganesh]
[Insya Allah, Abang akan mengupayakan apa pun demi mensejahterakan keluarga Abang]
[Makasih Abang!]
[Sama-sama Yang, Abang ngga tahu seperti apa jika bukan kamu istri Abang Yang. Abang beruntung banget punya kamu Yang]
[Gombal deh!]
[Serius Yang!]
[Heum, iya bang percaya kok]
[Oh iya bang, tanggal berapa ini? Anak-anak gajian lagi!] Pekik Galuh yang melupakan jika tanggal itu jadwalnya anak-anak pabrik dan kebun gajian.
__ADS_1
[Minta tolong sama Syam aja apa ya?]
[Iya, besok pagi aku telpon Syam deh. Insyaallah dia mah bisa]
[Iya Yang]
.
.
.
"Sarapan dulu dek!", pinta Sekar.
"Iya Bu!", jawab Syam yang baru menuruni tangga.
Baru dia duduk, ponsel Syam berdering nyaring. Kebetulan hari ini hari Minggu, jadi Syam bebas bermain ponsel hari itu.
Ternyata Galuh yang menghubunginya. Seperti obrolan Galuh dan Lingga semalam, Galuh pun menyampaikan maksudnya untuk meminta tolong Syam agar menggaji karyawan kakaknya yang di pabrik dan di kebun.
Pegawai kebun biasanya gajian setiap hari Minggu sore. Itu pun jika ada yang berkenan masuk, kadang ada pula yang meliburkan diri.
Syam mengangguk mengerti saat ia mendapatkan instruksi dari Galuh.
[Kata papa Arya sih bisa dek, itu juga Abang yang bilangin ke kakak]
[Oh, ya udah adek minta tolong sama mang Salim deh kalo gitu]
[ATM nya yang biru ya Dek, ada di laci kamar kakak]
[Iya kak. Nanti Syam minta mang Salim anterin ke ATM]
Sekar sempat melirik anaknya yang sedang mengobrol serius dengan kakaknya di telpon.
"Apa kata kakak, dek?", tanya Sekar.
"Gajian anak pabrik Bu!"
"Oh...!"
Ternyata Salim di hubungi oleh Arya untuk membantu Syam dalam mengurus pabrik selama Lingga dan Galuh belum kembali.
Mendapatkan titah dari majikannya, Salim pun gak bisa menolaknya.
__ADS_1
Bagaimana Arya tahu? Ternyata Lingga yang mengobrol dengan Arya saat sarapan. Arya mengatakan jika Salim pernah kuliah di salah satu fakultas Xxx. Maka dia yakin jika Salim bisa membantu Syam.
.
.
.
Beruntung ini hari Minggu, Syam benar-benar di bantu oleh Salim mengerjakan pekerjaan kakaknya yang cukup menyulitkan. Beruntung Salim mau mengajari Syam.
"Sudah bisa?", tanya Salim pada Syam.
"Udah Mang, bisa kaya gini aja mah!", sahut Syam penuh percaya diri.
"Habis ini ambil uang ke ATM ya mang. Nanti Syam tinggal amplopin di mobil aja!"
"Siap den. Pamit dulu sama ibu!", pinta Salim.
"Iya mang!", jawab Syam yang langsung mengambil kartu ATM milik Galuh. Tak butuh waktu lama, ATM itu memang di siapkan untuk urusan gaji menggaji karyawan.
Salim menunggu Syam di pinggir mobil. Kaca mata minus bertengger manis di hidung Salim.
Jika di perhatikan, Salim berpakaian rapi dan tampilannya pun cukup baik meskipun dia hanya seorang supir. Usianya yang sudah empat puluh tahun tapi masih sendiri, jangankan istri kekasih saja dia tidak punya.
Sekalinya jatuh hati, dia justru jatuh hati pada sosok Sekar. Yang juga termasuk salah satu majikannya yang harus di hormati.
Ngga ada yang salah sama yang namanya jatuh cinta, hanya saja kadang ia datang di waktu yang kurang tepat.
Salim sadar diri jika ingin mendekati Sekar!
Di sisi lain, Sekar pun sedang berpikir banyak. Bagaimana bisa putrinya menebak-nebak seperti itu? Apakah jatuh cinta begitu kentara di mata Galuh?
Benarkah dirinya kembali merasakan jatuh cinta padahal usianya sudah hampir senja????
*****
23.00
Sebenarnya udah nulis panjang lebar. Eh... ngga tahunya ngga tersimpan di draft 🤧😭 Alhasil cerita nya embuh pisan! Karena yang tak tersimpan sudah lebih dari 1k kata. Terpaksa deh... ulang lagi!
😢😩😵
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1