
Pagi sudah menyapa, Syam sudah di antar sekolah oleh Salim. Seperti biasa, Deni si sahabat karib Syam pun turut menemani pagi itu.
Salim menuju ke dapur menghampiri bik Mumun yang sedang mencuci sayuran untuk di masak.
"Bik! Bagi kopi ya!", kata Salim.
"Eh, sok atuh mangga mang! Saya buatkan?", tanya Mumun.
"Ngga usah. Bikin sendiri aja!", tolak Salim. Dia pun menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi bubuk kopi tersebut.
"Nih, ada ulen sok atuh buat nemenin ngopi!", Bik Mumun meletakkan sepiring ulen goreng di hadapan Salim.
"Makasih bik Mumun!", kata Salim.
"Sama-sama mang!", jawab Mumun datar. Tiba-tiba saja Sekar masuk ke dapur tanpa melihat keberadaan Salim yang duduk bangku dapur.
"Bik Mumun, kalo beresin kamar Syam tolong nanti bawa dus bekas sepatunya taruh gudang ya!", kata Sekar sambil menggosok rambutnya yang basah mungkin karena baru selesai keramas.
"Eh, iya Bu!", jawab Mumun sedikit terkejut. Salim sendiri mencoba menahan diri untuk tidak melihat pemandangan di depan matanya tersebut.
Untuk pertama kalinya ia melihat Sekar yang tak mengenakan hijab.
"Kenapa bik?", tanya Sekar saat melihat tingkah Mumun agak lain. Mumun memberi kode dengan lidah di balik pipinya yang menggelembung ke arah Salim.
Sekar pun menoleh ke arah tersebut, dan...ya dia cukup terkejut melihat supir itu sedang menunduk meniup kopinya seolah tak menganggap dirinya ada di sana.
Sekar langsung meninggalkan dapur begitu saja. Dia malu pada Salim karena dia hanya memakai daster alakadarnya dan juga sedang menggosok rambutnya.
Sekar kira tidak ada orang lain di rumah selain dirinya dan Mumun.
Kenapa dia tidak menyapa ku? Batin Sekar saat dirinya berada di dalam kamarnya.
.
.
.
Salim memeriksa ban mobilnya yang tiba-tiba kempes. Saat di lihat, ban cadangannya pun sudah terpakai.
Lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Padahal, mobil itu akan dia gunakan untuk mengantarkan Sekar ke pabrik untuk menyerahkan gaji para karyawannya.
"Kenapa mang?", tanya Sekar tiba-tiba di belakang Salim.
"Eh, ibu. Ini Bu, ban nya kempes. Kebetulan ban cadangannya juga sudah di pakai."
"Ya udah pakai mobil Abang aja!", kata Sekar menawarkan mobil Pa**** milik Lingga.
"Iya Bu!", jawab Salim. Sekar pun kembali ke rumah mengambil kunci mobil Lingga. Ia menyerahkan kunci tersebut pada Salim.
Tanpa di sengaja, kulit tangan keduanya bersentuhan. Entah ada magnet apa, entah kutub Utara vs kutub selatan atau bahkan kebalikannya mata kedua orang dewasa itu saling berpandangan beberapa saat.
"Maaf!", ucap Salim dan Sekar bersamaan tapi setelah itu keduanya justru tersenyum tipis.
Mumun yang akan membuang sampah pun meledek keduanya.
"Ehem, senyum terus...kering tuh gigi mang Salim, ibu....!", ledek Mumun sambil berjalan kembali ke arah dapur.
__ADS_1
Sekar dan Salim jadi salting sendiri. Coba bayangkan seperti apa adegan mereka??? 🤔🤔🤔
"Mari Bu!", Salim mempersilahkan Sekar untuk ke arah mobil.
"Depan saja!", kata Sekar saat Salim akan membuka pintu belakang. Lelaki itu pun mengiyakannya. Karena lama tak di pakai, Salim memanaskan mesin lebih dulu.
Hening, itu situasi di dalam mobil tersebut.
"Maaf Bu, sudah di siapkan semuanya?", tanya Salim memecahkan keheningan.
"Heum, sudah!", jawab Sekar. Salim pun mengangguk tapi saat hendak menjalankan mobil itu tiba-tiba mesin nya ngadat. Baru berjalan beberapa meter, mobil itu mogok.
"Astaghfirullah, ini mobil kenapa?", tanya Sekar.
.
.
.
"Terimakasih Bu!", ucap para karyawan Lingga saat menerima gaji mereka. Tadi Sekar sudah di antar oleh Salim ke pabrik penggilingan padi, setelah itu ke pabrik batako.
Dan yang terakhir untuk karyawan kebun yang memang ambil di rumah setiap hari Sabtu atau Minggu sore.
"Ada tujuan lain Bu?", tanya Salim. Sekar menghela nafas.
"Ngga usah mang, langsung pulang saja!", kata Sekar yang merasa lelah. Salim pun mengangguk pelan.
Jam sembilan pagi udara belum terlalu panas bahkan cenderung masih cukup dingin di daerah kampung tersebut.
Sekar yang hanya mengenakan gamis pun merasa kedinginan saat udara dingin menerpa tubuh rentanya. Salim yang cukup peka pun memilih berhenti.
Sekar cukup terkejut. Tapi tidak ada cara lain. Dari pada dia harus memeluk Salim dari belakang..???
FYI ... mereka menggunakan roda dua milik Galuh. Entahlah... mungkin semesta mendukung mereka, mobil Lingga pun mogok. Alhasil mereka harus menggunakan roda dua untuk pulang pergi.
Dengan sedikit malu-malu Sekar pun menerima jaket tersebut lalu memakainya. Ternyata memakai jaket tersebut membuat Sekar sedikit hangat.
"Sudah Bu?", tanya Salim.
"Sudah!", jawab Sekar singkat.
Tak ada obrolan apapun selama perjalanan hingga sampai ke rumah. Sekar cukup terkejut melihat beberapa orang ada di halaman rumahnya yang sedang mengganti ban mobil Salim serta memperbaiki mobil Lingga.
"Maaf, kalian siapa dan dari mana?", tanya Sekar pada beberapa orang yang berpakaian montir.
"Kami dari bengkel A, di minta kemari atas perintah pak Lingga, Bu", jawab salah satunya.
"Oh, baiklah kalau begitu", kata Sekar sambil tersenyum lalu meninggalkan mereka semua menuju ke dapur untuk meminta Mumun membuatkan minuman.
Ternyata Mumun sudah menyiapkan makanan serta minuman untuk para montir tersebut.
"Apa yang rusak dengan mobil ini?", tanya Salim pada salah satu montir yang sedang menangani mobil Lingga.
Salim hanya mengangguk tipis lalu mereka mengobrol seputar otomotif yang memang tak banyak Salim ketahui karena bukan bidangnya.
.
__ADS_1
.
Galuh dan Lingga sudah bersiap ke rumah sakit pagi ini. Sebelum subuh, Galuh selesai mencuci pakaian keduanya. Serta membeli sarapan yang tak jauh dari tempat mereka kost.
"Nanti siang jangan makan seperti ini terus Yang. Kamu harus jaga kesehatan!", kata Lingga memeluk Galuh dari belakang.
"Iya bang. Ini kan cuma buat pengganjal perut."
"Apa kita pulang aja? Biar makanan kamu terjamin, jadi asi kamu banyak? Kan buat kebaikan Ganesh dan kamu juga Yang?!", kata Lingga tanpa melepas pelukannya dari sang istri.
"Insyaallah di kantin rumah sakit makana bernutrisi banyak lah bang. Yang penting aku selalu makan sayuran. Heum?", Galuh mengusap rahang Lingga yang sudah mulai di tumbuhi bulu.
"Abang kangen banget!", bisik Lingga.
"Sama!", balas Galuh.
"Udah lah, nanti Abang malah pusing atas bawah! Buruan pakai hijab nya!", Lingga mengecup puncak kepala Lingga lalu melepaskan pelukannya.
Tapi Galuh justru menahannya lalu memutar badan hingga mereka berhadapan.
"Kalau Abang mau, aku bisa kok memenuhi hak Abang tanpa harus ...!"
"Ngga usah, ngga apa-apa sayang! Abang masih bisa nunggu kok!"
Galuh menggeleng.
"Jika masih ada cara lain, kenapa tidak?", tanya Galuh.
"Ngga Yang. Abang memang pengen, tapi Abang ngga mau egois. Kita bisa menikmatinya bersama, tapi tidak untuk saat ini karena cuma Abang yang akan terpuaskan. Tapi kamu ngga! Paham ucapan Abang?", Lingga menakupkan kedua tangannya di pipi Galuh. Galuh menunduk murung. Mood nya yang tidak stabil membuat dia merasa tertolak dan Lingga cukup peka akan hal itu.
"Sayang, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Abang ngga ada maksud buat menolak maksud baik kamu. Abang hanya ngga mau egois memikirkan keinginan Abang sendiri tanpa memikirkan kamu juga Yang. Jadi jangan berpikir kalau Abang tidak menginginkan kamu! Percaya sama Abang, setelah semua seperti sebelumnya kamu yang akan repot mengurus dua bayi sekaligus!", kata Lingga meyakinkan sang istri.
"Dua bayi?", tanya Galuh. Lingga mengangguk pelan sambil mengusap rambut istrinya.
"Heum, karena mulai saat itu Abang harus berbagi dengan Ganesh hehehhe!"
Wajah Galuh memerah, dia tahu apa yang suaminya maksud.
"Abang ih ...!", Galuh malu-malu menutup wajahnya.
"Dih, kaya anak gadis lagi di rayu aja sampe malu begitu!", ledek Lingga. Keduanya pun tertawa bersama menyadari kekonyolan mereka.
Lingga memeluk erat tubuh istrinya yang masih tampak berisi tersebut.
Bahagia selalu Yang, jangan pernah berpikir aku akan meninggalkan kalian! Batin Lingga.
******
08.05
Good morning selamat pagi Sugeng enjing 🤗🤗🤗
Lagi kumat apa jam segini up??? Sebenarnya udah ketik dari semalam tapi ternyata ketiduran 🙈🙈🙈
Betewe.... terimakasih 🙏🙏
Selamat tahun Baru Hijriah 1445
__ADS_1
Ada acara apa malam nanti? Kalo di t4 Mak othor biasanya ada pawai obor 😊