Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 197


__ADS_3

Lingga berpikir untuk beberapa saat. Jujur, dalam hatinya ia benar-benar ingin memiliki rumah dari hasil jerih payahnya sendiri. Tapi renovasi rumah peninggalan mendiang bapaknya Galuh pun semua di tanggung oleh Lingga mengingat saat dia tiba di rumah yang cenderung lebih cocok di sebut gubug karena memang sudah tak layak huni.


Mendengar keluhan mertua tirinya, hati kecil Lingga pun merasa iba. Mungkin benar, dia yang harus mengalah pada yang lebih tua. Jika di novel atau film-film biasanya ada adegan berebut rumah, sampai ada yang sampai adu otot tapi Lingga justru merasa sangat berbeda.


Mereka seolah berlomba keluar dari rumah yang cukup mewah untuk ukuran kampung itu, karena sama-sama merasa tidak enak. Aneh ngga sih?????


"Ya udah, nanti abang bicarakan dulu sama Galuh. Tolong apa yang orang pabrik katakan tentang abah jangan sampai terdengar sama ibu. Abang ngga mau ibu kepikiran lalu berimbas sama kehamilannya'', kata Lingga.


"Iya bang, abah juga ngga mau ibu mu banyak pikiran kok'', sahut Salim.


.


.


.


Salim sudah berangkat menuju ke warung yang akan di buka beberapa hari lagi. Barang dagangannya pun sudah lengkap kecuali dagangan basah seperti sayuran.


Salim di bantu oleh beberapa tetangga yang kebetulan membutuhkan pekerjaan. Dia juga di sibukkan dengan para sales yang akan mengisi barang dagangannya dengan merk-merk tertentu.


"Semoga usahanya berjalan lancar ya pak Salim!", kata sales terigu segiempat merah.


"Aamiin, mohon doa dan kerjasamanya juga ya pak."


Dan semua persiapan sudah beres. Salim menempatkan dua orang di dalam warung tersebut untuk menjaganya.


Esok pagi, warung itu akan resmi di buka. Jika Salim sedang mencoba membuat usaha kecil-kecilan, berbeda dengan Arya.


Dia yang sudah terbiasa menangani proyek besar rupanya masih ingin berbisnis di kota kecil ini. Arya mencoba peruntungan untuk membuat villa di dekat pariwisata.


Hanya beberapa unit, tapi Arya sudah malang melintang di dunia properti pun rasanya butuh beberapa pertimbangan. Faktor ekonomi di era sekarang sedang sulit-sulitnya.


Jangan kan untuk berwisata, untuk kebutuhan primer saja susah. Ehhhh ...ini mah curhatan Mak othor yang udah lama ngga healing 🤧🤧🤧


Kali ini Arya di temani sang istri ke tempat dimana mereka akan membangun villa.


"Dekat sama pemandiannya air panas ya Pa?", tanya Gita pada suaminya.


"Iya ma!", sahut Arya yang berjalan beriringan dengan istrinya. Terlihat ada beberapa orang yang sedang mengukur tanah sesuai dengan disain yang di buat oleh arsitek Arya yang ia datangkan langsung dari ibu kota.


"Bagaimana, sudah sesuai kan?", tanya Arya pada arsiteknya tersebut yang terlihat masih muda seumuran dengan Lingga.


"Sudah pak, semua aman. Dan bahan bangunan akan segera di kirim sore ini juga."


Arya mengangguk paham lalu kembali memperhatikan orang-orang yang akan mengerjakan rumah tersebut.


.


.


.


"Jadi, Abah yang bakal bangun rumah bang?", tanya Galuh. Lingga mengangguk pelan.


"Iya Yang, kamu ngga apa-apa kan?", tanya Lingga.


"Hehehe ya ngga apa-apa lah bang, emang kenapa aku harus 'apa-apa' ??? Apa pun yang Abang dan Abah putuskan, aku yakin kalau itu sudah di pikirkan matang-matang. Dan satu lagi, aku ngga mau kita bertengkar hanya karena masalah sepele yang seharusnya masih bisa di selesaikan baik-baik!"


Lingga mengelus lengan sang istri yang berbalut gamis berwana cokelat susu.


"Insya Allah sudah Abang pikirkan kok Yang. Intinya...selama itu baik, tolong di dukung. Dan kalo kamu sudah mulai merasa aku sedikit melenceng tolong di ingatkan. Gimana juga, Abang pasti ada salahnya!", kata Lingga.

__ADS_1


"Iya, insya Allah bang!", jawab Galuh.


"Abang mau ikut bobo ah sama Ganesh!", kata Lingga menguap sambil menutup mulutnya.


"Iya, tapi solat dhuhur dulu gih!", kata Galuh.


"Heum, ntar ngantuknya ilang Yang!", kata Lingga merajuk.


"Sebentar Bang!!!", kata Galuh sedikit galak. Lingga memanyunkan bibirnya yang membuat Galuh gemas karena tingkah Lingga kadang seperti kanak-kanak padahal dia sudah bapak-bapak.


Meski manyun lelaki itu tetap menunaikan kewajibannya. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar beberapa menit lalu dengan cepat ia melepaskan sarungnya dan menelungkupkan badannya di samping Ganesh.


Galuh menghela nafas pelan, dia mengambil sarung yang Lingga lepaskan begitu saja. Lelaki itu hanya mengenakan celana pendek di atas lutut.


Perempuan cantik itu melipatnya lalu meletakkannya di tempat biasa. Setelah itu, ia menghampiri suaminya yang masih merajuk.


"Ngga usah marah, kalo marah nanti malam ngga dapat jatah lho. Udah di bolehin sama Bu bidan kali...!", kata Galuh dengan nada di buat-buat.


Lingga yang sudah memejamkan matanya pun langsung memutar badannya.


"Siapa yang marah?", tanya Lingga.


"Ayahnya Ganesh! Udah nih, pake trainingnya. Ngga enak banget pake kolor siang-siang begini!", Galuh menyerahkan celana untuk suaminya.


Lingga pun menerima celana yang istrinya ambilkan lalu memakainya.


"Udah kan? Ngga marah!", kata Lingga. Galuh terkekeh pelan.


"Iya iya...udah temenin Ganesh. Aku mau ke belakang sebentar!", kata Galuh.


"Ini dulu?!", Lingga menunjuk bibirnya dengan telunjuknya.


"Ishhh...inget bang, udah ada Ganesh. Inget umur!", protes Galuh tapi masih menuruti keinginan suaminya. Dan ya...dia tahu sendiri lah seperti apa suaminya, mana ada asal tempel!


"Udah lah, katanya mau tidur?!"


"Iya!", sahut Lingga melepaskan tangannya dari pinggang istrinya.


Galuh pun keluar dari kamarnya membawa amplop bertuliskan nama pekerja kebun. Kalau ia masih di sana pasti beda cerita, yang ada akan berlanjut ke adegan berikutnya yang iya-iya.


Galuh memakai bergonya yang simpel lalu berjalan ke belakang rumahnya. Terlihat beberapa orang pekerja sedang beristirahat.


Niatnya Galuh akan memberikan upah mingguan mereka, tapi langkahnya perlahan lambat saat telinganya tak sadar mendengar percakapan orang-orang di sana.


"Jadi pak Salim mah bagja pisan nyak! Kadie teu bawa nananon, eh ... tahu-tahu nikah we jeung juragan!", celetuk salah seorang.


"Muhun! Kok Bu Sekar teh mau ya nikah sama laki-laki modal ganteng doang. Padahal dia mah cuma supir besannya bu Sekar."


"Eh ...jangan gitu atuh, pak Salim kan emang orangnya baik terus ramah pula. Dan ada nilai tambahnya, dia ganteng malah ngga cocok jadi supir menurut saya mah."


"Tapi tetap aja teh! Dia di sini tinggal di mana? Di rumah istrinya, rumah peninggalan suami pertamanya kan? Udah gitu, kerjaannya apa coba? Malah kata suami saya, pak Salim yang sekarang megang pabrik beras. Ujung-ujungnya keliatan kan maksudnya apa!"


Astaghfirullah! Monolog Galuh dalam hatinya.


Suara sumbang yang membicarakan bapak tirinya membuat Galuh tidak terima. Mereka membicarakan apa yang mereka tak tahu kebenarannya.


Pantas bapak tirinya tersebut kekeh minta diri nya yang keluar dari rumah, ternyata ocehan para netijen emang lebih pedas dari cabe yang mereka panen.


Tapi Galuh sadar. Dia tak bisa membungkam mulut mereka satu per satu hanya untuk membuat pembelaan bahwa bapak tirinya tak seperti yang mereka pikirkan.


Bukankah itu percuma, hanya sia-sia saja menjelaskan pada mereka yang sudah tutup mata menganggap apa yang mereka pikirkan adalah sebuah kebenaran.

__ADS_1


"Ehemm!", Galuh berdehem membuat para bibir julid itu menoleh.


"Eh, neng Galuh!", sapa mereka kikuk. Jika biasanya Galuh akan bersikap ramah, kali ini ia memasang wajah datar.


"Maaf mengganggu ghibahan teteh-teteh!", sindir Galuh. Mereka bertiga saling melirik satu sama lain.


"Eumm...ada apa yang neng, tumben ke kebun?", tanya si pembuka ghibahan.


"Oh, ini saya mau menyerahkan uang mingguan!", kata Galuh sambil memisahkan beberapa amplop tanpa senyuman seperti biasanya.


"Iya neng, terimakasih!", kata salah seorang yang menerimanya yang nantinya akan di bagikan sesuai nama.


"Punten ya teh, lain kali kalau mau bergosip jangan di sini! Teteh beragama kan? Tahu ngga kalau ngomongin orang itu dosa? Kalo benar jadi ghibah, kalo salah jatuhnya fitnah! Kalian mau makan daging saudaranya sendiri yang udah meninggal? Saya rasa, kalian paham!", kata Galuh sedikit ketus.


Terlihat dirinya menahan emosi sambil memalingkan wajahnya dari tiga orang dewasa itu. Ketiganya pun menunduk dan saling menyenggol bahu.


Sedang para pekerja kebun yang lain, tampaknya hanya mendengar saja apa yang majikannya katakan pada ketiga rekannya tersebut.


"Astaghfirullahaladzim!", Galuh meraup wajahnya kasar lalu berbalik meninggalkan mereka dengan kesal karena ia menghentakkan kakinya seperti anak kecil.


"Maneh sih...", mereka saling menyalahkan satu sama lain saat melihat Galuh sudah meninggalkan kebun.


Galuh masih misuh-misuh sendiri mendengar obrolan para pekerjanya tadi. Hingga ia tak menyadari ada bapak tirinya yang baru pulang dari warungnya.


"Kunaon eta muka di tekuk kak?", tanya Salim pada Galuh.


"Eh, Abah?", Galuh sedikit terkejut.


"Aya naon? Dari kebun?",tanya Salim. Galuh mengangguk.


"Terus kenapa cemberut begitu?", tanya Salim lagi.


"Pantas aja Abah teh keukeh mau pindah rumah teh, pasti karena omongan mereka yang pedes itu kan!?", entah Galuh bertanya atau menegaskan.


Salim terlihat menghela nafas berat.


"Salah satunya begitu kak, tapi Abah emang pingin bikin aja kak! Udah ngga usah di ambil pusing omongan mereka."


"Tapi omongan mereka itu lho bah! Fitnah kan jatuhnya kalo ngga tahu apa-apa tapi sok tahu!"


"Kak, Abah yakin kakak teh udah jauh lebih paham. Kenapa kita punya satu mulut sedang telinga dua? Karena apa? Kita di suruh lebih banyak mendengar di banding berbicara. Ngga apa-apa mereka mau ngomong apa di belakang kita. Itu hak mereka selama mereka tidak berlebihan contoh nya memfitnah lalu membuat rumor yang merugikan kita. Selama mereka tidak seperti itu, ya sudah lah. Diam lebih baik kak."


Galuh terdiam, ia membenarkan ucapan abahnya.


"Kakak ngga keberatan kan dengan perubahan rencana kalian?", tanya Salim.


"Heum! Ngga kok bah, kenapa harus keberatan. Galuh sama Abang akan mendukung bagaimana baiknya kok!", kata Galuh mencoba tersenyum. Salim pun membalas senyumannya.


"Jadi, ngga usah di ambil hati omongan mereka. Cukup Abah aja yang ngambil hati, kalian jangan!", kata Salim terkekeh pelan.


"Untung yang di hadapi abah, coba kalo papa ...udah pasti...?!"


"Kalo yang di hadapi papa, kenapa?", tanya seseorang tiba-tiba. Dengan gerakan slowmo Galuh menoleh dan cukup terkejut melihat siapa yang bertanya tadi.


Mampus kan koe Ndukkk!!!


******


Baru update sekarang padahal nyicilnya mah dari kapan tahu 🤭 terimakasih banyak-banyak semua yang udah mampir, like, komen dan semuanya deh 🙏🙏🙏🙏


Love you sekebooooonnnn....🤩🤩🤩🤩

__ADS_1


20.14


__ADS_2