Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 176


__ADS_3

Ganesh berada di pangkuan Gita bersama Syam yang masih betah mengelus pipi chubby Ganesh.


Arya dan Salim mengobrol berdua.


"Sebenarnya saya sudah menyiapkan rumah untuk kamu dan Sekar, Lim. Tapi ternyata... anak-anak punya rencana lain."


Salim mengangguk sedikit.


"Saya pun demikian tuan, rencananya besok saya akan mencari rumah kontrakan yang tidak jauh dari sini."


Keduanya sama-sama menghela nafas panjang. Nyatanya, apa yang sudah di rencanakan tidak bisa begitu saja terealisasi apalagi tanpa melibatkan orang yang akan menjalaninya.


Galuh kembali pada keluarga yang sedang duduk di lantai tersebut. Salim dan Arya sama-sama menoleh.


"Ibu mana neng Galuh?",tanya Salim. Dia berusaha mengikis kecanggungan sebelum-sebelumnya karena saat ini Galuh pun putrinya.


"Masih ngobrol sama Abang!", jawab Galuh lalu mendekati ibu mertuanya.


"Ganesh udah pulas sekali bobok nya Luh!", kata Gita.


"Iya Ma, biar Galuh bawa ke kamar dulu!", Galuh mengambil Ganesh dari pangkuan Gita.


Tak berapa lama, Sekar dan Lingga kembali duduk di karpet tadi. Sekar tampak lebih tenang tak seperti tadi. Dia mencoba memasang senyum pada suaminya dan juga besannya.


"Kalau ibu sama bapak mau istirahat dulu, ngga apa-apa!", kata Lingga. Tentu ucapan Lingga punya makna yang tersirat di dalamnya. Istirahat dalam tanda kutip gitu kan???? 😁 Sepasang suami istri itu nampak malu-malu meong. Arya dan Gita hanya mampu menggeleng pelan gara-gara celetukan Lingga.


"Bang, adek mau ikut tidur di rumah papa Arya, boleh?", tanya Syam nemplok ke lengan Lingga. Lingga menaikan salah satu alisnya.


"Kok tanya Abang? Tanya papa Arya dong! Sama ijin ke Ibu atau bapak!", kata Lingga.


"Biasanya juga ijin sama Abang!", kata Syam.


"Kan sekarang mah ada bapak juga dek!", kata Lingga. Syam nyengir menunjukkan gigi putihnya.


"Papa, Syam boleh kan nginep dirumah papa sekarang?", tanya Syam sedikit merengek.


"Sekarang doang? Besok-besok ngga?", tanya Arya. Syam tak menjawab. Hal itu membuat Arya terkekeh pelan.


"Sini!", panggil Arya agar Syam mendekat.


Syam pun berpindah duduk di antara Arya dan Salim.


"Kenapa Pa?"

__ADS_1


"Ijin sama bapak dan ibu kamu! Pintu rumah papa terbuka lebar buat kamu. Jangankan mau menginap malam ini doang, seterusnya kamu tinggal sama papa, papa ngga akan keberatan. Justru papa akan seneng banget kalo syam tinggal sama papa."


Syam melebarkan senyumnya lalu bertanya pada ibunya.


"Boleh kan Bu? Besok udah libur ini sekolahnya!", kata Syam memberi alasan.


"Tapi adek yang sopan di rumah papa Arya ya. Jangan seenaknya sendiri!", pinta Sekar. Syam pun mengangguk mengiyakan.


Setelah mendapatkan ijin, Syam pun mengajak Arya dan Gita pulang. Sekar dan Salim pun masuk ke kamar mereka.


Tinggallah Lingga yang mengangkat sisa gelas yang ada di karpet.


Malam sudah cukup larut, tentu saja Mumun cs sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Lingga hanya membawa beberapa gelas dan piring kotor ke dapur.


Setelah semua beres, ia pun mengecek pintu satu persatu untuk memastikan keamanannya. Meski nanti jam dua dini hari ia akan kembali bangun untuk memantau pekerjaan anak kebun yang akan kirim sayur ke pasar induk.


Lingga memasuki kamarnya bersamaan dengan Galuh yang baru keluar dari kamar mandi. Perempuan itu sudah tak berhijab lagi melainkan memakai daster agar memudahkan Ganesh saat meminta asi.


"Yang!", panggil Lingga.


"Iya, kenapa bang?", tanya Galuh.


"Kode tadi, aman kan?", tanya Lingga. Galuh mengangguk dan tersenyum. Bohong kalo dia bilang tak menginginkannya juga.


Tak berapa lama ,ia pun ikut berbaring di samping Galuh yang menepuk-nepuk bokong Ganesh.


"Yang...!", bisik Lingga.


"Stttt...iya, takut Ganesh bangun bang!", sahut Galuh tak kalah berbisik.


"Kok jadi kayak main petak umpet Yang, bisik-bisik segala?", protes Lingga lirih.


"Dari pada Ganesh bangun Bang, puasa lagi mau?", tanya Galuh geregetan. Lingga terkekeh kecil.


"Kaya mau saingan sama pengantin baru rasanya hahahha!"


"Stttttt! Diem atuh Bang! Kalo ngga jadi, aku tidur nih!", ancam Galuh.


"Jadi dong!", sahut Lingga dengan semangat empat lima.


Jangan di tanya seperti apa Sekar dan Salim. Kalian sudah mampu menebaknya wkwkwkwkwk


.

__ADS_1


.


.


Di hotel....


Angel dan Zea berada di dalam satu kamar. Tante dan keponakan yang usianya tak beda jauh itu tak langsung tidur saat tiba di hotel. Jarak antara rumah Lingga dan hotel tak terlalu jauh. Tapi mereka juga sadar tak sepantasnya berada di rumah itu saat ini.


"Ze!", panggil Angel pada Zea. Secara usia, Zea lebih muda dari Angel. Tapi secara sil-silah keluarga, Zea itu tetap di sebut Tante oleh Angel.


Tapi dua bocah itu tak ingin mengambil pusing perkara panggil memanggil selama itu sopan.


"Apa?", sahut Zea yang memainkan ponselnya bermain mobile lejen.


"Besok balik ke rumah Syam lagi yuk!", ajak Angel. Entah kenapa ia merasa senang, Syam menjadi anggota keluarga besarnya.


"Syam ngga di rumah, nih dia kirim chat katanya nginep di rumah Om Arya!", kata Zea menunjukkan chat Syam pada Angel.


Angle pun menerima ponsel Zea lalu membacanya perlahan.


"Opa curang ah!", Angel merajuk.


"Ya udah sih, tinggal susul ke sana. Ke rumah Om Arya."


"Emang kamu tahu di mana rumahnya?", tanya Angel.


"Tahu!", jawab Zea singkat.


"Kamu pernah ke sana?"


"Nggak. Tapi ya tahu aja sih!", sahut Zea.


"Oh...ya udah besok minta anterin papa aja!", kata Angel memilih berbaring di ranjangnya.


Zea hanya mengedikkan bahunya. Dia tak begitu antusias karena beberapa hari yang akan datang, Syam akan ikut dirinya ke ibu kota untuk mengisi liburan semester.


Zea pun semakin lama tertidur, mungkin karena lelah. Gadis itu pun tak sanggup untuk meneruskan permainannya.


****


21.23


Terimakasih banyak-banyak yang sudah bersedia mampir dan ngasih like komen juga

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏


__ADS_2