
Dokter memberitahu bahwa bayi Lingga akan segera dipindahkan ke ruang khusus. Ayah baru itu terharu melihat penampakan Lingga junior yang begitu kecil. Jika dia biasa melihat bayi baru lahir seperti boneka, melihat putranya sungguh sangat kecil seperti botol yang berambut karena memang sangat mungil.
"Dok, apakah saya bisa mengazani anak saya sebentar?",tanya Lingga pada dokter yang tadi menangani istri dan juga anaknya di ruang operasi.
"Tentu bisa pak. Tapi setelah bayi anda masuk inkubator lebih dahulu", ucap dokter tersebut. Lingga pun mengangguk. Tak lama kemudian, Galuh menyusul keluar dari ruangan tersebut. Tak apalah tak menggendong bayi kecil itu dan dekat dengan telinga si bayi, setidaknya ia bia membisikan azan untuk pertama kalinya bagi sang putra karena kondisinya memang sedikit berbeda dibandingkan yang lain.
Lingga menghampiri istrinya yang masih belum sadarkan diri. Wajah putih Galuh semakin pucat setelah operasi tersebut. Hanya saja, Lingga merasa lega setelah mengetahui bahwa kondisi anak juga istrinya baik-baik saja.
Arya mengurus adminitrasi untuk menantu dan cucunya. Dia ingin memberikan fasilitas terbaik untuk keduanya. Meski tak semewah rumah sakit ibu kota setidaknya pelayanan rumah sakit ini masih sangat baik di mata seorang Arya.
"Syam!",panggil Glen saat semua orang sedang antusias karena kehadiran cucu mereka.
Bocah itu hanya menoleh tanpa menyahuti panggilan papa kandungnya. Ia masih belum terbiasa untuk berdekatan dengan Glen.
"Papa pamit pulang dulu ya Syam.Papa dan yang lain akan menginap di hotel dekat sini. Besok pagi papa baru menjenguk kakak kamu dan juga keponakan kamu." Syam hanya mengangguk pelan. Dia hanya ingin ,melihat kakak dan keponakannya yang baru saja dilahirkan. Syam sudah tak sabar untuk melihat bayi itu.
Tanpa mengucap apapun, Syam menyusul keluarganya yang berjalan mengikuti petugas yang memindahkan ruangan Galuh.
Glen hanya mampu memandang punggung Syam yang semakin menjauh. Sedikit lega, tapi juga masih ada beban yang harus ia tanggung.
Kekecewaan istri dan anaknya menjadi PR yang harus ia taklukan. Mau seperti apapun buruknya Glen, dia tetap memikirkan kedua perempuan yang sangat berharga dalam hidupnya.
Ponsel di sakunya bergetar. Ada chat dari papanya yang mengatakan bahwa dia juga cucu serta menantunya sudah berada di hotel seberang rumah sakit. Glen hanya perlu menyusul jalan kaki ke sana. Sedang Pak Ujang diminta pulang ke rumah Galuh agar Salim tak canggung.
.
.
.
Pagi menyapa ,Galuh pun sudah siuman karena pengaruh obat bius pasca operasi. Semalam Sekar, Syam dan juga Gita memutuskan untuk pulang karena Lingga yang memintanya. Sedang Lingga dan Arya yang menunggu dirumah sakit. Arya menyewa perawat khusus untu menantu dan cucunya.
Jika Galuh menjadi perhatian penuh suaminya, maka si bayi kecil itu dijaga oleh opanya yang sepertinya tak ingin jauh dari sang cucu.
"Abang!'',panggil Galuh lirih. Lingga pun langsung menghampiri istrinya.
''Kamu butuh sesuatu Yang?'',tanya Lingga.
__ADS_1
"Haus Bang!'',kata Galuh.
Dengan cekatan lingga pun memberikan minuman untuk istrinya. Di memang belum minum sama sekali sejak jatuh kemarin. Jadi bisa dibayangkan seperti apa hausnya yang Galuh rasakan meskipun tidak dehidrasi karena cairan nya terpenuhi dari infus.
Galuh mencoba memiringkan tubuhnya sedikit tapi tentu saja belum bisa. Ga usah ditulis lah ya, kalian yang pernah operasi caesar lebih paham seperti apa rasanya.
"Pelan sja Bu!", kata perawat yang mendampingi Galuh. Tentu saja atas acc dari papa mertuanya.
Galuh meringis merasakan nyeri di perutnya. Bukan yang pertama memang, tapi rasa sakitnya masih lah sama.
"Sudah bu, bisa belajar lagi nanti. Kalau begitu, aya permisi keluar ya!",pamit perawat tersebut.
''Iya sus, terimakasih'', jawab Lingga.
Perhatian Lingga kembali tercurah pada Galuh.
"Bang, bayi kita selamat kan?'', tanya GAluh lirih.
''Alhamdulillah sayang, hanya saja dia masih terlalu muda di lahirkan. Jdi sementara dia di inkubator.''
Galuh tak menyahut ucapan Lingga. Suaminya mengecup keningnya dengan sayang. Dia menggenggam tangan Galuh yang tidak ada jarum infusnya.
''Hei, jangan bicara seperti itu. Yang penting bagi abang kalian sehat dan selamat. Jangan menyalahkan diri seperti itu, abang ngga suka.''
''TApi kan bang....?''
"Sudah, jangan pikirkan macam-macam ya?''
Galuh pun mengangguk pelan.
"Sudah ada nama yang kamu siapkan sayang?'',tanya Lingga mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Eum...belum bang, terserah abang aja. Atau...?''
"Atau apa?''
"Papa, barangkali papa mau kasih nama buat cucunya.''
__ADS_1
Lingga tersenyum.
''Iya, abang yakin papa pasti mau memberikan nama terbaik untuk cucu laki-lakinya.''
Selang beberapa saat kemudian, sekar dan Gita masuk keruang rawat Galuh. Dua ibu itu langung memeluk dan mengecup kening Galuh.
Ucapan selamat dan kebahagian tak lepas dari dua nenek tersebut. Sekar membawakan pakaian ganti untu menantunya.
''Bu, Syam mana?'', tanya galuh.
"Syam sekolah nak. Nanti pulang sekolah, dia diantar Mang Salim ke sini.''
Galuh mengangguk paham.
"Lalu zea?'', tanya GAluh. Bagaimana pun dia takut jika gadis kecil itu akan disalahkan oleh semua orang. Terutama oleh Syam.
''Zea di hotel depan dengan orag tuanya'', sahut Lingga dengan ekspresi kesal.
''O, syukurlah!", kata Galuh.
"Yang, abang mau lihat dede bayi dulu ya. Kamu di temani ibu sama mama .''
"Aku juga pengen liat anak kita bang!'', kata Galuh memelas.
"Sementara belum dulu sayang, abang akan foto dan videoin biar kamu bisa lihat. Nanti kalau kamu sudah bisa duduk di kusi roda, Abang ajak ke sana.''
Galuh sebenarnya sedih, hanya saja dia tak bisa menolak apa yang suaminya katakan.
"Ma, Bu. Titip Galuh ya!", kata Lingga.
"Iya!'', jawab keduanya. Lingga pun memutuskan untuk mandi lebih dulu barulah menemui papa dan juga bayinya.
****
09.44
Segini dulu ya, makasih 🙏🙏
__ADS_1
Eh, tapi mau di kasih nama siapa tuh bayik???