Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 66


__ADS_3

Jika Galuh dan Lingga bermesraan saling melepas rindu, berbeda dengan kedua kakak iparnya. Vanes tampak banyak diam, padahal selama ini ia dan suami selalu menyempatkan untuk pillow talk sebelum tidur. Tapi kali ini, Vanes justru hanya berbaring dan menatap langit-langit kamar yang mereka huni.


"Ada apa sayang? Heum?", Puja mengusap pipi Vanes yang mulus tanpa cacat sedikitpun. Sudah dipastikan berapa biaya perawatan kulit nya selama ini. Apalagi dia tinggal di luar negeri.


Vanes menoleh pada suaminya yang tampan tak berbeda jauh dengan sang adik karena mereka hanya selisih usia tiga tahun.


"Tadi...aku ngobrol sama Galuh."


Puja tampak menyimak apa yang akan istrinya sampaikan.


"Aku tidak menyangka jika mereka berdua melewati banyak kesulitan selama ini!", nafas Vanes terdengar berat. Puja mengusap bahu istrinya dan sesekali mengecupnya.


"Apa benar papa sejahat itu? Aku... hampir ngga percaya! Tapi...ini Galuh yang cerita. Bahkan...Galuh masih bisa bilang papa orang baik setelah apa yang terjadi padanya selama ini."


"Semua tahu perlakuan papa ke aku kaya apa. Sudah seperti sama anak sendiri, tapi...kenapa beliau bersikap demikian pada Galuh, sama-sama menantu papa! Jujur, aku kecewa sama papa!"


"Galuh tidak berharap pengakuan dari papa, tapi....", Vanes sampai tak bisa lagi melanjutkan ucapannya. Sebagai seorang perempuan, sebagai seorang menantu bahkan seorang ibu....Vanes bisa merasakan apa yang Galuh rasakan karena sikap papa mertua mereka.


"Sayang! Udah!", Puja mengusap bahu Vanes lagi.


"Dimata papa, kamu anak perempuan dan menantu kesayangan papa!", kata Puja.


"Karena aku dari keluarga terpandang? Jadi papa menghargaiku? Apa jika aku orang biasa seperti Galuh, papa juga akan memperlakukan ku sama seperti Galuh?", tanya Vanes mulai terdengar emosi.


"Sshhhttttt....jangan bicara seperti itu. Aku pun awalnya marah mengetahui ini semua sayang. Aku anak pertama papa, aku pasti jauh lebih kecewa dari kamu!", Puja menggenggam tangan istrinya lalu mengecup punggung tangannya.


"Lingga pun sama seperti Galuh, dia tidak butuh pengakuan asalkan mereka bisa berdiri sendiri dan tidak merepotkan papa, hanya itu. Lingga dan Galuh mungkin sudah lelah di rendahkan sama papa. Tapi mereka tak membalas perlakuan papa. Justru mereka semakin membuktikan bahwa mereka memang mampu tanpa bayang-bayang kekuasaan papa."


"Oke, mungkin tentang kehidupan perekonomian mereka...aku bisa memakluminya meski sedikit. Tapi...soal nyawa bayi pertama mereka??? Hah!", Vanes menggeleng heran.

__ADS_1


"Semua sudah takdir Sayang, sudah jangan terlalu di pikirkan! Heum? Lingga dan Galuh sudah dewasa, mereka tahu apa yang baik dan tidak untuk di lakukan."


"Apa kita bisa merubah papa?", tanya Vanes. Puja hanya menghela nafas pelan.


"Tidak ada yang bisa merubah orang lain selain orang itu sendiri sayang, berharap saja jika jika papa akan menjadi lebih baik nantinya."


Vanes menenggelamkan kepalanya di dada bidang Puja! Mulut nya mungkin diam, tapi hatinya bertekad ingin agar papa mertuanya bersikap adil pada dua menantunya.


.


.


.


Arya bangun dari tidurnya yang tak nyenyak sama sekali. Tempat yang di sebut hotel ternyata sebuah motel yang tak pernah terpikirkan oleh seorang Arya untuk bermalam di sana. Ada hotel sebenarnya, tapi cukup jauh dari kampung Galuh. Itu artinya dia harus kembali ke kota kabupaten lagi. Dan itu sangat membuang waktunya.


Pria yang sudah mulai beruban itu menikmati sarapannya hanya dengan ditemani secangkir kopi hitam dan juga biskuit yang ada di warung dekat motel. Benar-benar bukan Arya! Dia biasa di layani, tapi saat ini ia malah melakukan apapun sendiri.


"Jadi kalo kita bisa ambil langsung dari pabriknya jatuhnya lebih murah!", kata orang ke satu.


"Iya juga sih! Heran gue, kenapa ya pak Lingga ngga bikin aja toko material aja di daerah sana. Dari pada cuma batako sama batu bata doang!", sahut orang ke dua.


Arya mendengar dengan seksama obrolan dua orang yang sedang membicarakan anak bungsunya.


"Gue pernah denger sih, katanya sejauh ini dia ga ada niat buat bikin toko jadi produser sama pemasok aja udah cukup!"


"Huum, gue salut sama dia. Masih muda, sukses, baik lagi!", kata orang ke satu sambil menyesap kopinya. Arya menoleh sekilas pada dua orang yang sedang membicarakan anaknya.


"Iya, gue sampai heran sekelas pabrik Xxx aja yang mobilitasnya lebih banyak, ngga kepikiran sama sekali tuh buat benerin jalan kampung. Padahal mah, jalan rusak juga gara-gara mobil mereka juga yang keluar masuk pabrik!"

__ADS_1


"Beda cara pikirnya bro! Kalo pak Lingga itu, meski mungkin belum sekaya pemilik pabrik tapi dia lebih mementingkan orang banyak. Bisa bayangin kan...berapa dana yang harus dia keluarkan buat perbaikan jalan dari ujung desa sampai ke tempat nya? Ga sejuta dua juta bro!"


"Ya... prinsip orang yang seimbang sama urusan akhirat mah gitu, apa namanya? Amal jariyah ya? Keliatannya ngga terlalu fanatik tapi agamanya terlihat bagus kok!"


"Iya, mungkin pak Lingga sukses juga karena doa dari istrinya. Kan ada pepatah yang mengatakan di balik lelaki sukses pasti ada perempuan hebat hahahaha!"


"Iya bener banget tuh, gue juga mau satu yang kaya gitu hahahahah!", lanjut temannya.


Arya meremas jemarinya sendiri. Ia semakin merasa panas saat orang-orang memuji anak dan juga menantunya.


Dengan sedikit kesal, Arya bangkit dari bangkunya hingga membunyikan suara cukup keras hingga membuat orang lain terkejut. Termasuk dua orang yang sedang membicarakan Lingga tadi.


"Sabar pak! Ngga usah bikin gaduh di sini! Kalo mau sepi, sana ke kuburan!", celetuk orang yang terkejut.


"Diam kamu?!", kata Arya. Lelaki itu pun membayar biaya sewa menginapnya. Setelah itu, barulah ia menuju ke rumah Lingga.


"Kok pulang sih?", tanya Galuh pada Vanes.


"Iya Luh, lain kali kami ke sini lagi kok!", kata Vanes. Baru saja Galuh merasakan punya kakak, tapi harus pisah jauh.


"Mama juga mau pulang sayang! Nanti kalau mau acara nujuh bulan, mama ke sini lagi!", kata Gita.


"Iya ma."


Meski sedikit berat, Galuh tetap mencoba tersenyum.


Tak lama setelah mereka saling berpelukan, terdengar keributan dari luar. Sontak hal itu menjadi perhatian orang-orang di dalam rumah itu.


Sementara di luar....

__ADS_1


"Katakan pada Lingga, saya ingin menjemput istri saya!", bentak Arya. Karyawan Lingga pun tak tahu sebenarnya apa yang terjadi, tapi kehadiran Arya mengganggu pekerjaan mereka.


__ADS_2