
Lingga dan Galuh sudah bersiap. Tak lupa mereka berdua membawa tas berisi uang cash meski tak sebanyak yang harus mereka bayarkan pada pak Haji Udin. Mereka hanya membawa beberapa juta, sisanya akan di transfer keesokan harinya sekalian mengurus surat-surat yang berpindah tangan.
"Bang, Ganesh bobo nih bang. Gimana dong?", tanya Galuh pada suaminya.
"Minta tolong ibu jagain sebentar. Kita ngga sampai tengah malam kali pulangnya Yang!"
"Huum, ya udah aku bilang ibu dulu bentar!"
Galuh pun meninggalkan kamarnya menghampiri ibu dan bapak tirinya di ruang tengah di mana Syam biasa main PS.
"Bu!", panggil Galuh yang datang menghampirinya.
"Kenapa kak? Udah mau ke pak haji Udin?", tanya Sekar.
"Iya, tapi Ganesh bobo!"
"Ya udah atuh ibu saja yang jagain. Kakak sama Abang pergi aja!", pinta Sekar.
"Ibu emang paling perhatian deh!", puji Galuh tersenyum pada sang ibu.
"Udah, mujinya besok lagi. Nanti keburu malam. Ngga enak sama pak Haji nya!", pinta Sekar.
"Iya Bu! Mau kakak bawa kesini Ganesh nya?", tanya Galuh.
"Ngga usah. Ibu liatin dari depan pintu sambil nonton TV juga jadi!", jawab Sekar. Galuh pun mengangguk.
"Adek udah telpon Bu?"
"Belum. Mungkin nanti kalo udah di rest area baru telepon."
"Heum, ya udah Bu. Kakak panggil Abang dulu!", kata Galuh. Sekar pun mengangguk. Salim baru saja keluar dari kamarnya. Entah baru selesai ngapain. Yang jelas sekarang lelaki berkacamata itu masih mengenakan sarung dan kaos lengan panjang.
Salim menghampiri istrinya yang duduk di sofa. Belum sempat bertanya pada sang istri, Galuh dan Lingga keluar dari kamar mereka.
"Mau kemana kak , bang?", tanya Salim masih berusaha menghilangkan canggung memanggil mereka seperti itu.
"Itu Bah, mau ke rumah pak haji Udin. Mau transaksi jual beli tanah yang mau kami beli!", jawab Lingga.
"Oh...!", Salim manggut-manggut.
"Ibu, Abah! Pamit ya! Nitip Ganesh!", kata Galuh. Salim mengangguk pelan.
"Iya, kalian juga hati-hati!", Sekar memperingatkan.
"Iya Bu. Kami berangkat ya, assalamualaikum!", pamit Galuh.
"Walaikumsalam!", jawab Salim dan Sekar bersamaan.
Tinggallah mereka berdua...eh...bertiga dengan Ganesh di rumah tersebut. Salim mengutak-atik ponselnya beberapa saat tapi tak membuat Sekar mencari tahu.
Sekar masih serius menonton sinetron di salah satu stasiun televisi swasta itu yang menunjukkan adegan drama rumah tangga.
Salim menatap istrinya yang tengah serius itu lalu tersenyum dan meraih punggung tangan Sekar.
"Serius banget sih Bu?", tanya Salim. Sekar menoleh sebentar lalu tersenyum tipis.
"Abah kan lagi sibuk sama hp. Ya udah atuh, ibu mah nonton aja!", kata Sekar.
Salim merengkuh bahu Sekar.
"Cemburu kok sama hp!", kata Salim.
"Siapa yang cemburu? Maksud nya mah, ibu ngga mau ganggu Abah yang lagi serius. Mungkin ada hal yang penting!"
Salim mengangguk sedikit.
"Iya, mas Arya nawarin kerja sama buat bikin toko sembako bukan cuma warung sayur di pasar. Kata mas Arya, usaha di perempatan besar di sana cukup menjanjikan."
"Oh...!", sahut Sekar manggut-manggut.
Salim memperhatikan wajah muram istri yang baru ia nikahi kemarin. Rasanya masih seperti mimpi bisa memiliki Sekar saat ini.
Sekar melongokkan kepalanya melihat posisi Ganesh di atas ranjang. Ia takut cucunya akan jatuh terguling ke lantai.
"Apa yang sedang ibu pikirkan?", tanya Salim menguap pelan kening sang istri lalu menyelipkan rambut yang sedikit menjuntai ke wajah Sekar.
Terdengar helaan nafas dari bibir mungil Sekar. Dia menatap suaminya beberapa saat.
__ADS_1
"Abah teh pengen punya anak dari ibu?", tanya Sekar takut-takut. Salim sampai bingung melihat ekspresi wajah istrinya yang bertanya seperti itu.
"Kenapa ibu tanya seperti itu?", tanya Salim.
"Pengen tahu aja!", jawab Sekar. Tak mungkin ia jujur sudah mendengar obrolan antara Salim dan juga anak serta menantunya.
"Bu, kalo memang Allah mau kasih rejeki anak lagi buat kita, Abah Alhamdulillah sekali. Tapi kalau pun tidak, ya tidak apa-apa. Abah udah seneng banget punya kakak, Syam, Abang sama Ganesh juga. Apalagi udah ada ibu!", kata Salim menenangkan istrinya.
Tapi ternyata ucapan Salim panjang lebar tersebut tetap tak menenangkannya.
"Bu, kita bahkan baru menikah kemarin. Jangan terlalu merisaukan hal itu. Kita jalani semua sebagai mana mestinya. Kita..."
"Tapi Abah masih muda, ibu udah tua. Abah masih pantas menimang bayi. Tap...."
"Astaghfirullah! Bu, betul memang... menikah itu salah satunya karena ingin memiliki keturunan. Tapi tujuan menikah tidak hanya itu. Abah pengennya kita selalu sama-sama sampai surga nya Allah."
Sekar bergeming.
"Banyak kok orang di luar sana yang menikah bertahun-tahun tapi belum punya anak. Bahkan ada yang memutuskan untuk tidak memiliki anak."
"Lalu Abah?"
"Seperti yang tadi Abah bilang, mau di kasih lagi Alhamdulillah. Kalau tidak, Abah udah merasa cukup punya anak-anak bahkan cucu!", jawab Salim mengusap bahu Sekar.
Usia Sekar lebih tua tujuh tahun dari Salim. Tapi secara penampilan, keduanya masih terlihat seumuran. Sekar memang awet muda di usianya tersebut.
"Sudah, jangan memikirkan apa yang bukan kapasitas kita. Toh kita baru menikah kemarin. Masih bisa berusaha lagi, kalau perlu tiap hari!", kata Salim berkata lirih di ujung kalimatnya.
Sekar menahan wajahnya agar tak bersemu merah. Tapi tetap saja suaminya melihat perubahan warna itu.
"Ngga usah malu-malu gitu!", kata Salim yang langsung menenggelamkan Sekar dalam pelukannya.
"Masih kayak mimpi bisa nikahin ibu. Padahal ...ibu teh besannya majikan Abah!", kata Salim masih mengeratkan pelukannya.
Di sela keromantisan itu, tiba-tiba terdengar tangisan Ganesh hingga membuat keduanya buru-buru menghampiri Ganesh yang bangun dari tidurnya karena pup.
Dengan cekatan Sekar membersihkan lalu mengganti dan memasang diaper lagi. Beruntung Ganesh tidak rewel. Setelah kembali nyaman, bayi itu pun tidur lagi.
Sekar menepuk-nepuk bokong Ganesh agar tertidur pulas. Beberapa saat kemudian, Sekar pun keluar kamar Galuh.
[Assalamualaikum adek!]
[Walaikumsalam,ibu! Adek lagi di rest area Xxx]
[Oh, udah makan dek?]
Tanya Sekar penuh perhatian. Ini adalah pertama kalinya mereka berjauhan sejak keduanya menjadi dekat.
[Udah]
Jawab Syam singkat.
[Adek jadinya ikut mobil Opa]
[Lho? Kenapa? Bukannya tadi sama...Zea?]
Sekar sedikit enggan menyebut papa apalagi nama Glen.
[Iya, tapi ada Angel ikut mobil papa. Adek males,Bu! Zea sendiri aja berisik di tambah Angel]
Sekar tersenyum tipis mendengar keluhan Syam yang sekarang masih jadi anak bungsunya, entah beberapa episode yang akan datang 🤭🤭🤭
[Iya sudah, tapi adek jangan ngerepotin opa ya!]
[Siap Bu!]
Terdengar suara seseorang memanggil nama Syam.
"Syam! Ayo jalan lagi!", ujar suara itu. Syam pun menyahutinya.
"Iya Opa!", sahut Syam.
[Ibu, maaf. Adek mau jalan lagi. Nanti kalo udah sampe di rumah Opa, adek telpon lagi]
[Iya. Ya udah, hati-hati dek]
[Ya Bu, assalamualaikum]
__ADS_1
[Walaikumsalam]
Panggilan terputus lalu Sekar meletakkan ponselnya di meja lagi.
"Abah mau ibu buatkan teh?", tawar Sekar pada suaminya.
"Boleh deh Bu, makasih ya!", kata Salim. Sekar tersenyum tipis lalu beranjak ke dapur.
.
.
.
"Harusnya tadi mah pake motor aja bang! Bisa selap selip!", kata Galuh.
"Kalo siang ngga apa-apa Yang. Ini mah malam, dingin banget pakai motor mah. Nanti kalo kamu masuk angin gimana? Pilek? Kasian Ganesh!", kata Lingga.
"Lagian pak haji Udin kenapa teh minta transaksinya jauh amat. Ngga di rumahnya aja situ", Galuh memanyunkan bibirnya.
"Katanya rumahnya masih belum selesai di renovasi. Dia ada di tempat anak sulungnya."
Galuh tak lagi menyahuti ucapan Lingga. Hingga tiba-tiba saja beberapa kendaraan roda dua menghadang mobil Lingga. Beruntung Lingga mampu menghindari motor yang berhenti di depannya.
"Astaghfirullahaladzim!", pekik sepasang suami istri bersamaan.
"Bang, mereka mau apa?", tanya Galuh takut. Lingga bersiap akan membuka pintu mobil tapi Galuh mencegahnya.
"Bang, mau ngapain?", tanya Galuh yang sudah mulai panik. Kenapa????
Penampilan pengendara roda dua yang menghadang mereka cukup menciutkan nyali mereka berdua.
"Mereka punya tujuan apa sama kita!"
"Jangan keluar bang! Iya kalau mereka ngga ngapa-ngapain. Kalo mereka bawa sajam gimana?", tanya Galuh yang semakin cemas.
"Tapi kita juga ngga bisa pergi dari sini selama mereka masih menghadang kita Yang! Satu-satunya cara yang hadapi mereka, mau apa mereka mencegat kita?!", kata Lingga.
Di sela perdebatan sepasang suami istri itu di kejutkan dengan gedoran kaca mobil mereka yang di pukul keras.
"Keluar kalian?!", pinta si penggedor kaca. Lingga belum membukanya karena Galuh menahan suaminya.
"Bahaya bang!", kata Galuh lirih yang benar-benar merasa takut. Bukan hanya satu dua orang yang mencegat mereka, tapi sekitar lima orang berbadan besar.
"Buka! Kalau tidak, kami akan membukanya dengan paksa dan menyeret kalian!!!", bentak orang itu.
"Yang, percaya sama Abang! Insyaallah Abang bi.....!", belum selesai ucapan Lingga tiba-tiba sesuatu mengejutkan mereka.
Prankkkkk....
Pintu kaca mobil Lingga di pukul hingga pecah. Galuh menjerit kencang karena terkejut di tambah lagi pecahan kaca itu berhamburan ke tubuh suaminya.
Orang yang memecahkan kacanya menarik Lingga dengan paksa agar keluar dari mobilnya. Galuh sendiri sudah meringis ketakutan.
"Abang!!!!", teriak Galuh di sela tangisnya. Lingga mencoba melawan orang-orang yang menghadangnya. Dia memang bisa bela diri, tapi menghadapi begal merupakan pengalaman pertamanya.
"Mau kalian apa???!!", bentak Lingga.
"Serahkan semua yang Lo bawa!", jawab si pemecah kaca.
"Ngga akan!", kata Lingga lagi. Tapi tiba-tiba segerombolan motor yang entah berapa banyak menuju ke arah mereka berada.
Deru motor besar saling bersahutan berada di belakang mobil Lingga.
Wajah Lingga memucat. Apakah dia bisa menyelamatkan diri dan juga menyelamatkan istrinya dari situasi genting ini?
Galuh sudah pasrah di dalam mobilnya. Yang dia pikirkan adalah putra nya yang ada di rumah! Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya.
Lingga pun berpikir tak beda jauh! Dia tidak tahu apakah beberapa pengendara di belakang mobilnya adalah teman atau lawan!
*****
21.47
Halu ngga sih??? Halu pake banget 😁✌️
Terimakasih 🙏✌️✌️✌️ buat kalian-kalian yang masih berkenan mampir di tulisan Mak othor receh ini 🙏✌️🙏🤭✌️
__ADS_1