
Syam tertegun saat mobil Arya memasuki halaman rumahnya yang cukup mencolok karena ia melihat beberapa laki-laki berbadan besar ada di sana.
Mereka anak buah Abah? Batin Syam. Dia tak mau bertanya pada Arya karena biasanya Arya hanya akan menjawab seadanya.
Mobil Arya berhenti di depan para lelaki itu. Arya dan Syam membuka masing-masing pintu mereka. Terlihat para lelaki itu menunduk salam pada Arya.
Arya sendiri hanya membalas dengan anggukan singkat. Sudah setelan nya seperti itu!
"Pa....?", Syam memanggil Arya. Seolah Arya paham dengan apa yang akan Syam tanyakan, dia lebih dulu menyela.
"Mereka anak buah Abah kamu, tugas mereka menjaga kalian!", kata Arya. Meski tak puas dengan jawaban Arya, Syam hanya mengangguk pelan.
Mereka berdua memasuki rumah yang tampak sepi. Bagaimana tidak, Sekar dan Ganesh ada di kamarnya. Sedang Galuh ada di teras belakang.
"Adek ke kamar dulu, ganti baju habis itu makan!", titah Arya. Tanpa membantah, bocah tampan itu langsung menuju ke kamarnya di lantai dua.
Arya mencari keberadaan Galuh yang baru saja masuk dari teras belakang. Wajah perempuan mungil itu tampak muram karena menghadapi masalah berat 'lagi'. Kenapa???
Karena dia merasa bersalah! Bagaimana keadaan orang-orang yang sudah mengkonsumsi sayuran dari nya? Makan sayur agar sehat, tapi kenapa mereka malah jadi keracunan?
"Luh!", panggil Arya yang membuat Galuh terkejut.
"Papa? Kapan datang?", tanya Galuh.
"Barusan. Syam ke atas, ganti baju dulu! Oh ya, Ganesh mana?", tanya Arya.
"Oh...itu Pa, Ganesh sama ibu di kamar ibu."
Arya melihat kecemasan di wajah menantu bungsunya. Jika dulu ia sempat tak menyetujui hubungan Galuh dan Lingga, sekarang justru dia tidak ingin siapapun merusak kebahagiaan keluarga anak dan menantunya tersebut.
"Semua akan baik-baik saja Luh! Papa akan menyelidiki semuanya!", kata Arya. Galuh mengangguk dan percaya saja dengan ucapan papanya yang memang sering bertindak tak terpikirkan oleh seorang Galuh.
Syam menuruni tangga lalu bergabung dengan kakak dan Arya di meja makan.
"Syam makan sendiri?", tanya Syam pada Galuh dan Arya.
"Kakak udah makan dek!", kata Galuh.
"Papa juga, tadi mama sudah masak untuk makan siang!", kata Arya.
"Mama sama siapa di rumah Pa?", mendadak Galuh mencemaskan ibu mertuanya.
"Ada orang-orang papa!", jawab Arya.
"Tapi....", kalimat Galuh menggantung.
"Insyaallah mama akan baik-baik saja!", kata Arya lagi. Anak buahnya melaporkan situasi dan kondisi rumah Arya. Lelaki itu memang sengaja tak memberi tahu tentang kebakaran pabrik Lingga apalagi kebun Galuh.
Sudah di pastikan perempuan paruh baya itu akan panik sendiri.
Syam memakan makan siangnya sendirian meski ia ditemani oleh dua orang. Meski tak menyahut obrolan keduanya, bocah itu tetap mendengar obrolan Galuh dan Arya.
"Cepet amat dek, emang kenyang?", tanya Galuh pada adiknya yang makan tak seberapa.
"Ngga napsu makan kak!", jawab Syam. Sepertinya si kakak memahami apa yang Syam resahkan, karena dia pun demikian.
"Kak...?"
"Heum?", sahut Galuh.
"Apa ini teguran buat Syam ya?", kata Syam. Galuh dan Arya mengernyitkan alisnya bersamaan.
"Teguran?", tanya Arya. Syam mengangguk.
"Dulu...Syam pernah sombong saat Zea menuduh Syam gila harta keluarganya. Dengan sombongnya Syam mengatakan bahwa Syam sudah mampu mencari uang sendiri dari hasil perkebunan ini. Tapi...Syam lupa, ternyata dengan mudahnya Yang Maha Kuasa mengambil apa yang Dia titipkan pada keluarga kita. Benarkan?", tanya Syam.
Baik Galuh maupun Arya sama-sama tertegun. Bukan karena apa-apa, tapi karena ucapan Syam yang mengatakan jika ini teguran karena kesombongannya beberapa waktu lalu.
Tapi, benar kah demikian???
__ADS_1
"Dek, mau itu teguran, cobaan, bahkan ujian dari yang kuasa, kita harus tetap ikhlas menjalaninya. Kita hanya perlu muhasabah diri agar tak mengulang kesalahan yang sama. Mungkin benar, ini sentilan kecil dari Nya. Ke depannya, kita berusaha lebih baik lagi. Ya?", Galuh mencoba menghibur Syam meskipun dia sendiri juga sedang mencoba seperti yang ia nasehatkan pada adiknya.
Syam mengangguk pelan. Arya menatap bergantian kakak adik tersebut. Lelaki dewasa itu semakin kagum dengan pribadi keduanya.
Beruntung Arya menyadari kesalahannya selama ini, jika tidak? Mungkin penyesalan terbesarnya adalah tak mengakui Galuh sebagai menantunya saat itu.
"Pa?", panggil Syam.
"Heum?"
"Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan kondisi perkebunan kita?", tanya Syam.
"Benar Pa. Mang Udin bilang, di beberapa sektor penting serangan tikus membuat tanaman kita banyak yang rusak parah. Jika tikus itu memang datang secara alami, mungkin tak akan separah ini!", kata Galuh menyampaikan informasi dari Udin.
"Papa akan mencoba meminta pertolongan rekan papa. Kebetulan, pertanian bukan bidang yang papa geluti. Kamu bisa tanya sama Lingga, Luh! Dan papa tetap akan mencoba mencari jalan keluar."
Galuh pun mengangguk.
"Papa...jika papa meminta orang untuk membantu papa, memang papa tidak takut di khianati?", tanya Syam.
Arya tersenyum tipis.
"Papa membayar mereka Syam. Bukan cuma-cuma. Papa butuh informasi, mereka butuh uang."
"Simbiosis mutualisme!", kata Syam. Galuh dan Arya mengangguk.
"Tapi...apa papa pernah dikhianati sebelumnya?", tanya Syam lagi.
"Pernah! Dan dari pengkhianatannya, papa ada di sini bersama kalian!", kata Arya. Galuh dan Syam berpandangan.
"Papa meminta Abah kalian untuk melaporkan setiap saat selama Mama ada di sini. Tapi....dia justru memberi informasi lain-lain yang sangat banyak tanpa papa minta. Dan ya...kalian paham maksud papa!", kata Arya mengingat kejadian dimana Salim justru mengirim banyak foto dan video di mana istri dan keluarga anaknya tertawa bersama.
"Lalu, sejak kapan Abah jadi pemimpin mafia?", tanya Syam. Galuh melebarkan matanya mendengar sang adik menyebut abahnya, mafia.
"Hehehe ada-ada aja kamu Syam. Abah mu bukan mafia. Dia orang kepercayaan papa. Bukan sekedar supir buat papa atau mama. Tapi dia orang kepercayaan papa yang bertugas untuk mengkoordinasikan anak buahnya. Jauh sebelum kami pindah ke sini, Abah kamu memang pekerjaannya banyak."
"Sudah, lebih baik kalian istirahat. Papa akan ke pabrik yang terbakar dulu. Galuh, jaga Syam dan Ganesh serta ibu kamu selama Lingga dan Salim belum kembali. Papa tau, ada orang yang berjaga di luar. Tapi bagaimana pun, kamu harus tetap bisa melindungi mereka!", kata Arya panjang lebar.
"Iya pa, insyaallah?!", sahut Galuh. Arya pun meninggalkan rumah itu menuju ke lokasi kebakaran.
.
.
.
Salim dan Lingga membantu memadamkan kebakaran dengan peralatan terbatas. Sudah ada beberapa anggota polisi dan TNI yang kantornya tak terlalu jauh dari jalan utama dekat pabrik.
Tapi mobil blambir terletak di pusat kabupaten yang cukup jauh menuju ke kampung itu. Ya, ini hanya kota kabupaten bukan ibukota. Jadi wajar jika mobil pemadam cukup jauh.
Meski banyak yang membantu memadamkan, api yang berkobar semakin besar. Apalagi terpaan angin yang cukup kencang serta isi dari pabrik tersebut memang bahan yang mudah terbakar.
Tapi bagaimana bisa ada percikan api di dalam sana ? Apa karyawannya ada yang teledor membuang puntung rokok sembarangan????
Lingga tampak beristirahat sejenak. Dia lelah! Lihatlah badannya sudah basah oleh keringat yang bercampur dengan air yang dia ambil dari sumur.
Sayangnya, mesin pompa air itu terhubung langsung dengan bangunan yang terbakar. Alhasil, mereka bahu membahu dengan cara menimbanya dan yang lain juga membantu memadamkan dengan cara lain.
"Bang!", Salim ikut terengah-engah di samping Lingga.
"Mobil blambir bentar lagi sampai kok bah!", sahut Lingga. Lalu ia memanggil semua yang sedang berusaha memadamkan api. Dia berdiri dari duduk lesehannya.
"Tolong dengarkan! Sudah, cukup! Istirahat lah, mobil pemadam kebakaran sebentar lagi sampai. Terimakasih semuanya, tolong beristirahat dulu. Saya tahu kalian lelah! Tak apa, yang penting tidak ada korban jiwa di dalam sana."
Semua yang turut membantu akhirnya mengikuti instruksi Lingga, tak terkecuali para aparatur yang membantunya.
Suara sirene blambir terdengar dari jarak jauh. Ada tiga mobil yang menuju ke arah mereka. Pabrik Lingga memang bukan pabrik besar, tapi masih dalam kategori yang sedang dan sepertinya api sulit di padamkan karena bahan yang ada didalamnya mudah terbakar.
Lingga mengobrol dengan orang-orang yang membantunya. Mereka membiarkan pemadam kebakaran untuk memadamkan apinya.
__ADS_1
Lingga mengusap peluh yang menetes di wajahnya. Hawa panas yang menerpa wajahnya semakin membuat dirinya merasakan banyak kesedihan.
Bukan karena kehilangan salah satu sumber keuangannya. Tapi ia memikirkan bagaimana setelahnya. Bagaimana nasib orang-orang yang bergantung dengan pabriknya?
Lingga menekuk kedua lututnya. Nafasnya masih memburu berlomba dengan api yang masih menyala dengan bebas.
"Aku tidak apa-apa bah, tapi bagaimana dengan mereka yang terbiasa menggantungkan nafkahnya dari sini?!", ucap Lingga lirih.
Lingga belum tahu tentang serangan tikus yang merusak tanaman di kebunnya. Entah, apalagi yang akan dia pikirkan nanti!
"Kamu sibuk mengasihani orang lain Bang, bahkan kamu sendiri sedang rugi!", kata Salim. Lingga menggeleng.
"Pabrik ini bukan semata-mata untuk menjadi sumber uang buat keluarga kita, terutama tabungan ibu. Tapi....aku ingin memudahkan mereka yang ingin menggiling pada atau menjual padi di sini agar tak terlalu jauh ke kampung bawah sana. Dan...sebagian ada yang bekerja di sini, aku...cukup bahagia bisa membantu mereka bah!"
Lingga masih terengah-engah meski tak lagi berlarian. Matanya menatap bangunan itu yang masih terbakar meskipun sudah mulai mengecil karena bantuan dari mobil pemadam kebakaran.
Netranya terlihat mengembun! Banyak yang Lingga pikirkan.
Padahal... beberapa waktu lalu juga kafe nya sempat terbakar. Tapi entah kenapa ia merasa sangat bersalah kali ini.
Salim menepuk bahu Lingga hingga lelaki tampan itu menoleh pada bapak tirinya.
"Pasrahkan sama yang kuasa. Maafkan Abah, seharusnya Abah yang bertanggung jawab bang atas semuanya. Tapi..."
"Udah bah, aku ngga apa-apa!", kata Lingga meyakinkan. Tak berselang lama, Arya tiba di lokasi.
Kebakaran itu terjadi cukup lama, terbukti karena saat Arya akan menjemput Syam api sudah mulai melahap bangunan.
"Lingga?!", Arya menghampiri sang putra yang duduk di tanah. Jangan di tanya kondisi wajah Lingga dan Salim saat ini.
Benar-benar kacau!
"Papa!", sahut Lingga.
"Apa kamu sudah membuat laporan pada petugas?", tanya Arya.
Lingga menggeleng.
"Petugas saja membantu memadamkan kok Pa!", kaya Lingga. Arya menoleh pada beberapa sosok berseragam instansi membantu memadamkan api.
"Ada niat untuk melaporkan?", tanya Arya.
Lingga menghela nafas.
"Belum tahu Pa!", jawab Lingga. Arya ikut berjongkok di samping Lingga. Perlahan, api mulai padam.
Hampir semuanya mengucapkan hamdalah karena proses memadamkan api sudah selesai.
Ponsel Lingga bergetar, ada pesan yang entah dari siapa.
[Itu baru pabrik receh kamu Lingga?! Bagaimana jika keluarga kamu berikutnya????]
Begitu isi chat tersebut. Arya ikut membacanya.
"Siapa Ga?", tanya Arya. Nomor yang mengirim pesan padanya tak terdaftar di kontak ponsel Lingga.
"Ngga tahu, Pa!", jawab Lingga.
"Biar nanti Abah dan orang-orang Abah mencari tahu semuanya Bang?!", ucap Salim.
Lingga mengangguk perlahan, setuju dengan apa yang papa dan bapak mertuanya katakan.
****$
20.15
Siang sibuk, insyaallah malam menyempatkan menghalu ,βΊοΈβοΈ
Terimakasih semuanya πβοΈππ€
__ADS_1