
Arya semakin panas setelah Salim mengirimkan foto dan video yang memperlihatkan Gita dan anak-anaknya yang tertawa lepas tanpa beban. Sepulangnya Helen sekeluarga, Arya memutuskan untuk menyusul sang istri ke kampung halaman menantunya.
Bukan untuk ikut bergabung, melainkan ingin menyeret paksa Gita agar ikut pulang dengannya. Arya mengendarai mobilnya sendiri menuju sebuah kabupaten yang cukup jauh dari kotanya.
Lelaki yang sudah tak muda lagi itu masih kekeuh dengan pemikirannya. Apa yang dia lakukan adalah yang paling baik untuk masa depan anak-anaknya. Jika kemarin Lingga yang membangkang padanya, sekarang mulai terlihat juga Puja akan melakukan hal yang sama.
Bisa di lihat dari cara Puja menatap kecewa pada Arya setelah tahu kebenarannya apa yang terjadi pada sang adik bungsunya.
Padahal selama ini, Arya selalu mengatakan jika lingga baik-baik saja. Bahkan Puja sampai lost contacts dengan sang adik perkara sang papa tak pernah mengijinkan nya untuk sekedar berbicara dengan Lingga.
Tidak hanya sebentar, hampir empat tahun bahkan sebelum wabah Puja tak boleh menghubungi sang adik. Patut di curigai bukan? Tapi Puja memilih untuk abai, dan yakin jika Lingga baik-baik saja. Begitu hebatnya Arya menutupi perbuatannya.
Menjelang magrib, Arya memilih beristirahat di sebuah pusat perbelanjaan untuk makan malamnya. Karena di baliho, dia sempat melihat adanya restoran yang biasa ia kunjungi sedang membuka cabang di kota tersebut.
Lelaki itu pun berjalan perlahan karena sudah cukup lelah mengendarai mobil sendirian. Tubuhnya sudah renta, tapi otaknya masih menggila apalagi tentang harta dan tahta. Hanya satu plus dari sosok Arya, dia tipe setia pada sang istri. Meskipun banyak di luaran sana godaan wanita yang bisa saja menjeratnya. Mungkin...kebucinan anak-anaknya menurun padanya. Hanya saja sikap arogan dan gengsinya saja yang sudah terlanjur membatu di sosok Arya.
Saat melewati beberapa stand menuju ke restoran, tak sengaja Arya melihat sosok putra sulungnya dan juga cucu kesayangannya. Wajahnya sumringah, langkahnya di percepat saat Puja merangkul bahu Angel menuju ke arah depan. Tapi tiba-tiba saja kakinya perlahan memelankan langkahnya.
Lingga dan Syam mendekati Puja dan Angel. Niatnya ingin menghampiri angel pun gagal. Padahal Arya sangat merindukan cucu kesayangannya itu, tapi entah kenapa Puja justru mengajak Angel ke kampung ini.
Perut Arya sudah meronta ingin di isi. Akhirnya ia pun memilih untuk tidak mengejar Angel. Dia bisa menemui mereka saat di rumah Lingga nanti.
Wow... seorang Arya punya muka untuk memunculkan dirinya di rumah anak serta menantunya yang ia rendahkan selama bertahun-tahun ini?????
__ADS_1
Mungkin dia hanya menebalkan muka agar hilang rasa malu dan gengsinya. Kita lihat saja nanti!
Meninggalkan Arya yang kelaparan, Lingga dan pasukannya pun keluar dari pusat pertokoan. Lalu mata Lingga beralih ke stand makanan tradisional. Ia teringat sang istri yang sangat menyukai makanan itu.
"Dek, beli itu dulu ya buat kakak sama ibu. Mereka kan suka banget! Mumpung kita ke sini!", ajak Lingga pada Syam. Syam pun mengekor di belakangnya. Puja dan Angel yang memang sengaja hanya ikut-ikutan ke pusat perbelanjaan ini pun tak menolaknya.
"Satunya berapa teh?", tanya Lingga pada penjual makanan itu.
"Satu tiga ribu lima ratus, kalo sepuluh ribu dapat tiga!", jawab si teteh.
"Oh, ya udah bungkus teh. Seratus ribu aja kalo gitu!", pinta Lingga.
Si penjual merasa sangat senang karena dagangannya di borong menjelang malam seperti ini. Padahal biasanya dagangannya itu tidak habis, kalau pun akan menghabiskan paling tidak ia harus menunggu sampai pertokoan akan tutup.
"Boleh deh!", kata Lingga. Ia pun mengeluarkan selembar uang berwarna pink dan hijau.
"Ambil saja kembali nya teh! Makasih!", ucap Lingga.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak pak!",ucap si penjual.
"Sama-sama!", kata Lingga. Lalu ia pun menyerahkan kantong berisi makanan itu pada Syam karena Lingga membawa box PS milik Syam.
"Makanan apa sih kaya gitu Uncle Hans? Mera ijo merona begitu banyak zat tambahan tidak sehat! Udah kaya bunga saja!", celetuk Angel.
__ADS_1
"Ini namanya carabikang An. Enak kok, rasanya manis! Kalo sesekali makan zat pewarna tambahan begini ya tidak apa-apa An!", jelas Lingga.
"Apa rasanya begitu? Lihatnya saja ilfeel!", lanjut Angel.
"Mencela makanan itu dosa! Dari pada mulut mengatakan hal yang tidak bermanfaat, diam lebih baik!", sarkas Syam.
Puja dan Lingga ternganga, begitu pula dengan Angel yang tak percaya jika adik kelas seusia Syam menegur nya seperti itu. Wajar Angel tak tahu seperti apa rasanya makanan itu, karena selama ia hidup di Kanada tidak ada. Pulang ke Indonesia pun tak pernah makan makanan seperti itu.
"Ehem...adek, jaga bicaramu ya! Gimana juga kak Angel lebih tua dari kamu! Ya?", Lingga mengatakannya dengan lembut sambil mengacak rambut adik iparnya. Syam sendiri mendesah pelan.
"Iya, maaf!", ujar Syam lirih. Puja dan Lingga tersenyum tipis. Tapi tidak dengan Angel yang terlanjur kesal.
Puja cukup kagum dengan cara Lingga mendidik Syam meskipun mereka hanya saudara ipar. Syam begitu menghormati Lingga, sedang Lingga sendiri juga terlihat menyayangi Syam.
Puja jadi teringat akan bayi kecil yang pernah hadir dalam keluarga mereka. Bungsu dari Gita dan Arya yang meninggal kala itu. Nama Syam, pemberian dari papanya, Arya. Dan....Puja sebenarnya tahu jika papanya pasti teringat akan Arsyam, adik bungsu Puja dan Lingga.
Rumit!!! Lewati saja kalau tak paham 😆😆
Keempat orang itu sudah berada di parkiran mobil. Kali ini, Puja yang duduk di belakang dengan Angel karena si gadis remaja itu merajuk tak ingin duduk dengan Syam.
Tanpa mereka sadari, ada mobil yang mengikuti mobil Lingga menuju ke kampung mereka.
Apa reaksi Arya saat tahu seperti apa kondisi keluarga Lingga saat ini???? Kagum kah? Merasa kesal kah? Atau....masih gengsi untuk mengakuinya?
__ADS_1
Kita lihat saja nanti 😎