Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 22


__ADS_3

Masih Flashback


****


Setelah mengurus administrasi Sekar, operasi akan di laksanakan pagi hari.


"Istirahat lah! Besok pagi kamu harus melakukan pemeriksaan terhadap ginjal kamu. Saya harap gunjal kamu cocok dengan istri saya. Tapi jika tidak, kamu akan saya hitung berhutang pada saya!"


Galuh yang lugu itu hanya menganggukkan? kepalanya.


"Baik tuan Arya. Sekali lagi terimakasih tuan!",kata Galuh.


Jam yang di tunggu pun tiba. Sekar baru saja selesai di operasi. Perempuan setengah baya itu masih tak sadarkan diri pasca operasi. Usianya yang sudah di atas tiga puluh tahun mungkin menjadi salah satu pemicu keadaannya. Sejak dokter mengatakan bahwa dirinya hamil, Sekar tak segan-segan untuk berusaha menggugurkan janinnya. Tapi Galuh selalu bisa mencegahnya.


Setelah adiknya lahir kedunia, Galuh bingung sendiri. Tidak ada sosok laki-laki yang mengazani adiknya.


Andai ada saudara atau pengunjung pasien atau siapapun laki-laki muslim, ia ingin meminta nya untuk mengazani adiknya.


Dan ingatannya terlintas nama Burhan atau tuan Arya.


Galuh pun mencari keberadaan orang yang sudah membantunya. Hanya terlihat tuan Arya yang ada di depan ruang rawat istrinya.


"Tuan?!",sapa Galuh.

__ADS_1


"Oh, kamu sudah siap diperiksa? Sebentar lagi dokternya datang. Saya sudah membicarakan hal ini dengan dokter!!",kata Arya lagi.


"Saya siap tuan. Tapi...boleh kah saya meminta tolong satu kali lagi?",tanya Galuh.


"Apalagi?",tanya Arya dengan nada yang cukup tinggi.


"Itu tuan, tolong azani adik saya tuan!",kata Galuh. Arya terdiam beberapa saat lalu setelah itu dia mengatakan hal tak terduga yang Galuh dengar.


"Saya bukan seorang muslim yang taat. Memang boleh mengazani bayi?"


Galuh mengedipkan matanya berkali-kali. Tapi setelah ia menyadari, ia pun mengangguk.


"Tentu saja boleh Tuan! Saya mohon tuan! Andai ada mas Burhan, saya akan minta tolong padanya. Maaf tuan, sudah merepotkan anda!"


Arya mendengus kesal. Dia kesal karena dia hanya menjadi cadangan setelah Burhan tidak ada.


"Iya tuan!",kata Galuh. Arya pun berjalan menuju ke ruangan bayi di mana adiknya berada.


"Adik kamu laki-laki?",tanya Arya.


"Iya tuan!",jawab Galuh. Meski sedikit kagok, nyatanya Arya masih bisa melafalkan azan ditelinga bayi itu.


"Siapa nama adik mu? Dan di mana ayah kalian?", tanya Arya.

__ADS_1


"Saya belum memberi nama tuan. Tidak tahu!",kata Galuh sambil menggeleng pelan.


Arya memandangi wajah tampan bayi itu. Wajah tanpa dosa tentunya.


"Arsyam Nadir Saputra!? Bagaimana?",tanya Arya. Galuh sempat terpaku mendengar nama itu.


"Itu...nama untuk adik saya tuan?",tanya Galuh lugu.


''Itu pun kalo kamu setuju!",kata Arya.


"Nama yang bagus tuan! Terimakasih!",kata Galuh sambil tersenyum senang.


Arsyam Nadir Saputra adalah nama almarhum putra bungsu Arya, adik Lingga yang meninggal saat usianya masih bayi. Dan hari itu, Arya di beri kesempatan untuk memberikan nama pada seorang bayi. Dia jadi teringat akan anak bungsu nya. Andai masih hidup, mungkin usianya sudah sebesar Galuh.


Usai mengazani dan memberikan nama, Arya membawa Galuh ke dokter yang akan memeriksa ginjal nya apakah ada kecocokan dengan Gita.


"Alhamdulillah, ginjal nona Galuh cocok tuan Arya!",ucap dokter. Senyum Arya mengembang.


"Baiklah, terima kasih dokter. Kalo begitu saya akan ke ruang istri saya lebih dulu."


"Silahkan tuan!",kata dokter.


Setelah Arya pergi, Galuh hanya berdua dengan dokter.

__ADS_1


"Dek, kamu yakin akan melakukan transplantasi ginjal? Resiko yang kamu ambil besar lho!"


"Saya sudah memikirkannya dok!"


__ADS_2