
Lingga masih harap-harap cemas saat dia masih tidak mengetahui orang-orang yang ada di belakang mobilnya berpihak padanya atau pada begal yang menghadangnya.
"Berani sekali kalian mengganggu tuan kami!'', kata salah seorang di antara gerombolan yang ada di belakang itu. Lingga menyipitkan matanya untuk memastikan sosok yang berbicara tadi.
"Kami tak ada urusan dengan kalian!'', kata si pembegal.
"Justru kalian yang membuat kita jadi berurusan!'', kata seseorang yang mendekati Lingga. Orang itu mengeluarkan senpi lalu ia arahkan kepada pembegal.
Pembegal tersebut cukup terkejut, begitu pula Lingga. Lingga memastikan sosok yang menodongkan pistol pada begal. Dia seolah tak asing dengan wajah itu. Ya, akhirnya Lingga mengingat lelaki itu. Dia yang pernah menukar sepeda motornya saat Lingga di buntuti oleh anak buah Yudis.
Lingga pikir, setelah om nya tiada, tidak akan ada lagi yang akan berusaha mencelakainya.
"Maafkan kelalain kami tuan muda, berutung tadi mang salim menghubungi saya. Jika kami terlambat sedikit saja, mungkin kami yang tidak akan selamat."
Lingga menautkan alisnya.
Galuh turun dari mobil langsung menghampiri Lingga.
"Bang!'', Galuh memeluk erat lengan suaminya. Keduanya merasa sedikit tenang saat tahu ternyata mereka adalah orang-orang bapak tirinya.
"Ngga apa-apa Yang!'',Lingga mengusap bahu Galuh.
"Bang, abang luka. Ini darah bang? Awsss....", ternyata ada serpihan kaca yang juga mengenai Galuh.
"Kamu luka juga Yang? Abang ngga apa-apa!'',kata Lingga. Dia pun turut mencemaskan istrinya.
Kembali pada orang-orang Salim.
"Apa tujuan kalian membegal tuan muda kami?''
Tak ada yang menjawabnya.Mereka hanya saling memberikan kode untuk segera kabur. Tapi tentu saja orang-orang Salim tak akan melepaskan mereka begitu saja. Apalagi mereka sudah melukai tuan mudanya dan juga merusak kaca mobilnya.
Orang Salim menarik pelatuknya lalu ia arahkan ke arah pemimpin begal itu. Otomatis dia mengangkat kedua tangannya. Di tambah lagi, orang-orang Salim juga turut menodongkan pistolnya ke arah mereka semua. Mereka bukan begal sungguhan, tidak ingin mati konyol hanya karena masalah yang sebenarnya mereka tak tahu.
Galuh di buat ternganga. Jika selama ini ia hanya melihat senpi dan adegan itu di film action, saat ini ia melihatnya secara langsung di depan matanya. Siapa yang tidak shock???
"Aku hanya ingin mengambil uang Lingga!'', akhirnya jawaban itu keluar dari bibirnya.
"Bagaimana kamu tahu, kalo tuan muda membawa uang banyak? Dan kalian menghadang mereka di sini? Kalian tahu mereka akan lewat daerah ini?!",tanya orang salim yang masih menodongkan pistolnya ke kepala lelaki itu.
"Dia akan bertransaksi jual beli tanah dengan bapakku di rumah kakak sulungku!'',jawabnya jujur.
Lingga melonggarkan pelukannya dari Galuh lalu mendekati mereka.
"Kamu anak pak haji Udin?'',tanya Lingga. Lelaki itu tak menjawabnya.
"Kamu menginginkan uangku? Atau hasil penjualan tanah pak haji?"
"Aku ingin mengambilnya dari mu. Agar kamu tidak jadi membelinya. Aku tidak ingin tanah itu di jual. Tapi bapak malah berniat menjualnya padamu. Apalagi...tanah itu adalah bagianku. Aku tidak rela bapakku justru akan memberikan hasil penjualan tanah itu pada kakakku!''
"Itu masalah intern kalian, lalu kenapa kalian justru malah akan mencelakai kami?'', tanya Lingga. Lelaki itu tak menjawabnya.
Orang salim memberi kode untuk meringkus para begal yang ternyata di pimpin oleh anak pak haji udin tersebut.
Anak pak Haji Udin terlihat pasrah saja. Apalagi todongan pistol yang bisa kapan saja menembus kepalanya.
Dia dan kawan-kawannya hanya preman kampung, tentu saja bukan lawan sebanding dengan 'kumpulan' sejenis mereka!
"Mang Salim menghubungi kami, tuan Arya akan segera kemari", kata anak buah Salim.
"Kalian mau bawa mereka ke mana?", tanya Galuh.
"Kami akan mengeksekusi di markas kami nona!", jawabnya.
Eksekusi? Bayangan Galuh saat itu ,eksekusi yang di maksud adalah menembak. Dia tidak ingin adanya korban apalagi sampai berdarah seperti itu.
"Eksekusi apa? Tolong jangan bertindak macam-macam! Ini negara hukum!", kata Galuh. Lingga merengkuh bahu Galuh dan mengusapnya pelan.
"Bang!", Galuh ingin mengajak suaminya agar sepemikiran dengannya. Terdengar helaan nafas dari Lingga.
__ADS_1
"Bawa mereka ke kantor polisi!", titah Lingga.
"Baik Tuan muda!", jawabnya.
"Bang! Ngga usah melibatkan polisi. Toh kita tidak apa-apa. Biar saja mereka mengganti kaca mobil kita. Itu udah cukup! Toh mereka tidak jadi membegal kita bang! Kalo berurusan sama polisi, nanti makin runyam!"
Lingga mengusap kasar wajahnya. Ada rasa perih yang ia rasakan karena tak sadar jika ada remahan kaca yang mengenai wajahnya.
"Maaf Yang, kali ini Abang ngga bisa sepemikiran sama kamu!", Lingga mengecup puncak kepala Galuh. Galuh di buat tercengang.
"Bang!", rengek Galuh.
"Sudah, bawa mereka!", pinta Lingga. Orang-orang Salim membawa mereka semua. Sedang kendaraan pembegal di pinggirkan ke jalan agar mobil Lingga bisa melintas.
"Kami akan menjaga tuan muda dan Nona sampai tuan Arya tiba!", kata salah seorang anak buah Salim.
Lingga mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, mobil Arya pun tiba. Dia buru-buru menghampiri anak dan menantunya.
"Lingga, Galuh, kalian baik-baik saja kan? Ya Allah, kalian terluka?", Arya mendadak panik melihat luka di pelipis Lingga. Ada bercak darah juga di hijab Galuh.
Penerangan hanya dari mobil Arya dan sebuah sepeda motor milik anak buah Salim. Tapi mata Arya cukup jeli.
"Kami cuma kena pecahan kaca Pa!", jawab Lingga.
"Cuma kamu bilang???", tanya Arya kesal.
"Udah pa, jang...!", ucapan Lingga terhenti saat Arya justru mengatakan sesuatu pada anak buah Salim.
"Salah satu dari kalian ada yang bisa bawa mobil?", tanya Arya.
"Kami bisa tuan!", jawab keduanya.
"Bawa mobil Lingga ke rumah!", titah Arya. Keduanya mengiyakan dengan anggukan tanpa menolak titah dari big bos di atas mang Salim tentunya.
"Kalian, papa antar ke rumah sakit!", kata Arya mendorong punggung Lingga agar masuk ke dalam mobilnya. Beruntung Lingga menggandeng tangan istrinya, kalau tidak bisa-bisa Galuh tertinggal di sana.
"Baik Tuan muda!", jawab si pembawa mobil.
.
.
.
Selama perjalanan ke rumah sakit, tidak ada obrolan di antara ketiganya. Hingga beberapa menit berlalu, mobil Arya sudah tiba di depan rumah sakit. Lingga dan Galuh pun turun dari mobil Arya langsung menuju ke UGD. Mereka langsung di tangani. Tidak ada luka serius jadi tak perlu ada perawatan di rumah sakit.
Luka Galuh pun tak seberapa di banding luka Lingga. Tapi dia pun cukup mendapatkan perawatan.
Arya langsung mengurus administrasi pengobatan anak dan menantunya. Setelah selesai, ia pun menghampiri mereka.
"Tidak ada yang serius?", tanya Arya pada Lingga dan Galuh. Sepasang suami istri itu hanya menggeleng.
"Ya udah, kita pulang! Mama dan ibu kalian sudah mencemaskan kondisi kalian!", kata Arya melangkah lebih dulu di bandingkan anak serta menantunya.
.
.
.
Ternyata, anak buah Salim ada yang mengikuti mobil. Mungkin atas perintah 'atasannya'. Bagaimana mereka tahu?
Orang-orang itu sempat menyapa Arya saat keluar dari rumah sakit.
"Pa?!", panggil Lingga yang sekarang duduk di samping Arya. Galuh duduk sendiri di bangku belakang.
"Salim yang menghubungi papa. Bisa saja Salim menyusul kalian, tapi kasian Sekar dan Ganesh dirumah!"
__ADS_1
Lingga dan Galuh saling lirik dari spion.
"Lalu sekarang mama di mana?", tanya Lingga. Dia takut mamanya sendirian di rumah. Dan dia merasa tenang karena pasti mang Salim menjaga ibu mertuanya serta anaknya dengan baik di rumah.
"Sebelum menjemput kalian, papa antar mama kerumah kalian."
Lingga merasa lega mendengar jawaban papanya. Sungguh, dia juga merasa khawatir dengan orang-orang di sekitarnya jika sampai terjadi apa-apa. Nauzubillahi Min Dzalik!
"Bang!"
"Heum?", lingga menoleh ke belakang.
"Batalkan rencana membeli tanah pak haji. Haram hukumnya membeli sesuatu yang masih sengketa seperti itu!", kata Galuh. Arya tak menyahuti ucapan menantunya, dia hanya melirik dari spion.
"Iya, besok kita bicarakan lagi dengan pak Haji. Abang yakin, pak haji Udin tidak tahu jika anaknya bertindak kriminal seperti tadi."
"Pokoknya aku bilang batalin bang!", suara Galuh meninggi.
"Yang!", suara Lingga pun semakin tinggi. Arya baru melihat anak dan menantunya bertengkar.
"Sudah-sudah! Kalian bisa bicarakan nanti dengan kepala dingin. Percuma kalian saling berteriak seperti itu!", kata Arya bijak.
Ehem.... mungkin dia lupa, dirinya seperti apa sebelumnya 🤭
Akhirnya Galuh dan Lingga sama-sama diam. Beberapa waktu berlalu, setelah memastikan kendaraan roda empat itu berhenti di halaman rumah Galuh para pengikut Arya pun tak turut masuk ke halaman rumah besar itu.
Pintu ruang tamu terbuka lebar memperlihatkan Gita dan Sekar yang tengah menggendong Ganesh.
"Lingga Galuh!", pekik Gita.
"Kakak, Abang? Astaghfirullah!", ucap Sekar bersamaan dengan Gita.
"Ibu, mama!", Galuh menghampiri Ganesh yang melebarkan matanya. Dia tersenyum tipis seolah sudah mengenali ibunya.
"Ya Allah Kak!", Sekar melihat beberapa luka kecil di wajah Galuh lalu matanya pun beralih pada Lingga. Luka Lingga lebih parah di banding Galuh.
"Ga? Kenapa bisa seperti ini?", tanya Gita sambil mengamati wajah Lingga yang lebam dan banyak luka berdarah.
"Lingga ngga apa-apa Ma!", jawab Lingga. Lalu lelaki itu pun menoleh pada Salim yang baru saja bergabung.
"Terimakasih Bah, Abang ngga tahu apa yang terjadi kalo anak buah Abah ngga datang di waktu yang tepat!", kata Lingga tulus. Salim hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
"Galuh sama Lingga sudah dapat perawatan dari dokter, biarkan mereka istirahat!", kata Arya.
Galuh dan Lingga sedang saling mendiamkan itu pun hanya mengangguk menuruti apa kata Arya. Sekar memberikan Ganesh pada Galuh.
"Ma, kita pulang?!", ajak Arya.
"Sekar, boleh ngga saya nginep di sini malam ini? Saya cemas dengan mereka!", kata Gita.
"Ma ...!", panggil Arya.
"Silahkan mba Gita, jangan sungkan-sungkan!", kata Sekar. Arya pun mengalah, akhirnya dia terpaksa menginap di rumah itu lagi.
Arya cukup mencemaskan pertengkaran anak dan menantunya itu. Bisa di lihat keduanya sama-sama berusaha menahan emosi. Tapi dia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi keesokan hari nya!
*****
Curhat dikit dong.....!!!
Ceritanya tuh... ceritanya Mak othor udah ngetik sekitar ya... hampir 1k kata gitu. Eh...ndilalah, letopnya koid mendadak. Masalahnya, ketikannya belum kesimpan di draft 🤧🤧
Alhasil.... mengulang lagi yang sudah di pastikan isinya beda sama yang sebelumnya 🤣
Mengsedih sangaddd 🤧🤧🤧
Dah lah, gitu aja curhatnya. Makasiiiihhh....yang udah mantengin sampe bab ini. Jangan lupa tinggalin jejak kalian. Dan satu lagi, tolong ya kasih rate nya yang bagus dong!!! Biar semangat 😁✌️
Tengkyu kesuwun 🙏✌️🙏
__ADS_1
20.54