
"Papa, papa punya rencana apa Pa?',tanya Gita.
"Rencana yang tentu saja akan membuat shiena tak lagi mengganggu kita dan juga mneyelesaikan masalah Helen.''
"Pa, bisa saja pernikahan Glen dan Helen berada di ujung tanduk karena masalah ini. Bukan hanya Helen yak akan di sorort, tapi juga Syam, Sekar dan Galuh juga. NEtizen pasti akan mencari tahu tentang ocehan Helen tentang itu.''
"Mama percayakan saja pada Papa."
Gita menghela nafas berat. Dia tahu, suaminya pasti tidak akan gegabah dalam melakukan segala sesuatunya. Hanya saja ia sedikit sangsi kali ini. Gita yakin jika pasti akan ada sesuatu yang besar yang nantinya akan membuat Helen atau pun shiena merasakan dampak dari rencana Arya.
"Papa mau istirahat dulu Ma, capek!", Arya merebahkan diri di ranjangnya. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya lelaki yang sudah tak muda lagi itu tertidur pulas. Gita memandangi wajah kurang tidur suaminya. Tapi dari san ia melihat jika sekarang suaminya lebih banyak tersenyum dan jauh lebih ramah. Dia bersyukur perubahan Arya saat ini benar-benar bisa merubah keadaan yang tadinya selalu tegang menjadi nyaman.
.
.
.
Surya mengajak Zea ke rumah sakit untuk menjenguk Galuh dan bayinya. Jika ada Syam, Zea pun mengatakan akan meminta maaf pada Syam. Gadis kecil itu sudah berjanji akan melakukan hal tersebut. Dia akan menerima kenyataan jika Syam adalah saudara laki-lakinya meski lahir dari rahim yang berbeda.
Beruntung, saat salim memarkirkan mobilnya ,Surya dan zea serta Glen baru memasuki lobi. Rasa emosi Glen menguap saat melihat syam yang terlihat tersenyum riang dan mengobrol santai dengan supir opanya.
"Ze, ada abang Syam. Kamu sudah janji sama Opa kan?",tanya surya. Zea mengangguk pasti. Glen sendiri menatap Zea dengsn pandangan yang tak dapat di artikan.
"Syam!',panggil Surya. Syam yang sedang mengobrol dengan salim pun menoleh pada Surya. Bocah itu tersenyum.
"Kakek!",sapanya sopan. Surya pun membalas senyum Syam. Sedang Zea sendiri sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Syam. Salim sedikit membungkukkan badannya untuk menghormati keluarga majikannya.
"Kamu baru pulang sekolah Syam?',tanya Glen berusaha mengakrabkan diri dengan anak lelakinya.
"Iya Pa!'',jawab Syam datar. Apakah Glen merasa bahagia? Tentu saja! Syam mau memanggilnya papa tanpa diminta. Dan Glen berharap ke depannya hubungan mereka akan jauh lebih baik.
"Syam, ak-ak-aku mau ngomong berdua sama kamu boleh?",tanya Zea tergagap.
"Ngomong berdua? Kenapa ngga ngomong aja di sini!',sahut Syam dengan nada ketus. Cepat sekali ekpresi mukanya berubah ya?
"Boleh kan syam?'',tanya Surya. Dia bisa melihat kegelisahan Zea saat syam mengatakan demikian.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Aku mau liat keponakanku dan kak Galuh.'' Zea mengangguk cepat. Dia pun ingin segera meminta maaf pada Galuh secara langsung. Dia menyesal sudah membuat Galuh seperti sekarang.
Syam berjalan lebih dulu mencari tempat untuk berbicara dengan Zea. Sedang Zea sendiri pun mengikuti langkah Syam.
Surya, Glen dan Salim memilih untuk mencari tempat duduk yang agak jauh dari dua bocah yang sedang menuju remaja tersebut.
Terdengar helaan nafas dari bibir Syam. Dia sedikit kesal karena Zea hanya diam sejak tadi. Tapi Syam pun enggan untuk memulai obrolan tersebut.
"Bang Syam, aku mau minta maaf!'',kata Zea. Syam menautkan kedua alisnya. Heran saja, sejak kapan Zea menganggap dirinya seorang kakak?
"Maafkan sikap ku selama ini yang egois dan yang jelas sudah menyakiti kamu." Syam memilih diam, tapi tiba-tiba Zea mengulurkan tangannya di hadapan Syam.
"Maaf kan atas sikap dan kata-kataku yang keterlaluan!'',kata Zea lagi. Syam memandangi jemari kecil yang masih bertahan di depannya meski ia tak bermaksud untuk mengabaikannya. Zea yang masih saja memepertahankan posisi seperti itu membuat Syam yang memang berhati lembut sedikit tergelitik.
__ADS_1
Dengan gerakan pelan, Syam menerima uluran tangan Zea. Senyum Zea mengembang saat Syam menyambut uluran tangan tersebut.
"Abang mau memaafkan ku?',tanya Zea. Syam menatap Zea jengah. Panggilan tersebut terdengar sangat menggelikan di telinga Syam
"Entah!",jawab Syam.
''Kok gitu?',tanya Zea. Gadis itu duduk di sebelah Syam dengan wajah cemberutnya.
"Kenapa?Kamu keberatan?'',tanya Syam. Zea mengangguk cepat.
"Apa yang bikin kamu keberatan?''
"Kita kan bersaudara Bang, bahkan kita lahir di tanggal yang sama.''
Syam memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Sejak kapan aku jadi abangmu? Bukannya aku ini hanya anak haram, seperti yang kamu bilang?'', tanya Syam.
"Ih, masih di bahas aja deh! Adek kan udah minta maaf bang!'',rengek Zea manja. Syam jadi teringat saat dia masih di bangku kelas satu dulu. Dimana Zea yang selalu getol mendekatinya. Mengajaknya bicara meski Syam tak pernah menanggapinya, Zea selalu membelanya saat teman-temannya membully dirinya meski Zea sendiri suka jahil padanya. Tapi Syam tahu jika Zea hanya ingin berteman dengannya. Tapi setelah tahu ternyata mereka memiliki ikatan darah, Zea perlahan menjauh dan keduanya seolah tak saling mengenal. Bahkan Zea meminta Syam agar tak mengambil Glen darinya. Hingga akhirnya Syam pindah ke kampung halaman ibunya.
"Dasar manja!", umpat Syam. Zea tersenyum saat Syam mengatakan demikian. Kata-kata itu sering ia dengar kan saat mereka masih sama-sma di jakarta dulu.
"Abang syam, aku janji ngga akan ngomong macem-macem yang bikin abang sakit hati. janji Bang syam!", Zea mengangkat kedua jarinya sambil meringis.
"Geli aku tuh di panggil seperti itu. Aku belum setua itu!",kata Syam.
"Heheheh tapi kan emang harusnya gitu. Atau....kita panggil nama aja ya enaknya? Heum...vibesnya kita kaya anak kembar gitu. Gimana bang, setuju ngga sama ide adek nih?'',ledek Zea.
"Hahahahah. Oke! Arsyam!", kata Zea dengan tawa lebarnya. Mau tak mau Syam pun ikut tertawa. Dengan gerakan cepat, Zea memeluk Syam. Meski Zea adalah saudarnya, Syam tentu saja canggung di peluk bocah semuran dengannya.
"Makasih syam, makasih! Aku janji. Aku ngga akan egois lagi. Kamu berhak mendapatkan kasih sayang papa yang selama ini hanya aku yang mendapatkannya. Maafkan aku!",bisik Zea saat memeluk syam. Tangan Syam terulur mengusap punggung Zea yang ternyata sedang terisak pelan.
"Sudah lah, aku juga minta maaf!'',kata Syam. Di sudut yang berbeda, Surya dan Glen menatap haru dua saudara tersebut. Ada perasaan lega dalam hati bapak dan anak tersebut sampai mereka sedikit melupakan masalah yang akan di hadapi nanti.
Tiba-tiba saja.....
"Eh, anak kecil ngga boleh pacaran!'',kata salah seorang cleaning servis yang sedang melintas saat melihat syam dan Zea berpelukan. Syam dan Zea pun menguraikan pelukannya.
"Adek, kalian tuh masih kecil. Ngga boleh pacran apalgi sampai peluk-pelukan seperti tadi!'',kata orang itu lagi yang usianya sudah cukup senja mungkin sebentar lagi tenggelam hehehe
"Pacaran apa sih ibu?'',kata Zea kesal.
"Nah itu tadi pelukan, ngga boleh ya!'',katanya cukup kencang yang mampu di dengar Glen dan yang lain.
"Ibu iih....mana ada kita pacaran. Kami baru mau sebelas tahun bu. Emang ibu ngga liat muka kami mirip?''',tanya Zea kesal. Syam hanya mengehela nafas. Zea, teman kecilny udah kembali menjadi Zea yang cerewet.
Si ibu pun terpaksa memperhatikan kedua bocah di depannya. Jika Zea menatap balikpada si ibu, Syam justru enggan melakukannya.
"Eh, iya ya. Kalian kembar ya?'',tanya si ibu. Zea mendengus kesal. Si ibu itu pun salah tingkah sendiri.
"Ya udah atuh, saya minta maaf! Yang akur ya kalian, jangan berantem. Apalagi kamu laki-laki, ngga boleh nyakitin saudara kamu sampai nangis begini.'' Zea menepuk keningnya sendiri. Dan tanpa rasa berdosa, si ibu meninggalkan dua bocah itu begitu saja.
__ADS_1
"Udah kan? Aku mau ketemu kak Galuh!", kata Syam.
"Ikut!",rengek Zea sambil menggandeng tangan syam. Syam berusaha menepisnya tapi tetap saja zea mengandengnya, Hingga akhirnya Syam pasrah lalu menghampiri Glen dan yang lain.
Surya, Glen serta Salim menyambut dua bocah itu yang kemarin sempat membuat drama mengharukan. Tapi lihatlah sekarang, mereka benar-benar bersama.
"Kita jenguk Galuh dan adik bayi!", ajak Surya. Syam dan Zea mengangguk bersama-sama. Glen menatap kedua anaknya dengan pandangan haru. Tangan Glen terulur mengusap kepala dua anaknya. Zea dan Syam tersenyum tipis. Dengan pelan, Zea mengajak Syam untuk menggandeng papanya begitu pun dirinya. Hingga akhirnya, Glen di apit oleh kedua anaknya. Jangan tanya seperti apa bahagianya Glen saat ini.Pokoknya bahagia yang tak pernah ia sangka hingga apa yang ada di angannya menjadi sebuah kenyataan.
Syam, Glen dan Zea berjalan beriringan menuju ke kamar Galuh yang memilih kelas vvip tentunya.
.
.
.
"Shiena!!!!!!!", pekik seorang laki-laki yang tak lain papanya sendiri.
"Apa sih Pa?'', tanya Shiena yang sedang berkutat dengan beberapa berkasnya.
"Apa ini?'', papa Shiena melemparakan beberapa map dan juga sampul cekelat di meja shiena.
"Gagal Shiena. Bukan hanya gagal, tapi kita jatuh miskin! Dasar bodoh!", umpat papa Shiena.
"Ckkkk ngomong apa sih papa!'', Shiena membuka map-map tersebut dan juga sampul cokelat. Setelah membuka dan membacanya, wajah shiena memerah,
"Kamu bodoh Shiena!!!", pekik papa shiena lalu pergi dari ruangan itu begitu saja.Shiena memejamkan matanya dan mengeratkan rahangnya karena terlalu emosi. Tapi beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Ada nama seseorang yang membuat dirinya di marahi habis-habisan oleh papanya.
[Hai, shiena]
[Om....]
[Kenapa? Kamu kalah lagi Shiena. Sepertunya kamu harus mengakui, kamu salah pilih lawan. Mau menyerah atau mau hancur karena ulah mu sendiri, shiena?]
[Om Arya. akk....]
[Ssssttttt....jangan memelas seperti itu!]
[Baiklah om, aku janji tidak akan membuat masalah lagi. Tapi tolong jangan sampai....]
[Bisa di atur! Tapi setiap perbuatan ada konsekuensinya Shiena. Kamu pikir aku peduli saat kamu ingin menjatuhkan ku lewat Helen? Jangan harap! Bahkan sebelum kamu menyebarkan semua itu, nyalimu akan hilang saat aku yang akan melakukan hal lebih dari apa yang kamu bayangkan!]
[Jangan om baikalah. Aku akan menyerahkan file itu, Dan aku janji tidak akan mengusik kalian lagi. Aku janji Om, tapi tolong.....]
[Setelah file itu di tanganku, aku akan mempertimbangkannya]
Arya mematikan secara sepihak panggilan tersebut. Lelaki yang terkenal arogan itu pun memanfaatkan situasi itu untuk mendapatkan keuntungan lain yang jelas bukan materi untuknya.
********
13.59
__ADS_1
Terimkasihhhhhh