
Lingga membawa dump truk nya ke garasi yang ada di pabrik penggilingan beras. Tak lupa ia membayar upah kuli panggulnya. Itu uang capek mereka, Lingga membedakan uang capek, uang makan dan gaji mereka tiap awal bulan. Tak sebanyak di kota memang, tapi hal itu sudah cukup membuat anak buahnya merasa senang karena mereka bisa mencukupi kebutuhan harian keluarganya. Meskipun memang tak membuat mereka kaya.
Setelah membersihkan diri di garasi, Lingga pun menuju ke rumahnya menggunakan sepeda motor. Padahal di rumahnya pun ada mobil, ada dua malahan. Dan salah satu mobilnya adalah P**** yang sempat ia jual pada temannya saat operasi Galuh dulu.
Karena yang kuasa maha baik, Lingga diberi kesempatan untuk memiliki lagi barang berharganya tersebut.
Suara motor bebek Lingga terdengar memasuki halaman. Galuh yang mengetahui suaminya pulang pun menyambut kedatangannya. Tak lupa, dia sudah mandi dan wangi. Meskipun badannya tak lagi langsing karena kehamilannya, Galuh selalu berusaha tampil cantik di depan suami. Apalagi suaminya sudah capek-capek pulang kerja, jadi wajar dong jika dirinya berhias setidaknya sedikit menghibur pak suami yang kelelahan bekerja.
Galuh menyambut suaminya dengan senyuman manis.
"Assalamualaikum!", Lingga mengucap salam saat memasuki ruang tamu.
"Walaikumsalam!", jawab Galuh. Ia mengecup punggung tangan suaminya.
Apakah kehidupan rumah tangga keduanya adem ayem selama ini? Jawabannya tentu saja tidak, sesekali mereka bertengkar dan berbeda pendapat. Akan tetapi, mereka berusaha untuk tetap saling mempertahankan hubungan pernikahan mereka. Sebesar apapun masalahnya, mereka saling berbagi dan berusaha mencari solusi jika memang bermasalah.
Lingga yang sekarang bukan lah Lingga yang Galuh temui saat pulang dari acara kelulusan menengah atas. Lingga sekarang adalah sosok suami, ayah dan kakak yang sempurna di mata Galuh.
"Mau bikin kopi apa teh bang?", tanya Galuh. Sebenernya bisa saja ia meminta art nya membuatkan minuman untuk suaminya. Tapi selama Galuh sempat, dia yang akan membuatnya. Art nya juga warga kampung ini yang jam lima sore pulang, datang lagi esoknya jam enam pagi.
"Kayanya kopi enak deh!", sahut Lingga yang kini duduk di kursi yang ada di dapur. Pintu dapur terbuka, langsung memberi pemandangan kebun seledri dan daun bawang. Jadi, yang nampak hanya warna hijau menyejukkan mata.
"Bentar bang!", Galuh pun beranjak ke kompor dapur. Dia menyalakan kompor untuk memasak air panas karena suaminya lebih suka kopi yang di seduh dengan air yang baru mendidih.
Galuh meletakkan kopinya di meja depan Lingga. Saat Galuh akan duduk di bangku lain, Lingga menarik pinggangnya yang sekarang melebar karena tengah hamil.
Lingga mendudukkan Galuh di pahanya. Galuh sedikit terkejut, takut jatuh. Tapi yang pasti mah, suaminya tidak akan membiarkan dia terjatuh.
Belum sempat Galuh bertanya, Lingga sudah mengecup perut buncitnya dan juga mengelus-elus perut buncit itu.
"Dia nggak rewel kan?", tanya Lingga. Galuh menggeleng dan tersenyum. Rewel yang di maksud Lingga adalah si utun tak membuat Galuh merasakan nyeri karena terlalu aktif.
"Ngga bang, dia pinter!", jawab Galuh. Lingga meletakkan kepalanya di bahu Galuh, terdengar ia mendesah pelan. Mungkin ada beban yang sedang ia hadapi.
"Ada apa bang?", tanya Galuh sambil mengusap kepala suaminya.
"Heum? Abang nyaman seperti ini!", jawabnya sambil memejamkan matanya. Galuh tahu jika suaminya sedang tak baik-baik saja.
"Belum mau cerita?", tanya Galuh. Mendengar pertanyaan itu, Lingga menegakkan punggungnya. Ia menarik nafas beberapa saat.
"Abang ketemu Zea, di pabrik!", jawab Lingga.
"Zea? Zea di sini?"
"Ya, mungkin ikut Tante dan om kunjungan ke pabrik."
"Emang Abang sebelumnya ngga tahu kalo om Glen berhubungan dengan pabrik itu?"
Lingga menggeleng.
__ADS_1
"Abang cuma tahu, itu milik pak Andre. Ya, mungkin om Glen investor di sana."
Galuh menakupkan kedua tangannya di pipi Lingga.
"Apa Abang di hina lagi?", tanya Galuh. Mata sepasang suami-isteri itu saling mengunci.
"Ya, begitu lah! Tapi Abang ngga peduli!", jawab Lingga.
"Benar? Kalo ngga peduli, kenapa mukanya asem begitu?"
Lingga tersenyum simpul. Mencolek hidung Galuh dengan gemas.
"Ini Abang udah senyum!", kata Lingga menunjukkan barisan giginya yang rapi.
"Heheh gitu dong, kan cakep!",puji Galuh. Lingga mencebikkan bibirnya.
"Dari dulu juga cakep kali sayang!"
"Iya, suamiku memang tampan lahir batin!"
Cup!!! Galuh mengecup pipi Lingga karena di matanya, Lingga tetap tampan seperti saat pertama kali ia bertemu.
"Ngga usah mancing! Ini masih sore!"
"Dih, Abang mah baperan. Di gituin aja pikirannya udah menjurus!"
"Udah, kayanya habis nangis. Tapi ngga mau jawab pas di tanya kenapa!", jawab Galuh.
"Coba Abang yang ngobrol sama Syam. Mungkin Syam mau jawab kenapanya."
Galuh pun bangkit dari paha Lingga.
"Abang ke kamar Syam dulu!", ujar Lingga sambil mengusap lengan Galuh. Perempuan hamil itu pun mengangguk pelan.
Lingga melangkahkan kakinya menuju kamar adik iparnya yang sepertinya juga cocok jika menjadi anaknya.
Tok
Tok
Tok
"Syam, ini Abang. Abang boleh masuk?",tanya Lingga dari luar pintu. Tak ada sahutan dari dalam, Lingga pun masuk kedalam kamar Syam.
Syam sedang duduk didepan meja belajarnya dengan jendela yang terbuka. Lingga mendekati adik iparnya yang entah sedang apa. Mungkin melamun.
"Dek?", Lingga menepuk bahu Syam. Syam pun menoleh pada kakak iparnya yang berperan sebagai kakak sekaligus ayah baginya.
"Bang!", sahut Syam lirih.
__ADS_1
"Arsyam ganteng kenapa?", tanya Lingga sambil menyandarkan pinggangnya di meja belajar Syam.
Tanpa ba-bi-bu, Syam menghambur memeluk perut Lingga. Lingga sedikit oleng karena tidak siap dengan gerakan Syam yang tiba-tiba.
Tapi Lingga cepat mengimbangi, lalu reflek mengelus rambut Syam.
"Ada apa dek? Cerita sama Abang!", pintanya. Syam memang sangat dekat dengan Lingga. Mungkin karena dia menemukan sosok ayah dalam diri Lingga. Syam melonggarkan pelukannya lalu mengusap pipi nya yang basah.
Lingga tak bertanya lagi, menunggu Syam mengucapkan kalimat yang ingin ia sampaikan.
"Tadi... waktu pulang sekolah, Syam ketemu sama papa nya Zea!", jawab Syam. Setelah itu ia kembali terisak. Lingga merengkuh bahu kecil yang bergetar. Abangnya paham apa yang Syam rasakan.
Antara benci dan rindu yang tak bisa gambarkan.
"Apa dia mengatakan sesuatu?", tanya Lingga. Syam menggeleng.
"Dia cuma manggil nama Syam." Lingga masih mengusap kepala adiknya.
"Apa Syam mau kalo dia mengakui Syam sebagai anaknya?", tanya Lingga. Syam mendongakkan kepalanya lalu menggeleng.
"Ngga bang. Dia papanya Zea. Syam ngga mau merebut dia dari Zea. Syam juga udah cukup, punya Abang! Ngga perlu punya papanya Zea!", jawab Syam terisak.
Lingga menghela nafas berat. Hanya orang-orang seperti mereka yang paham seperti apa rasanya tak di anggap. Dan ya....Syam dan Lingga sama-sama merasa kehadiran mereka tak di anggap, hanya saja dengan porsi yang berbeda.
"Ya udah, kan Syam udah punya Abang. Jadi, jangan pernah sedih kaya gini lagi. Ibu sama kakak khawatir lho, pulang sekolah tahu-tahu Syam ke kamar terus ngga mau di ganggu. Kasian mereka yang udah sayang sama Syam."
Syam mengangguk paham.
"Iya bang!"
"Udah mandi, udah solat ashar?", tanya Lingga. Syam pun menggeleng.
"Udah mau jam lima, mandi gih! Nanti magrib solat di mushola bareng Abang!"
Syam pun mengiyakan dengan anggukan. Setelah berhasil membujuk Syam, lingga pun kembali menemui istrinya yang ada di kamar lantai bawah.
Istrinya tengah menyiapkan pakaian Lingga untuk di pakai setelah mandi nanti sekaligus ke mushola kampung.
"Abang bisa siapin sendiri sayang!", kata Lingga memeluk Galuh dari belakang.
"Heheh iya, aku tahu bang. Udah sekarang Abang mandi dulu. Udah berhasil kan membujuk adik mu itu? Kayanya dia lebih cocok jadi adikmu dari pada adik iparmu bang!"
"Ckkk sama adik sendiri masa cemburu. Perhatian Abang kan tergantung siapa subjeknya. Kalo sama kamu, perhatiannya jelas beda!"
Cup! Lingga mencuri ciuman di pipi Galuh. Perempuan hamil itu hanya tersenyum.
"Mandi sana!", pinta Galuh.
"Iya iya...Abang mandi!", kata Lingga sambil berjalan menyahut handuknya.
__ADS_1