Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 71


__ADS_3

Arya menghentikan langkahnya saat ia mendengarkan sang istri sedang tertawa lepas di dalam sana. Nyatanya ruangan itu cukup mereda suara hujan lebat meski tetap saja jika guntur menggelegar pasti kaget.


"Kok berhenti pa?", tanya Lingga. Arya menoleh pada bungsunya.


"Mama mu saja sudah tidak perduli pada papa!", kata Arya.


"Papa jangan selalu berasumsi sebelum papa melihat faktanya. Bagaimana bisa papa mengatakan jika mama sudah tidak peduli pada papa?"


"Kalo mamamu peduli pada papa, harusnya dia mikirin papa dong! Meninggalkan suami di rumah untuk bepergian ke kampung sejauh ini. Papa saja selama lebih dari tiga puluh lima tahun tak pernah sekalipun meninggalkan mama. Perjalanan bisnis, mama mu selalu ikut!", kata Arya.


Perlahan...Lingga yakin jika papanya akan mencair.


"Kita temui mama, buktikan jika apa yang papa pikirkan tadi salah. Mama selalu peduli pada papa!", kata Lingga meyakinkan.


"Tapi tidak dengan kamu Ga! Kamu tetap membangkang pada papa!", kata Arya.


Kemana Syam? Apa aksinya usai setelah membuat si tuan arogan masuk ke dalam rumah....???? Ternyata bocah tampan itu memilih untuk ke kamar ibunya tanpa melewati orang-orang yang ada di ruang tengah.


Mission completed!!!


Back to Arya Lingga!


"Pa, maafkan Lingga jika selama ini selalu menentang papa. Bukan maksud lingga seperti itu. Lingga sudah dewasa. Bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Bukan berarti pilihan papa salah! Tapi, Lingga tahu apa yang terbaik untuk masa depan Lingga sendiri!"

__ADS_1


Arya memilih diam sambil melipat kedua tangannya di dada. Jujur, lelaki uzur itu sudah mulai merasa dingin menusuk kulitnya.


"Kami sudah membuktikan pada papa, kami bisa berdiri sendiri tanpa dukungan papa. Maaf, bukannya kami ingin menyombong diri pa. Bukan!"


"Tolong Pa, sebenarnya apa salah Galuh sama papa? Benarkah murni karena pelanggaran di surat perjanjian itu? Tapi kenapa?", tanya Lingga lirih tapi penuh penekanan.


"Sudah lebih dari sepuluh tahun kami menikah pa. Dan papa tak pernah merestui kami. Katakan pa, apa salah Galuh? Bukannya dia justru malaikat penolong yang sudah Tuhan kirimkan untuk membantu mama?"


"Karena dia hanya dari rakyat biasa!", jawab Arya.


"Lalu kita apa? Rakyat luar biasa?", tanya Lingga. Arya memilih duduk di salah satu sofa sebelum masuk kedalam ruang tengah.


"Kamu tidak akan paham!", kata Arya.


"Bagaimana aku paham pa, kalo papa aja ngga jelasin ke aku?", tanya Lingga yang kini duduk didepan Arya.


"Iya, Lingga tahu! Tapi... Alhamdulillah selama ini, lingga memperhatikan istri lingga dengan baik dan selam ini pun baik-baik saja karena kami sering konsultasi pada dokter?!"


"Itu artinya...kamu juga bersiap jika suatu saat kamu dan anak-anak kamu akan kehilangan dia?"


"Pa, hidup mati sudah di atur. Rejeki yang sudah di takar tidak akan tertukar! Lingga berharap kami akan menua bersama. Tapi kembali lagi, yang punya kuasa yang menentukan!"


"Harta, tahta, jabatan, kekuasaan...akan sirna pa. Kita tidak bisa membawanya masuk ke liang kubur!"

__ADS_1


Arya terdiam mendengar ucapan si bungsu yang sudah berubah banyak. Dari segi tampilan dan tingkah laku, Lingga sudah jauh lebih baik.


Arya hanya mencekoki dengan ilmu duniawi pada dua putranya. Dan hasilnya???


"Kenapa jadi bawa-bawa kuburan segala?"


"Biar papa paham!"


Arya mencebikkan bibirnya.


"Kamu tidak perlu sok mengajari papa!", sahut Arya ketus.


Selang beberapa saat kemudian, Gita menemui Arya.


"Pa!", sapa Gita.


"Kamu lupa masih punya suami Ma? Mama bahkan sama sekali tak menghubungi papa!"


"Papa, apa papa lupa ada Salim yang selalu melaporkan kegiatan mama selama di sini?", tanya Gita.


Jangan bilang kalo Salim mengatakan perintah ku Gita!!!!


*****

__ADS_1


Tp be continue 🤗


Maap dikit bgt, insya besok pagi di lanjutkan. Terimakasih 👍🙏🙏🙏


__ADS_2