Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 129


__ADS_3

Galuh sudah diijinkan keluar dari rumah sakit. Seperti yang sudah dia katakan, dia tidak ingin jauh-jauh dari putranya. Alhasil, Lingga menyewa sebuah kost yang dekat dengan rumah sakit. Padahal jarak rumah sakit dengan kediaman mereka hanya di tempuh kurang dari satu setengah jam.


Ya, namanya juga ibu baru. Pastinya ingin selalu bersama bayinya. Apalagi kondisi Ganesh memang tidak memungkinkan untuk di bawa ke rumah dalam waktu dekat.


Keluarga besar Arya sudah kembali ke ibukota. Puja dan Arya sibuk dengan urusan perusahaannya yang akan di kendalikan oleh Puja.


Glen dan Helen juga aktif di kantornya lagi. Dulu, Shiena sempat magang di perusahaan mereka. Hingga perjodohan antara Shiena dan Lingga gagal, gadis itu pun keluar begitu saja dari perusahaan mereka berdua.


Setiap harinya, Glen selalu menghubungi Syam. Rindu? Tentu saja mereka saling merindukan satu sama lain. Nyatanya ikatan batin memang tidak perlu di ragukan.


Di lain sisi, Lingga bersiap untuk berangkat ke kota untuk peresmian kafe Galuh yang selesai di renovasi dan di tunda beberapa hari itu.


"Abang ngga tega biarin kamu sendiri Yang!", kata Lingga mengusap wajah Galuh.


"Insyaallah aku baik-baik saja. Dari sini ke rumah sakit ngga jauh, bisa jalan kaki Bang! Jangan terlalu mencemaskan ku begitu kenapa. Abang lupa, istri mu ini kuat heum?", tanya Galuh mengalungkan tangannya ke leher Lingga.


"Iya, Abang tahu kamu kuat Yang. Tapi...!"


"Psttttt....makin cepat Abang menyelesaikan urusan di kota, makin cepet juga ketemu sama Ganesh dan aku bang!", Galuh tersenyum tipis lalu mengusap rahang Lingga yang tegas.


"Coba kalian sudah dalam kondisi baik, Abang pasti akan ajak kalian kemana pun!", Lingga mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.


Galuh tergelak melihat mimik wajah Lingga yang menggemaskan itu.


"Insyaallah, nanti kita akan melakukannya!", Galuh menatap mata elang milik Lingga.


"Heum! Tentu saja, kita akan pergi bersama-sama dengan keluarga besar kita. Dan...calon adik Ganesh akan segera hadir!", senyum meledek Lingga membuat Galuh membelalakkan matanya.


Dan perempuan itu reflek memukul lengan Lingga yang masih tertawa.


"Emang salah kalo Abang pengen kita punya anak lagi, heum?", tanya Lingga yang sudah tak tertawa lepas.


"Ngga salah bang, tapi kan paling tidak dua tahun lagi Abang sayang! Jahitan perutku aja masih basah nih...!", jawab Galuh merajuk.


"Ya kan Abang ngga bilang sekarang juga!"


Galuh terkekeh menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Apa perlu, Rani dan anaknya ke sini nemenin kamu? Biar ngga kesepian?", tanya Lingga.


"Ngga usah bang, teh Rani kan juga repot. Apalagi mas Burhan juga sibuk sama kamu. Percaya deh, aku ga apa-apa!", Galuh meyakinkan suaminya lagi.


"Heum,baiklah! Abang percaya!", kata Lingga.


"Nah, gitu dong!", kata Galuh tersenyum puas. Lingga mendekatkan wajahnya ke wajah Galuh. Tapi Galuh menghindar.


"Kenapa Yang?", tanya Lingga kecewa.


"Abang selama jauh dari aku yang belum bisa layanin Abang, ngga boleh macam-macam ya! Apalagi ganjen! Suami aku kan ganteng, pasti banyak yang godain di sana! Aku ngga mau kalo...."


Cup!


Lingga membungkam mulut istri nya yang sedang over thinking. Lelaki itu tak memberi Galuh jeda sama sekali untuk protes hingga perempuan itu hanya bisa pasrah.


"Masih aja negatif thinking sama Abang!", Lingga menyudahi lumatannya lalu menyentil pelan kening Galuh.

__ADS_1


"Habisnya....!", Galuh memanyunkan bibirnya.


"Kayaknya minta di cium lagi nih!", Lingga mengangkat salah satu alisnya. Galuh buru-buru menggeleng pelan.


Mereka masih berdiri sambil terus berpelukan. Lingga mengusap rambut Galuh yang tergerai panjang hingga di bawah bahu.


"Abang mana mungkin akan melakukan hal seperti itu. Abang punya kamu, punya Ganesh! Jadi, jangan pernah berpikir Abang akan mengkhianati kamu. Heum?", Lingga menakupkan kedua tangannya di pipi Galuh. Perempuan itu pun mengangguk pelan.


"Bisa minta tolong?", tanya Lingga.


"Apa bang?", tanya Galuh.


"Kasih stempel yang banyak di sini!", Lingga menunjuk ke lehernya sambil mendongak hingga terlihat jakunnya naik turun tepat di depan wajah Galuh.


"Maksudnya?", tanya Galuh.


"Sok lugu!", Lingga menyentil pelan kening Galuh.


"Ya Allah Abang, ini kepala di fitrahin lho!", sahut Galuh manyun.


"Ya maaf!", Lingga mengusap bekas sentilannya lalu mengecup kening Galuh.


"Abang mau di merahin lagi lehernya gitu?", Galuh memicingkan matanya.


"Heum?!", sahut Lingga sambil ambil posisi.


"ishhhh...ngga ah! Norak!", kata Galuh melipat kedua tangannya di dada. Lingga membelalakan matanya.


"Norak???", tanya Lingga.


"Heum!", kata Galuh sambil melipat bibirnya dan menahan senyum.


"Hehehe bawaan bayi Bang!", Galuh membela diri.


"Pake fitnah anak segala lagi !", Lingga menggeleng sambil tersenyum.


"Hahaha Abang ihhhh....!", Galuh memukul Lingga lagi yang tertawa.


Mereka bahagia sekali ya????


"Ya udah sini! Mau berapa?", tanya Galuh.


"Tuh...kan, pura-pura padahal mau juga kan?", ledek Lingga. Wajah Galuh memerah. Meski hal itu sudah hal yang biasa mereka lakukan tapi situasinya sedang tak bisa di samakan seperti biasanya, pasti rasanya berbeda. Apalagi mereka sedang tidak bisa untuk berc****.


Tapi, Galuh menuruti permintaan suaminya.


"Sudah!", kata Galuh. Lingga terkekeh kecil.


"Makasih Yang. Ngga juga sebenarnya ngga apa-apa Yang. Tapi di kasih ya Alhamdulillah hahhahaha!"


"Abang!!!!", pekik Galuh yang menahan malu.


.


.

__ADS_1


.


Salim memilih tidur di mes anak-anak pabrik batako. Dia yang memang ramah, mudah di terima oleh rekan-rekannya.


Tugas Salim sekarang adalah mengantar jemput Syam ke sekolah. Kadang juga membantu usaha Lingga. Entah itu di sayur, gilingan padi atau di pabrik batako. Pokoknya di mana dia di butuhkan, dia siap. Yang penting, tugas utamanya untuk Syam dan keluarganya.


Pasti ia lakukan dengan senang hati kan????


"Silahkan den!", kata Salim pada Syam.


"Jangan den atuh mang, Syam aja. Kan udah sering Syam bilangin!", kata Syam.


"Heheh iya den Syam. Akan saya usahakan!", kata Salim.


"Berada jadi orang kaya saya mang. Diantar jemput sekolah hehehe!", kata Syam.


"Ya kan emang orang kaya!", jawab Salim.


"Siapa? Syam? Ngga lah, biasa aja!", jawab Syam. Salim tersenyum tipis. Sebelum mobil jalan, Sekar sedikit berlari menghampiri mobil itu.


Tok...


Tok...


Tok...


Syam membuka kaca mobilnya.


"Iya Bu? Ada apa?", tanya Syam.


"Mang, antar saya ke kost Galuh bisa? Hari ini Lingga ke kota. Saya mau nemenin Galuh sebentar."


"Bisa Bu!", jawab Salim tersenyum.


"Nanti pulang sekolah, Syam nyusul ya?", kata Syam. Sekar mengangguk. Lalu Syam membuka pintu depan.


"Ibu di depan, Syam di belakang. Deni mau ikut mobil katanya!", kata Syam mempersilahkan ibunya duduk di samping Salim. Dan Syam menempati bangku belakang. Sekar tak menolak permintaan Syam.


Benar saja, Deni sudah menunggu mobil Salim. Syam membukakan pintu mobil untuk Deni setelah mobil itu berhenti di depan Deni.


"Punten ya Bu, mang Salim. Deni jadi sering nebeng Syam hehehe!"


"Iya Den!", jawab Sekar dan Salim bersamaan hingga membuat mereka saling bersitatap.


"Ciye.... lihat-lihatan!", ledek Syam dan Deni lalu tertawa.


Jika dalam pikiran Syam dan Deni, mereka hanya meledek tapi Sekar dan Salim menanggapi berbeda dalam hati mereka.


*****


Selamat pagi menjelang siang! Bari nungguin mesin cuci...ngehalu sebentar ya🤭🤭


Maafkuen kalau tidak berbobot 🙏🙏🙏


Terimakasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


Semoga nanti bisa up lagi 🤭🤗


10.02


__ADS_2