Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 214


__ADS_3

Lingga sampai ke rumah hampir jam tiga sore. Seharian ini ia benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya. Andai bisa di wakilkan seperti minimarket dan kafe di ibukota, mungkin dia tidak akan selelah ini.


Tapi kembali lagi, ini adalah pilihannya, keinginannya! Menciptakan lapangan kerja untuk warga sekitar rumah sudah membuat seorang Lingga bahagia. Mungkin benar, Lingga juga tidak ingin munafik! Apa yang dia dapatkan saat ini juga karena bantuan mereka-mereka yang bersedia bekerja padanya.


Wajah lelah menghiasi wajah tampannya. Bukan hal yang baru sebenarnya, tapi beberapa bulan terakhir memang seringkali terjadi hal-hal yang tak terduga olehnya. Dan lagi-lagi, dia harus selalu melibatkan sang papa.


Jika lima tahun belakangan dia dan Galuh adem ayem dengan kondisi keluarga yang biasa saja, sekarang Lingga seolah kembali di jaman ia muda. Di kejar waktu dan selalu di sibukkan dengan urusan duniawi.


"huffft!!!", Lingga berjalan menuju ke dalam lewat pintu belakang. Tak ada siapapun di sana. Mungkin sedang beristirahat di kamar masing-masing.


Lingga mencuci tangannya di wastafel cuci piring. Setelah itu ia mengambil gelas lalu mengisinya dengan air putih.


Dia duduk di bangku yang biasa di pakai jika berada di dapur. Meski dia disibukkan dengan pertemuan para rekan bisnisnya, ingatan tentang truk yang hampir menabraknya masih terbayang di pelupuk matanya.


Sungguh! Dia takut jika harus meninggalkan anak dan istrinya begitu saja!


"Bang!", panggil Galuh dan menepuk pelan bahu Lingga hingga membuat Lingga sedikit terkejut.


"Astaghfirullah, Yang! Bikin kaget aja!", kata Lingga.


"Abang yang dari tadi diem aja di panggil, kenapa bengong?", tanya Galuh yang akan duduk di hadapannya. Tapi belum sempat duduk, Lingga sudah menarik Galuh hingga duduk di pangkuannya.


"Bang!", pekik Galuh.


"Biarin gini dulu Yang!", kata Lingga lesu sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Galuh. Galuh sudah paham jika suaminya pasti sedang dalam keadaan kurang baik, dia membiarkan saja selama sang suami nyaman.


"Ada apa heum?", Galuh mengelus rambut Lingga.


"Ngga apa-apa. Cuma capek aja!", jawab Lingga dengan lesu.


"Mau aku pijet?", tawar Galuh. Lingga menggeleng.


"Ganesh mana Yang?", tanya Lingga tanpa beranjak dari bahu Galuh.


"Bobo, di kamar ibu!", jawab Galuh. Lingga mengangguk pelan.


Galuh menakupkan kedua tangannya di pipi Lingga, di tatapnya mata lebar itu dengan tatapan penuh cinta.


"Cerita sama aku, Abang udah janji ngga akan merahasiakan masalah apapun dari ku!"


Lingga menurunkan jemari istrinya lalu ia cium punggung tangan dan telapak tangan nan lentik itu bergantian. Galuh cukup heran, suaminya tak pernah seperti itu.


Akhirnya Lingga menceritakan pertemuannya dengan rekan bisnisnya yang ternyata ada Karen dan Inka. Galuh berusaha bersikap biasa saja. Toh suaminya bertemu dengan mereka karena masalah pekerjaan. Lagi pula ada orang lain selain mereka. Dan cerita berikutnya yang justru membuat Galuh cemas. Soal truk yang hampir menabraknya. Lingga masih beruntung karena dirinya masih di beri keselamatan. Mungkin...secara tidak langsung, ridho Allah juga lewat doa istri yang selalu mendoakan kebaikan untuk suaminya.


"Yang penting Abang ngga apa-apa sekarang. Alhamdulillah, Allah masih melindungi Abang!", Galuh mencoba menenangkan suaminya.


"Abang cuma takut tiba-tiba...!"


"Sssstttt ... hidup dan mati seseorang sudah di atur di lauhul Mahfudz. Hanya tinggal menunggu giliran. Kita memang tidak pernah tahu kapan waktu untuk kita berakhir, tapi selama kita masih di beri kesempatan bernafas ...kita senantiasa berdoa pada yang maha kuasa. Untuk di beri perlindungan, keselamatan dunia akhirat, kebahagiaan dan semua hal yang baik-baik. Itu juga pesan Abang sama aku dulu, waktu aku psimis apakah aku bisa bertahan dengan satu ginjal ku. Ingat kan?", Galuh tersenyum dan kembali menakupkan kedua tangannya di pipi Lingga.


Lingga tersenyum, tangannya melingkar di pinggang sang istri.


"Terimakasih sayang, selalu jadi penyejuk ku!", Lingga melabuhkan kecupan di kening Galuh dengan pelan.


"Iya bang!"

__ADS_1


"Ngomong-ngomong Abang laper Yang!", kata Lingga. Galuh menautkan alisnya.


"Lapar makna konotasi apa denotasi nih?", Galuh memundurkan kepalanya dan menatap curiga pada suaminya.


"Ishhh...ngarep banget di makan beneran Yang? Kalo mau sekarang ayokkk!", kata Lingga semangat.


"Heh! Katanya laper!", Galuh mencubit hidung mancung suaminya. Lingga terkekeh karena ulah istrinya tersebut.


"Hehehe ya udah makan beneran ini mah, nasi Yang bukan daging hidup!", lanjut Lingga.


"Astaghfirullah! Ini bibir ya ngga di filter banget deh!", Galuh membungkam mulut suaminya dengan telapak tangannya.


Tawa Lingga pun tertahan karena terhalang telapak tangan Galuh.


"Udah diem, aku siapin makanan Abang dulu!", Galuh bangkit dari pangkuan Lingga yang masih menyisakan tawanya.


.


.


.


Karen dan Inka di kawal oleh beberapa lelaki besar dengan mobil. Mereka benar-benar sudah tak bisa berkutik. Apalagi mereka mengancam Inka dan Karen jika sampai macam-macam, kendaraan yang mereka tumpangi akan mengalami hal buruk.


Ya... meski sebenarnya itu hanya gertakan, tetap saja dua perempuan seksi itu takut. Apalagi wajah mereka memang begitu menyeramkan. Alhasil, dua fans fanatik Lingga tak berkutik bahkan hingga tiba di rumah Inka karena itu mobil milik Karen.


Para lelaki menyeramkan itu kembali mengekor di belakang Karen sampai perempuan itu masuk ke dalam gerbang rumah mewahnya.


Setelah memastikan dua sanderanya tiba di rumah masing-masing, para lelaki itu pun kembali ke kampung lagi.


Inka memasuki rumahnya yang di rasa sangat sepi. Rumah yang tersisa dari peninggalan Yudis karena atas nama Lita, itu pun tanpa sepengetahuan Yudis sendiri.


"Mama???", pekik Inka kaget luar biasa. Jika biasanya penampilan mamanya cetar membahana, lihatlah sekarang! Hanya daster batik yang ia pakai dan sandal jepit menghiasi kaki mulusnya meski sudah mulai menua.


"Mama kenapa?", Inka menghampiri Lita.


"Habis sudah Ka, habis! Puja benar-benar brengsek! Dia mengumbar bukti-bukti perselingkuhan mama di depan semuanya."


"Kok bisa sih Ma? Bukannya Puja berjanji tidak akan pernah melakukan itu? Atau ...ada yang sudah mama lakukan sampai membuat Puja emosi?", tanya Inka mencengkram bahu mamanya.


Lita menoleh ke arah lain.


"Mama membayar orang untuk membuat berita tentang Arya dan istri Lingga yang sudah mengambil paksa warisan kita!"


"Hah??? Mama!", Inka mengusap kasar wajahnya. Mamanya tak bisa berpikir lebih panjang jika berbicara tentang uang. Lalu apa bedanya dengan Inka yang tak tahu malu menginginkan suami orang????


"Kamu sendiri bagaimana? Kenapa kamu sudah kembali ke sini? Bukankah kamu bekerja dengan teman mu yang baru menikah beberapa waktu lalu? kenapa sudah kembali ke sini? Bagaimana pekerjaan mu?", cerocos Lita bak kereta api.


Inka menceritakan apa yang ia alami di kampung istri Lingga. Dia sudah tak berani bertindak macam-macam.


"Di mana pun Arya berada, dia pasti akan tetap bisa mengawasi gerak gerik kita Ma!", kata Inka lesu.


Kedua perempuan beda usia itu tak melanjutkan obrolan apa pun. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing, apa yang akan mereka lakukan ke depannya????


.

__ADS_1


.


.


Urusan dengan dua hama yang berniat mengganggu Lingga sudah selesai. Salim pun ke warung sembakonya yang cukup ramai. Ada saja yang belanja. Berhubung dia tak punya supir atau mobil untuk mengangkut barang, akhirnya dia sendiri yang turun tangan untuk mengantarkan pesanan para pelanggannya.


Saat Salim dan karyawannya sedang memasukkan barang pesanan, sebuah mobil berhenti di belakang mobilnya.


Muncul sosok bocah tampan kesayangannya dengan senyuman merekah, setelahnya dua sosok lelaki yang cukup Salim kenal.


"Assalamualaikum Abah!", sapa Syam.


"Walaikumsalam!", Salim tersenyum.


"Pak Surya, mang Ujang?", sapa Salim.


Setelah beberapa saat berbasa-basi, Ujang dan Surya pun berpamitan pada Salim dan Syam.


"Kenapa Opa ngga menginap saja?", tanya Syam. Surya mengacak lembut kepala Syam.


"Lain kali ya sayang! Kita agendakan liburan bersama lagi, oke?", kata Surya mencari kesepakatan.


"Huum, Mang Ujang sama opa hati-hati!", kata Syam.


Mang Ujang mengiyakan dengan anggukan dan senyuman tipis.


"Iya sayang!", ucap Surya.


Perlahan mobil Surya pun menjauh dari warung tersebut. Saat di tinggal mengobrol dengan Surya, ternyata karyawan Salim sudah selesai membereskan barang yang akan di kirim.


"Adek tunggu sini aja apa mau ikut Abah kirim barang?", tanya Salim.


"Ikut aja deh Bah!", sahut Syam. Bocah itu pun duduk di samping abahnya yang akan mengemudi. Setelah mobil berjalan menjauh meninggalkan warung Salim, mereka mulai mengobrol.


"Bah, boleh Syam tanya sesuatu? Tapi Abah harus jawab dengan jujur!", kata Syam.


"Tanya apa sih, serius banget kayanya?", tanya Salim balik dengan terkekeh ringan.


"Abah bukan anggota apalagi pemimpin mafia kan?!", tanya Syam dengan tatapan menyelidik. Salim sampai mengerem mobilnya mendengar pertanyaan Syam yang...aneh!


"Mafia???", justru Salim yang bertanya balik pada Syam. Tapi tatapan Syam cukup mewakili betapa penasarannya bocah itu.


Salim tertawa pelan.


"Darimana kamu tahu kata-kata itu dek? Ya Allah... mafia?", Salim tersenyum sambil menggeleng heran.


"Orang-orang yang berbadan besar disekitar Abah, di sekitar keluarga kita? Siapa mereka?", tanya Syam lagi.


Salim lupa, anak sambungnya itu terlalu jeli bahkan sangat detail jika menanyakan sesuatu. Dan apa, mafia????


******


Udah Sabtu aja ya 👏👏👏👏👏 waktunya 'me time' ngga ngojekin bocil2 😁😁😁✌️ tapi tetap aja... urusan perdapuran dan perlaundrian mah tetap berjalan seperti biasa 🤭🤭🤭


Selamat rebahan di akhir pekan 🤗🤗🤣🤗

__ADS_1


Terima kasih 🙏🙏🙏🙏


16.40


__ADS_2