Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 201


__ADS_3

Lingga dan Arya menyambangi kafe GG sekalian ke minimarket yang tak jauh dari tempat kafe nya berada.


"Selamat pagi pak Lingga!", sapa para karyawan di kafe.


"Pagi, Burhan di mana ya?", tanya Lingga.


"Keluar dari tadi sih pak, mungkin ke sebelah!", jawab karyawannya. Sebelah yang di maksud tentu saja minimarket Lingga.


"Oh... baiklah, terimakasih!", kata Lingga ramah. Karyawannya pun meminta ijin untuk meninggalkan bos nya.


"Papa kayaknya ngopi-ngopi dulu deh, aku mau ke sebelah. Paling setengah jam lagi, kafe buka Pa!", kata Lingga. Masih jam sepuluh pagi, jadi waktu prepare ada setengah jam lagi.


"Heum, boleh! Tolong pesankan kopi deh kalo gitu!'',kata Arya. Lingga mengiyakannya lalu memanggil salah seorang karyawannya yang sedang mengelap meja.


"Mas, tolong kopi hitam buat papa saya. Jangan terlalu manis ya!", titah Lingga.


"Baik pak!", sahutnya lalu meletakkan peralatan lap nya dan mencuci tangan di wastafel. Setelah itu ia meminta 'barista' menyiapkan pesanan bosnya. Bahkan dia inisiatif sendiri membawakan pancake pisang untuk menemani kopi di meja.


"Terimakasih mas!", kata Lingga. Arya hanya mengangguk sekilas sebagai persetujuan bahwa ia pun seperti Lingga.


"Nanti kalo aku udah selesai, aku balik lagi pa. Kalo papa bete, bisa ke ruangan ku di situ!", tunjuk Lingga pada papanya.


"Kesannya papa seperti orang yang sudah jompo harus didikte mau apa dan kemana!", kata Arya dengan nada suaranya yang khas. Jika dulu Lingga akan menanggapinya emosi, sekarang dia hanya terkekeh.


Papanya sudah berubah, tidak seperti dulu arogannya.


"Ya kali papa capek!", kata Lingga.


"Heum! Sudah sana pergilah!", Arya mengibaskan tangannya meminta Lingga pergi.


"Iya iya...Lingga ke sebelah dulu!", pamit Lingga. Arya mengangguk pelan. Sepeninggal Lingga, Arya di sibukkan dengan ponselnya.


Meski sekarang perusahaan sudah menjadi tanggung jawab Puja, bukan berarti dia lepas tangan begitu saja. Puja memang pandai berbisnis, tapi bukan berarti dia tak pernah salah mengambil keputusan.


Arya bahkan terang-terangan meminta Lukas untuk selalu mengawasi Puja. Bukan karena apa-apa, dia hanya tak ingin sang putra sulung salah langkah saat mengambil keputusan.


Setengah jam berlalu, kafe sudah mulai beroperasi. Semua pekerja sudah siap dengan pekerjaannya masing-masing. Arya seolah tak terganggu dengan kehadiran para tamu kafe yang sudah berdatangan.


Usia Arya memang sudah menjelang enam puluh tahun, tapi dia masih terlihat gagah di usianya tersebut. Wajar saja jika dirinya dikira belum setua itu.


Banyak mata yang menatap Arya yang sibuk dengan gadgetnya. Hingga tiba-tiba seorang perempuan muda duduk di hadapan Arya.


"Permisi Om, boleh duduk di sini kan?", sapa seorang perempuan berusia dua puluhan. Arya mendongak sesaat tapi setelah itu ia tak merespon apapun.


Bertemu model perempuan seperti itu sudah biasa bagi Arya. Jangankan perempuan cantik yang dihadapannya, ia sering kali di sodori perempuan seksi oleh sesama pebisnis yang bertindak kotor.


Sayangnya, sekeras apapun Arya, arogansinya begitu tinggi, tapi nilai plus dari Arya adalah ia seorang lelaki setia pada pasangannya.


"Ehem, sibuk banget om. Sendirian aja?", tanya perempuan itu tanpa tahu malu. Terdengar helaan nafas dari mulut Arya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja lalu bersedekap dan menyandarkan punggungnya.


"Masih banyak bangku kosong, kenapa harus di meja saya?", tanya Arya dengan suaranya yang penuh intimidasi.


Perempuan itu justru merasa semakin tertantang karena menurutnya, lelaki tua dihadapannya sangat menarik.


"Pengen aja sih Om!", jawabnya sambil tersenyum memasang wajahnya yang biasanya akan membuat lawan jenis terkesima. Jangan lupa, pakaiannya juga terlihat berkelas dengan blazer ala kantoran.


"Mas!", Arya memanggil salah satu karyawan Lingga.


"Iya Pak?", tanya karyawan Lingga setelah dekat di samping Arya.


"Bill nya!", pinta Arya.


"Jangan pak, ini atas perintah pak Lingga", tolaknya takut. Bagaimana tidak takut, aura wajah Arya menyeramkan. Tapi dia lebih takut lagi jika di salahkan oleh bosnya.


"Ya sudah, terimakasih!", Arya bangkit dan menepuk bahu karyawan Lingga itu.


Arya mengambil ponselnya di atas meja lalu meninggalkan meja itu seolah tak ada makhluk hidup di depannya tadi.


Perempuan itu terperangah tak percaya. Ada seorang lelaki mapan tak menggubrisnya.


"Om!", perempuan itu sedikit berlari menghampiri Arya yang sudah hampir tiba di depan pintu kafe.


"Om, kenalin. Aku Maharani!", kata gadis itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Arya menatap jemari lentik gadis itu. Tapi setelah itu Arya benar-benar mengabaikannya. Tangan gadis itu menggantung di udara.


Arya pikir, setelah ia tak lagi ada sangkut pautnya dengan perusahaan, dia tak akan menemui model-modelnya perempuan seperti gadis yang ada di hadapannya.


Arya kembali meneruskan langkahnya tanpa peduli lagi gadis itu terus mengekor di belakangnya.


"Sombong banget sih Om, ya ampun!", kata Maharani tergesa-gesa membuntuti Arya. Karena Arya merasa jengah, dia pun berhenti di depan minimarket Lingga.


"Berhenti mengikuti saya!", bentak Arya. Gadis itu tersentak mendengar suara Arya bak gledek di tengah hari. Maharani meneguk salivanya. Sungguh, dia sangat tertantang mendekati lelaki mapan dan dewasa seperti Arya.


"Tapi Om...saya cuma...", kalimat Maharani terhenti saat suara seorang laki-laki menginterupsi.


"Ada apa Pa?", tanya Lingga yang tadi memang keluar dari minimarketnya di temani Burhan. Gadis itu pun menoleh pada asal suara yang baru ia dengar.


Sosok Lingga dan Burhan juga menarik di mata gadis itu.


"Tidak apa-apa! Kalau sudah selesai, kita jemput mama dan istri kamu!", kata Arya pada Lingga. Arya benar-benar mengabaikan gadis tak tahu malu itu.

__ADS_1


Maharani meneguk salivanya, dia memang biasa mendapatkan mangsa kelas atas tapi sepertinya model Arya dan Lingga sulit di jangkau olehnya.


"Ya udah Pa, kita jemput mama!", kata Lingga. Dia tak ingin mempertanyakan tentang siapa gadis yang mengejar papanya tadi.


"Om...aku cuma...!", Arya mengangkat salah satu tangannya agar Maharani diam.


"Katakan pada bos mu! Kamu sudah gagal!", kata Arya. Burhan dan Lingga saling berpandangan beberapa detik setelah itu mereka tak ikut campur.


Urusan papanya biasanya berhubungan dengan perusahaan yang kini sudah berpindah tangan kepada Puja.


Gadis yang bernama Maharani tak berani menatap Arya. Tak seperti tadi saat dia agresif seolah ingin berkenalan dengan Arya.


"Saya pikir cukup sekali melakukan hal bodoh seperti ini, nyatanya bos kamu memang sudah bebal dan bodoh?!", kata Arya kasar.


Maharani sudah tak mampu bicara apa pun untuk sekedar menjawab ucapan Arya.


Akhirnya Arya dan Lingga meninggalkan halaman minimarket. Sedang Burhan sendiri masuk ke dalam minimarket.


Maharani menghubungi bosnya, dia jujur merasa sangat dipermalukan mengahadapi Arya. Ternyata benar, Arya bukan tipe laki-laki yang mudah di taklukan hanya dengan penampilan cantik seorang perempuan muda.


.


.


.


"Gadis itu mengganggu papa?", tanya Lingga.


"Dia anak buah Malik!", kata Arya. Lingga menautkan kedua alisnya.


"Anak buah Om Malik?", tanya Lingga. Arya mengangguk.


"Om Malik...? Bukannya om Malik sekarang bekerja di perusahaan kita?", Lingga memutar kemudinya.


"Mungkin dia masih belum puas karena akuisisi perusahaannya."


Lingga mengangguk mengerti. Selama di Kanada, dia juga turut mengurusi perusahaan keluarga besar mamanya. Tapi sejak memutuskan kembali ke Indonesia dan melanjutkan pernikahannya dengan Galuh, dia memang menarik diri dari urusan bisnis keluarganya dan merintis usahanya dari nol.


"Dari mana papa tahu kalau dia suruhan Om Malik?", tanya Lingga heran.


"Kamu lupa, daya ingat papa mu cukup bagus? Kamu pikir siapa yang akan tiba-tiba menghampiri papa kalau tidak ada tujuan? Dari mana mereka tahu kalau papa sedang ada di sini?"


Lingga terdiam. Itu artinya papa nya memang tak bisa lepas begitu saja dari urusan bisnis keluarganya itu.


"Ga! Berpositif thinking terhadap orang lain itu bagus, tapi jangan sampai lengah! Kita tak pernah tahu apa yang akan kita hadapi ke depannya."


"Iya Pa!"


Flashback ke hampir lima tahun lalu, mana pernah Lingga berpikir jika dia akan duduk berdampingan dengan Arya dan mengobrol santai seperti ini.


"Kamu masih muda, mandiri dan sukses seperti sekarang ini. Jangan pernah kecewakan istri yang sudah mendampingi mu sekali pun di luaran sana banyak yang menggoda mu. Papa memang kejam, tapi papa setia sama mama kamu!", kata Arya.


"Iya Pa, iya ...!", kata Lingga.


.


.


.


"Kak, aku creambath aja deh! Ngga usah pijet segala?!'', bisik Galuh pada kakak iparnya.


"Kenapa? Nanti udahannya relaks lho Luh! Kamu butuh itu!", balas Vanes.


"Kak! Aku malu!", rengek Galuh yang cukup terdengar oleh mama mertuanya.


"Ngga usah malu! Percaya sama kakak!", paksa Vanes lagi. Galuh hanya mengangguk lesu menyetujui ucapan kakak iparnya tersebut.


Mamanya Angel lebih dulu masuk ke sebuah ruangan khusus pijat, disusul oleh Gita dan Galuh.


"Ma...?!"


"Ngga usah malu Luh. Kamu perempuan bersuami, wajar kok kalo ada sisa semalam. Ngga usah malu-malu! Yang ngerjain perempuan semua, privasi kita juga di jaga kok!", ajak Gita.


Lagi-lagi Galuh hanya pasrah. Ketiga perempuan cantik beda usia itu kini sudah mengenakan kembennya masing-masing.


Jika Gita dan Vanes tampak biasa saja, berbeda dengan Galuh. Perempuan itu terlihat begitu malu. Ibu mertua dan kakak iparnya bahkan pegawai salonnya juga cukup memaklumi jika Galuh merasa malu.


Bagaimana tidak? Jejak petualangan Lingga menyebar ke seantero jagat. Karena kakak iparnya dan juga ibu mertuanya meyakinkan dirinya, akhirnya Galuh pun menurut dan mulai di pijat.


Awalnya dia merasa malu, tapi lama kelamaan pijatan di punggungnya membuatnya merasa nyaman. Apalagi dia mendengar mertuanya dan kakak iparnya mengobrol hal random yang tak ia ketahui hingga Galuh merasa sedang di bacakan dongeng. Alhasil, Galuh tertidur saat pijatan lembut itu belum lama di mulai.


Gita menoleh ke menantu bungsunya yang sudah memejamkan matanya. Dia tersenyum simpul.


"Galuh tidur Ma? Ngga ada suaranya?", tanya Vanes.


"Iya, mungkin terlalu menikmati pijatan mba nya!", jawab Gita yang di sambut senyum oleh pegawai salon.


"Gimana kalo habis ini ajak Galuh buat treatment ratus? Sama yang lain juga kalo perlu Ma?!"

__ADS_1


"Terserah Galuh saja! Mama cuma takut, setelah treatment malah Galuh semakin capek gara-gara adik ipar kamu itu!", kata Gita terkekeh kecil. Vanes pun paham dengan ucapan mertuanya.


Bada Dhuhur, perawatan kecantikan tiga perempuan cantik itu selesai bersamaan dengan Lingga dan Arya yang tiba di salon.


"Papa sama Lingga kok nyusul ke sini?", tanya Gita.


"Iya ma, urusan Lingga di kafe udah beres!", jawab Arya.


Lingga memperhatikan istrinya yang diam dan cemberut. Dengan isengnya Lingga menyentil pelan bibir Galuh yang cemberut.


"Menantu mama ini kenapa manyun Ma?", tanya Lingga pada mamanya. Gita tersenyum sebelum menjawab pertanyaan si bungsu.


"Habis treatment dia Ga! Kan mau bulan madu!", Vanes yang menjawabnya.


"Kak!", Galuh semakin cemberut.


"Udah-udah! Gini aja Ga, kamu bareng Galuh biar mama papa sama Vanes aja langsung ke kantor Puja!", ujar Arya. Vanes dan Gita mengangguk setuju.


Mereka berpisah di halaman salon untuk masuk ke mobil masing-masing. Tapi sebelumnya, Vanes kembali iseng pada kedua adik iparnya.


"Ga!", panggil Vanes.


"Kenapa kak?", tanya Lingga.


"Langsung pulang ya, jangan melipir ke hotel!", kata Vanes sambil tersenyum penuh arti. Lingga mengangkat salah satu alisnya karena heran. Tapi Vanes langsung masuk ke mobilnya yang kini di kendarai oleh papa mertuanya.


"Mau ke hotel Yang?", ledek Lingga pada istrinya hingga membuat kedua mata lentik Galuh melotot sempurna.


"Astaghfirullahaladzim! Kondisikan mata kamu Yang, ya Allah tolong!", kata Lingga geleng-geleng kepala.


.


.


.


"Syam!", panggil salah seorang temannya yang berbeda kelas.


"Iya?", sahut Syam datar tanpa senyuman tapi tidak jutek juga. Kebetulan Deni sedang tak masuk sekolah karena sakit.


"Aku baca cerita kamu lho!", kata temannya tersebut yang sama-sama ikut event menulis kemarin.


"Oh...!", hanya itu yang keluar dari bibir Syam.


"Jadi benar selama ini kata orang-orang, kalo kamu...anak haram?", tanya temannya tersebut. Mendadak dada Syam terasa panas jika di ungkit tentang statusnya sebagai anak tanpa nasab tersebut.


Tak mendengar jawaban apapun dari Syam, anak itu melanjutkan lagi bullyan nya.


"Anak haram yang beruntung ya? Ternyata...bapak kandung kamu pengusaha kaya raya! Pantas saja kamu ngga di akui, status sosial bapak kandung kamu dan ibu mu kan beda!", lanjutnya.


Wajah Syam sudah memerah menahan emosinya yang mungkin siap meledak.


"Gimana rasanya jadi anak haram Syam?",ledeknya. Keduanya sama-sama pulang siang karena memang persiapan untuk acara lomba.


"Apa status ku mengganggu mu?", tanya Syam dengan nada pelan tapi penuh penekanan. Teman Syam tak menyangka jika Syam akan menanyakan seperti itu. Padahal harapannya, Syam akan merasa minder minimal marah hingga memukulnya. Jadi, predikat anak baik dan pintar tak melekat pada Syam.


Anak itu adalah saingan Syam selama ini. Mereka selalu kejar-kejaran dalam berprestasi. Dan event menulis kemarin, teman Syam itu merasa sangat tersaingi.


"Memang tidak menggangu ku, tapi aku heran saja. Kamu masih bersikap percaya diri sekali selama ini!", katanya sambil tersenyum remeh.


Nafas Syam sudah memburu. Seandainya saja dia tak berusaha menahan diri, dia pasti sudah memukul temannya tersebut.


"Kenapa aku harus minder?", tanya Syam balik.


"Ckkk...'', temannya hanya berdecak kesal karena lagi-lagi Syam menyahut diluar prediksi nya.


"Adek!", panggil Salim pada Syam hingga kedua anak itu menoleh bersamaan. Syam memasang senyumnya seolah tak terjadi apa-apa diantara dirinya dan temannya barusan.


"Bah!", panggil Syam balik. Salim merengkuh bahu Syam.


"Abah belum telat jemput kan?", tanya Salim. Syam menggeleng dan tersenyum tipis.


"Eh, ada teman adek juga. Belum di jemput?", tanya Salim pada teman Syam. Anak itu hanya mengangguk.


"Mau bareng Syam, biar Abah antar pulang?", tawar Salim. Anak itu menggeleng pelan.


"Tidak, terimakasih!'', tolaknya. Salim pun tak memaksa teman Syam itu.


"Ya udah yuk bah!", aja Syam tanpa menoleh pada temannya sama sekali.


"Lho, kok ngga nyapa teman kamu dulu dek?", tanya Salim.


"Ngga usah bah! Ngga penting!", Syam menarik tangan Salim menuju ke mobil mereka yang terparkir di warung seberang.


Teman Syam hanya memandangi punggung Syam, dalam hatinya ia merasa iri dengan apa yang Syam miliki saat ini.


****


Terimakasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


Mon maap kalo banyak typo atau makin gaje ✌️🙏


20.17


__ADS_2