Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 211


__ADS_3

Flashback


"Inka! Dengerin mama dulu!", Lita menarik tangan Inka yang sedang berjalan menuju ke mobilnya yang ada di halaman rumah Puja.


"Apa lagi sih Ma?", Inka sampai menghentakkan tangannya.


"Kamu percaya sama ucapan Puja hah? Dia cuma mau gertak kita...ngga usah....!"


"Stoppp Ma....stop!", Inka mengangkat tangannya lalu masuk ke mobil. Lita segera menyusul sang putri yang sudah duduk di belakang kemudi. Tanpa mengucapkan apa pun, mobil Inka keluar dari kediaman mewah milik Puja tersebut.


"Ka...mama....!"


"Aku kecewa sama mama!", kata Inka.


"Sudah mama bilang...jangan ...!"


"Cukup Ma!", untuk ke sekian kalinya Inka mengatakan demikian.


"Inka....!"


"Aku ngga peduli aku bukan anak papa Yudis, aku ngga peduli mama mau selingkuh dengan pria-pria brondong mama! Aku cuma kecewa ma... kenapa aku baru tau sekarang kalo aku bukan saudara Lingga!", kata Inka memukul setirnya.


"Hah?????!", Lita sampai menganga tak percaya.


"Ka....!"


"Aku suka sama Lingga dari dulu banget Ma. Tapi karena status kami yang masih ada ikatan darah, Inka jauh-jauh menekan perasaan itu meski sempat pacaran sama Lingga. Tapi itu ngga lama kan Ma? Karena apa? Karena kita saudara!", kata Inka menggebu-gebu.


Lita masih menatap tak percaya pada putrinya. Dia pikir, Inka akan marah besar jika tahu dia bukan keturunan keluarga Pandu. Tapi ternyata.....


"Nyesel aku nyuruh Karen mendekati Lingga lagi! Tahu gitu, aku yang akan melakukannya sendiri!", kata Inka menggebu-gebu.


"Maksud kamu apa???", Lita menatap bingung putrinya.


"Aku sudah tidak tertarik dengan warisan Yudis, Ma! Kalo mama masih mau melanjutkan rencana mama silahkan! Tapi sekarang tujuan utama ku adalah Lingga!"


Lita tak sanggup berkata apa-apa lagi. Apalagi melihat wajah Inka yang begitu meyakinkan dan menggebu.


[Hallo Karen.....]


Flashback off


Lingga dan rekan bisnisnya memilih berjalan kaki ke kafe yang tak jauh dari gerai atm. Mobil mereka sengaja mereka parkirkan disana.


Keempatnya sudah duduk di kursi masing-masing. Sejak tadi Lingga hanya bercakap-cakap dengan orang yang bekerja sama dengannya dan juga Alex.


Dua perempuan cantik nan seksi yang tak lain Inka dan Karen seolah tak di anggap keberadaannya.


"Maaf pak Lingga, saya permisi ke toilet sebentar!", kata lelaki itu.


"Silahkan!", Lingga mempersilahkannya. Tinggallah Lingga dan dua mantan pacar nya yang sepertinya sedikit aneh jika bisa seakrab itu 🙈

__ADS_1


"Gue seneng deh akhirnya Lo mau kerja sama bareng kita!", kata Karen membuka pembicaraan yang dari tadi selalu di abaikan oleh Lingga.


Lingga hanya menatap Karen sesaat tapi ia kembali fokus dengan benda pipihnya.


Karen mendengus kesal karena Lingga sama sekali tak menanggapinya.


"Oh iya Ga! Sorry...gue boleh dong main ke rumah Om Arya?", tanya Inka. Lagi-lagi Lingga menatap sekilas pada Inka yang memasang senyum manis pada Lingga.


"Sejak kapan kamu ada keinginan bertamu dengan papaku?", tanya Lingga datar.


Wajah datar Lingga berkali-kali lipat terlihat sangat tampan di mata dua mantannya tersebut. Tapi pertanyaan Lingga cukup menohok bagi Inka.


"Ya...gimana juga...Om Arya kan adik papaku, wajar kan kalo aku mau ....", ucapan Inka terhenti saat telapak tangan Lingga mengarah padanya yang menandakan jika dia disuruh diam.


[Assalamualaikum Yang?]


Sapa Lingga dengan lembut pada istrinya. Dua perempuan cantik yang ada di hadapannya merasa kesal sendiri. Apalagi Karen! Dia sudah bersemangat untuk kembali mendapatkan Lingga, tapi ternyata di luar rencana sebelumnya. Inka sekarang yang ingin mendekati Lingga lagi. Dobel deh kesalnya!!!


Sudah harus bersaing dengan Inka dan istrinya eh ...sikap Lingga benar-benar cuek!


[Iya! Nanti ya sayang! Iya ... walaikumsalam]


Lingga kembali memainkan ponselnya. Bukan main sebenarnya, tapi berbalas pesan dengan para pemilik toko material dan juga beberapa pemilik warung-warung sayur yang mengambil pada nya.


Karena tak di tanggapi, Inka dan Karen sibuk sendiri. Mereka sama seperti Lingga yang memainkan ponselnya.


[Ren, Lo ada rencana apa buat bikin Lingga ngga cuek?]


[Ga ada! Awalnya gue mau bikin dia seolah tidur sama gue kaya yang suka gue baca di novel-novel online. Tapi Lo liat sendiri? Bahkan dia sama sekali ngga minum apa yang kita pesenin? Dia milih minum air putih dari rumah! Gila ngga sih ]


[Kreatif dikit kenapa? Ngga banget deh kalo Lo mau bikin Lingga nge-fly terus tidur sama Lo?]


Karen menatap tajam pada temannya itu.


[Ya udah Lo pikir aja sendiri, gue juga mau mikir buat gue sendiri]


Karen sudah mulai emosi.


Inka tak membalas lagi karena rekan nya sudah selesai dari toilet. Lingga kembali melanjutkan obrolannya dengan rekan bisnisnya tersebut.


Setelah melakukan kesepakatan, Lingga pun pamit lebih dulu.


"Ga!", tahan Inka. Lingga pun berhenti sebentar.


"Iya?", tanya Lingga datar. Inka sangat kecewa jika sikap Lingga begitu berbeda saat berbicara dengan istrinya meski hanya lewat telpon.


"Jadi gimana? Aku boleh mampir ke rumah Om Arya?", tanya Inka lagi.


"Sorry, sepertinya mama dan papa lagi ngga ada di rumah. Mungkin lain kali, kalo aku ketemu mereka nanti aku tanyakan!", kata Lingga yang hendak kembali berjalan.


"Eh, tunggu dulu Ga!", tahan Inka lagi. Karen dan rekannya hanya memandangi punggung dua orang itu.

__ADS_1


"Apa lagi? Urusan pekerjaan kita sudah selesai!", kata Lingga.


"Memang kita ngga bisa apa mengobrol di luar pekerjaan?", tanya Inka memelas.


"Maaf, tapi aku sibuk! Permisi!", Lingga langsung meninggalkan kafe tersebut dan berjalan menuju ke mobilnya.


Saat akan menyebrang, dari arah samping sebuah truk bermuatan batu yang keluar dari gang melaju begitu kencang. Lelaki tampan itu menoleh terkejut karena dia tak menyangka jika truk itu akan langsung tancap gas saat keluar dari gang.


.


.


.


"Kok bengong kak? Kenapa?", tanya Sekar pada putri sulungnya.


"Heh? Ngga kok Bu. Eh ... ngomong-ngomong ibu kapan periksa lagi?", tanya Galuh.


"Dua hari lagi kak!", jawab Sekar tersenyum.


"Nanti kalau kondisi kehamilan ibu sudah benar-benar siap dan sehat, Abang akan mengurus keberangkatan umroh ibu sama Abah ya? Dan rencananya mama dan papa juga akan berangkat bareng."


Sekar tersenyum tipis.


"Iya, makasih kak!", kata Sekar mengusap bahu putrinya.


Galuh kembali terlihat bengong.


"Cerita sama ibu, Kakak lagi mikirin apa?"


"Bu, akhir-akhir ini banyak sekali yang terang-terangan deketin Abang. Ngga cuma rekan bisnis yang baru kenal tapi mantan-mantan Abang juga iya. Mana mereka cantik dan seksi-seksi semua lagi Bu!"


"Tapi ibu yakin, mau secantik dan seseksi apapun mereka...Abang pasti cuma mau sama kakak!", Sekar tersenyum. Galuh menoleh pada ibunya.


"Abang juga bilang begitu Bu! Tapi...yang kakak heran, kenapa mereka bermunculan saat Abang berada di posisi sekarang. Dulu waktu kami masih susah, ngga ada tuh Bu? Apa laki-laki tampan dan mapan yang sudah berkeluarga membuat mereka lebih tertantang?", tanya Galuh pada ibunya yang tentu saja tidak bisa di jawab.


"Percaya saja sama suami kamu kak. Ibu yakin, Abang akan menjaga pandangannya. Terlebih...dia lebih menjaga perasaan kamu kak. Keliatan kan selama ini seperti apa sikapnya, heum?"


Galuh mengangguk.


"Aku cuma takut kalau Abang khilaf....!", kata Galuh.


"Berdoa saja, semoga Abang selalu di lindungi yang maha kuasa dan tidak salah langkah. Ya?", Sekar kembali mengingatkannya.


Galuh tersenyum tipis dan mengangguk pelan.


******


08.52


Up lagi duluuuuu.... sore/malam kemudian 😁😁😁

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2