
Salim mengunjungi pabrik penggilingan beras milik istrinya yang sekarang akan di urus olehnya. Kondisi penggilingan padi cukup ramai karena beberapa waktu lalu memang baru selesai panen.
Selain menerima gilingan padi, Lingga juga menerima penjualan gabah yang nantinya beras itu akan Lingga distribusikan ke beberapa kota dan kabupaten.
Suara mesin penggiling menggema di sebuah gedung yang terlihat gelap karena banyaknya merang atau kulit padi yang menggunung. Biasanya, merang itu akan di angkut oleh peternak sapi untuk di jadikan pakan.
"Eh, pak Salim!", sapa pekerja.
"Ramai ya kang?", tanya Salim.
"Iya pak. Alhamdulillah. Ini kalo udah beres, tinggal giling yang mau di kirim ke kota X", kata pekerja itu menjelaskan. Salim hanya mengangguk.
Seseorang yang menjadi orang kepercayaan di sana pun menghampiri Salim. Lingga sudah menjelaskan jika nantinya semua tanggung jawab akan di pegang Salim, bukan lingga lagi.
Salim mulai sibuk mendengar penjelasan orang kepercayaan Lingga. Sesekali keduanya tampak tertawa akrab. Sebelumnya Salim tinggal di mess pabrik batako, jadi kurang begitu akrab dengan pekerja gilingan beras.
"Enak ya jadi pak Salim, datang-datang ngawinin bos. Ngga mikirin tempat tinggal, kerja apa, eh... tahu-tahu di pasrahin kerjaan sama menantu tirinya. Laki modal ****** doang itu mah, aku juga mau!", celetuk salah satu pekerja yang sedang menjahit karung beras.
"Kamu nya mau, Bu Sekar yang ngga mau sama kamu!", sahut rekannya. Tapi setelah itu mereka tak mengobrol apa-apa lagi.
Sayangnya pembicaraan mereka, di dengar oleh Salim. Apa dia marah pada kedua pekerja tadi? Ingin! Tapi nyatanya dia memang hanya bawa diri!
Malu? Mungkin iya!
Salim langsung keluar dari bangunan itu tanpa mengucap satu patah kata pun. Dia hanya takut terpancing emosi dan harus menjelaskan tentang dirinya. Kalau sudah di jelaskan, lalu untuk apa?? Merubah pandangan mereka pada nya?
Lelaki berusia empat puluh tahun itu menuju ke sepeda motornya untuk kembali ke rumah. Mungkin setelah tiba di rumah, dia akan jauh lebih bisa menenangkan diri.
.
.
.
"Maaf kang, Abang nya belum pulang!", Galuh menjelaskan pada salah seorang pria dewasa yang sudah Lingga panggil untuk menjadi mandor dalam pembangunan rumahnya. Lingga tak memakai jasa arsitek karena di rasa dirinya masih cukup mampu. Apalagi ada papa nya yang biasa menangani proyek besar.
"Oh ...saya yang salah. Kebetulan aja lewat, jadi mampir. Ngga tahu kalau den Lingga teh ngga di rumah karena memang ngga ada janji!", kata si mandor. Tak lama kemudian, terdengar suara sepeda motor yang Salim kendarai.
Setelah tamu berpamitan, Salim pun masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum!", Salim memberi salam. Dia sempat tersenyum pada tamu yang kebetulan keluar dari ruang tamu.
"Walaikumsalam!", sahut Galuh.
"Tamu nya Abang?", tanya Salim.
"Iya bah, tapi cuma mampir ngga sengaja lewat katanya."
"Oh ...'', sahut Salim datar.
Galuh melirik jam dinding, sebentar lagi jadwal Syam pulang sekolah.
"Kenapa kak?", tanya Salim.
"Adek di jemput sama Abang apa ngga ya? Takutnya Abang sama papa belom selesai urusannya."
"Ya udah biar Abah aja yang jemput!", kata Salim.
"Eum...coba telpon Abang dulu deh Bah, takutnya bentrokan jemputnya."
"Iya", sahut Salim.
Salim pun menelpon Lingga untuk menanyakan apakah sempat menjemput Syam atau tidak. Ternyata, Lingga dan Arya sudah hampir tiba di dekat sekolah Syam.
"Abang yang jemput Kak!", kata Salim.
"Oh, ya udah atuh Abah istirahat aja. Temenin ibu metis di teras belakang sama bik Mumun tuh."
"Hah? Metis naon?", tanya Salim. Galuh hanya mengedikkan bahunya lalu meninggalkan bapak tirinya tersebut yang langsung menuju ke teras belakang.
"Asem ngga Bu?", tanya Mumun.
"Ngga, ini enak kok Bik. Ngga manis, ngga asem juga!", jawab Sekar.
"Eum...ini mah bukan ngidam Bu, emang hobi ibu suka metis hehehe!", kekeh Mumun. Dia memang sering menemani Sekar untuk makan buah dan sambal seperti ini sebelum-sebelumnya.
Salim menghampiri istrinya dan art nya.
"Eh, bah? Iraha dugi?", tanya Sekar.
__ADS_1
"Barusan Bu. Ibu teh ngidam?", tanya Salim.
"Ngga bah, kita mah emang sering metis ya bik Mumun?!"
Mumun mengiyakan dengan anggukan.
"Ya udah atuh, tapi jangan kepedasan ya sambelnya!", kata Salim.
"Ya bah."
Salim meninggalkan istrinya lantas menuju ke kamarnya. Ada beberapa notifikasi dari beberapa supplier yang akan mengisi warungnya nanti. Jadi untuk beberapa hari ke depan, Salim bisa mempersiapkan isi warungnya.
.
.
.
Syam masih diam seperti tadi pagi saat Lingga dan Arya menjemputnya di sekolah. Lingga tak menuntut banyak pertanyaan apalagi membahas tentang tadi pagi.
"Itu...apa dek?", tanya Lingga saat melihat tas Syam sedikit penuh dari biasanya.
"Oh...ini, plakat, piala sama sertifikat bang!", jawab Syam.
"Kamu ikut event apa?", tanya Arya.
"Nulis aja Pa."
"Juara satu?", tanya Arya lagi. Syam mengangguk pelan.
"Wah .. hebat anak papa ini, selamat ya! Jangan coba-coba meremehkan kemampuan menulis Syam nih! Hebat-hebat! Selamat ya Syam!" , Arya menepuk bahu Syam pelan. Dia sengaja duduk di belakang untuk menemani Syam.
"Iya pa, makasih!", kata Syam dengan ekspresi datarnya. Lingga jadi teringat awal bertemu dengan Syam, persis seperti sekarang.
"Selamat ya dek, adek memang hebat! Kalo gitu, mau hadiah apa dari Abang, dari papa juga mungkin?!",kata Lingga sambil menjalankan mobilnya lagi.
"Hadiah utamanya dinner sama pak gubernur dan jajarannya sih bang. Dan juga, ada pelatihan literasi ekslusif dari mentor yang sudah berpengalaman."
"Masyaallah sekali!", kata Lingga bangga. Syam mengangguk pelan.
"Itu kan dari pihak penyelenggara, kalo dari papa dan Abang, mau hadiah apa?", tanya Arya.
Syam menggeleng.
Syam memandangi persawahan yang membatasi desanya dengan desa dimana ia sekolah. Pikirannya menerawang mengingat percakapan antara dirinya dengan Arya tadi pagi. Bahkan di kelas pun, dia tidak konsen belajar.
Beberapa saat kemudian, mobil Lingga sudah tiba di halaman rumah Galuh. Syam langsung turun bersamaan dengan Lingga dan Arya. Dengan langkah gontai Syam memasuki rumahnya. Arya dan Lingga saling berpandangan.
"Adik mu belum ingin membuka pikirannya. Biarkan saja, dia anak yang hebat dan berjiwa besar. Papa yakin, lambat laun dia akan menerima semuanya."
"Iya Pa!", jawab Lingga.
.
.
.
Syam meletakkan plakat dan pialanya di lemari yang sudah terisi beberapa piala miliknya sejak kelas satu SD.
Setelah itu, dia menuju ke dapur untuk minum. Tanpa sengaja, ia melihat ibunya yang tengah bersama bik Mumun menikmati buah-buahan dengan sambal di cobek. Sesekali ibunya tertawa lepas karena candaan dari bik Mumun.
Tanpa Syam sadari, bibirnya pun melengkung membentuk sebuah senyuman saat melihat tawa ibunya.
Tapi perlahan senyum itu luntur saat dirinya mengingat bahwa... sudah lah ...kasian Syam kalau di bahas lagi.
Bocah itu melepaskan sepatunya lalu beranjak ke kamarnya melewati Lingga dan Arya yang ada di meja makan.
"Dek!", panggil Lingga. Syam pun menoleh dan berbalik badan.
"Iya bang?", tanya Syam.
"Selesai makan dan istirahat, ke kamar ya. Kayaknya Ganesh kangen sama om gantengnya deh!", kata Lingga.
Syam berpikir beberapa saat. Memang,sejak pulang dari kota ia sama sekali belum menemui Ganesh.
"Iya bang!", kata Syam melangkahkan kakinya menapaki tangga menuju ke kamarnya.
.
__ADS_1
.
.
Tok ...tok....
"Kak, Syam masuk boleh?", tanya Syam dari luar pintu kamar Galuh dan Lingga.
"Masuk dek!", terdengar sahutan dari Galuh. Ternyata kakaknya baru selesai menyusui Ganesh.
"Sini!", pinta Galuh dan Syam langsung duduk di samping kakaknya.
Lingga gantian mengambil alih Ganesh untuk di gendong.
"Kamu ngga kangen sama kakak, sama Ganesh heum?", Galuh mengacak rambut Syam dengan gemas.
Tiba-tiba saja Syam menghambur ke pelukan kakaknya. Galuh cukup terkejut dengan sikap Syam tapi setelah melihat kode dari suaminya, ia pun mengerti.
"Ada apa heum?", tanya Galuh mengusap rambut Syam.
"Dulu, kakak juga rawat Syam kaya kakak rawat Ganesh ya kak?", tanya Syam tanpa menoleh pada kakaknya.
"Eheum! Maksudnya mandiin kamu, nyuapin kamu dan merawat kamu gitu dek?", tanya Galuh. Syam mengangguk.
"Ya... iya, cuma kamu minum susu formula ngga asi dari kakak!", kata Galuh mencoba mencairkan suasana dengan terkekeh pelan.
"Apa aku rewel kak?", tanya Syam.
"Ya...namanya bayi, semua yang seperti itu kan?", tanya Galuh balik dan tangannya masih terus bergerak mengusap kepala Syam.
"Kakak sendiri kan habis operasi besar saat mendonorkan ginjal kakak buat mama Gita, udah gitu rawat aku, rawat ibu juga. Dan...kakak juga kerja buat memenuhi kebutuhan kami, apa kakak ngga capek?", tanya Syam beruntun.
Mendengar pertanyaan adiknya yang begitu banyak, Galuh menegakkan badan Syam.
"Kenapa adek bahas seperti itu? Itu kan kewajiban kakak!", kata Galuh menakupkan kedua tangannya di pipi Syam. Syam pun meraih tangan Galuh yang ada di pipinya.
"Kakak kan tahu, Syam memiliki ayah yang berbeda dengan kakak. Tapi kenapa kakak tetap berusaha menyelamatkan aku? Padahal...."
"Sssst...! Kamu kok bicara seperti itu sih dek?!", tanya Galuh sedikit keras dengan nada kecewa.
Syam menunduk, tak mampu menatap mata kakaknya.
"Lihat Kakak!", pinta Galuh pada adiknya. Mau tak mau Syam pun menatap mata lentik kakaknya tersebut.
"Apa kamu kecewa ibu akan memiliki anak lagi selain kita?", tanya Galuh pada Syam. Syam menggeleng.
"Kamu iri? Karena kamu merasa jika kehadiran kamu tak pernah diinginkan ibu saat itu?", tanya Galuh. Syam tak menjawabnya.
Disudut kamar, Lingga mengajak putranya bermain meski pendengarannya pun tetap berfungsi untuk mendengarkan obrolan kakak beradik itu.
"Dek! Coba beri tahu kakak! Apa ada bayi yang memilih ingin di lahirkan oleh siapa?", tanya Galuh. Syam menggeleng.
"Kakak yakin sebenarnya kamu paham dek, tapi kamu hanya sedang berusaha menutup diri kalau kamu belum mau menerima kenyataan itu."
Syam mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Apa yang terjadi di masa kecil kamu, itu bukan keinginan ibu. Kamu tahu kondisi ibu seperti apa. Setelah ibu sembuh dan sekarang melewati harinya seperti pada umumnya manusia, apa kamu keberatan?", tanya Galuh.
Syam menggeleng.
"Lihat Kakak dek!", Galuh menekan kedua bahu Syam.
"Kakak memang bukan ibu yang melahirkan kamu. Tapi kakak berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu dari kamu lahir hingga saat ini bahkan di waktu yang akan datang. Kami tetap sayang sama Syam, ada atau tidak ada adik-adik kita nanti! Heum?", Galuh mencoba meyakinkan adiknya lagi. Mungkin bukan hanya dirinya yang berkata demikian tapi orang-orang di sekitarnya juga.
Syam menghambur ke pelukan kakaknya. Dia merasa bersalah pada kakaknya jika tetap mempertahankan egonya seperti sebelumnya.
"Maafin Syam kak!", kata Syam lirih dalam pelukan Galuh.
"Ngga perlu minta maaf, Syam ngga salah. Cuma sedang khilaf! Lain kali, cerita apapun sama kakak, Abang atau siapa pun. Jangan di pendam sendiri, ya?"
"Iya kak!"
*****
Alhamdulillah 🙏
Terimakasih, insyaallah nanti up lagi. ✌️✌️✌️🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan 🙏
__ADS_1
16.22