Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 52


__ADS_3

"Apa yang kamu tahu tentang Galuh, Puja?",tanya Gita.


"Pernikahan mereka yang tidak sengaja tapi keduanya memutuskan untuk berjuang dan berjanji akan menjalani pernikahan yang sebenarnya. Tapi....", puja menghentikan ucapannya lalu beralih pada sang papa.


"Tapi?", justru Vanes yang penasaran dengan apa yang suaminya ceritakan. Puja pun menatap istrinya.


Arya tak membalas tatapan mata putra sulungnya. Dia yakin, putra sulungnya akan menyalahkan dirinya seperti Lingga yang menyalahkannya.


"Karena Lingga terlalu berbakti pada orang tuanya, dia harus mengorbankan pernikahannya."


"Kamu sedang menyindir papa?", tanya Arya.


"Jadi papa merasa seperti itu rupanya?"


"Puja! Kamu juga akan memusuhi papa seperti adik kamu?", Arya bangkit dari sofanya.


"Sampai kapan papa akan bersikap seperti ini?"


"Puja!!??", bentak Arya.


"Opa? Jangan berteriak sama papa Angel!", Angel menghalau opanya. Karena di mata Angel, papanya adalah idolanya.


Arya memang sangat menyayangi Angel, baginya cucunya yang lahir dari keturunan keluarga terpandang adalah nilai lebih di matanya.


"Sayang...!", Vanes mengusap lengan putrinya.


"Sudah-sudah! Angel sayang, opa tidak bermaksud membentak papa kok!", Gita masih membela martabat suaminya di depan menantu sekaligus cucunya.


"Okay! Kapan kita bertemu uncle Hans?", tanya Angel lagi.


Gita melihat jam tangannya. Masih jam sepuluh siang. Padahal dia ada janji makan siang dengan menantunya. Itu artinya ia masih harus menunggu dua jam lagi bukan.


"Eum... sebelum kita makan siang bersama uncle Hans dan... aunty Galuh, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu. Mau ngga sayang?", tawar Gita.


"Aunty Galuh?"


"Yes. Uncle Hans wife's",jawab Gita.


Angel mengangguk.


"Jalan-jalan ke mana Oma? Opa ikut kan?", tanya Angel pada Arya. Mau tak mau Arya pun mengiyakan. Mana mungkin dia bisa menolak keinginan cucu kesayangannya.


"Iya, demi cucu kesayangan opa!", Arya mencoba tersenyum.

__ADS_1


Gita, Arya, Angel, Puja dan Vanes pergi dengan mobil yang sama. Tujuan utama mereka adalah ke mall Xxx yang terkenal dengan kemegahannya juga tak terlalu jauh dari kafe dan minimarket Lingga.


Keempat orang dewasa itu mengikuti Angel yang sangat ceria. Apa pun yang gadis kecil itu ingin kan, Arya menurutinya. Bahkan tangan gadis itu tak lepas dari genggaman tangan sang opa.


"Udah jam setengah dua belas Oma, jadi kan makan siang sama uncle Hans dan Aunty... siapa tadi?", Angel menoleh ke arah Arya.


Puja dan Vanes saling berpandangan, begitu pula Gita yang tersenyum tipis. Selama ini, Arya selalu menyebut Galuh dengan sebutan gadis kampung. Tapi... lihat saja, apa Arya akan menjawab pertanyaan Angel?


"Siapa nama aunty nya Opa?", rengek Angel pada opanya.


"Eum... aunty Ga-Luh!", jawab Arya pada akhirnya meski sedikit terbata. Entah karena gengsi karena menyebut nama menantunya dengan terpaksa.


Dalam hati Gita, ia bisa memanfaatkan Angel untuk mengubah keadaan meski hanya sedikit.


"Owh...ya. Aunty Galuh. Namanya asing sekali di telinga Angel ya opa hehehe! Unik! Tapi kenapa Angel lupa terus?!", kata Angel sambil terkekeh pelan.


Arya tak menyahuti celetukan cucunya sampai mereka berada di mobil yang langsung meluncur ke restoran dimana kafe dan minimarket Lingga tak jauh dari sana.


Angel mengamati sebuah bangunan yang tampak terbakar dari seberang resto.


"Oma!"


''Ya sayang?"


"Heum. Ya sayang. Itu...kafe uncle Hans!", jawab Gita sendu. Angel melebarkan matanya.


"Kafe uncle Hans? O...my God!", Angel menggeleng pelan. Pergaulannya di negara asing membuat ia ikut gaya teman-temannya.


"Sebentar ya, Oma telepon Nadia dulu."


Semua mengangguk kecuali Arya tentunya.


[Hallo Nadia?]


[Hallo nyonya!]


[Galuh atau Lingga ada?]


[Mereka sudah berangkat ke restoran nyonya]


[Oke. Thanks Nad]


[Sama-sama Nyonya]

__ADS_1


Gita terlihat ceria mengingat akan kembali bertemu dengan anak dan menantunya.


Dari tempat di mana Gita duduk, ia bisa melihat anak dan menantunya masuk ke dalam resto. Gita melambaikan tangannya ke arah Lingga.


Angel langsung menengok ke arah Omanya melambaikan tangan. Mata lentik Angel menatap riang pada uncle tampannya.


"Uncle Hans!!!", teriak Angel. Lingga yang juga merindukan keponakannya, tersenyum melihat kehadiran Angel.


"Uncle Hans! I Miss You!", Angel memeluk tubuh Lingga.


"Miss you too girls. Kamu sudah besar Angel??!", Lingga membalas pelukan keponakannya. Angel menatap perempuan mungil yang sama tinggi nya dengan Angel.


"She is aunty Galuh?", tanya Angel. Lingga mengangguk. Galuh tersenyum tipis pada Angel.


"Aunty cantik!", puji Angel.


"Terimakasih Angel!", kata Galuh.


"Kita makan siang bareng yuk??", Angel menarik tangan Lingga yang menolehkan pada istrinya. Galuh mengangguk sebagai persetujuan.


Lingga mencoba bersikap biasa saja di hadapan papanya. Berusaha untuk tebal telinga jika papanya berbicara dan merendahkan dirinya dan juga istrinya.


"Ga!", sapa Puja pada Lingga.


''Kak! Kapan datang?", Lingga menepuk bahu kakaknya.


"Kemarin!", jawab Puja singkat.


"Apa kabar Kak Vanes!", sapa Lingga.


"Baik, Ga! Ini... istri kamu, sedang hamil?", tanya Vanes dengan senyuman khasnya.


Galuh yang merasa di pertanyakan pun memperkenalkan diri pada Puja dan Vanes.


"Saya Galuh kak!", kata Galuh. Ia bersalaman dengan sepasang kakak iparnya.


"Duduk Ga, Galuh!", pinta Puja. Gita tersenyum melihat keakraban antara adik kakak beserta menantu-menantunya.


Mereka mulai bercerita tentang kehidupan Lingga selama ini. Tapi ia tak menceritakan tentang papanya yang menolak dimintai bantuan. Hingga Lingga dan Galuh sukses seperti sekarang.


Arya tak berkomentar apapun. Dia memilih bungkam, bagaimana pun dia mengakui jika Lingga memang benar-benar pebisnis muda yang hebat. Tapi dia tak mau mengakui di hadapan putranya. Dia sudah terlanjur gengsi untuk sekedar memberi selamat atas keberhasilan Lingga dan Galuh.


*****

__ADS_1


Selamat Hari Raya Iedul Fitri 🙏🙏🙏


__ADS_2