Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 117


__ADS_3

Arya masuk ke dalam ruangan Galuh. Tak lupa ia menyunggingkan senyumnya pada menantu yang sudah memberikan ia cucu.


"Pa!", sapa Galuh sambil tersenyum. Arya mendekati brankar Galuh. Tapi mata Galuh beralih pada beberapa sosok yang mengekor di belakang Arya.


Perempuan cantik itu menautkan kedua alisnya lalu menoleh pada sang suami. Lingga hanya mengedikkan bahunya pertanda ia pun tidak tahu.


Keluarga Surya, Sekar dan Syam serta mama Gita masuk ke ruangan tersebut. Tentu saja Galuh merasa heran. Jika memang mereka mau menjenguk, bukankah bisa bergantian tidak harus rombongan masuk seperti ini sekali pun kelas VVIP yang memang bisa bebas karena ruangan itu di pesan privat.


Mata Galuh beralih pada Helen yang berwajah sembab. Apakah perempuan itu habis nangis lama? Batin Galuh.


"Pa, ada apa? Kok kumpul semua?", tanya Galuh. Syam yang tadinya bersama Sekar, kini beralih di sebelah Lingga. Dia memang sangat nyaman bersama Kakak iparnya tersebut.


Lingga meraih bahu Syam. Sosok Syam sudah paham dengan permasalahan yang ada di depan tadi. Dia memilih bersama Lingga karena di antara para lelaki dewasa, Lingga lah sosok yang pertama kali melindunginya dari siapa pun.


"Ada hal yang harus kita bahasa Luh!", kata Arya.


"Soal apa ya Pa?", tanya Galuh penasaran.


"Soal ...masa depan Arsyam Nadir Saputra!", kata Arya.


Galuh menoleh pada suaminya yang mengangguk pelan seolah memintanya untuk mengiyakan saja ucapan sang papa mertua.


"Memang Syam kenapa Pa?", tanya Galuh yang belum puas mendengarkan jawaban singkat itu.


"Helen! Kamu sudah siap?",tanya Arya.


Helen tampak mengangguk pasrah.


Biar... biarlah jika memang pada akhirnya dia harus berpisah dengan Glen atau Glen berpoligami dengan Sekar. Setidaknya itu lebih baik dari pada nanti nama baik keluarganya rusak karena kesalahan fatalnya.


Tok


Tok


Tok


Salim mengetuk pintu, setelah di persilahkan barulah Salim masuk lalu menyerahkan map itu pada Arya. Usai menyerahkan map, Salim pun keluar di ruangan tersebut.


"Kamu baca dulu Helen, setelah selesai membaca kamu tanda tangan! Itu pun jika kamu tidak keberatan. Kalau nanti ternyata kamu tidak bisa, aku pun angkat tangan dengan permasalahan mu?"


"Papa!", Gita mencoba menenangkan suaminya. Sebesar apa pun kesalahan Helen, dia tetap lah adik Gita meski dia pun merasa kecewa padanya.


"Mama, duduk! Temani bu Sekar saja!", titah Arya. Mendengar suaminya dengan mode serius seperti biasanya, Gita pun hanya mengangguk pasrah. Apa pun yang akan terjadi nanti, Arya pasti sudah memikirkannya matang-matang.


Helen menerima map tersebut. Di baca perlahan setiap huruf yang berjejer rapi di sana. Dadanya naik turun membaca setiap kata yang seakan-akan tak pernah berpihak padanya.


Kenapa aku seolah menjadi antagonis di sini??? Aku pun sakit hati! Teriak Helen dalam hatinya.


Semua yang ada di sana harap-harap cemas melihat mimik wajah Helen yang sangat serius.


Sebenarnya, Glen sendiri pun merasa penasaran perihal isi berkas di dalam map tersebut.


Benarkah Arya menginginkan aku dan Helen berpisah? Benarkah aku harus poligami dengan Sekar? Jika aku mau, Sekar belum tentu mau. Batin Glen.


"Sebenarnya ada apa Bang?", bisik Galuh pada Syam.


"Intinya, Tante Helen punya masalah yang cukup sulit jadi dia minta bantuan papa!", Lingga tak kalah berbisik.


"Kalo butuh bantuan papa, kenapa harus melibatkan keluarga besar kita bang?", bisik Galuh lagi yang masih cukup terdengar oleh para pemilik telinga di ruangan bercat putih itu.


Helen sendiri masih membaca surat yang Arya berikan. Untuk beberapa saat, ia menghentikan membacanya lalu menoleh ke arah Glen dan Zea bergantian.


Ada apa???? Pasti semua bertanya seperti itu.

__ADS_1


Lalu ia pun kembali melanjutkan bacaannya, sejenak ia memejamkan matanya dan mengambil nafas kasar.


Setelah membuka mata, ia beralih menatap Sekar dan Syam bergantian. Dan posisi Syam yang di apit oleh Lingga dan Galuh tak menyurutkan Helen untuk menatap bocah itu.


Arya tersenyum miring. Seandainya dia tak menuruti apa yang sudah ia tulis di sana, artinya Helen pasrah jika seluruh dunia akan menghujatnya sebagai istri yang tidak setia padahal kenyataannya dia tak pernah sengaja untuk berbuat seperti itu.


Lalu bagaimana jika terlanjur tersebar?? Netijen pasti akan mencari tahu asal muasal Syam dan pastinya akan berdampak buruk pada keluarga Lingga. Tapi ...Arya juga tidak akan tinggal diam, dan sudah di pastikan! Shiena tidak akan bisa lagi menggertaknya hanya dengan video Helen.


"Sudah?", tanya Arya pada adik iparnya tersebut. Mata Helen menatap tajam pada kakak iparnya yang memang di kenal arogan sejak dulu.


"Kenapa harus seperti ini mas?!", tanya Helen.


"Kenapa tidak?", tanya Arya balik.


"Ini ngga adil buat ku! Lagi pula ini ngga ada sangkut-pautnya sama Syam. Kenapa....?"


"Betul! Tapi aku sudah memberi penawaran bukan? hanya sekali! kalau kamu mau menolaknya, silahkan! Aku tidak akan rugi, Helen!''


''Tidak bisakah poin terakhir di ubah mas?", tanya Helen.


"Eum? Kamu pikir aku tidak memikirkan tiap poinnya?", tanya Arya menatap iparnya dengan nyalang.


"Bukan begitu mas, tapi ngga bisakah mas Arya menjaga sedikit saja perasaan ku?", tanya Helen lesu.


"Justru karena aku menjaga perasaan kamu sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri Helen! Seperti itu masih kamu bilang tidak menjaganya?", cerca Arya.


"Maaf pa, sebenarnya ada apa?", tanya Galuh yang semakin penasaran dengan apa yang terjadi selama ia ada di rumah sakit ini.


Syam dan Zea yang sudah berdamai, Syam yang bisa menerima Glen dan tiba-tiba saja papa mertuanya membawa istri dari papanya Syam di dalam ruangannya yang katanya akan melibatkan dirinya.


"Sebentar Luh, setelah Helen menandatangani surat itu papa akan menceritakannya. Tapi kalau tidak....ya sudah!", Arya mengangkat kedua bahunya lalu menurunkan dengan cepat.


"Oke mas! Oke!", sahut Helen dan langsung menandatangani berkas tersebut. Arya mendekati Helen dan mengambil map tersebut yang sudah di bubuhi tanda tangan Helen.


Arya tersenyum lalu meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


[Siap tuan!]


Asisten Arya yang sudah ia tugas kan pun mengiyakannya.


Gita yang cukup mengenal Lukas pun menelan salivanya. Jika asisten Arya sudah beraksi itu artinya apa yang di tangani adalah hal yang sangat serius.


Helen tampak memejamkan matanya.


"Sudah? Silahkan lakukan! Aku tidak akan menjelaskan pada Galuh dan yang lain karena kamu yang akan mengatakannya."


Helen menoleh cepat pada kakak iparnya tersebut. Kalah? Ya, Helen memang kalah! Tapi dia harus melakukan semua itu demi masa depannya.


Dan...masa depan rumah tangganya, ia pasrahkan pada yang kuasa! Benarkah semua akan berakhir????


.


.


.


Suasana mendadak hening. Semua sudah duduk di tempatnya masing-masing. Syam menggelayut manja pada kakak iparnya yang duduk di samping Galuh. Sedang Sekar duduk di sisi lainnya.


"Di hadapan semua anggota keluarga, aku ingin meminta maaf secara langsung pada Syam. Aku tahu dia tak bersalah sama sekali, begitu pula dengan Bu Sekar. Maaf, aku sudah berprasangka buruk jika anda ingin merebut Glen dari aku!", kata Helen dengan lancar.


"Astaghfirullah!", desis Sekar. Galuh mengusap punggung tangan ibunya yang menunduk lesu karena tuduhan yang sama sekali tak benar itu.


"Galuh, Lingga! Tante... menerima Syam menjadi bagian dari keluarga Suryaputra Atmaja. Dan seperti yang mas Arya katakan. Beliau yang akan mengurusnya ke notaris tentang apa pun yang menyangkut Syam."

__ADS_1


Sekar langsung mendongakkan kepalanya.


"Tidak, Syam putra saya. Saya tidak akan mengijinkan putra saya di bawa sekalipun oleh kakek dan ayah kandungnya sendiri. Saya tidak ingin berpisah dengan Syam!", kata Sekar dengan suara bergetar.


Syam yang tadi di sisi Galuh pun memutar kesamping ke sisi Sekar.


"Syam ngga ke mana-mana, Bu! Syam selalu sama ibu, sama Abang dan kakak. Ibu jangan khawatir!", Syam mencoba menenangkan ibunya meski ia sendiri pun sedikit syok.


"Tidak ada yang akan mengambil Syam dari Bu Sekar. Tapi...Syam akan mendapatkan haknya sebagai seorang penerus keluarga Surya Atmaja di masa depan nanti tanpa mengganggu gugat hak Zea. Karena...itu yang aku takutkan selama ini. Aku takut jika nanti Zea akan terabaikan kalau semua fokus pada Syam."


Surya cukup terkejut dengan pernyataan Helen. Dia semakin penasaran sebenarnya isi surat tersebut seperti apa hingga menantunya bisa mengambil sikap itu.


Zea sendiri menggeleng tak percaya jika mamanya memiliki ketakutan seperti itu.


Glen menatap istrinya dengan pandangan yang berbeda. Dia memang marah soal dirinya yang ada di video Shiena. Tapi dia juga bersyukur sampai akhirnya, sang istri mau menerima kehadiran Syam meski dengan paksaan Arya yang entah apa itu.


"Maaf Tante, sepertinya... eem...Syam tidak membutuhkan itu. Kami akan berusaha berdiri di kaki sendiri. Tante Helen ,tolong buang jauh-jauh pemikiran seperti itu. Kami tidak akan menuntut segala sesuatunya. Kalian mau menganggap Syam bagian dari keluarga saja, kami sudah bahagia. Kami bersyukur, karena pada akhirnya...Syam merasakan jika ternyata dia memiliki orang tua yang lengkap!", kata Galuh.


Arya menoleh ke arah menantunya. Kebetulan, Galuh pun menoleh pada mertuanya tersebut.


"Pa, Galuh tahu maksud papa baik. Tapi, Galuh ngga mau nantinya akan membuat Tante Helen atau siapapun tersakiti."


Dada Helen terasa nyeri mendengar ucapan Galuh yang lembut dan seolah tak meninggalkan kesan dendam sama sekali padahal secara tidak langsung, Helen sudah menyakiti adik beda ayah itu.


"Galuh, dengarkan papa! Papa memang tidak bisa memaksa hal itu karena yang berhak tentu saja Surya dan Glen. Justru...jika papa diijinkan, biarlah Syam menjadi salah satu penerus keluarga Saputra. Tapi papa sadar jika ada yang lebih berhak atas Syam, sekalipun....Papa sayang dan menginginkan Syam. Syam berhak mendapatkan haknya. Bukan hanya harta, tapi juga kasih sayang dari orang yang memang berkewajiban menyayanginya."


Mata Galuh berkaca-kaca, ia sungguh terharu dengan perubahan sikap papa mertuanya yang selama ia kenal sebagai sosok kasar dan arogan. Tapi kenyataannya..? Di balik sikap keras itu, hatinya terlalu lembut.


Syam berlari menghampiri Arya dan memeluk pinggang lelaki dewasa itu. Debaran jantung Arya bisa Syam dengar begitu jelas. Orang asing yang dulu seolah membencinya, kini menjadi bagian dari orang terdekatnya.


"Terimakasih, papa udah sayang dan memikirkan Syam yang bahkan bukan siapa-siapa Syam!", kata Syam lirih.


"Hei, siapa bilang? Arsyam Nadir Saputra adalah anak bungsu papa. Jika Arsyam sudah kembali pada yang kuasa, Syam yang ini akan jadi kesayangan papa meski nanti kamu harus bersaing dengan Ganesh Rajendra Mahaputra!", kata Arya.


Syam tersenyum sambil mengusap bulir hangat yang meleleh tidak sopan menghias pipi lembutnya.


Pemandangan itu sungguh mengharukan!


Lagi-lagi, dua orang dewasa di sana menatap iri pada keduanya yang terlihat sangat dekat.


Gita menghela nafas panjang, sedikit hilang rasa khawatirnya meski belum sepenuhnya.


Zea yang ada bersama Surya pun memilih untuk memeluk Opa nya. Surya pun membalas pelukan cucu perempuannya, bukan lagi cucu tunggalnya. Karena ada Syam yang juga cucunya.


"Dan....satu lagi!", kata Helen menjeda ucapannya. Lingga yang dari tadi diam, mencoba mendengarkan dengan sebaik mungkin ucapan Tantenya.


"Aku mengijinkan mas Glen jika ingin menghabiskan waktu dengan Syam, dia bisa mengunjungi Syam kapanpun jika dia ada waktu tanpa aku halang-halangi sedikit pun!", kata Helen.


Mata Glen mengerjap pelan, dia tak salah mendengar ???


"Kamu yakin?", tanya Glen yang akhirnya buka suara. Helen mengangguk tipis.


"Tapi aku tidak bisa mengijinkan Syam bertemu setiap saat dengan om Glen!", sela Lingga. Sekarang justru semua mata tertuju pada nya.


********


16.29


Apa sih? Apa sih? gaJe ya 😁🤭


Udah jelas kan ya kan???


Libur telah tiba 👏👏👏 waktunya bersantai ria dan semoga banyak waktu buat menghalu dengan isi cerita yang lebih berbobot bukan sekedar asal apdet bab baru 🤭

__ADS_1


Betewe.... terimakasih banyak 🙏🙏


Kalo sempat, nanti up lagi. Kalo ngga di gerecokin bocil ya heheheh


__ADS_2