Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 5


__ADS_3

"Bu, aku mau melamar pekerjaan di percetakan sablon itu ya Bu!",kata Galuh pada ibunya.


"Iya Luh. Semoga kamu di terima ya! Seharusnya...kamu ambil beasiswa kamu, mumpung kita di kota. Biar biayanya jadi tanggung jawab ibu!",kata Sekar.


"Bu, Galuh udah bilang kan. Ngga usah bahas itu. Pokoknya sekarang giliran Galuh yang cari uang. Kalo ibu mau kerja silahkan, tapi...jangan di forsir seperti kemarin-kemarin."


"Iya Luh. Kamu hati-hati!",pinta ibunya. Usai mengucap salam, Galuh pun meninggalkan kostan kecilnya itu.


Galuh mencoba memasukkan lamaran ke beberapa tempat. Tapi tak ada satupun yang menerima dirinya yang baru saja lulus SMA.


Dia pun memilih duduk di halte. Dalam hatinya, ia tak mau patah semangat. Dia ingin membahagiakan sang ibu.


Tak berbeda dengan Galuh, Sekar pun mencoba mencari pekerjaan. Berbekal dari kenalannya di komplek sekitar kost, Sekar mencari pekerjaan di rumah orang-orang yang kiranya membutuhkan tenaganya. Sayangnya keberuntungan belum berpihak pada dirinya. Sekar juga belum mendapatkan pekerjaan.


Siang menjelang sore, Galuh kembali ke kosan dengan wajah lusuhnya. Lelah itu sudah pasti. Kecewa? Mungkin!


Apalagi... laki-laki yang katanya ingin bertanggung jawab padanya saja tak tahu rimbanya. Galuh memutuskan untuk tidak ingin banyak berharap. Dia bertekad, anggap saja Lingga tidak pernah ada.


Tapi, dalam hati nya ia menyadari sebagai seorang muslim dirinya tak bisa mengabaikan ijab qobul yang sudah disaksikan oleh yang maha kuasa. Pernikahan bukanlah sebuah permainan.


"Assalamualaikum!",Sekar memberi salam saat akan memasuki kos yang pintunya terbuka.


"Walaikumsalam! Bu!",Galuh menjawab salam Sekar.


"Sudah makan?",tanya Sekar pada Galuh. Galuh menggeleng.


"Ya udah makan dulu ya, tadi ibu udah beli nasi di depan. Cuma sama bakwan ngga apa-apa?",tanya Sekar.


"Iya Bu, apa aja!",jawab Galuh. Usai mencuci tangan, Galuh pun makan dengan lahap. Sekar menatap putri nya yang terlihat sangat lapar. Merasa di perhatikan, Galuh pun mendongak menatap ibunya.


Tanpa di aba-aba, Galuh menyodorkan nasi di depan mulut sang ibu. Sekar memundurkan kepalanya.


"Udah kamu makan aja!",kata Sekar. Tapi tangan Galuh tak berpindah. Akhirnya Sekar mengalah, dia meninggalkan suapan dari Galuh. Keduanya menikmati nasi dengan lauk seadanya itu.


Sekar terharu sekaligus sedih. Sebagai seorang ibu, dia belum bisa membahagiakan sang putri.

__ADS_1


Jika Galuh dan ibunya sedang menikmati makan siangnya dengan lauk sederhana itu, berbeda dengan Lingga yang saat ini sudah ada di pesawat. Ponsel lamanya di sita oleh papanya. Alhasil, dia kehilangan kontak teman-temannya. Termasuk....Galuh!


Lelaki tampan itu hanya memandangi awan yang membentang disepanjang mata memandang. Baru delapan jam dia berada di pesawat menuju ke Kanada. Itu artinya masih sekitar dua belas jam lebih untuk sampai ke sana.


Rasa bersalah merasuk ke dalam hatinya. Janjinya untuk kembali datang ke kampung satu Minggu lagi pun tak bisa ia tepati. Alangkah jahat dirinya yang sudah menggantung Galuh seperti sekarang. Tapi...Lingga bisa apa? Saat ini dirinya masih bergantung pada keluarganya. Mungkin nanti, setelah ia benar-benar bisa berpijak di kaki sendiri , dirinya akan bisa mengambil tindakan dan keputusan untuk dirinya sendiri.


Jika Galuh bertekad untuk tidak banyak berharap akan hubungannya dengan Lingga, Lingga sendiri bertekad menyelesaikan tugasnya dan menjalankan bisnis keluarganya agar ia bisa segera kembali menemui Galuh.


Di sisi lain, Glen dan Helen yang sedang berbulan madu pun sudah menikmati masa-masa bahagia itu. Ya, Helen menerima Glen dengan sepenuh hati.


Tapi tidak dengan Glen yang masih di liputi perasaan bersalah karena sudah berkhianat pada Helen bahkan sebelum pernikahan itu terjadi. Dan Sekar, perempuan cantik itu harus mengalami hal buruk karena nya. Apakah Glen akan mengakui jika dirinya pernah khilaf sebelum menikahi Helena?


.


.


Waktu terus bergulir. Sekar memutuskan untuk membuka usaha menjual makanan di gang depan. Hanya gado-gado dan gorengan. Meski hasilnya tak banyak, setidaknya sudah mencukupi kebutuhan makan sehari-hari untuknya dan juga Galuh.


Apa pekerjaan Galuh sekarang? Dia bekerja menjadi SPG di mall yang dekat dengan kosannya. Badannya memang tak begitu tinggi, tapi standar dengan anak seusianya. Wajahnya juga cantik alami dengan bibir merah merona dan mungil.


Gadis itu pun menjalani kesehariannya dengan ceria. Seperti saat ia belum menikah dengan Glen.


"Assalamualaikum, Bu!"


"Walaikumsalam!",jawab Sekar dengan lesu. Galuh yang merasa heran dengan kondisi ibunya pun tidak sabar untuk tidak bertanya.


"Ibu sakit?",tanya Galuh sambil menyentuh kening ibunya.


"Ngga tahu Luh. Ibu pusing sejak pagi! Mual juga!",keluh Sekar. Galuh memijit tengkuk ibunya.


"Ya udah ibu istirahat, bahan gado-gado nya juga tinggal dikit. Kita bagi ke tetangga aja ya Bu! Habis itu Galuh antar ibu ke klinik depan."


"Iya Luh."


Galuh pun menghabiskan dagangannya. Dia sudah selesai membungkus gado-gado yang hanya sisa berapa porsi.

__ADS_1


Di saat ia akan berkemas, tanpa sengaja ada pemulung yang melintas.


"Pak!", panggil Galuh. Si pemulung itu pun menoleh karena merasa terpanggil oleh seorang gadis cantik.


"Iya neng? Neng panggil saya?",tanya pemulung itu.


"Maaf pak, saya harap bapak ngga tersinggung. Eum... saya mau kasih gado-gado ini buat bapak. Soalnya kami udah mau tutup. Maaf ya pak, tolong jangan tersinggung!",kata Galuh dengan nada tak enak.


"Masyaallah, Alhamdulillah. Terimakasih neng Ya Allah, saya mah ngga tersinggung. Justru saya berterima kasih sekali sama neng. Jadi nanti malam saya ngga pusing beli lauk buat anak dan istri saya."


Hati Galuh tersentuh. Jika selama ini dirinya selalu merasa menderita, tapi kenyataannya ada orang yang jauh menderita tapi tidak mengeluh. Dari sana, Galuh merasa beruntung dan banyak bersyukur.


"Sama-sama pak."


"Semoga kelak Allah membalas kebaikan neng ya neng! Insyaallah neng akan jadi orang besar nanti!",kata pemulung itu.


"Aamiin, terimakasih atas doanya pak!",ujar Galuh. Setelah si pemulung pergi, Galuh kembali ke gerobaknya. Ia merapikan peralatan jualannya.


Ibunya masih duduk lemas dengan wajah pucatnya. Setelah semua beres, Galuh mengajak ibunya pulang ke kosan.


Sekitar jam lima sore, keduanya bersiap ke klinik dengan mengendarai angkot. Aroma angkot yang khas itu membuat Sekar mual dan memuntahkan isi perutnya. Sayang, hanya air bening yang keluar dari mulutnya.


"Maaf ya pak!",Galuh tidak enak pada supir angkot dan penumpang lainnya. Tapi sepertinya mereka memaklumi jika ibunya sedang tidak sehat karena Galuh dan ibunya berhenti di depan klinik.


Usia mendaftar di resepsionis, Sekar menunggu dirinya di panggil ke dokter. Sekitar sepuluh menit menunggu, Galuh menuntun Sekar menemui dokter.


Dokter pun memeriksa kondisi Sekar. Tapi setelah itu, dokter memberikan sebuah alat tes kehamilan.


"Dok? Kenapa saya harus pakai testpack?",tanya Sekar. Dokter itu tersenyum.


"Ada kemungkinan anda hamil bu. Untuk memastikannya, coba alatnya dipakai ya Bu!",pinta dokter.


Sekar menatap dokter tak percaya. Memori nya kembali saat dirinya di lecehkan sebulan yang lalu. Apa ini artinya dia hamil?????


Sekar yang tak bisa berpikir panjang pun langsung pingsan. Galuh yang cukup paham dengan kondisi psikis ibunya pun berusaha menenangkan ibunya meski dirinya sendiri juga tak bisa tegar.

__ADS_1


Dokter membantu Sekar untuk berbaring lagi. Sambil menunggu Sekar siuman, Galuh yang kalut pun menceritakan kronologisnya. Dia sudah tak bisa menampung beban berat itu sendirian.


Dokter yang menangani Sekar pun prihatin dengan kondisi Sekar saat ini. Tapi... kehadiran calon janin yang ada di rahim Sekar bukanlah kesalahan. Itu semua atas ijin yang kuasa.


__ADS_2