Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 26


__ADS_3

Arya keluar dari kamarnya menuju ke ruang depan melewati orang-orang yang sedang makan siang. Menjelang sore sih sebenernya!


"Om Arya kenapa Tante?",tanya Zea.


"Kenapa? Perasaan biasa aja kok!",sahut Gita.


"Ngga ah, abis nanya nama Syam mukanya langsung galak begitu!",sahut Zea santai seperti biasa.


Gita terdiam beberapa saat. Lalu ia meletakkan sendoknya.


"Dulu, bang Lingga pernah punya adik. Namanya sama, Arsyam Nadir Saputra. Tapi, dia meninggal saat masih bayi. Jadi, mungkin om Arya inget sama adik bang Lingga,Ze!", jelas Gita.


Lingga mendengar cerita mamanya sebentar, dia bahkan tak terlalu mengingatnya. Mungkin karena dia masih terlalu kecil saat itu.


Saat itu Arya begitu terpukul dengan kematian Arsyam karena secara tidak langsung, Arya lah penyebab kematian Arsyam. Karena ketidaksengajaan Arya, Arsyam jatuh dari tempat tidur dan terluka parah. Sampai akhirnya nyawanya tak tertolong.


"Oh, Abang pernah punya adik? Kirain anak om sama Tante cuma bang Puja dan bang Lingga aja!", celetuk Zea lagi. Gita mengusap kepala Zea.


"Bang, aku pengen pulang!", kata Syam pada Lingga.


"Oh iya ya, kamu pasti capek ya?", ujar Lingga.


"Ngga. Tapi nanti aku kan bantu kak Galuh buat nutup warung."


"Kan ada si Umar dan Usman!"


"Iya, tapi aku biasa bantuin mereka dari aku kecil."


Lingga menatap adik iparnya yang tumben berbicara banyak. Entah apa yang sudah istrinya dan keluarganya lalui.


"Baiklah, ayo Abang antar!"


"Aku di sini aja deh bang, dijemput sama mama papa!", kata Zea.


"Ya udah, iya. Ayo Syam, pamit sama Mama Gita dulu!", kata Lingga. Gita dan Syam sama-sama bingungnya.


"Biar lebih akrab Ma!", kata Lingga. Gita pun tak keberatan di panggil seperti itu oleh Syam.


Syam pun berpamitan pada Gita, begitu pula dengan Lingga. Dia pun mengikuti cara berpamitan Syam pada ibunya.


Di depan, Lingga melihat papanya sedang menghubungi seseorang. Tapi saat melihat Lingga bersama Syam, papanya mematikan sambungan telepon nya. Dia pun mendekati Lingga dan Syam.

__ADS_1


"Kamu antar dia?",tanya Arya.


"Dia punya nama Pa, Syam!",jawab laki-laki gagah itu. Arya berdehem pelan.


"Iya, maksud papa Syam!",ujar Arya.


"Iya, siapa lagi? Kan tadi niatnya memang mau jemput Zea sekalian jemput Syam. Ngga tahu nya mama telpon nyuruh ke sini. Ya udah, aku bawa dia kesini sekalian."


"Tumben kamu bicara panjang lebar Ga?",Arya memicingkan matanya. Lingga hanya mengedikkan bahunya.


"Besok kamu sudah masuk kantor! Jangan pergi-pergi tidak jelas. Dan jangan lupa!"


"Apa?",tanya Lingga.


"Dinner dengan keluarga Shiena. Secepatnya papa akan mempersiapkan pertunangan kalian!",kata Arya.


Syam menoleh pada Abang iparnya. Lingga pun melakukan hal yang sama.


"Pertunangan?",tanya Syam pada Lingga. Anak berusia tujuh tahun itu pun penasaran dengan jawaban Abang iparnya.


"Tidak ada pertunangan antara aku dan Shiena. Kami hanya berteman, tidak lebih!", jawab Lingga.


"Jangan mengajak ku berdebat di depan Syam pa! Tolong, berhenti mengatur hidup ku lagi."


''Sombong sekali kamu Ga!",Arya sudah terpancing emosi.


"Udah bang, jangan melawan orang tua. Ayo antar aku pulang, nanti kak Galuh khawatir aku ngga sampel-sampel rumah!",Syam menarik-narik kaos yang Lingga pakai.


'Galuh?', gumam Arya.


'Jadi benar, dia bayi yang ku beri nama waktu itu? Adik dari gadis itu?


"Iya Syam. Nanti Abang bilang sama Kak Galuh."


Lingga mengajak Syam untuk melanjutkan langkah ke depan, tapi Arya menghentikannya.


"Kamu baru pulang dari Kanada, bagaimana bisa kamu mengenal kakaknya Syam?",tanya Arya. Karena menurutnya, terasa janggal jika Lingga mengenal Galuh padahal selama ini dia di negara luar. Bahkan sampai delapan tahun. Ibunya di operasi saja, Arya tak mengabari kedua anak lelakinya.


"Apa hal itu penting buat papa?",tanya Lingga. Arya tak menyahuti.


"Owh...apa ada sesuatu yang aku tak tahu?",tanya Lingga dengan pandangan menyelidik.

__ADS_1


"Ckkk...terserah! Pokoknya besok kamu sudah harus ke kantor dan malam nya dinner dengan keluarga Shiena! Jangan bantah papa!",kata Arya mendikte, setelah itu ia pun meninggalkan Syam dan Lingga.


Lingga dan Syam sudah duduk di mobil. Sekarang Syam duduk di depan bersama Lingga.


"Jadi, Abang mau tunangan?",tanya Syam menoleh pada Lingga.


"Ngga! Itu keinginan papa, bukan keinginan Abang!",jawab Lingga.


Syam tak berani bertanya lagi. Dia sudah cukup paham. Tapi...di mata orang, dia hanyalah anak kecil. Mereka tak pernah tahu, kondisi yang memaksa untuk membuat dirinya dewasa lebih cepat.


"Bu Sekar, apa kabar?",tanya Lingga pada Syam.


"Baik!",jawab Syam singkat.


"Kalo boleh Abang tahu, ibu sakit apa?",tanya Lingga pelan. Takut si adik ipar kecil ini tersinggung.


"Orang bilang, mental ibu terganggu sejak ada Syam. Ibu ngga mau liat Syam. Makanan sampe sekarang, Syam cuma bisa liat ibu dari jauh. Meskipun kami tinggal di atap yang sama. Syam ngga boleh menampakkan diri di depan ibu. Kalo sampai ibu liat Syam, ibu akan histeris. Makanya...Syam cuma bisa liat ibu, ga pernah nyentuh ibu!"


Tangan lingga terulur mengusap kepala Syam. Entah kenapa hati nya begitu iba pada anak kecil seusianya yang sangat bijak menghadapi mental ibunya yang tidak stabil.


"Kakak ngga ajak ibu ke dokter?",tanya Lingga.


"Ke dokter kok. Rutin setiap bulan malahan. Kadang, Syam kasian sama kakak. Dari Syam lahir, dia yang udah rawat Syam sampe segede ini. Belum lagi Kakak harus kerja. Demi kami!"


"Bisa bantu Abang? Tolong ya panggil nya di terusin Abang, kaya Zea panggilnya!"


Syam pun mengangguk paham.


"Bisa bantu Abang Syam?",tanya Lingga sekali lagi.


"Bantu apa?"


"Bantu Abang biar kak Galuh mau sama Abang lagi. Abang kan suami kak Galuh."


Syam tak menggeleng atau pun mengangguk. Dia belum tahu masalah sebenarnya antara kakak dan kakak iparnya.


"Abang ingin menebus semua kesalahan Abang selama delapan tahun ini Syam. Abang ngga mau bikin kakak kamu sedih dan kecapean lagi karena harus bekerja. Biar lah kakak, kamu dan ibu akan jadi tanggung jawab Abang!"


"Aku harus apa?",tanya Syam. Dia tertarik akan penawaran Lingga yang tidak akan membiarkan kakaknya sedih dan lelah bekerja. Di mata Syam, Galuh sudah banyak sekali berkorban untuk dia dan ibunya. Mungkin sudah saatnya kakaknya bahagia sekarang.


"Pelan aja, nanti kita cari ide sama-sama!",kata Lingga. Syam pun mengangguk pelan. Mobil Lingga pun melesat cepat ke arah rumah Syam.

__ADS_1


__ADS_2