Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 11


__ADS_3

Lingga sudah menemukan nama pemilik kendaraan bermotor tadi, benar seperti dugaannya. Pengendara motor tadi adalah Galuh, istri yang ia nikahi delapan tahun yang lalu.


Tak ada yang banyak berubah dari sosok istrinya itu. Gadis itu masih imut meski usianya sudah bertambah. Hanya kacamata dan hijabnya yang menghiasi wajah cantiknya tapi tak menghilangkan kesan imut di wajahnya dengan body mungilnya.


"Kita ke alamat itu sekarang Mas?",tanya Burhan.


"Eum, mungkin besok aja Han. Yang penting sekarang aku sudah tahu keberadaannya. Sekarang langsung ke kantor Tante Helen aja dulu! Sore nanti baru ke apartemen."


"Baik mas!",kata Burhan. Burhan tak lagi banyak bertanya meski sebenarnya dia penasaran dengan sosok Galuh yang bos nya cari tahu. Tapi Burhan memilih untuk memendam rasa penasarannya.


Ada banyak nama Galuh di muka bumi ini, tapi apakah Galuh yang sama? Batin Burhan.


"Kenapa Han?",tanya Lingga pada supir nya yang masih muda itu.


"Ngga mas. Ngga apa-apa!",sahut Burhan.


"Kamu penasaran siapa Galuh?",tanya Lingga. Burhan tak berani menjawab. Takut salah!


Terdengar di telinga Burhan, sang majikan menghela nafas.


"Galuh itu... istri ku!",kata Lingga. Burhan tersedak ludahnya sendiri.


"Istri mas? Kapan mas menikah? Bukannya mas udah lama banget di Kanada? Ngga pernah pulang ke sini kan?",tanya Burhan yang akhirnya bertanya panjang lebar.


"Aku pengen cerita sama kamu Han, tapi aku harap kamu ngga bocor sama mama papa ku atau yang lain!",titah Lingga.


"Iya mas!",kata Burhan patuh. Lingga pun menceritakan kronologisnya sampai akhirnya ia berada di titik sekarang ini.


"Jadi... istilah kasarnya, mas Lingga terlambat mendapatkan informasi tentang istri mas?",tanya Burhan. Lingga mengangguk.


"Kasian ya Mba Galuh!",kata Burhan.


"Iya, aku memang plin plan waktu itu Han. Dan sekarang, aku masih berharap Galuh masih menunggu ku kembali. Semoga belum ada laki-laki lain yang menggantikan posisi ku sebagai suaminya atau mungkin kekasihnya."


Lingga menatap jalanan ibu kota.


"Apa mas Lingga cinta sama mba Galuh?",tanya Burhan. Lingga langsung menoleh pada supirnya.


"Entah Han! Tapi selama ini aku masih terbayang wajah lugunya meski awal pertemuan kami sangat buruk."


Burhan mengangguk paham.


"Mas punya foto mba Galuh?",tanya Burhan. Lingga menggeleng.


"Ngga! Itu bodohnya aku Han!",jawab Lingga. Burhan tak bisa menyalakan bos nya, toh pada waktu itu memang keduanya tak memiliki perasaan apa-apa.


Mobil yang mereka kendarai sudah sampai di perusahaan Tante Helen. Lingga langsung menuju ke ruangan Tantenya.


Wajah tampan Lingga langsung menarik perhatian kaum hawa di sana, tak terkecuali Shiena yang juga bekerja di kantor itu.

__ADS_1


"Lingga?!",panggil Shiena. Lingga lupa jika teman kuliah nya di Kanada bekerja di kantor sang Tante.


"Hai Shiena!",sapa Lingga dengan datarnya.


"Kemarin aku nunggu kamu lho, kamu kemana sih?", tanya Shiena yang terdengar posesif seperti seorang kekasih. Sontak pemandangan itu mencuri perhatian sekitarnya.


"Oh, aku ada urusan. Sorry, aku mau ketemu Tante Helen dulu!",ucap Lingga langsung meninggalkan Shiena begitu saja.


Shiena menahan malu karena Lingga sudah mengabaikannya. Dia pun pergi ke ruangan nya dengan menghentakkan kakinya saking kesalnya.


Tok...tok...


Helen dan Glen sedang berdiskusi di ruangan mereka. Perusahaan ini memang milik keluarga Tante Helen, kakek nenek Lingga. Tapi dia bekerja bersama Glen, sedang Glen sendiri sebenarnya juga memiliki perusahaan hanya tak sebesar milik keluarga Helen. Jadi ya, Glen lebih sering berada di kantor istrinya.


"Masuk!",ujar keduanya.


"Hai, Tante ...om!",sapa Lingga. Kedua pun menoleh.


"Hai, keponakan Tante yang paling tampan!",Helen cipika-cipiki dengan Lingga. Sedang Glen sendiri hanya tersenyum.


"Kapan datang?",tanya Glen.


"Kemarin Om!",sahut Glen langsung duduk. Keduanya pun mengobrol banyak hal.


"Sayang, nanti jam dua ada meeting dengan klien dari luar kota lho. Yang jemput Zea siapa?",tanya Helen pada suaminya.


"Iya ya? Apa papa aja yang jemput, mama ketemu klien?",tanya Glen. Dalam hatinya, Glen ingin kembali memastikan Syam benar-benar mirip dengannya atau tidak.


"Udah, aku aja yang jemput Zea. Tante sama om tenang aja! Tapi...Zea aku culik dulu ya Tan, kalo ngga ke apartemen ya kerumah mama."


Helen terlihat lega tapi tidak dengan Glen. Dia tersenyum tapi terpaksa.


Helen pun menghubungi wali kelas Zea. Bahwa yang menjemput Zea kali ini adalah kakak sepupunya. Tak lupa ia mengirim foto Lingga pada guru dari zea tersebut.


"Ya udah, Lingga jalan sekarang deh!", ujar Lingga.


"Emang kapan kamu mau aktif di kantor mas Arya?",tanya Glen.


"Lusa mungkin Om!",jawab Lingga sekenanya. Dia pun berlalu meninggalkan ruangan Helen.


.


.


"Zea!", panggil Miss Tasya, guru Zea.


"Ya Miss Tasya, kenapa?",tanya Zea.


"Tadi mama kamu telepon, katanya ngga bisa jemput kamu."

__ADS_1


"Owh! ya sudah!",jawab Zea seperti pasrah.


"Tapi, katanya kakak sepupu kamu yang jemput."


"Siapa?",tanya Zea. Miss Tasya menunjukkan foto Lingga pada Zea.


"Bang Lingga? Dia yang jemput Zea bu?",tanya Zea riang. Miss Tasya mengangguk dan tersenyum riang. Jadwal pulang pun tiba.


Miss Tasya mendampingi anak didiknya yang di jemput oleh walinya masing-masing.


"Miss, itu Abang saya datang!",pekik Zea saat melihat Lingga turun dari mobilnya. Zea langsung berlari menghampiri kakak sepupunya itu.


"Bang! Kapan Abang pulang?", cerocos Zea. Lingga menggendong adik sepupunya itu.


"Kemarin Ze!",jawab Lingga singkat. Miss Tasya sempat terpesona dengan ketampanan Lingga yang paripurna.


"Miss, saya bawa Zea pulang. terimakasih!",pamit Lingga pada Miss Tasya.


"Oh, iya silahkan!",kata Miss Tasya tergagap karena grogi.


"Bang!",panggil Zea masih dalam gendongan sang Abang.


''Hem?"


"Itu, temen aku bang. Syam!",Zea menunjuk Syam yang berdiri di dekat bangku tunggu.


"Kenapa?",tanya Lingga.


''Kayanya kakaknya belom jemput deh. Sekalian anterin aja ya bang!", bujuk Zea.


"Ngga ah Ze. Nanti kalo dia ikut kita lalu tiba-tiba di jemput, gimana? Kan kasian kakaknya!",kata Lingga.


"Tadi pagi dia ikut mobil papa bang. Motor kakaknya tadi pagi rusak. Ngga tahu udah di benerin apa belom!",kata Zea merayu dengan puppy eyes nya.


"Oke deh princess!",kata Lingga mengalah. Tapi belom sampai ke tempat Syam berdiri, sebuah kendaraan roda dua menghampiri Syam.


Zea dan Lingga pun mengurungkan niatnya. Mata Lingga tak berkedip. Memastikan sosok yang bersama Syam, teman adik sepupunya.


"Yah, kak Galuh udah jemput Syam. Ya udah bang, kita pulang deh kalo gitu!",ajak Zea menarik tangan Lingga menuju mobil. Lingga masih tak percaya jika yang dilihatnya benar-benar istrinya.


"Bang!",Zea memukul paha Lingga karena dari tadi Abang nya melamun.


"Apa Ze?",tanya Lingga.


"Ke warung Syam lagi yuk, cari makan siang!",ajak Zea.


"Sekarang?",tanya Lingga. Zea mengangguk pelan.


"Abang pasti suka masakan warung kak Galuh. Enak deh bang!", kata Zea.

__ADS_1


Lingga tak tahu harus berbuat apa. Apa itu artinya dia akan bertemu dengan Galuh sebentar lagi?


"Mas Burhan, ke jalan Xxx ya warung mba Galuh namanya!",kata Zea. Burhan sedikit terkejut tapi dia hanya mengiyakan perintah nona mudanya.


__ADS_2