
Di sebuah Gasebo yang terletak diantara tanaman cabai, dua orang kakak beradik sedang menikmati secangkir kopi hangat meski di terik siang yang ya ...tidak panas untuk ukuran siang hari. Karena tempat itu memang sejuk cenderung dingin.
"Aku tidak sengaja mendengar percakapan antara Galuh dan ibunya tadi pagi!", Puja membuka percakapan antara dua saudara itu. Dia berdiri menatap hamparan luas tanaman milik adiknya.
"Dengar apa?"
"Apa yang terjadi sejak kamu pulang ke sini empat tahun lalu?", tanya Puja sambil balik badan ke Lingga.
Tampak Lingga menghela nafas panjang.
"Setelah turun dari pesawat, aku tak langsung pulang ke rumah papa."
Puja menautkan kedua alisnya.
"Lalu? Kamu ke mana?"
"Aku mencari Galuh, di sini. Di kampung ini. Tapi kenyataannya, dia tidak ada di sini kak."
Lingga memegang pagar gazebo. Matanya menerawang jauh ke depan.
"Aku menemukan pesan yang Galuh tulis, dengan tanggal dua hari setelah pernikahan dadakan kami. Di sana ia menuliskan nomor ponselnya. Berharap, satu Minggu setelah aku ke rumah papa, aku kembali. Tapi ...bukan tujuh hari. Melainkan lebih dari tujuh tahun kak. Hanya karena ingin menjadi anak berbakti."
Puja mendongakkan kepalanya ke awan. Dia tahu seperti apa papanya itu.
"Tapi Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah kak. Aku menghubungi nomor lama Galuh. Dan Syam yang mengangkatnya. Awalnya...aku pikir Galuh sudah menikah lagi. Dan Syam adalah anaknya, ternyata aku salah Kak."
"Iya, tadi Galuh bilang papa nya meninggal saat Galuh masih SMA, lalu Syam???", tanya Puja.
Lingga memijit pelipisnya sedikit karena sebenarnya ia merasa lelah. Tapi demi menghormati sang kakak, ia pun menyetujui untuk ngobrol bersama Puja yang sudah bertahun-tahun tak ia temui.
"Ibu, korban pelecehan A. Di hari yang sama saat aku menikah dadakan dengan Galuh, ibu habis mendapatkan pelecehan seksual."
"Ya Tuhan?!", Puja menutup mulutnya.
"Kakak tahu, hal sulit apa yang sudah Galuh lalui setelah aku pergi?", tanya Lingga dengan menelan salivanya karena kerongkongannya terasa kering.
__ADS_1
"Apa?"
"Galuh ke kota. Ternyata ibunya hamil Syam...dan...dan...Galuh terpaksa menjual ginjalnya untuk biaya operasi ibu mertua ku."
Puja ternganga tak percaya.
"Dan kamu tahu kak? Galuh lah yang jadi pendonor ginjal mama. Galuh menjual ginjal pada papa sebagai timbal balik antara keselamatan mama dan operasi ibu."
"Papa???"
"Papa tak mengatakan apapun pada kita soal kesehatan mama bukan?"
Puja mengangguk.
"Usai melahirkan Syam, ibu sempat depresi berat. Bahkan saat aku bertemu pertama kalinya setelah dari Kanada, kondisi ibu masih seperti itu. Dia tak menerima kehadiran Syam. Syam kecil yang tak tahu apapun menjadi korban dari kejahatan lelaki yang baj**** itu."
"Dan... lelaki brengsek itu ...om Glen!", kata Lingga.
"Om Glen??!", Puja bukan lagi terkejut tapi sangat sangat terkejut!
"Gila!!! Bang** banget si Glen itu! Kalau begitu, Syam seumuran dengan Zea bukan? Jadi setelah melecehkan Bu Sekar, dia menikahi Tante Helen???!"
Lingga mengangguk.
"Dan...Syam sempat syok. Dia tak ingin lagi berharap memiliki seorang ayah. Baginya, aku adalah ayah sekaligus Abang untuknya."
Puja menepuk bahu adiknya.
"Lalu, bagaimana dengan ucapan Bu Sekar yang mengatakan tidak ingin terjadi sesuatu lagi dengan Galuh dan calon cucunya?"
Lingga menoleh pada kakaknya.
"Huffft...saat awal pandemi, Galuh sedang dalam posisi hamil besar. Rumah makan kami sepi dan tutup. Tidak ada lagi pemasukan. Saat akan melahirkan, Galuh terdeteksi terkena virus covid. Begitu pula bayi kami. Dan ...saat itu, aku tak memiliki biaya operasi Galuh. Karena kondisi kami memang sangat-sangat kurang saat itu."
Lingga memejamkan matanya sebentar.
__ADS_1
"Dengan memutuskan urat malu, aku menemui papa. Meminta bantuan papa. Bukan minta, aku pinjam uang untuk biaya operasi Galuh. Tapi....papa tak memberikannya satu sen pun!"
"Ya Tuhan!!!!!", pekik Puja. Dia tak seagamis Lingga ya 🙏✌️
"Tapi Alhamdulillah, aku masih punya teman yang berbaik hati membeli mobil Pa***** kesayangan ku. Dari situ, aku bisa membiayai operasi dan perawatan Galuh meskipun akhirnya kami harus kehilangan bayi kami."
Puja tak bisa berkata-kata lagi. Sungguh, kali ini papa sangat keterlaluan. Tak bisa menurunkan egonya sedikit saja demi sang cucu, darah dagingnya sendiri!!!
"Beruntungnya aku memiliki Galuh Kak. Dia yang membimbing ku. Dia yang selalu mensupport ku sampai kami berada di titik ini. Di titik yang tak pernah kamu bayangkan sama sekali setelah penghinaan dan kata-kata meremehkan yang terlontar dari mulut papa."
"Bagi kami, ucapan papa adalah cambuk untuk kami berusaha menjadi orang yang sukses tanpa melupakan bahwa kami pernah berada di titik terendah dalam hidup kami."
"Kenapa kamu tidak menghubungi ku Ga? Kamu masih punya aku!!!", tegur Puja.
"Aku tidak mau membebani kamu Kak. Jika aku sampai meminta tolong padamu, aku pastikan papa akan mentertawakan ku."
Puja mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh, dia tak menyangka jika adiknya harus melewati banyak hal yang begitu rumit.
"Aku hanya berharap, papa tidak lagi arogan. Dan memperlakukan mama dengan baik. Hanya itu."
"Iya. Kakak harap juga begitu. Tapi...semua itu, mama yang menjalani Ga."
"Kamu mau menetap di sini kak? Maksud ku, di Indonesia?"
"Setelah mendengar kisah hidup mu, aku rasa ada baiknya aku disini."
Lingga tersenyum lalu menepuk bahu kakaknya yang hanya berjarak tiga tahun darinya.
"Makasih ya kak. Tolong...jaga mama. Dan... berusaha menjadikan papa jauh lebih baik. Berhenti menjadi laki-laki yang tak punya hati nurani. Aku percaya kan mama sama kamu kak?"
Keduanya pun melanjutkan minum kopinya. Curhatan antara kedua kakak beradik itu menyisakan banyak penyesalan yang tidak mungkin bisa di ubah.
****
Makasih 🙏 maaf kalo banyak typo ya ✌️🙏
__ADS_1