Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 167


__ADS_3

"Saya tunggu disini saja Jang!''


"Iya tuan, saya ambil obatnya dulu ke apotik", kata Ujang.


Lelaki itu bersandar di bangku sambil memejamkan matanya. Surya baru saja check up rutin bulanan seperti biasanya. Sekitar lima belas menit, Ujang sudah membawa obat tuan nya.


"Langsung pulang tuan?'', tanya Ujang.


"Iya", jawab Surya singkat. Keduanya pun berjalan menuju keluar. Tapi tanpa sengaja melihat sesosok laki-laki yang cukup ia kenal sedang di papah untuk naik ke brankar.


"Ada apa tuan?'',tanya Ujang.


"Sepertinya aku mengenal orang yang tadi di papah, tapi siapa ya?'', tanya Surya.


"Mungkin rekan bisnis anda tuan'',jawab Ujang.


Surya mengangguk pelan hingga tak sengaja telinganya menangkap informasi yang cukup penting.


''Aku ke sana dulu, kamu tunggu di sini saja!'', pinta Surya pada Ujang. Ujang pun menuruti perintah tuannya.


"Kasian ya tuh bapak-bapak. Mana udah tua lagi pake acara di jambret gitu. Untung cuma hp nya aja. Masih ada dompet nya, jadi ngga terlalu sulit cari data nya.''


"Iya, dari kartu pengenalnya keliatan orang kaya. Kayanya aku juga pernah denger nama perusahaannya deh.''


"Iya, Pandu Group. Itu bukannya perusahaan besar ya?''


"Iya betul. Tapi masa iya seorang CEO jalan kaki di pinggir jalan sendirian. Biasanya kan kalo orang-orang kaya pake bodyguard minimal sopir gitu lah. Tapi buktinya tadi dia sendiri aja tuh.''


Surya yang tak tahan pun memilih untuk mendekati dua orang yang sedang mengobrol tersebut.


"Permisi?''


"Iya pak?'', tanya salah seorang.


"Tadi kalian bilang siapa nama pasien yang baru masuk UGD?'',Surya mencoba menegaskan agar tak penasaran.


"Oh, korban jambret tadi namanya Yudis pak. Bapak kenal?''


"Yudistira Mahaputra?'',tanya Surya. Orang itu membaca tanda pengenal milik Yudis,


"Benar pak.''


"Bisa minta tolong beri tahu saya bagaimana kronologi kejadian penjambretan tersebut.'' Dua orang itu menceritakan apa yang mereka ketahui.


Surya tidak tahu menahu urusan atau masalah yang terjadi antara Arya dan Yudis. Yang Surya tahu, hubungan dua saudara tiri itu memang kurang baik sejak dulu.


"Perkenalkan, saya Surya Atmaja. Kebetulan saya rekan bisnis pak Yudis. Biarkan saya yang menangani beliau. Nanti saya yang akan menghubungi keluarga beliau.''


Dua orang itu saling melempar pandangan. Mungkin keduanya ragu apakah Surya benar-benar tak memanfaatkan kondisi Yudis untuk kepentingan Surya sendiri. Tapi kehadiran Ujang, merubah persepsi dua orang yang sudah menolong Yudis tadi.


"Tuan?''


"Ah...iya Ujang. Kamu kenal dengan Yudis?'', tanya Surya pada Ujang.


"Tuan Yudis kakaknya tuan Arya bukan?'',tanya Ujang.


"Iya. Orang yang tadi di bantu dua mas ini adalah Yudis.''


"Astaghfirullah, tuan Yudis kenapa tuan?'', tanya Ujang. Ujang cukup mengenal beberapa rekan bisnis Surya karena ia sudah mengabdi padanya sejak dulu.


"Dua mas ini menolong Yudis yang di jambret di jalan'',jawab Surya.


"Di jambret? Bukannya beliau selalu di dampingi pengawal ya Tuan?'',tanya Ujang bingung.


Setelah kesepakatan bersama, akhirnya Surya yang bertanggungjawab atas Yudis. Dua orang yang sudah membantu Yudis pun di beri sedikit imbalan sebagai ucapan terimakasih.

__ADS_1


Lebih dari satu jam, Surya dan Ujang menunggu Yudis di depan UGD hingga petugas medis memberitahu kondisi Yudis.


"Bagaimana tuan?'',tanya Ujang.


"Sementara biar jadi tanggungjawabku selama Yudis di rawat. Aku akan memberitahu keluarganya.''


Ujang hanya menurut apa yang majikannya katakan.


.


.


.


Syam baru saja keluar dari kamar Galuh.


"Dek, udah bobo Ganesh nya?'',tanya Lingga pada adik iparnya. Dia baru saja pergi dari penggilingan beras. Ada toko sembako yang minta dikirimi beras organik yang memang Lingga sediakan sesuai permintaan.


"Baru aja bobo bang?!'', jawab Syam.


"Kalo kakak udah beres mandi juga?'',tanya Lingga.


"Udah bang. Mau Syam bikinin teh ngga bang? Syam mau bikin teh soalnya hehehe'', kata Syam cengengesan.


"Boleh dong, kalo ngga keberatan"


"Gampang itu bang'',sahut Syam yang langsung melesat menuju ke dapur. Lingga sendiri memilih duduk di bangku meja makan.


Beberapa menit kemudian Syam membawa dua mug besar berisi teh manis panas.


"Silahkan abang!'', kata Syam menyerahkan mug di depan Lingga.


"Makasih adik abang yang paling ganteng.''


"Sama-sama bang!''


"Kayaknya ada yang mau ngomong sesuatu nih pake acara bikinin teh buat abang!''


"Heheheh abang mah tau aja deh!'', celetuk Syam.


"Karena abang tahu adik abang ini seperti apa. Coba bilang sama abang. Mau ngomong apa?''


"Ibu udah sama mang salim mau nikahnya kalo syam libur semester besok. Menurut abang gimana?''


"Alhamdulillah, bagus dong dek. Nanti abang pasti akan bantu persiapannya juga.''


"Abang setuju?''


"Iyalah, kenapa ngga setuju coba? Nikah kan ibadah dek.''


Syam mengangguk pelan. Lingga yang sangat paham seperti apa adik iparnya tersebut. Dia yakin adiknya akan menyampaikan hal lain.


"Ada lagi kan? Udah, ngomong aja!'', kata Lingga menyesap teh nya lagi.


''Ini bang, libur semester syam mau ke jakarta sama papa Glen, boleh kan?'', tanya Syam takut-takut.


"Udah ijin sama ibu?'', tanya Lingga. Syam menganggukkan kepalanya.


"Ibu udah ijinin, tapi kata ibu tergantung ijin Abang juga!''


"Kalau abang ngga melarang dek. Selama adek nyaman, abang ngga keberatan. Asal, Om Glen ijin langsung sama ibu.''


"Iya bang, nanti syam bilangin Papa Glen.''


Syam tersenyum simpul. Masih ada hal yang ingin Syam katakan pada abangnya.

__ADS_1


"Bang!''


"Heum?'', gumam Lingga.


"Syam boleh nginep di rumah Papa Arya ngga?''


"Kalo abang mah ngijinin. Tapi abang pikir, papa juga ngga akan keberatan kalo Syam nginep."


"Heheeheh makasih ya bang!''


"Iya. Udah ngga ada yang mau di sampaikan lagi?'', ledek Lingga. Syam tersenyum lebar kali ini. Mungkin karena semua unek-unek nya sudah tersampaikan.


"Udah bang. Ya udah abang istirahat deh, Syam mau bilang sama ibu terus telpon papa Arya buat bilang Syam mau menginap disana.''


"Iya, kalo ke sana mau abang antar juga ngga?''


"Eum...kalo ada mang salim ya ama mang Salim aja. Kalo ngga ya udah minta antar abang hehehe.''


"Ya udah sana siap-siap. Ngga usah nunggu mang Salim. Sama abang aja!''


"Oke deh bang!'', sahut Syam. Syam memang mau menginap di sana, tapi dia juga punya misi lain.


Setelah memakai sweaternya, Syam pun menghubungi Arya.


[Hallo, assalamualaikum pa?]


[Walaikumsalam, iya dek? Tumben telpon papa?]


[Hehehe, papa Arya. Syam mau ke situ sama Abang, boleh?]


[Boleh dong!]


[Kalo nginep gimana?]


[Ada-ada saja kamu tanya seperti itu Syam. Tentu saja boleh! Kamu mau tinggal sama papa juga, papa ngga keberatan. Papa malah seneng banget]


[Hehehe iya deh pa. Makasih ya. Tunggu Syam ya, bilang sama mama Gita. Syam sama bang Lingga datang. Masak yang enak-enak]


[Iya, nanti papa bilang sama mama. Ya sudah kalian hati-hati ya?!]


[Iya pa. Ya udah ya, Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Usai memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, Syam pun menuruni tangga. Sekar sudah mendengar sebelumnya jika Syam akan menginap di rumah Arya.


Biarlah, mungkin keberadaan Mas Arya bisa membuat Syam merasa jika dia memiliki seorang ayah. Meski ada Glen, papa kandungnya tapi dia masih jauh untuk Syam jangkau. Batin Sekar.


"Yang, Abang antar adek dulu ya?", pamit Lingga sambil menciumi Ganesh.


"Iya bang. Kalian hati-hati!", kata Galuh mengingatkan.


"Insyaallah!", jawab Lingga.


"Adek juga ya. Biar pun sama papa Arya, adek harus sopan dan bisa jaga sikap! Ya?"


"Siap kak!", sahut Syam. Setelah keduanya berpamitan pada Sekar dan Galuh, mereka pun langsung menuju ke rumah Arya.


Tak lupa Lingga mampir ke salah satu toko untuk membeli beberapa cemilan agar Syam tidak bosan di sana.


****


20.58


Baru sempet up 😁

__ADS_1


Makasih yang udah bersedia mampir. Jangan lupa like jempolnya yakkk ... makasiiiihhh banyak-banyak buat kalian semuuuua 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2