
"Senang?", tanya Glen pada putranya saat mereka baru saja selesai dari salah satu wahana di taman bermain. Syam mengangguk cepat.
"Senang sih, tapi cukup menguji adrenalin!", jawabnya sambil melihat wahana yang lain. Tangan Glen terulur mengusap kepala Syam.
"Setelah dari sini, ada tempat lain yang pengen Syam kunjungi?", tanya Glen. Syam menoleh pada Papanya lalu pada Zea dan Helen yang sedang menikmati es krim.
"Tanya Zea dan Tante Helen aja Pa, tadi kan udah terserah Syam. Mungkin setelah ini, kita perlu mendengarkan pendapat mereka!"
Glen cukup terkesima mendengar penuturan putranya. Bocah itu begitu menghargai keberadaan istri dan putrinya. Syam tidak ingin egois jika papanya hanya menuruti keinginannya sendiri.
"Papa rasa, mereka tidak keberatan Syam. Apalagi...kami...sering berlibur bersama!", kata Glen dengan nada tak enak hati.
"Heum! Tapi setidaknya tanya saja dulu Pa. Barangkali mereka juga punya tempat lain yang di tuju. Justru...Syam yang seharusnya mengikuti mereka, karena tentunya mereka lebih tahu."
Glen menoleh ke arah samping di mana istri dan putrinya tengah tertawa.
"Papa! Antri ke arung jeram yuk!", ajak Zea tiba-tiba.
"Zea sama Syam aja! Biar papa sama mama di sini!", tolak Glen.
"Ngga mau, pokoknya papa ikut!", paksa Zea.
"Yang lain aja Ze, basah nanti baju kamu lho!", kata Helen mencoba untuk menghalangi keinginan Zea.
"Jangan kayak orang susah deh, basah ya tinggal beli. Orang banyak yang jualan baju kok!", lagi-lagi ucapan Zea terdengar menyebalkan. Kesannya... begitu sombong!
"Ze....!?!", Glen mencoba menahan Zea agar tak menariknya untuk bangkit. Tapi dasar si pemaksa, mau tak mau akhirnya Glen pun bangkit. Lelaki itu menoleh pada Syam yang juga ikut berdiri.
"Duluan aja Pa!", kata Syam. Kaki Glen terseok-seok mengikuti langkah Zea yang menarik tangannya. Dan...ya...tersisa lah Helen dan Syam yang berjalan beriringan tanpa obrolan apapun.
Keduanya mungkin sama-sama canggung mengingat ada masa di mana keduanya memiliki masalah yang cukup berat.
Meski tak saling bentak atau berteriak, nyatanya pertengkaran yang terjadi di antara mereka menimbulkan efek yang cukup membuat keduanya serba salah.
"Syam", Helen mencoba membuka obrolan.
"Iya Tante?", tanya Syam menoleh.
"Syam senang jalan-jalan sama Zea, sama papa?", tanya Helen. Syam tersenyum.
"Sama Tante juga kan? Syam seneng kok!", jawab Syam. Kadang-kadang Syam menjadi sosok yang sangat bawel dan ceria. Tapi juga kadang bersikap dingin meskipun masih sedikit ramah.
Ponsel di saku celana Syam bergetar. Bocah tampan itu mengambilnya lalu membaca beberapa chat yang ada di grup kelasnya.
Ternyata isinya adalah pemberitahuan tentang lomba membuat cerita dengan tema keluarga. Kebetulan, Syam dan salah satu temannya di tunjuk untuk mewakili sekolah.
Meski bukan pertama kalinya Syam mengikuti event seperti itu, tapi tema yang di berikan adalah tentang keluarga. Lantas, apa yang bisa Syam ceritakan di sana? Bahkan dirinya belum merasakan sempurnanya memiliki keluarga yang utuh. Bagaimana dia akan mendeskripsikan tentang keluarga?
"Ada masalah?", tanya Helen. Syam menggeleng.
"Ngga ada Tante. Cuma wali kelas memberi tahu kalau Syam di suruh ikut lomba menulis untuk mewakili sekolah. Karena tidak ada seleksi antar sekolah, nanti hasil tulisannya akan di setor ke pusat. Dan yang menang nanti akan bertemu dengan pak gubernur langsung."
"Wah...keren sekali Syam!", puji Helen. Dia cukup bangga, meski Syam bersekolah di desa nyatanya dirinya memang berprestasi. Dibuktikan barusan dengan dirinya yang diikut sertakan dalam event tersebut meski sedang liburan semester.
"Iya Tante. Tapi....!", ucapan Syam sedikit tersendat.
"Tapi kenapa? Apa ada kesulitan?", tanya Helen. Syam menggeleng.
__ADS_1
"Bukan kesulitan tentang puebi atau alur ceritanya Tante. Cuma...."
"Cuma apa?", Helen semakin penasaran.
"Cuma tema nya saja yang bagi Syam cukup ya... begitu lah!", lanjut Syam masih sambil terus berjalan. Papa dan Zea sudah tak terlihat sama sekali.
"Memang apa tema nya, kalo boleh Tante tahu?", tanya Helen hati-hati. Ya, pada dasarnya Helen memang perempuan yang lemah lembut dan baik hati seperti Gita. Jika kemarin dia bisa sampai menginjakkan kakinya ke klub malam, tentu lah karena kekhilafan yang sebenarnya sama sekali tak ia rencanakan. Tapi ...dari kejadian tersebut, justru permasalahan besar yang di hadapi justru selesai.
"Tema nya keluarga, Tante!", jawab Syam. Helen menghentikan langkahnya dan hal itu berhasil membuat Syam pun turut berhenti. Kedua pasang mata itu saling berpandangan.
"Coba beri tahu Tante, kesulitan yang kamu hadapi di bagian apa nya? Mungkin Tante bisa bantu?", tawar Helen.
"Inti ceritanya Tan!", jawab Syam.
"Heum? Tema nya sudah di tentukan bukan? Tinggal di kembangkan saja bukan?", tanya Helen.
"Memang! Nanti ceritanya itu fiksi atau non fiksi. Apa Syam harus menceritakan tentang kehidupan Syam selama ini? Atau...Syam mengarang bebas karena...Syam tidak tahu seperti apa versi keluarga bahagia seperti apa!", kata Syam menunduk.
Entah kenapa hati Helen tiba-tiba bergetar mendengar ucapan Syam. Perempuan itu reflek memeluk putra tirinya tersebut.
"Maaf... mungkin Tante juga turut andil dalam kesulitan kamu di masa lalu, Syam!", kata Helen lirih. Syam menggeleng dalam pelukan ibu tirinya tersebut.
"Ngga Tante, masa lalu seperti itu yang memang harus Syam lewati. Begitu pula Tante, Syam yakin tidak ada satu pun perempuan yang tidak sakit hati saat di khianati!", kata Syam terdengar begitu dewasa.
"Tapi apa yang terjadi sama ibu dan papa mu, itu di luar kendali. Tante dan papa mu belum menikah, dan juga ...papa tidak tahu jika akan hadir kamu!", Helen mengusap kepala Syam dengan lembut.
Syam tersenyum tipis.
"Abang benar, Tante Helen memang baik sekali. Tidak ada yang perlu Syam khawatirkan!", kata Syam. Helen menautkan kedua alisnya.
"Memang Lingga bilang apa sama kamu Syam?", tanya Helen heran. Lagi-lagi Syam menggeleng dan tersenyum.
"Ngga apa-apa. Itu papa sama Zea udah manggil, kita ke sana Tante!", ajak Syam. Helen pun mempercepat langkahnya mengikuti Syam yang menghampiri suami dan anaknya.
"Cuma berdua, mas Arya mana?", tanya Sekar saat mendapati menantu dan suaminya tiba di rumah.
"Papa langsung Abang antar pulang, Bu!", jawab Lingga.
"Oh...!", begitu saja sahutan Sekar.
"Urusan pak haji Udin udah selesai kan bang?", tanya Sekar lagi.
"Alhamdulillah udah Bu, Abang batalin ambil tanah itu!", jawab Lingga.
"Heum, ya sudah. Mungkin belum rejeki Abang memiliki tanah itu", lanjut Sekar.
"Iya Bu!", jawab Lingga.
"Ya sudah, kalian makan siang saja dulu. Kakak sama Ganesh baru tidur"
"Iya Bu!", jawab Lingga dan Salim bersama-sama. Usai makan siang, baik lingga ataupun mertuanya kembali ke kamar mereka masing-masing.
Lingga mendapati istrinya dan juga putranya masih tertidur pulas. Dia mendekati keduanya lalu menciumi pipi istri dan anaknya bergantian. Ternyata sentuhan ringan dari Lingga, mampu mengusik Galuh yang tertidur mendekap buah hatinya.
"Kok bangun?", tanya Lingga lirih takut Ganesh terbangun.
"Abang baru pulang?", tanya Galuh pada suaminya.
__ADS_1
"Ngga, Abang udah makan kok tadi sama ibu dan Abah."
Galuh mengangguk lalu menyandarkan punggungnya ke headboard ranjangnya.
"Maaf, ketiduran bang!", kata Galuh sambil sesekali menutup mulutnya karena menguap.
"Ngga apa-apa Yang. Namanya juga ngantuk, capek lagi. Udah masak, beberes ngurusin Ganesh juga. Apalagi... rumah ini cukup besar Yang!"
"Huum, itung-itung latihan bang! Jadi ga kaget pas punya rumah sendiri nanti!", kata Galuh.
Lingga duduk di lantai lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Galuh. Dia ingin mengatakan rencananya tentang rumah yang akan di bangun di sebelah rumah ibu nya. Tapi...Lingga takut jika istrinya tidak setuju lalu berakibat pertengkaran di antara keduanya.
"Abang mau bicara apa heum?", tanya Galuh sambil mengusap kepala suaminya pelan.
"Ngga kok yang!", jawab Lingga.
"Ngga usah bohong. Aku bukan baru sehari kenal sama Abang!", tangan lentik itu masih mengusap rambut hitam yang sedikit memanjang.
Mendengar penuturan istrinya, Lingga mengangkat kepalanya. Ia mendongak menatap wajah istrinya yang kini mulai kembali tirus.
"Mungkin ngga sekarang, takut waktunya kurang tepat!", jawab Lingga.
"Masih soal tanah pak haji dan rumah?", tanya Galuh. Lingga mengiyakannya.
"Ngga jadi ambil tanah pak haji?"
Lingga kembali mengangguk.
"Bang, kenapa....kita ngga bikin rumah di samping aja. Insyaallah masih cukup kok kalo buat rumah sederhana yang ngga terlalu besar. Dari pada kayak rumah ibu segini, di pikir-pikir...capek juga ngurus nya kalo ngga ada yang bantuin!", kata Galuh tiba-tiba sambil membeberkan segala keluhannya yang padahal baru ia rasakan satu hari ini sejak melahirkan Ganesh.
Lingga cukup tercengang mendengar ucapan istrinya.
"Beneran Yang?", tanya Lingga.
"Apanya yang benar?", tanya Galuh.
"Rencana membuat rumah di sebelah?", tanya Lingga lagi. Galuh mengangguk.
"Iya bang! Dari pada jauh-jauh cari tanah, lebih baik pakai yang sudah ada. Lumayan kan uang nya bisa buat beli bahan material, minus batu bata atau batako kan?"
Senyum Lingga mengembang, sungguh dia tak menyangka istrinya akan berpikir demikian. Dengan reflek Lingga memeluk istri mungilnya.
"Makasih Yang....!", kata Lingga. Ia merasa jika dirinya di hargai, di butuhkan oleh sang istri. Dia ingin memberikan pangan, sandang dan papan yang layak untuk keluarga kecilnya.
Galuh membalas pelukan suaminya yang masih betah duduk di lantai beralaskan karpet bulu tersebut.
"Udah mau jam satu, sholat dhuhur dulu bang?!", pinta Galuh sambil melepas pelukan.
"Iya! Bentar ya!", kata Lingga bangkit. Galuh pun hanya mengangguk pelan. Setelah melihat suaminya masuk ke kamar mandi, Galuh meraih ponsel di atas nakasnya lalu mengirim pesan pada seseorang.
[Terimakasih Pa, Galuh senang, Abang terlihat sangat bahagia denger ide itu. Tanpa papa, mungkin kami masih akan terus bersitegang dengan hal yang itu-itu saja. Sekali lagi terimakasih sudah mencerahkan pikiran Galuh]
Usai pesan tersebut centang dua, Galuh mengembalikan lagi ponselnya. Dia tak pernah membayangkan jika hubungannya dengan sang papa mertua bisa sedekat sekarang. Apalagi... sejak papa mertuanya tahu jika Galuh adalah putri sahabatnya sendiri.
Lalu, nikmat mana lagi yang kamu dustakan Galuh?????
******
__ADS_1
15.15
Terimakasih 🙏🙏🙏