
Suasana hening di hampir setengah perjalanan dari kampung menuju ke rumah sakit di mana Ganesh di rawat.
Canggung? Ya, dua orang dewasa yang berusia kepala empat itu hanya diam. Entah apa sebenarnya yang membuat mereka jadi seperti sekarang. Padahal... sebelumnya mereka terlihat biasa saja. Sikap pada umumnya antar majikan dan art nya...eh... supirnya.
"Bu...!"
"Mang!"
Ucap mereka bersamaan dan membuat keduanya saling melempar pandangan. Salim mengulum senyumnya sedang Sekar justru memandang keluar jendela karena merasa malu.
"Ibu saja dulu, silahkan apa yang mau ibu sampaikan?", tanya Salim sopan.
"Eh...mang Salim saja dulu!", kata Sekar malu-malu.
Salim melihat majikannya memalingkan wajahnya dan seolah sedang menutupi ekspresi wajah yang.... entah lah!
"Baiklah, jadi begini Bu. Tuan Arya berencana membeli rumah di dekat persawahan di bawah sana. Insyaallah beliau dan nyonya Gita akan pindah ke kampung ini agar bisa dekat dengan den Ganesh", jelas Salim.
"Oh...!", sahut Sekar. Mungkin kata 'oh' dari mulut Sekar terdengar seperti suara orang yang kecewa.
Kecewa karena Salim hanya menyampaikan hal itu atau kecewa karena tuan Arya pindah ke sini???
Salim menoleh sekilas pada besan majikannya tersebut.
"Anda baik-baik saja Bu?", tanya Salim.
"Iya, saya baik-baik saja!", jawab Sekar datar. Salim semakin bingung menghadapi Sekar yang tadi saat bertemu terlihat senyum ramah. Tapi sikapnya seolah menunjukkan jika dirinya sedang sedikit emosi.
Ting!
Sebuah pesan masuk di ponsel Salim. Dia merogoh kantongnya lalu membaca sebuah chat dari bik Mumun. Art kekinian dia mah!
[Mang, saya udah bilang sama ibu kalo mang Salim teh ada rasa sama ibu. Selamat berjuang mang! Tak kan lari gunung di kejar, kalo udah jodoh ga pandang kasta mang. Gamis biru jangan sampe lepas]
Begitu isi chat dari Mumun tak lupa emot fight dan senyuman lebar.
Salim menganga tak percaya lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Memejamkan matanya beberapa saat lalu menoleh ke arah majikannya sekilas. Sekar tampak tak memperhatikan Salim.
Baru akan memasukkan ponselnya lagi, bik mumun kembali kirim chat.
[Teu bertepuk sebelah tangan mang. Gaskeun atuh]
Salim mencoba memahami chat dari Mumun tersebut dan saat di lampu merah, Salim menyempatkan membalas pesan bik Mumun.
[Bik Mumun mah ulahen ngeprank urang atuh]
Tak butuh waktu lama bik Mumun pun membalasnya.
[Moal ngeprank. Sok atuh, perjuangkeun!]
Karena lampu hijau sudah menyala, Salim melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Salim menyunggingkan senyum tipis yang begitu samar.
Benarkah tak bertepuk sebelah tangan? Tapi...apa iya? Mana mungkin seorang majikan menyukai supir seperti dirinya? Salim berpikir demikian.
Sekar menoleh pada Salim yang dari tadi tampak senyum senyum sendiri sejak berbalas pesan.
Sekar memijat salah satu pelipisnya karena ia merasa heran kenapa dirinya sok ingin tahu urusan Salim.
"Ibu pusing?", tanya Salim perhatian.
"Ngga!", jawab Sekar singkat tanpa menoleh pada Salim.
__ADS_1
"Owh...!", hanya itu sahutan Salim. Tapi dia penasaran kenapa majikannya itu seolah sedang kesal padanya. Kenapa?
Ting! Ada pesan lagi, tapi Salim tak langsung membukanya karena dari layar ia bisa melihat ada pesan dari Arya yang mengirim bukti transfer bonusnya.
Salim memutuskan untuk menghubungi Arya secara langsung saja ketika berhenti di rumah sakit nanti.
Sekar menegur Salim yang hanya melihat chat di ponselnya sekilas.
"Kenapa ngga di balas? Mungkin penting!", kata Sekar dengan nada sedikit dingin. Salim menautkan alisnya dan akhirnya ia memahami kejutekan Sekar yang mendadak.
"Chat dari pak Arya yang sudah transfer bonus. Tapi nanti saya telpon beliau saja kalau sudah sampai di rumah sakit."
"Oh...pantes dari tadi senyum-senyum!", kata Sekar. Salim merasa gemas sendiri.
Oh...ayolah... mereka ABG tua ya?? Sudah kepala empat, tapi kenapa kelakuannya seperti remaja yang sedang...ah....
"Tadi bik Mumun yang wa, Bu!", kata Salim. Menyebut nama art nya, Sekar tiba-tiba menegang lalu menoleh cepat pada Salim yang masih memasang wajah tersenyum.
Manis sekali???!
"Bik...Mumun? Ke-kenapa? Apa di rumah baik-baik saja?", tanya Sekar mulai salah tingkah takut jika art nya tersebut berbicara yang tidak-tidak pada Salim.
"Alhamdulillah baik, Bu. Tidak ada apa-apa!", jawab Salim.
"Lalu kenapa mang Salim senyum-senyum begitu?", Sekar sudah mulai curiga.
Salim menoleh beberapa saat lalu tertunduk sebentar dan tersenyum simpul.
"Kata Bik Mumun, saya ngga bertepuk sebelah tangan. Benar Bu?", tanya Salim memberanikan diri.
"Hah? Mak-maksudnya?", Sekar mulai tergagap. Jangan di tanya seperti apa jantungnya berpacu. Mungkin atlet lari saja kalah kencangnya.
Salim akan membuka pintu untuk dirinya sendiri agar bisa membuka pintu untuk Sekar. Tapi belum sempat Salim membuka pintu, Sekar menahannya.
"Tunggu mang!", pinta Sekar. Salim pun mengurungkan niatnya membuka pintu.
"Iya Bu?", tanya Salim bingung.
"Bik Mumun bilang apa memangnya?", Sekar masih penasaran.
"Ngga apa-apa Bu, maaf! Tapi... sepertinya saya memang tidak tahu diri! Tidak seharusnya saya seperti ini. Sebentar Bu saya turun dulu buat buka pintu ibu!", kata Salim tapi Sekar menahannya lagi.
"Karena kamu hanya seorang supir?", tanya Sekar ragu-ragu. Salim menegang di kursinya. Ya, itu alasan utamanya. Bukankah tak sepantasnya seorang supir menyukai majikannya sendiri?
"Maaf Bu!", kata Salim menunduk.
"Saya bukan majikan mang Salim ya? Hanya saja kebetulan mang Salim bekerja pada besan saya, lantas mang Salim menganggap saya majikan mang Salim kan?", cerca Sekar. Entah kenapa dirinya merasa tidak suka dengan sikap rendah diri Salim.
Salim meneguk salivanya pelan. Karena tak ada sahutan apa pun dari Salim, Sekar memilih turun lebih dulu.
Jiwa labilnya keluar seperti sepasang kekasih yang sedang kesal pada pasangannya. Ada-ada saja memang!!! Kesal emang ga liat umur sih!
Menyadari Sekar turun, Salim pun menyusul Sekar yang berjalan terburu-buru meninggalkan mobil Salim.
Salim berusaha mengejar Sekar untuk tidak berpikir yang tidak-tidak, tapi sepertinya Sekar benar-benar sedang kesal.
"Bu...!", panggil Salim pelan di belakang Sekar yang sedang berjalan cepat.
Beberapa kali mereka melewati orang yang berkerumun hingga terdengar celetukan yang membuat keduanya salting.
"Bu, itu Suaminya manggil-manggil. Kasian atuh di tinggalin!", ledek salah satu pengunjung rumah sakit itu.
__ADS_1
Wajah Sekar merah padam menahan malu karena prasangka orang itu. Beruntung mereka berdua tak lama kemudian berada di depan ruangan bayi.
"Assalamualaikum kak!", sapa Sekar pada Galuh.
"Walaikumsalam, ibu!", Galuh tersenyum menyambut kedatangan sang ibu. Galuh juga mengangguk tipis pada Salim yang datang bersama ibunya.
"Sebenarnya ada apa kak? Semua baik-baik saja kan?", tanya Sekar khawatir lalu mengajak Galuh kembali duduk.
"Heum, Ganesh baik-baik saja kok Bu!", kata Galuh lirih.
"Alhamdulillah!", gumam Sekar tapi matanya tak beralih dari sang putri.
"Ada yang ingin kamu ceritakan sama ibu, kak?", tanya Sekar yang bisa melihat raut wajah sendu Galuh. Galuh mendongak sesaat, Salim masih berdiri tak jauh darinya dan juga ibunya.
Memahami majikannya butuh waktu berdua, Salim pun memberanikan diri berbicara.
"Maaf, den Syam ke mana ya? Biar saya susul?", tanya Salim. Galuh cukup peka dengan ucapan Mang Salim yang seolah sangat mengerti jika ia ingin berbicara dengan ibunya.
"Ke kantin Mang!", jawab Galuh.
"Kalau begitu, saya susul den Syam. Permisi!", pamit Salim meninggalkan dua perempuan cantik itu. Setelah Salim menjauh, Sekar menggenggam tangan Galuh.
"Cerita sama ibu, ada apa? Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa, Abang sampai meminta adek nemenin kamu di sini kak. Apalagi sebelumnya kamu kekeuh ngga mau di temani!", cerocos Sekar.
Galuh tampak menghela nafas berat lalu ia pun menceritakan keluhnya pada Sekar perihal ketakutannya yang dia sendiri tidak tahu takut kenapa. Hingga akhirnya ia sedikit berkonsultasi dengan dokter yang merawat Ganesh lalu menyimpulkan jika dirinya ada indikasi terserang baby blues.
"Atas saran dokter, kakak harus punya dukungan dari orang-orang terdekat Bu. Abang, ibu sama adek!", kata Galuh.
Sekar meraih bahu Galuh lalu merengkuhnya. Ia mengusap kepala Galuh dengan penuh kasih sayang.
"Bu...!"
"Heum? Maaf!", kata Galuh lirih.
"Untuk apa minta maaf sama ibu?", tanya Sekar bingung.
"Seandainya dulu aku bisa sepenuhnya mendampingi ibu di saat seperti ini, mungkin ibu tidak akan mengalami depresi seperti dulu. Maafkan Galuh yang kurang memahami keadaan ibu saat itu. Dan ternyata rasanya....!"
"Ssssttt.... jangan bicara seperti itu kak! Kamu akan baik-baik saja. Ada Abang, ibu sama Syam yang akan selalu sama kamu. Kedua mertua kamu juga sangat menyayangi mu. Heum?", Sekar mengusap bulir bening di pipi Galuh.
Perempuan cantik itu hanya mengangguk pelan mendengar nasehat ibunya. Percaya lah, masa-masa sulit itu pasti akan bisa ia lewati.
"Jadi, Abang pulang hari ini?", tanya Sekar saat Galuh sudah mulai tenang.
"Iya Bu, mungkin sebentar lagi sampai", jawab Galuh.
"Perbanyak istighfar ya Kak!", Sekar kembali mengusap kepala Galuh. Dan Galuh pun lagi-lagi hanya mengangguk.
"Bu, apa setelah Ganesh pulang aku bisa merawat nya dengan baik?", tanya Galuh.
"Tentu saja! Kakak ,ibu yang hebat. Jangankan Ganesh, Syam aja kamu bisa rawat dan didik sampai tumbuh jadi seperti sekarang karena siapa? Karena kamu! Padahal saat itu kamu masih sangat muda. Insyaallah, Ganesh pun akan merasakan kasih sayang yang sama dari kamu dan Abang."
Senyum Galuh mulai terbit. Dia mulai bisa membangkitkan kepercayaan dirinya.
Semua akan baik-baik saja! Bismillah! Batin Galuh.
******
Maapkeun kalo banyak typo. Padahal mata udah empat masih aja sok kelewat kalo lagi di cek 🙏 tapi insya Allah para reader's kesayangan mah paham ya maksudnya apa hehehhe
Makasih banyak-banyak 🙏🙏🙏🙏🙏✌️✌️✌️🤭🤭
__ADS_1