
"Harusnya mama inisiatif hubungi papa?!", kata Arya ketus. Tapi kemudian ia sedikit terpesona dengan sang istri yang nampak berbeda penampilannya. Ya, Gita memakai jilbab. Jika biasanya dia mengenakan dress khas sosialita, tidak sejak ia ke rumah sang menantu.
Malu! Itu yang Gita rasakan saat di kelilingi oleh orang-orang yang menutup aurat. Lalu selama ini??? Gita hanya memakai pasmina untuk menutupi kepalanya jika sedang momen lebaran, padahal....puasa pun tidak. Kehidupannya memang jauh dari kata rajin ibadah. Mungkin menyebut nama Tuhan nya saja...bisa dengan hitungan jari.
Beruntung Lingga bertemu dan hidup bersama Galuh yang perlahan menuntunnya menemukan jalan agar tak semakin tersesat.
"Mama cantik ya pa?", tanya Lingga. Arya spontan mengangguk. Gita menghampiri suaminya, mencium punggung tangan Arya.
"Tangan papa dingin sekali!Baju papa juga basah!", kata Gita.
"Biar lingga ambilkan pakaian Lingga pa. Memang tidak bermerek seperti pakaian-pakaian yang papa punya dan selalu papa pakai. Tapi insyaallah nyaman kok Pa."
Arya kembali kesal dengan sindiran Lingga.
"Eum...atau kalau ngga, ajak papa ke kamar saja ma. Biar papa istirahat!", kata Lingga.
"Tidak perlu!", sergah Arya dengan cepat.
"Pa, punggung papa ngga capek apa? Papa sudah tidak muda lagi, bagaimana kalo nanti papa encok? Sebaiknya papa meluruskan pinggang dulu!", kata Gita.
"Papa sudah istirahat di motel semalam! Heran, kampungan banget sih di sini! Hotel yang layak saja tidak ada!", kata Arya sombong.
Lingga memilih untuk meninggalkan mama papanya. Ia mengambil pakaiannya yang mungkin sedikit kebesaran untuk sang papa. Saat melintas ruang tengah, di sana masih ada Galuh, Sekar, Puja, Vanes dan Angel.
"Abang, Tuan Arya mana? Ngga jadi masuk?", tanya Galuh.
Lingga membungkukkan badannya di belakang sofa yang Galuh duduki.
"Ada di ruangan depan, sama mama. Biarlah, yang penting papa mau masuk. Diluar kan dingin banget. Kita sudah biasa, kalau papa? Tolong sayang, ubah panggilan tuan pada papa! Papa itu mertua kamu, bukan majikan kamu!"
Galuh mengangguk paham.
"Kok ngga minum susu hangat sayang?", tanyanya pada Galuh.
"Masih enek perutnya Bang!", kata Galuh nyengir. Puja dan Vanes tersenyum melihat kemesraan adiknya.
Puja tak menyangka saja jika adiknya benar-benar sudah berubah.Padahal selama ini, ia mengenal Lingga sebagai laki-laki yang dingin dan jarang berbicara. Tapi lihat lah, dia bisa bersikap hangat pada istrinya dan juga keluarganya. Kehadiran Galuh menjadi berkah tersendiri dalam kehidupan Lingga.
"Abang mau ngapain, kenapa mama dan tu...eh... pa-pa di tinggalin?"
"Abang mau ambil baju buat papa. Kasian baju papa basah!", katanya.
"Ikut ke kamar deh!", kata Galuh mengulurkan tangannya. Lingga tersenyum dengan tingkah manja istrinya yang sedang hamil itu.
__ADS_1
"Ayo!", ajak Lingga. Keduanya pun masuk ke dalam kamar mereka.
Jam dinding klasik berwarna gold menunjukkan jam setengah sepuluh pagi. Cuaca dingin dan hujan lebat membuat hawa yang dingin menusuk semakin dingin dan nyaris membuat badan menggigil.
Sekar meminta ijin untuk ke dapur pada tamunya yang tak lain Puja dan Vanes. Angel memilih memainkan ponselnya untuk sekedar nge-game.
"Eh, ibu!", kata Mumun yang sedang memasak untuk makan siang. Sekar duduk di bangku yang berada di dapur.
"Kamu mau masak apa rencananya bik?", tanya Sekar.
"Sayur sop ayam kampung, perkedel, balado kentang, bakwan jagung sama rencananya sih mau bikin sekoteng bu. Kayanya pas gitu cuaca begini!", jawab Mumun.
"Tambah ayam goreng lengkuas deh! Biar saya bantu!", kata Sekar. Mumun pun mengangguk.
"Bu!", kata Mumun.
"Iya?"
"Itu, mertuanya neng Galuh teh ngga mau masuk rumah apa gimana sih?", tanya Mumun.
"Kenapa?", tanya Sekar sambil memotong wortel.
"Ya...tadi kan udah saya buatin teh, eh...katanya kena air hujan. Jadi bikin lagi deh buat di bawa ke teras."
Sekar hanya tersenyum tipis. Dia yakin jika besannya itu masih tak menganggap Galuh sebagai menantunya.
Sekar merasa malu jika ada orang yang tahu bahwa anaknya tidak diinginkan oleh papa mertuanya. Rasanya...sakit hati saja! Dia hanya tidak ingin anaknya jadi bahan olokan orang lain. Karena... putri nya adalah anak yang sangat tangguh di mata Sekar.
Kembali ke pasangan yang sedang menanti buah hatinya....
"Bang, jangan baju yang bekas atuh. Kan ada kaos Abang yang masih baru belum di pakai?", kata Galuh saat melihat suaminya memilah milih kaos lengan panjang di lemari.
Lingga menghela nafas sesaat. Entah, terbuat dari apa hati istrinya itu.
"Iya, Abang ambil yang baru sayang!", kata Lingga. Lalu ia mengambil baju yang masih baru tapi tentu sudah di cuci sebelumnya.
Lingga mendekati istrinya yang duduk di ranjangnya. Kedua tangannya mengunci Galuh di sisi kanan kiri tubuh Galuh.
"Kenapa?", tanya Galuh heran.
"Abang kangen sama si utun! Bentar ya, Abang antar baju ke papa dulu!", kata Lingga tak lupa mengecup kening Galuh.
Wajah Galuh bersemu merah. Bisa-bisanya suaminya meminta haknya di saat tidak tepat seperti ini. Banyak tamu lho di rumah....!!!!
__ADS_1
Lingga membawa bajunya ke ruang depan di mana mama papanya berada. Tapi tak belum sampai di ruang depan, Lingga menghentikan langkahnya. Ada adegan melepaskan kerinduan ternyata di ruang itu....🙈
"Ehem...!", Lingga berdehem nyaring. Arya dan Gita duduk bersebelahan.
"Ajak papa ke kamar ma, buat ganti baju sekalian istirahat!", kata Lingga. Setelah itu ia meninggal kedua orang tuanya begitu saja.
Sebelum kembali ke kamar, Lingga sempat menyunggingkan senyumnya. Ternyata...udah tua masih bisa romantis juga....🤭🤭 batin Lingga.
Ceklek ....
Galuh dari kamar mandinya menoleh ke arah pintu. Melihat suaminya tersenyum aneh seperti itu, Galuh pun heran.
"Bahagia banget Bang?", tanya Galuh. Lingga memeluk sang istri dari belakang. Lalu berjalan ke arah jendela dengan penampakan kebun yang di siram air hujan deras.
Masih dalam memeluk istrinya yang udah tak berhijab.
"Boleh tidak sih Abang berharap, kalau papa akan berubah sikap sama kamu Yang. Dan menerima kamu sebagai menantunya?", tanya Lingga sambil mengecup bahu istrinya yang terbuka.
Galuh tersenyum ringan.
"Berharap boleh, berdoa harus. Semoga saja Bang, tapi... sebaiknya memang aku tak perlu banyak bicara di depan tu...eh.. pa-pa. Bukan ngga mau, tapi...demi menjaga emosi papa. Kita sedang berkumpul dengan keluarga besar kita. Jangan merusak momen ini dengan memancing emosi papa!"
Lingga semakin mengeratkan pelukannya dari belakang. Di letakkannya dagu berbelah itu di atas kepala Galuh.
"Terimakasih sayang! Aku tidak tahu seperti apa hidup ku kalo tidak bertemu kamu!", Lingga kembali mengecup puncak kepala Galuh.
"Aku pun bersyukur, meski awalnya pernikahan kita hanya sebuah kesalahpahaman....kita bisa membuktikannya sampai sejauh ini!"
Lingga mengusap perut buncit Galuh. Mata Lingga terpejam di cerukan leher Galuh yang membuat ia merasa tenang.
Di luar....hujan masih mengguyur bumi dengan deras. Tapi ...ada kehangatan yang tercipta di dalam rumah itu.
****
Bari nungguin Galuh Lingga update, bagi yang baru gabung boleh dong mampir ke kehaluan mamak yang lain 🤭🤭🤭
Semoga tidak mengecewakan kalian para reader's kece 🤗
Kalo udah beres ini lanjut kisah Aa Alby yang masih on going 😉
__ADS_1
Terimakasih
Haturnuhun ✌️ ✌️ ✌️ 🙏🙏🙏🙏🙏🙏