
"Han, aku mau nyetir sendiri ya!", kata Lingga saat dirinya memakai kemeja dan mengancing kancing di pergelangan tangannya.
"Baik mas."
"Atau kamu mau ikut ke sana?"
"Ngga usah mas. Saya di apartemen saja. Lagi pula saya nanti sudah ada janji akan menghubungi pacar saya yang jadi pahlawan devisa di Taiwan!", kata Burhan sambil nyengir.
"Eks art mama juga kan? Siapa namanya, Rani ya?",tanya Lingga.
"Mas Lingga tahu aja sih!", jawab Burhan malu-malu.
"Heheh ngga usah malu gitu kenapa Han!"
"Iya mas!", sahut Burhan.
"Ya udah, aku mau jemput Galuh dulu kalo gitu ya!"
"Iya mas. Eh tapi....?"
"Kenapa?"
"Mas mau pulang ke sini atau menginap di rumah mba Galuh? Secara kan kalian sudah 'sah' sekarang?"
Lingga terdiam beberapa saat lalu ia pun tersenyum.
"Tadinya aku tak punya pikiran seperti itu Han. Tapi kamu justru ngasih ide begitu. Bagus juga!"
"Heum, saya cuma nanya mas. Tapi feeling saya mah, mba Galuh pasti bakal protes."
"Kenapa gitu?",Lingga menautkan alisnya.
"Ya gimana, sekali pun sudah sah kalian masih seperti orang asing. Minimal pedekate dulu mas."
"Bener juga sih!", Lingga tampak mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu.
"Ya udah lah, pokoknya saya mah doakan semoga semua di lancarkan mas!"
"Iya, makasih Han. Aku jalan sekarang!", pamit Lingga.
"Hati-hati mas!", sahut Burhan. Lingga pun keluar dari unit apartemennya. Aneh memang ya? Di apartemen berduaan dengan laki-laki. Jika biasanya penghuni apartemen memilih stay di sana karena memang ingin menyendiri. Berbeda dengan Lingga yang justru nyaman dengan supirnya. Nyaman dalam arti yang sebenarnya tentunya. Bukan karena apa-apa, apalagi lampu sen kanan or kiri alias belok.
Lingga mengirimkan pesan pada Galuh, mengatakan jika dirinya sudah dalam perjalanan menuju ke rumah.
Lelaki tampan itu meletakkan ponsel di saku kemejanya. Tapi belum lama ponsel itu di dalam saku, ponselnya bergetar.
Dia pun melihat sesaat. Ada panggilan dari Shiena.
Tanpa menggubrisnya, Lingga kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Membiarkan dering itu berhenti dengan sendirinya.
Dulu, dia merasa jika Shiena teman yang tepat selama mencari ilmu di negara asing. Tapi semakin lama Lingga justru tak betah dengan gadis itu yang makin hari makin centil padanya.
Malah tak tanggung-tanggung, dia meminta di jodohkan dengan Lingga dengan alasan mereka berdua dekat.
Dekat? Oh, mungkin tepat nya teman sharing dalam melakukan pekerjaan dan tentu saja tugas kuliah, tidak lebih. Selebihnya, Shiena sendiri yang mengada-ada.
Hampir delapan tahun di Kanada, pergaulan Lingga pun tak banyak berbeda. Meskipun di mantan bad boy selama di masa sekolah dan kuliah di negeri Sapta pesona ini, di luar sana dia justru enggan bergaul dengan orang asing.
So...Lingga tercetak jadi pribadi yang angkuh, dingin, dan menyebalkan. Tapi setelah ia bertemu kembali dengan istrinya, dia bisa berubah kembali menjadi sosok yang sama saat dia masih muda dulu. Sekarang sudah tua? Untuk usia segitu, bisa di bilang iya. Banyak rekan nya yang sudah menikah dan punya anak.
Lingga juga sudah menikah??? Iya, menikah sudah reproduksinya belum. Mungkin tak lama lagi 😆.
Beberapa menit berlalu, ia sudah sampai di halaman warung. Warung pun sudah tutup. Ia mengetuk rolling door besi itu.
Dor...dor...suara besi pipih terdengar nyaring di pukul meski pelan. Tak lama kemudian, Usman membukakan pintu.
"Mas Lingga, masuk mas!", sapa Usman.
"Makasih Umar!", kata Lingga.
''Saya Usman Mas Lingga. Bukan Umar", protes Usman.
"Oh, maaf kalau begitu. Nama kalian hampir sama!", elak Lingga. Umar menggelengkan kepalanya.
"Mau langsung ke atas aja mas? Di bawah cuma ada saya sama Umar."
"Lho, karyawan yang lain? Maksudnya yang perempuan?"
"Itu mas Lingga. Mereka di kamar atas. Lusi, Susi sama mba Sari di atas."
"Memang di atas ada berapa kamar?", Lingga mulai tertarik.
"Ada empat mas. Kamar mba Galuh, dek Syam, ibu, sama satu kamar lagi buat anak-anak cewek mas."
Lingga mengangguk paham.
"Langsung ke atas saja mas, kan mas Lingga teh suaminya mba Galuh."
"Huum, iya. Aku ke atas ya mas Um...eh...Usman!", kata Lingga pamit.
"Iya mas, silahkan."
Lingga pun menapaki tangga menuju ke rumah atas. Terlihat dari tangga, ibu mertuanya duduk di kursi roda sedang menonton televisi. Posisinya, ia memunggungi tangga.
Lingga pun perlahan mendekati ibu mertuanya.
"Bu!", panggil Lingga. Sekar pun menoleh pada menantunya.
"Nak Lingga?", raut wajah Sekar berubah. Lingga mengambil tangan Sekar lalu mencium punggung tangan tersebut. Tak ada penolakan dari Sekar, berbeda dengan kemarin.
"Ibu, sendirian aja?", tanya Lingga. Sekar mengangguk. Tak lama kemudian, muncul seorang perempuan yang pasti karyawan Galuh.
"Eh, mas Lingga!", sapa Sari. Lingga pun tersenyum.
__ADS_1
"Ibu, makan dulu yuk. Tadi Sekar sudah menyiapkan makanan kesukaan ibu!", kata Sari.
"Kamu yang nyiapin Sari? Galuh ke mana?",tanya Sekar.
"Yang masak mba Galuh, Bu. Tapi sari yang nyiapin. Mba Galuh mau pergi sama mas Lingga", jelas Sari.
Sekar pun menoleh pada menantunya.
"Kamu mau bawa Galuh ke mana?",tanya Sekar dengan mata berkaca-kaca. Lingga yang tiba-tiba melihat ibu mertuanya tampak bersedih begitu pun bingung.
"Galuh hanya keluar sebentar Bu. Nanti balik lagi kok. Abang ngga akan bawa Galuh ke mana-mana. Galuh tetap sama ibu!", Galuh berjongkok di depan ibunya. Sekar mengusap kepala Galuh dengan pelan. Perempuan itu pun menyunggingkan senyumnya. Lalu ia mendongak menatap menantunya.
"Nak Lingga jangan bawa Galuh jauh-jauh. Cuma Galuh yang ibu punya!", kata Sekar merajuk seperti anak kecil. Lingga pun turut jongkok di depan ibu mertuanya.
"Ngga Bu. Lingga cuma mau ajak Galuh keluar sebentar. Nanti Lingga bawa Galuh lagi ke ibu. Ya?",kata Lingga menenangkan Sekar. Sekar pun mengangguk.
Sekilas, Lingga melihat Syam yang sepertinya turun terburu-buru ke lantai bawah. Dia takut ibunya melihat keberadaannya di sana.
"Galuh sama Abang pamit ya Bu. Habis ibu makan, langsung istirahat jangan lupa minum obatnya ya." Sekar pun mengangguk.
"Mba Sari, titip ibu dan....!", Sari paham tanpa Galuh menyebutkan nama yang di maksud.
"Iya mba. Ayok Bu, kita makan!", ajak sari sambil mendorong kursi roda Sekar.
Galuh dan Lingga menuruni tangga berdua.
"Bang!", Galuh menahan langkah kaki Lingga yang sekarang sudah dua pijakan di bawahnya. Jika sejajar, Galuh hanya sedagu Lingga. Tapi di posisi begini, Galuh sudah sama tinggi dengannya.
"Kenapa?", tanya Lingga yang langsung menoleh. Dia tidak menyadari jika istrinya tampak berbeda dari biasanya yang ia lihat.
"Apa pakaian ku layak untuk menghadiri acara makan malam keluarga mu?",tanya Galuh.
"Cantik. Kamu cantik Luh!", puji Lingga dengan spontan. Gadis mungil dengan balutan gamis khas anak muda berwarna navy, membuat kontras dengan kulitnya yang kuning Langsat. Tapi begitu cocok dan enak di pandang.
"Bang, aku serius. Aku yakin, keluarga besar dan kolega mu pasti berpenampilan jauh lebih mewah. Dan aku tidak ada apa-apanya. Aku takut membuat kamu malu Bang!"
Lingga menghela nafas sebentar.
"Sebenarnya Abang bisa saja meminta orang untuk make up -in kamu. Tapi Abang suka apa adanya kamu, kesederhanaan kamu karena dari sananya kamu memang sudah cantik. Ngga ada yang perlu kamu takutkan Luh!", Lingga menekan kedua bahu istrinya.
Galuh memanyunkan bibirnya yang imut berwarna alami, mungkin memakai lipstik yang senada dengan warna bibirnya. Jika tren sekarang kebanyakan cewek-cewek muda pakai lipstik gaya ombre, tidak dengan Galuh.
"Ngga usah ngerayu!", kata Galuh sambil menurunkan tangan Lingga dari bahunya. Lalu ia berjalan menuruni tangga lagi.
Lingga tersenyum tipis melihat betapa menggemaskan istrinya itu. Dia mengikuti Galuh yang menghampiri adiknya.
"Adek udah belajar?",tanya Galuh.
"Udah lah Kak. Kalo belum, ngapain Syam di sini!", jawab Syam. Galuh mengusap kepala adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Kak Galuh cantik banget, mau ke mana sama Abang?"
"Emang biasanya kakak jelek ya?", Galuh menaikan salah satu alisnya.
"Ngga sih. Cuma beda aja. Ya kan mas UU?", tanya Syam pada Umar dan Usman. Dobel U itu pun mengangguk setuju dengan ucapan Syam.
"Mungkin tidak sekarang Luh!", kata Lingga pelan. Syam pun sepertinya paham.
"Apa ada papanya Zea juga Bang?", tanya Syam.
Papa Zea kan papa kamu juga Syam! Batin Lingga.
Lingga menganggukkan kepalanya. Karena memang nanti akan ada keluarga besar di sana.
"Ya udah, berangkat yuk!", ajak Lingga pada Galuh. Galuh pun mengangguk pelan.
"Adek, jangan bobo terlalu malam ya!", pinta Galuh. Syam pun mengangguk," Iya kak. Nanti jam sembilan Syam naik kok!"
Galuh tersenyum mendengar jawaban sang adik. Lalu keduanya pun keluar dari ruko tersebut.
Lingga membukakan pintu depan untuk istrinya.
''Abang nyetir sendiri?", tanya Galuh saat suaminya membuka pintu untuknya.
"Iya!", jawab Lingga singkat. Setelah menutup pintu, barulah ia mengitari mobil lalu duduk di belakang kemudi.
Wajah Galuh nampak tegang, Lingga yang bingung pun mencoba mencairkan suasana dengan ledekannya yang khas.
"Luh!"
"Heum?", Galuh menoleh pada Lingga.
"Nanti pulang dari rumah papa, aku nginep ya?", kata Lingga. Galuh melebarkan matanya.
"Nginep?", Galuh membeo.
"Iya, kan kita udah suami istri. Aku juga pengen jadi suami istri beneran lho!", kata Lingga dengan wajah serius. Mendengar kalimat tersebut, mendadak Galuh ngeblank.
"Maksudnya suami istri beneran?",tanya Galuh dengan lugunya.
"Masa ngga tahu sih? Ya suami istri biasanya gimana? Aku juga pengen kita punya anak, yang banyak ya. Kalo perlu kembar tapi lebih dari dua pasang!", kata Lingga lagi dengan raut wajah seperti seseorang yang serius.
Sebisa mungkin Lingga menahan tawanya. Wajah Galuh benar-benar pias karena ucapannya tadi.
"Atau...kita pindah ke apartemen ku? Gimana jiga, kita butuh privasi. Kalau tidak begitu, bagaimana bisa kita saling mendekatkan diri satu sama lain? Ya kan?"
Galuh menghela nafasnya pelan.
"Tapi Abang liat sendiri kondisi ibu kan? Tadi Abang juga dengar kalau Ibu ngga mau aku tinggal?"
"Ya udah, makanya aku tinggal sama kamu aja. Gimana?"
Galuh nampak berpikir sebentar lalu ia menoleh pada suaminya.
__ADS_1
"Kalo Abang ikut aku, mas Burhan gimana? Dia tinggal sama Abang kan?", tanya Galuh. Lingga mencebik kesal.
"Kenapa sih malah mikirin Burhan?"
"Ga gitu bang. Rumah ku kan kamarnya ngga banyak."
"Ya dia suruh di apartemen ku lah. Ngga usah pusing!". Galuh pun diam. Membenarkan ucapan suaminya yang tak perlu pusing memikirkan Burhan.
Suasana kembali hening hingga tak terasa mobil mercy milik Lingga memasuki sebuah gerbang rumah mewah. Ada beberapa mobil terparkir di pinggir jalan yang tak terlalu jauh dari rumah mewah milik Arya Saputra.
Mobil mercy milik Lingga sudah pasti memiliki tempat parkir tersendiri. Dari luar, sudah terlihat ramai orang yang sedang berdiri dengan beberapa kelompok. Saat Lingga akan membuka pintu, Galuh menahannya. Kedua pasang mata itu mengisyaratkan bahwa ada rasa cemas yang di rasakan. Lingga mengurungkan tangan nya membuka pintu mobil. Dia duduk menghadap istrinya yang tampak gugup.
"Ada apa?", Lingga mengusap kepala Galuh. Lalu berhenti di pipi kanan nya. Galuh pun menangkap jemari kekar itu dengan pelan.
"Bang, lihatlah mereka sangat berkelas. Ini untuk pertama kalinya aku datang ke pesta seperti ini. Kamu cuma bilang makan malam, tapi ini apa?", tanya Galuh masih sambil melihat-lihat sekitar dari dalam mobil.
"Buat Abang, kamu lebih berkelas. Kamu rapi, pakaian mu tertutup. Memang berkelas itu seperti apa?"
"Kamu ngerasa kan telapak tangan aku basah?", tanya Galuh pada suaminya.
Lingga mengambil tisu yang ada di hadapannya. Ia mengelap telapak tangan istrinya dengan tisu. Perbuatan kecil Lingga cukup menyentuh perasaan Galuh. Benar kah akan hadir rasa cinta di dalam hati keduanya???
"Lihat Abang?!", Lingga memegang bahu kecil Galuh hingga mereka berhadapan.
"Selama ada di dalam sana, siapa pun nanti yang merendahkan mu termasuk papa ku, aku harap kamu bisa menghadapinya. Jangan cengeng, meski aku tidak akan pernah jauh dari kamu selama di dalam sana. Mengerti???!"
Galuh mengangguk paham.
"Tapi, dari cerita novel yang sering aku baca bang. Biasanya akan ada tokoh antagonis yang berbuat jahat. Entah kamu yang tiba-tiba di panggil orang tua mu, atau apa pun itu sampai jadi alasan meninggalkan ku di dalam pesta. Aku ngg...."
"Kamu kebanyakan baca novel. Tidak semua seperti itu! Abang akan selalu bersama kamu. Kalau perlu, ke kamar mandi pun kamu ikut Abang." Galuh mendengus kesal. Sedang Lingga terkekeh pelan, mengerjai mood istrinya memang menjadi favoritnya sekarang.
"Kita turun! Oke?"
Galuh pun mengangguk pelan, membiarkan Lingga turun dari mobil. Galuh bisa melihat mata-mata menatap suaminya kagum saat dia turun dari mobil. Tapi terlihat juga penasaran di wajah mereka, kenapa Lingga membuka pintu samping.
Lingga menggandeng tangan Galuh dengan erat saat keduanya meninggalkan mobil menuju ke dalam rumah mewah milik keluarga Arya.
Semua mata tertuju pada sepasang suami istri itu. Meski sedikit risih, tapi Galuh membiarkan suaminya menggamit pinggangnya. Bahkan terkesan sangat posesif bagi siapapun yang melihatnya.
Galuh menoleh sekaligus mendongak menatap wajah suaminya yang memang cukup tinggi di banding dirinya.
"Bang!", panggil Galuh lirih saat keduanya memasuki rumah dengan tatapan orang-orang yang tak bisa di artikan.
Dengan sedikit menunduk, bahkan tampak sedang mencium tengkuk sang istri jika orang lain lihat, Lingga membisikkan kata-kata yang cukup menguatkannya.
"Tenang lah, kamu Nyonya Hans Arlingga. Kamu kehormatan ku, siapapun yang menghina mu, artinya menghina ku juga."
Galuh menatap mata elang suaminya, ia mempercayakan kepada suaminya bahwa semua akan baik-baik saja.
Lingga merengkuh bahu mungil itu lalu mengusapnya pelan sambil tersenyum. Galuh pun membalas senyuman suaminya. Setelah itu, keduanya pun berjalan saling menggenggam tangan menuju ke meja di mana orang tuanya berada.
"Nah, itu dia yang kita tunggu dari tadi!", kata Arya pada rekannya. Tapi senyumnya luntur saat melihat gadis yang ada di gandengan tangan putra nya.
Ingin sekali Arya murka pada mereka, tapi ia harus menjaga kewarasannya di depan keluarga besar dan koleganya.
"Lingga!", Gita memanggil nama putra bungsu nya yang datang bersama menantunya.
"Mama!", sapa Lingga. Galuh menyalami punggung tangan Gita dengan takzim.
"Kamu cantik dan imut sekali Galuh!", Gita mengusap pipi Galuh. Gadis itu pun tersipu.
"Makasih tan..."
"Mama, panggil mama juga seperti Lingga. Oke?", kata Gita. Galuh pun mengangguk pelan.
"Iya , ma-ma!", ucap Galuh tersendat. Gita tersenyum ramah. Tapi berbeda dengan Arya yang tersulut emosi melihat istri nya justru menyambut kedatangan anak dan menantunya.
Shiena baru saja keluar dari toilet. Wajahnya sumringah melihat calon tunangannya sudah berada di sana. Tanpa dia tahu, ada gadis berjilbab yang ada di samping Lingga.
"Ga!", panggil Shiena lalu sedikit berjalan lebih cepat menghampiri lelaki tampan itu. Dia benar-benar fokus pada Lingga seolah tak menyadari orang lain lagi di antara mereka.
"Ga, kamu baru datang?", tanya Shiena riang. Gadis tinggi semampai dengan wajah blesteran cantik tentunya mencoba cipika-cipiki dengan Lingga. Tapi entah kenapa dengan reflek Galuh menarik suamimu. Jadi, Shiena gagal mencium Lingga.
Lingga menahan senyumnya, ia yakin istri nya sedang cemburu. So... perlahan cinta itu pasti akan datang.
Gadis indo itu kecewa dan ingin marah pada seseorang yang ternyata ada di samping Lingga.
"Kamu siapa ?", tanya Shiena pada Galuh. Gita pun membiarkan Galuh memperkenalkan dirinya pada Shiena.
"Galuh. Nyonya Hans Arlingga!", Galuh mengulurkan tangannya pada Shiena.
Shiena hanya menatap jemari lentik milik Galuh yang di sodorkan padanya.
"Apa? Nyonya Arlingga? Hallo, please jangan mimpi!", kata Shiena.
"Tapi sayangnya ini kenyataan nona!", kata Galuh menegaskan lagi. Dalam hati, Lingga bersorak gembira.
"Tuan Arya, maksudnya apa ini? Anda bilang ingin menjodohkan Arlingga dengan Shiena bukan? Tapi ini apa? Putra anda justru membawa seorang gadis yang mengaku istrinya di acara penting kita?", tanya Malik, papa Shiena.
Arya bingung ingin menjawab apa. Bahkan dia tak punya waktu untuk memarahi anak bungsunya.
"Maksudnya apa ini Ga? Dia ini siapa?", tanya Shiena lagi.
"Seperti yang kamu dengar tadi, dia Galuh, istri ku. Istri sah ku!", jawab Lingga sambil menatap papanya yang sudah di pastikan marah luar biasa.
"Apa-apaan ini Arlingga???", teriak Malik yang merasa dirinya sudah sangat di permalukan karena putri nya gagal bertunangan dengan Lingga.
"Maaf om, tapi saya benar-benar sudah menikah bahkan sejak sebelum saya mengenal Shiena di Kanada! Jadi, hentikan rencana konyol ini. Bagaimana mungkin saya bertunangan dengan gadis lain sedang saya laki-laki beristri. Saya mohon maaf Om!"
"Apa???", banyak yang bertanya dengan satu kata itu.
"Kamu...kamu bohong kan Ga?", tanya Shiena lirih. Dia malu sekaligus sakit hati karena Lingga menolak pertunangan mereka berdua.
__ADS_1
******
To be continue 🤗✌️✌️✌️✌️🤭