Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 164


__ADS_3

"Yang! Sarapan dulu yuk, udah lewat jam delapan lho!", Lingga mengguncang sedikit bahu istrinya.


"Heum? Udah jam delapan? Astaghfirullah, Ganesh belom mandi bang!", kata Galuh langsung terbangun.


"Hei, pelan-pelan Yang!", cegah Lingga saat kaki Galuh akan menuruni ranjang.


"Tapi Ganesh....?!", tatapan Galuh beralih ke stroller di sampingnya. Ganesh sedang menggerakkan tangannya sambil sesekali tersenyum. Bajunya sudah ganti dan aroma minyak telon menguar di kamar mereka.


"Ya Allah, Ganesh udah mandi!", Galuh mendekati stroller Ganesh. Lalu perempuan itu menoleh pada suaminya.


"Siapa yang mandiin Ganesh? Kok Abang ngga bangunin aku?"


"Abang dong Yang!", jawab Lingga sambil tersenyum.


"Masa? Ngga percaya! Emang bisa?"


"Bisa dong, tuh buktinya udah ganteng kan anak kita."


Galuh yang awalnya tersenyum lagi-lagi melunturkan senyumnya.


"Hei? Kenapa Yang? Insyaallah Ganesh bersih kok mandinya. Abang pakai sampo sama sabun juga. Tuh, wangi kan?"


Galuh menatap suaminya dengan sendu.


"Kenapa heum?", Lingga turut berjongkok seperti Galuh.


"Ngga guna banget jadi ibu ya bang! Masa anaknya bangun aku ngga denger. Malah Abang yang mandiin Ganesh, padahal itu tugas aku!"


"Sssstttt...jangan sembarangan kalo ngomong Yang! Abang tahu semalam kamu tuh capek banget jagain Ganesh yang rewel. Apalagi Ganesh ngga mau sama Abang. Jadi kamu begadang sendirian. Wajar kalo tidur nya pules Yang. Dan soal Abang yang mandiin Ganesh, jangan di permasalahkan."


"Tapi itu kan tugas aku bang....!"


"Iya, tapi kan situasinya berbeda Yang. Jangan mendikte kalau Abang ngga boleh mandiin anak Abang sendiri dong! Kita bikinnya aja bareng-bareng, rawatnya juga harus bareng-bareng. Ya ngga?", Lingga menaik turunkan alisnya meledek Galuh.


Mendengar ucapan suaminya yang menjurus, Galuh tidak tahan untuk tidak mencubit pinggang suaminya.


"Awshhh...sakit yang!", rengek Lingga.


"Makanya kalo ngomong tuh di ayak Bang! Kebiasaan!"


"Pasir kali...di ayak!", sahut Lingga tak mau kalah. Lalu keduanya pun saling bercanda membuat Ganesh yang ada di stroller ikut riang meskipun tidak tahu ada bahan candaan apa di hadapannya yang di lakukan oleh kedua orang tuanya.


.


.


.


Lingga membawa Ganesh ke halaman belakang sambil menunggu Galuh yang sarapan. Karena sarapan sendirian, Galuh memaksa Bik Mumun untuk makan bersamanya.


"Bik Mumun, aku makan banyak tapi kok ngga gemuk-gemuk ya?",tanya Galuh.


"Kan makannya buat dua orang Non. Lagian malah bagus atuh kalo tetap langsing mah. Ga perlu nunggu nyapih den Ganesh buat diet hehehe..."


"Iya sih, walaupun perutku kaya karet melar begini!"


"Ngga apa-apa non. Yang penting non Galuh sama den Ganesh tetep sehat. Soal penampilan nanti akan ada masa nya lagi kok buat dandan. Apalagi non Galuh mah emang udah cantik dari sananya."


"Bisa ae bik Mumun mahhh..."


"Atuh bisa dong! Lagian mah, den Lingga juga tipe laki-laki setia kan? Keliatan tuh...setiap harinya kaya gimana sama non!"


Galuh menoleh ke arah suaminya yang sedang mengajak Ganesh berbicara.


"Huum, mudah-mudahan ya Bik."


"Jangan berpikir yang negatif Non. Kalo kata mang Salim mah, sugesti negatif bikin real nya negatif juga."


"Oh ya? Artinya apa tuh?", Galuh menopang dagunya dengan tangan di meja.

__ADS_1


"Hehehe... bahasanya mang Salim ketinggian buat bibik ya non? Hehehe?!"


Galuh tahu yang Mumun maksud, tapi cuma ingin mengobrol saja dengan art satu itu yang tak pernah keberatan makan di meja bersama nya.


"Ya ngga lah Bik. Jadi maksudnya apa?", tanya Galuh.


"Ya... pikiran yang jelek-jelek bisa jadi bikin kenyataannya seperti apa yang di pikirin."


Galuh mengangguk pelan.


"Ngga mau ah...aku mau mikir yang baik-baik aja deh!", sahut Galuh sambil meneguk air putih lagi.


"Nah gitu dong...mau kaya apapun non Galuh, bibik mah yakin kalo den Lingga setia sama Non!"


"Aamiin!", kata Galuh lalu ia mengangkat bekas makanan nya di bawa ke wastafel.


"Bibik belom selesai non, tinggal aja nanti bibik yang cuci!", kata Mumun.


"Siap boss!!!", teriak Galuh yang terkikik lalu menghampiri anak dan suaminya.


"Bang!", Galuh menepuk bahu suaminya yang seolah membeku.


Mata Galuh beralih pada sosok mertuanya yang sedang menghubungi seseorang. Arya berdiri tak jauh dari mereka berdua, bertiga dengan Ganesh.


Sedang dua ibu nya ada di saung tengah kebun.


Galuh dan Lingga sempat mendengar percakapan antara Arya dengan seseorang yang sudah bisa mereka tebak.


Papanya sedang menelpon Puja di perusahaan mereka. Tapi gumaman Arya yang masih cukup terdengar jelas di telinga sepasang suami istri itu membuat keduanya terkejut.


Arya memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu berniat menuju ke saung lagi. Tapi saat membalik badan ,ia menyadari ada anak, menantu juga cucunya berada tak jauh dari tempat ia berdiri.


Akhirnya, Arya memutuskan untuk menghampiri keluarga kecil itu.


"Hei, cucu Opa?", Arya mengubah mimik wajah tegang nya menjadi tersenyum saat menowel pipi Ganesh yang chubby. Bayi itu pun sepertinya tak keberatan. Bahkan senang saat Opa nya menggoda nya.


"Pa! Apa yang sebenarnya terjadi?", tanya Lingga. Dia cukup mendengar saat perusahaan milik Eyangnya di sebut oleh Arya. Dan yang paling mencengangkan adalah...papanya meminta Puja untuk....


"Galuh, Lingga!", Arya menarik nafas dalam-dalam. Dadanya masih terasa begitu sesak.


Ia teringat kematian ibunya saat dia masih remaja dulu dan setelah itu ia juga baru saja mendengar kronologi meninggalnya Pras, sahabat masa remajanya yang mengajarkan banyak hal padanya.


Setelah puas menarik nafas, Arya pun memulai cerita nya sama seperti apa yang Sekar katakan.


Galuh terduduk di bangku teras belakang rumahnya. Rumah yang dulu ia tinggali bersama bapak ibunya namun sekarang sudah di renovasi berkali-kali lipat lebih besar dan mewah dari sebelumnya.


"Om Yudis? Bagaimana bisa papa menuduh om Yudis yang menyebabkan bapak meninggal? Kalau soal Mbah Putri, ada saksi nya ... almarhum bapak. Tapi saat meninggalnya bapak .... tidak adakah bukti atau saksi mata?", tanya Lingga.


Galuh masih shock mendengar cerita mendiang bapaknya yang sangat ia rindukan selama ini.


"Papa ingat, tahun itu...di mana Pras meninggal, perusahaan Pandu bekerja sama dengan pabrik Pras bekerja. Karena papa sempat menjadi salah satu investor, tapi papa tidak datang ke kampung ini."


Galuh menghela nafas panjang. Dia memang tidak menangis, tapi hati nya yang sedikit nyeri. Kematian bapaknya yang tak lazim ternyata....


"Dan...om Yudis?", tanya Lingga.


"Yudis investor terbesar di pabrik itu. Makanya dia ada kunjungan ke pabrik itu."


"Apa alasan om Yudis mencelakai almarhum bapak? Apa karena bapak saksi mata meninggal nya Mbah Putri?", tanya Lingga.


"Papa rasa begitu! Tapi papa yakin, itu alasannya. Dan....jika papa ingin menjebloskan nya ke penjara...papa rasa...papa tidak punya cukup bukti. Apalagi, saksi utamanya juga sudah menjadi korban kebejatan Yudis."


Arya menunduk meremas kedua tangannya. Dia masih sangat merasa bersalah pada menantu dan besannya.


Andai...andai dia tahu dari awal. Andai dia tahu jika mereka sudah kehilangan Prastian, Arya pasti akan pasang badan melindungi mereka. Tapi kenyataannya????


Bahkan dirinya juga turut andil dalam setiap rasa sakit dan masa sulit yang harus Sekar dan Galuh lalui. Dirinya begitu jahat membuat Galuh dan Sekar terlunta-lunta karena sudah memisahkan nya dengan Lingga.


Begitu juga dengan Syam! Seandainya dia tahu dari awal kesalahan Glen yang Bia*** itu, setidaknya Syam akan lahir dari keluarga utuh dan sempurna layaknya keluarga lain. Tidak seperti saat dimana ia lahir tapi tak diinginkan....

__ADS_1


"Tapi...tadi Lingga dengar papa telpon kak Puja...?"


"Iya! Mungkin dengan seperti itu, Yudis akan merasakan penderitaan yang harus kalian rasakan! Meski sampai kapan pun... tidak akan pernah membayar setiap kesulitan yang sudah di lalui kalian."


"Om Yudis itu... saudara papa?", tanya Galuh.


"Iya! Ibu papa adalah istri kedua Pandu. Sedang ibunya Yudis istri pertamanya. Tapi ... meski seperti itu, nyatanya ibu ku tetap di perlakukan seperti art pada umumnya. Dia tak di anggap seperti istri."


Arya mengusap pipi Ganesh yang masih setia senyum-senyum.


"Papa sangat jahat sama kamu Luh!", kata Arya tak berani menatap menantunya.


"Pa.... sudah sering Galuh bilang, papa berhenti minta maaf seperti itu Pa!", kata Galuh.


"Iya, papa tahu kamu memang pemaaf seperti bapakmu yang juga selalu mengajarkan ku. Tapi karena keadaan, aku berubah menjadi..."


"Cukup Pa!", Galuh menghentikan ucapan papa mertuanya.


"Pa...apa papa menyita semua aset perusahaan Eyang Kakung?", tanya Lingga. Kakeknya masih hidup, dia tinggal bersama Yudis dan keluarganya.


"Iya!", jawab Arya.


"Tapi Pa, Eyang sudah sangat sepuh. Bagaimana beliau...!"


"Papa memiskinkan Yudis agar di sadar dirinya bukanlah siapa-siapa tanpa kekuasaan yang tidak bisa di bawa mati."


"Tapi bagaimana dengan Eyang?", tanya Lingga.


"Bahkan kamu masih memanggil nya Eyang, Ga! Dia saja tidak pernah peduli pada mu!"


"Pa...!?"


"Jika Yudis tak bisa mengurusi Eyang mu, papa akan membawa nya ke panti jompo. Akan ada perawat yang mengurus nya di sana."


"Tapi kasian Eyang, Pa....!"


"Lebih kasian mana jika dia harus terlunta-lunta karena Yudis tak sanggup membiayai nya?", tanya Arya dengan pelan tapi penuh penekanan.


"Papa rasa kamu tidak perlu tahu seperti apa rasanya jadi papa di saat muda dulu!", Arya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Pa!", Galuh mendekati papa mertuanya.


"Apa Eyang nya Abang pernah menyakiti papa?",tanya Galuh.


"Bukan hanya pernah Luh!", sahut Arya.


"Pa, hari di mana bapak di temukan meninggal, bapak sempat pesan sama Galuh!", kata Galuh. Arya dan Lingga menoleh bersamaan ke arah Galuh.


"Jangan simpan dendam dan sakit hati. Mungkin memaafkan memang sulit pa. Memaafkan juga tak membuat kembali seperti semula. Tapi... urusan dosa dan kesalahan orang-orang yang menyakiti kita, biarkan jadi urusan yang maha kuasa. Karena Dia lah sebaik-baik nya hakim yang maha adil."


"Kita tidak akan pernah puas jika belum melihat mereka merasakan apa yang kita rasakan!"


Arya mencelos.


"Pa...apa papa yakin, papa benar-benar ingin membuat Om Yudis dan keluarganya menderita setelah ini?"


"Ya!", jawab papa.


"Papa belum bisa memaafkan mereka?", tanya Galuh.


"Papa tidak sebaik kamu atau bapak mu Galuh! Apa yang sudah papa putuskan, tidak akan berubah!", kata Arya lalu berdiri dan masuk kedalam rumah meninggalkan keluarga kecil itu.


Lingga mengusap bahu istrinya pelan.


"Sudah yang, papa tahu keputusan apa yang harus papa ambil. Dia tahu apa konsekuensinya. Tidak semua tindakan harus berdasarkan hati Yang. Seperti yang papa bilang, hati papa tidak seperti hati kamu."


*******


21.22

__ADS_1


Haturnuhun 🙏🙏🙏🙏


Musim kemarau tapi dingin euy....sama ngga?????


__ADS_2