
Lingga di temani Arya dan Salim ke rumah pak haji Udin. Bukan tidak berani, hanya saja Lingga takut emosi. Belum tentu Pak Haji Udin tahu menahu atas perbuatan anaknya. Jadi... apakah pak haji harus bertanggung jawab???
Lingga menyetir mobilnya yang di tumpangi Arya dan juga Salim. Jika biasanya Salim yang menyetiri para majikannya, kali ini justru Lingga yang mengendarai mobil tersebut.
Statusnya saat ini adalah mertua Lingga. Dan tampaknya, Lingga tak membedakan status antara Arya dan juga dirinya meski hanya mertua tiri.
Sekitar dua puluh menit, mobil yang mereka kendarai sudah tiba di halaman rumah pak haji. Benar seperti yang anak pak haji katakan, rumah pak haji Udin sedang di renovasi. Hanya saja, rumah samping nya sepertinya masih bisa di huni.
Ketiganya turun dari mobil. Lingga menatap sekilas rumah pak haji Udin yang sepi. Tapi di rumah yang sedang di renovasi ada beberapa pekerja.
Mereka menoleh melihat keberadaan Lingga dan dua orang lelaki dewasa. Mereka mengenal Lingga sebagai orang yang cukup berada di kampung tersebut. Selain karya kaya, Lingga dan keluarganya di kenal baik dan rendah hati.
"Assalamualaikum!", Lingga memberi salam pada beberapa orang pekerja.
"Walaikumsalam, Aden!", balas salam mereka pada Lingga.
"Punten mang, pak haji aya di imah teu?",tanya Lingga pada salah satunya.
"Hampura den, pak haji...lagi ke kantor polisi!", jawabnya. Lingga tak terkejut, tapi dia juga cukup kecewa karena pak haji tidak ada di saat ia akan menyelesaikan urusannya.
Arya dan Salim tak ikut campur obrolan antara Lingga dan pekerja rumah pak haji Udin.
"Sudah lama beliau pergi?", tanya Lingga lagi.
"Sejak jam sembilan pagi Den! Maaf den, kalau boleh saya tahu ada perlu apa ya? Nanti insyaallah saya sampaikan kepada beliau!", kata pekerja tersebut yang tampaknya salah seorang mandor karena cara berpakaiannya lebih rapi.
"Eum... mungkin lain kali saja mang! Insyaallah nanti sore kami kembali lagi!", ucap Lingga pada akhirnya. Mana mungkin ia mau menunggu pak haji yang tidak jelas kapan kembali. Masih banyak hal yang bisa Lingga lakukan dari pada menunggu yang tak pasti.
"Baiklah Den, nanti saya sampaikan jika den Lingga kemari!", kata mandor teresebut.
Tapi di luar perkiraan mereka, ternyata Pak Haji Udin masuk ke pekarangannya menggunakan sepeda motor maticnya. Dengan sedikit tergesa-gesa ia menghampiri Lingga.
"Assalamualaikum!", sapa pak Haji.
"Walaikumsalam!", jawab mereka semua. Lingga pun menoleh pada sosok pak haji.
"Nak Lingga? Mari masuk! Maaf, sudah lama menunggu ya?", kata Pak haji tidak enak. Apalagi ia melihat ekspresi wajah Arya yang datar tanpa senyuman sama sekali.
Lingga menoleh pada kedua papanya dan juga mertuanya. Arya mengangguk pelan, ia menyetujui usulan pak haji agar membicarakan masalah mereka di dalam agar tidak di dengar oleh orang luar, para pekerja misalnya.
"Ya pak Haji!", sahut Lingga. Setelahnya, ketiga lelaki tampan beda usia tersebut mengekor di belakang pak Haji memasuki rumah yang tidak di renovasi.
"Silahkan duduk Nak Lingga!", kata Pak haji mempersilahkan Lingga dan yang lain duduk.
__ADS_1
"Ternyata pak haji. Tapi mohon maaf, terus terang saya di sini ingin menyelesaikan permasalahan yang terjadi..."
"Saya benar-benar minta maaf nak Lingga! Saya akui saya salah! Saya tidak becus mendidik anak-anak saya!", kata pak haji tertunduk lesu. Istri pak haji meninggal beberapa tahun yang lalu, lelaki sepuh itu hanya tinggal sendirian di rumah itu.
"Kenapa pak haji mengatakan pada saya kalau tidak ada masalah atau sengketa tanah yang akan pak haji jual? Kenyataannya anak pak haji ada yang tidak terima jika pak haji akan menjualnya pada saya?", cerca Lingga.
"Iya, saya akui saya salah. Saya pikir anak saya tidak akan keberatan. Toh pada akhirnya nanti, rumah ini akan menjadi miliknya kelak setelah saya tidak ada!", kata pak haji Udin lesu.
Entah kenapa tiba-tiba hati Lingga merasa iba pada sosok renta di hadapannya. Di usia tuanya, justru ia di hadapkan dengan situasi yang tak menyenangkan seperti ini.
"Sebenarnya saya tadi sudah ke rumah nak Lingga. Tapi ternyata kata nak Galuh, nak Lingga kemari. Jadi, dari kantor polisi saya langsung buru-buru pulang."
Lingga tak menyahut.
"Nak Lingga!", tiba-tiba pak haji Udin bersimpuh di hadapan Lingga. Lingga di buat terkejut dengan sikap pak haji.
"Astaghfirullah, pak haji apa-apaan seperti ini?", Lingga jadi tak enak sendiri.
"Saya minta maaf atas nama anak saya. Saya akan mengganti kerugian nak Lingga perihal pemecahan kaca mobil. Begitu juga dengan biaya perawatan nak Lingga dan nak Galuh."
"Apa pak haji pikir semudah itu?", tanya Lingga yang mengangkat tubuh renta itu agar tak bersimpuh di hadapannya.
"Saya tahu nak, apa yang anak saya lakukan sangat lah fatal. Tapi semua ini, karena kesalahan saya!", kata pak haji penuh penyesalan.
"Iya nak Lingga. Tidak apa-apa!", kata pak haji.
"Tapi mohon maaf, soal laporan ke kepolisian tidak bisa saya cabut", kata Lingga.
"Iya tidak apa-apa nak Lingga, biar ini jadi pembelajaran untuk anak saya! Agar dia merasa jera, tidak akan mengulangi lagi kesalahannya!",pak haji nampak pasrah.
"Jadi masalah sudah clear kan?", tanya Arya yang dari tadi diam.
"Sudah pak!", jawab pak haji pada Arya.
"Kalau begitu, kami pamit pak Haji. Maafkan saya jika ada ucapan atau tindakan saya yang membuat pak haji kurang berkenan!", kata Lingga dengan nada sesopan mungkin.
"Tidak apa-apa nak Lingga. Sungguh, seharusnya saya yang minta maaf kepada keluarga nak Lingga. Dan insyaallah kaca mobil nak Lingga akan segera saya perbaiki. Nanti saya kirim orang bengkel ke rumah nak Lingga."
"Terimakasih sebelumnya pak haji. Assalamualaikum!", pamit Lingga.
Mereka bertiga pamit dari rumah pak haji. Lingga jadi tak tega melihat sosok yang sudah sepuh itu tinggal sendirian dan bermasalah dengan anaknya. Seharusnya di usia senjanya, dia sedang menikmati masa tuanya dengan hari-hari yang penuh kebahagiaan.
Tapi, namanya juga hidup! Permasalahan pasti akan selalu ada!
__ADS_1
.
.
.
"Udah ngga ngebet kan beli tanah di situ?", tanya Arya yang duduk di bangku belakang. Sedang Salim duduk di samping Lingga yang mengemudi.
"Lebih baik enggak kan pa?", Lingga balik bertanya.
"Papa harap begitu. Menurut kamu bagaimana Lim?", tanya Arya pada Salim yang beberapa kali membalas chat entah dari siapa.
"Saya rasa, memang sebaiknya Abang tak perlu mengambil tanah itu. Selain posisinya di bawah kebun Abang, sepertinya tanah di situ terlalu labil. Apalagi jika musim penghujan. Dan...saya rasa, jika tanah tersebut di jadikan tempat tinggal....kurang...nyaman saja untuk ke depannya!", jawab Salim. Lingga menautkan kedua alisnya.
"Dari mana Abah tahu?", tanya Lingga heran. Salim terkekeh pelan.
"Asal nebak sebenarnya!", sahut Salim asal. Jika Lingga menanggapi jawaban itu sebuah candaan, tidak dengan Arya. Dia yakin, apa yang Salim katakan tidak sembarangan. Lelaki itu paham betul seperti apa Salim yang sudah ikut dengannya bertahun-tahun.
"Ga, tanah di samping kiri itu kan kosong, kenapa tidak buat di situ saja? Intinya kan kalian punya rumah sendiri! Sebenarnya...papa juga sanggup memberikan rumah untuk menantu dan cucu papa!"
"Pa, Lingga juga mau kali ngasih tempat yang bagus yang layak buat istri dan anak Lingga dari jerih payah Lingga sendiri!", sahut Lingga sedikit tersinggung, mungkin!
"Saya pun sebenarnya sama, pengen punya rumah sendiri dengan ibu mertua kamu Bang! Apalagi, rumah itu peninggalan mendiang bapaknya kakak. Abah tidak berhak sama sekali. Hanya saja...bapak tidak ingin membuat kakak dan ibu mu salah paham."
Lingga memahami ucapan Salim. Bagaimana pun juga, mereka sama-sama seorang lelaki, seorang suami, seorang ayah. Ya.... walaupun Salim belum benar-benar merasakan seperti apa rasanya punya anak kandung. Tapi setidaknya dia sudah memiliki Galuh dan Syam sebagai anak sambungnya. Apalagi... keduanya sama-sama tumbuh menjadi sosok yang baik hati.
"Kalian bicarakan nanti dengan istri-istri kalian! Jangan biarkan masalah semakin melebar ke mana-mana. Bukan papa mau sok menasehati kamu Ga! Tapi...papa belajar dari pengalaman. Semua keputusan harus di pikirkan secara matang. Jangan sampai nantinya hanya akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari! Seperti... kesalahan-kesalahan papa selama bertahun-tahun. Terutama pada kalian, anak dan menantu papa!", ujar Arya.
"Iya Pa!", sahut Lingga singkat. Dia tak tahu harus menjawab apa karena itu bukan sebuah pertanyaan.
Salim pun tak ikut menyahuti obrolan antara bapak dan anak tersebut. Tak terasa, mobil mereka sudah ada di halaman rumah Galuh lagi.
*******
Setelah beberapa hari di sibukkan dengan segala ***** bengek... akhirnya up lagi. Pengennya mah up tiap hari gitu, tapi apalah daya. Ternyata kesibukannya real life tidak bisa di ajak kompromi dengan dunia halu.
Dampaknya....ya begini lah.... pokoknya. Insyaallah di usahakan untuk merampungkan tulisan receh ini. Berharap ada yang menunggu ku 😭😭😭😭 tapi ya sudahlah....
Terimakasih yang udah mampir di mari. Like-nya, komentar nya, vote nya, hadiahnya pokoknya semua-mua deh.... makasih banyak-banyak 🙏🙏🙏🙏🙏
6/9/23
22.01
__ADS_1