
Hari sudah menjelang sore. Hanya tersisa rintik hujan di hari yang sudah hampir petang itu.
Satu persatu anggota keluarga yang sedang berada di kediaman Lingga pun keluar dari kamarnya.
"Abang!", panggil Syam.
"Kenapa Dek?"
"Udah ngga hujan, solat magrib di mushola aja yuk! Aku mau jadi Muazin!", kata Syam.
"Eum... boleh, ide yang bagus!", kata Lingga merangkul bahu adik iparnya itu.
Arya juga akhirnya ikut turun setelah di bujuk oleh Gita. Sejak sang suami ijin ke kamar mandi, Gita hanya melihat suaminya yang semakin diam tapi tak terlihat emosi. Hanya wajahnya terkesan sangat datar.
"Ayo bang?!", ajak Syam.
"Iya, sabar atuh! Kan belum pamit sama Dede utun!", kata Lingga. Ia menghampiri istrinya lalu mengusap dan mengecup sekilas perut buncit Galuh.
"Ckk...cuma ke mushola bang, bukan mau perang!", sindir Syam.
"Eh, siapa bilang ngga mau perang? Justru ini perang berat lho dek!", kata Galuh.
''Kok gitu kak?", tanya Syam pada Galuh.
"Iya lah. Jalan ke masjid untuk melaksanakan ibadah itu tiap langkah nya di hitung ibadah. Khususnya kaum laki-laki. Bukan berarti kaum perempuan tidak ya,Dek! Tapi bagi perempuan sebaiknya solat di rumah, tapi juga....bukan berarti perempuan ngga boleh solat di sana. Mungkin beda kasusnya kalau solat tarawih atau solat Ied gitu yang memang harus jama'ah!"
(Mohon maaf kalo othor salah 🙏🙏🙏)
"Oh gitu!", kata Syam mengangguk. Bahasa sederhana Galuh mudah di pahami oleh Syam. Lalu tiba-tiba saja Syam menoleh pada kakak Lingga dan papanya.
"Om Puja sama tuan Arya mau ikut solat jamaah juga kan? Sayang pahalanya lho! Kalo sendiri cuma satu derajat, nah kalo jamaah dua puluh tujuh derajat. Sayang kan? Ayo! Bareng Syam sama Abang!", ajak Syam.
Semua mata tertuju pada dua laki-laki berbeda usia itu.
Galuh sedikit cemas saat adiknya terlalu berani berkata demikian pada papa mertuanya. Galuh hanya takut jika Arya akan mengatakan hal-hal kasar yang akan membuat mental Syam buruk.
"Ak-aku ikut deh!", kata Puja terbata-bata. Vanes menggaruk pelipisnya dengan jari. Dia juga menyadari jika ia sudah lama tak beribadah.
"Tuan Arya?", tanya Syam. Galuh menarik lengan Syam agar diam.
"Udah dek, ngga boleh memaksa begitu!", Galuh mengingatkan adiknya. Tapi tidak dengan Lingga, dia membiarkan sang adik ipar beraksi kembali.
Jika Syam saja bisa memaksa sang papa yang keras kepala luar biasa untuk masuk ke dalam rumah, sepertinya juga kemungkinan besar bisa mengajak sang papa ke mushola kampung.
Arya berjalan mendekati Syam. Jika yang lain ketar ketir khawatir Arya akan mengeluarkan sumpah serapah nya pada Syam, tidak dengan Syam.
Dia justru tersenyum dan mengulurkan tangannya ke depan Arya. Tanpa di duga, Arya membalas senyuman Syam dan meraih tangan mungil itu.
Semua tercengang di buatnya. Seorang Arya bisa luluh oleh Syam. Anak laki-laki yang bukan siapa-siapa untuknya.
Keduanya bergandengan tangan keluar pintu ruang tamu. Syam mengambil payung yang cukup besar hingga muat untuk keduanya yang berpostur tubuh sangat berbeda.
__ADS_1
"Syam pegang pinggang papa! Biar ngga kepeleset!", kata Arya.
Lingga dan Puja meneguk salivanya kasar dan saling berpandangan. Mereka cukup terkejut dengan ucapan Arya. Arya menyebut dirinya 'papa' pada Syam. Dan herannya, Syam pun mengangguk lalu melakukan seperti yang Arya perintahkan.
Lalu seperti halnya dengan Syam dan Arya yang memakai payung berdua, Lingga dan Puja pun sama. Minus pegangan pinggang tapi ya 🤭.
"Kak, apa papa lagi kangen sama Arsyam ya?", tanya Lingga pada Puja.
"Mungkin! Kalo pun Arsyam masih hidup, sekarang umurnya sudah segede Galuh."
"Heum, ngga nyangka Syam bisa meluluhkan papa ya Kak!", kata Lingga.
"Iya. Kakak juga ngga nyangka! Dan...!", Puja menghentikan ucapannya. Lingga pun menoleh. Karena Lingga memang lebih tinggi dari Puja, dia yang memegang payungnya.
"Dan apa?"
"Kakak sebenarnya malu. Entah kapan kakak terakhir...solat!", kata Puja malu.
"Ngga apa-apa kak. Kakak bisa mulai dari sekarang. Aku pun dulu seperti itu. Tapi...Galuh selalu membimbing ku. Dan Alhamdulillah...meski belum jadi orang alim, setidaknya aku berusaha melakukan kewajiban ku sebagai umat muslim."
Puja terharu sang adik mendukungnya. Hanya dalam hitungan tak lebih dari empat puluh delapan jam, kehidupannya seolah terbalik. Dia yang selama ini sangat jauh dari Tuhannya, langsung terketuk hatinya setelah berada di berinteraksi dengan keluarga adiknya.
"Bismillah saja Kak. Insyaallah kalo memang kak puja ada niat ingin berubah, kakak pasti bisa. Dan setelah itu ... pelan-pelan kakak bisa membimbing kak Vanes dan juga Angel. Karena...kelak kakak yang akan mempertanggungjawabkan atas mereka. Istri dan anak perempuan kak Puja."
Puja meneguk ludahnya kasar. Adiknya memang bukan ustad, tapi baginya kalimat sederhana Lingga cukup mengena di hatinya.
Tak terasa, mereka berempat sudah sampai di mushola kampung. Banyak warga kampung yang sudah berada di sana. Sebagai warga yang baik, Lingga meminta maaf pada RT setempat karena tidak melaporkan kedatangan keluarganya dari kota pada beliau.
Tapi pak RT sepertinya tak mempermasalahkan hal tersebut. Dan Arya yang terbiasa ketus serta arogan juga tak menunjukkan sisi tersebut di depan para warga yang ramah tamah. Terlihat bagaimana mereka begitu menghormati Lingga tanpa takut-takut meskipun terlihat bagaimana timpangnya status sosial mereka.
"Masyaallah pak Arya, anda beruntung sekali memiliki dua putra yang tidak hanya gagah dan tampan seperti pak Arya tapi juga baik sekali."
Lingga yang sudah sering di puji seperti itu hanya tersenyum tipis. Begitu pula dengan Arya. Karena dia pun mengakui jika ketampanan Puja dan Lingga memang mewarisi dirinya. Wajar dong kalau bangga?
"Hebat sekali cara anda mendidik nak Lingga ini pak. Meskipun beliau ini 'berada', tapi tidak sombong. Banyak hal yang sudah beliau lakukan untuk kampung kami ini. Bahkan Alhamdulillah, mushola ini pun di pugar karena bantuan dari nak Lingga hingga sekarang kami nyaman berada di mushola ini", kata pak RT seolah mewakili warganya karena menyebut 'kami' bukan 'saya'.
Arya tersenyum kaku, dia merasa tertampar dengan ucapan pak RT. Jika biasanya dia akan memotong ucapan lawan bicaranya, tidak kali ini.
Dia cukup malu, kenapa? Karena memang didikan nya pada dua putranya tak seperti ini. Dia hanya ingin anak-anak hebat dalam hal bisnis. Tapi kenyataannya? Lingga bisa seperti sekarang bukan karena dirinya, melainkan karena istrinya. Perempuan yang sangat ia hindari, bukan ia benci.
Setelah bercengkrama beberapa saat, waktu isya pun tiba. Lagi, Syam kembali menjadi Muazin untuk azan isya.
Setelah solat isya, mereka berempat kembali pulang.
Jika di mushola kaum Adam solat khusu', termasuk Arya yang bahkan lupa kapan ia solat, tidak di rumah.
Hanya Sekar dan Galuh yang solat. Gita, Vanes dan Angel memilih masuk ke kamar mereka masing-masing. Jujur, mereka merasa malu apalagi sindiran Syam tadi cukup menggelitik hati mereka.
"Assalamualaikum!", kaum adam memasuki rumah milik Lingga.
"Papa langsung ke kamar!", kata Arya mengusap puncak kepala Syam sambil tersenyum.
__ADS_1
Galuh yang baru keluar dari kamarnya sempat tertegun melihat Arya bersikap demikian pada Syam.
Apakah ini mimpi?????
"Kakak juga ke kamar ya Ga!", pamit puja.
"Iya kak! nanti jam delapan turun ya, kita makan malam!", ujar Lingga.
"Heum!", sahut Puja. Ia menyusul papanya naik kelantai dua di mana kamar yang ia huni bersebelahan dengan kamar papanya.
"Syam mau ke kamar juga?", tanya Galuh.
"Ngga. Mau main PS sambil nunggu makan malam!", kata Syam ngeloyor ke ruang tengah di mana ps nya berada.
"Bang!"
"Kenapa? Kangen? Baru di tinggal solat di mushola doang lho!", colek Lingga pada hidung Galuh.
"Ishhh, apaan sih. Itu... papa???"
"Doakan saja, semoga papa bisa berubah!", kata Lingga sambil mengecup singkat bibir istrinya.
"Ih... Abang! Malu kalo di liat orang lain!", Galuh menepuk lengan suaminya.
"Ya udah, ayok di kamar aja!", ajak Lingga.
"Mesum!", kata Galuh ketus.
"Hehehhe masa mesum sama istri sendiri ngga boleh?"
"Tapi liat tempat dong Bang!"
"Ya udah makanya ayok di kamar Yang!", seret Lingga.
"Bener-bener nih calon bapak!", kata Galuh.
"Emang calon bapak nanti kamu di panggil nya emak heheheh!"
"Aku belum setua itu Abang!", Galuh memukul lengan Lingga yang tertawa.
Tanpa mereka sadari, Arya yang tadi hendak turun mengambil minuman melihat keromantisan anak dan menantunya pun urung ke bawah.
Apa aku terlihat begitu jahat di mata mereka selama ini..???? Gumam Arya.
*****
Ada yang nunggu ga???
Kemaren ga aplot 🙏🤭✌️
Insyaallah nanti lanjut bab berikutnya. Makasih yang udah mampir. Maapkeun lamun loba typo yak. Harap maklum 😁😁
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak kalian wookkkeee 👍👍👍
Terimakasih