
Galuh melepaskan tangan Lingga yang ada di bahunya. Gadis itu mendongak menatap suami siri nya itu.
"Menikah resmi? Untuk apa? Kita tidak saling mencintai!",kata Galuh.
"Tidak saling mencintai kamu bilang? Lalu selama ini apa? Kita sama-sama setia dengan pernikahan kita bukan? Apa itu bukan cinta namanya?"
Galuh menggeleng.
"Galuh! Kalo memang kamu belum bisa mencintai ku saat ini, aku akan buat kamu jatuh cinta padaku",kata Lingga dengan penuh percaya diri. Kalimat itu sudah ia rancang sejak sebelum ia menapakkan kaki di depan warung sekaligus rumah Galuh. Dan ya... insiden ban motor kempes pun ulah seorang Lingga sebenarnya.
Jika di luaran sana, sekarang sikap nya begitu dingin. Tapi dia ingin menunjukkan pada Galuh, dirinya yang pertama istri nya kenal. Meski secara usia mungkin sudah tidak cocok. Sayangnya orang berduit mah bebas. Bahkan Lingga masih terlihat seperti delapan tahun lalu saat keduanya menikah.
"Terserah! Kembalikan ponsel ku sekarang!",pinta Galuh pada Lingga dengan menadahkan tangannya.
"Akan ku kembalikan, dengan satu syarat!",kata Lingga.
"Itu ponsel ku. Hal ku. Jangan berharap aku mau bernegosiasi dengan mu hanya karena barang milik ku!", Galuh mendongakkan kepalanya menghadap Lingga.
"Terserah, kalo kamu tak mau mendengarkan syarat ku ya sudah ambil aja!", ujar Lingga. Lalu ia memasukkan ponsel Galuh ke dalam saku celananya.
Galuh ternganga tak percaya. Bagaimana bisa Lingga menyuruhnya mengambil ponsel itu di saku celananya??? Gila aja!
Meski status mereka sebagai suami istri, tapi hubungan mereka tak pernah dekat. Bahkan baru bertemu lagi sekarang!
"Gila!", Galuh meninggalkan Lingga yang masih tersenyum meledeknya. Menyadari istri nya menjauh, Lingga sedikit berlari menghampiri istri mungil nya itu.
__ADS_1
"Hei, kok malah kabur?"
Galuh tak menggubrisnya. Kakinya yang pendek tak menyurutkan semangatnya untuk menambah kecepatan karena Lingga tak sulit menyusul nya dengan kakinya yang jenjang.
Lingga menarik salah satu bahu Galuh dan membuat gadis itu hampir terjengkang karena tarikan Lingga. Beruntung, Lingga menggapai badan mungil itu.
Keduanya sama-sama terpaku dengan pose seperti itu. Mereka merasa de Javu dengan pose yang dialami saat ini. Peristiwa yang menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan delapan tahun yang lalu juga berawal dari pose seperti ini hingga tanpa sengaja keduanya jatuh dengan posisi Lingga menindih tubuh Galuh. Itu dulu, tidak sekarang! Dengan cepat Galuh berusaha melepaskan tangan Lingga dari pinggangnya.
"Kemana?"
"Pulang lah! Aku bukan kamu, yang tidak perlu bekerja keras tapi tetap hidup layak."
"Luh, tolong beri aku kesempatan untuk memulai dari awal. Ijinkan aku buat menebus semua kesalahan ku di masa lalu. Aku janji tidak akan pernah ninggalin kamu!"
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana lagi biar kamu kasih kesempatan buat aku Galuh, istriku?!", keluh Lingga sambil meremas rambutnya sendiri.
Galuh memalingkan wajahnya tak ingin tergoda oleh wajah tampan suaminya.
"Kamu masih simpan kan surat pernikahan kita? Mahar jam tangan, cincin murahan dan uang tiga puluh ribu itu kan? Apa itu belum cukup untuk mengukur perasaan kamu sebenarnya ke aku ? Bukan karena semata-mata karena pernikahan dadakan kita kan?"
"Bagaimana dengan kamu sendiri?",tanya Galuh balik.
"Kalau memang tidak ada perasaan apa pun, untuk apa kita teruskan? Bukankah hanya akan saling menyakiti?",tanya Galuh.
"Tadi aku kan bilang, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Biarkan aku membuatmu jatuh cinta padaku Galuh!", lagi-lagi Lingga memegang kedua bahu gadis itu.
__ADS_1
"Anggap saja, kita sedang pacaran! Oke?", tanya Lingga.
"Ngga!",sahut Galuh cepat sambil melepas tangan Lingga dari bahunya.
"Oh, jadi kamu ngga mau ponsel kamu balik lagi? Tetap sama aku?"
Galuh menahan nafasnya dengan menggigit bibir bawahnya karena emosi dan kesal. Dan itu sangat menggemaskan di mata Lingga.
Lingga merogoh kantong nya , mengambil ponsel Galuh.
"Aku kembalikan, tapi setelah ini kita pacaran. Pacaran halal! Oke?",Lingga meraih tangan Galuh. Lalu ponsel itu diletakkan di tangan Galuh.
"Sekarang kita pulang!",kata Lingga menggandeng tangan istrinya itu. Galuh pun tak menolaknya. Dia pun sebenarnya ingin segera pulang, kasian anak-anak yang bekerja di rumah. Pasti kerepotan.
Keduanya sudah masuk ke dalam mobil. Dengan santainya Lingga bertanya pada sang istri.
"Pulang ke apartemen ku, atau ku antar ke warung makan mu?",tanya Lingga. Galuh menoleh cepat pada suaminya dengan hidung kembang kempis.
"Ngga usah melotot, oke! Aku antar ke warung. Berati nanti aku boleh nemuin ibu kan?",tanya Lingga pada Galuh. Galuh terdiam sejenak.
"Ngga perlu!",sahut Galuh.
"Kenapa????",tanya Lingga penasaran.
"Ngga apa-apa!",sahut Galuh singkat. Keduanya pun sama-sama diam menuju ke rumah Galuh.
__ADS_1