
Glen tak fokus menikmati makan siangnya bersama anak istri dan juga rekan bisnisnya sekaligus sahabatnya.
"Papa sakit?", tanya Zea karena ia melihat papanya hanya mengaduk-aduk makam di piringnya.
"Ngga sayang!", jawab Glen sambil berurai tersenyum pada anak gadisnya.
"Oh...kirain sakit!", kata Zea lalu meneruskan makannya.
"Kita balik ke kota kapan pa?", hanya Helen.
"Besok siang mau ngga? Kalo nanti malam, papa masih capek. Nanti sore kita jalan-jalan ke alun-alun. Biasanya ada semacam pasar dadakan. Kamu kan suka ke tempat kaya begitu sayang?"
"Iya kah? Ada pasar malam?",tanya Helen. Dia memang suka dengan pesta rakyat seperti itu.
"Benar Len. Apalagi ini malam Minggu, pasti bakal ramai banget deh!", Andre ikut komentar.
"Oke deh!", sahut Helen.
.
.
"Syam belum pulang ya?", tanya Sekar yang melihat jam dinding nya sudah menunjukkan pukul dua siang.
"Sebentar lagi kali Bu, namanya naik sepeda sama temennya", jawab Galuh yang sedang membaca artikel di benda pipihnya yang membahas seputar persalinan.
Selang beberapa saat kemudian, terdengar suara yang cukup nyaring. Seperti benda yang di lempar.
Belum hilang keterkejutan ibu dan anak itu, ia melihat Syam yang langsung naik ke kamarnya tanpa mengucap salam atau menyapa ibu dan kakaknya.
Tak lama kemudian, suara pintu dibanting pun terdengar dari kamar Syam.
"Syam...!", Sekar menyusul ke kamar putranya. Ia mengetuk-ngetuk pintu kamar Syam.
"Syam, kamu kenapa nak?", tanya Sekar di balik pintu. Tidak Sekar ketahui, anak lelaki tampan yang hampir menginjak remaja itu sedang menangis sambil menenggelamkan wajahnya di bantal.
Karena tak ada sahutan dari anaknya, Sekar pun kembali turun menghampiri Galuh.
"Gimana Bu? Syam kenapa?", tanya Galuh pada Sekar.
"Ngga tahu Luh. Syam ngga bukain pintu nya."
"Mungkin Syam capek naik sepeda kali Bu. Udah biarin Syam istirahat dulu!"
__ADS_1
Sekar dan Galuh kembali melanjutkan aktivitasnya.
Di lain sisi, Lingga baru saja mengirimkan beras ke pasar induk kabupaten. Dia memiliki sopir yang biasanya mengangkut berasnya, tapi berhubung sang sopir sedang sakit Lingga pun berkenan menggantikan tugasnya. Toh, yang menaik turunkan beras berkarung-karung bukan dirinya.
Lingga melintas di depan pabrik milik Glen, tanpa sengaja ia berpapasan dengan mobil Glen yang akan masuk ke penginapan yang ada di dekat pabrik. Karena mobil Glen yang akan masuk gerbang, Lingga pun menghentikan dump truk nya.
Di saat Lingga berhenti, ia menerima telepon dari istrinya yang mengatakan jika Syam pulang sekolah langsung masuk kamar tak seperti biasanya yang pasti selalu menyapanya.
Lingga pun berusaha menenangkan istrinya dengan alasan mungkin Syam capek ke sekolah naik sepeda pulang pergi.
Tanpa Lingga sadari, ada sosok yang tengah memperhatikannya. Glen! Lelaki sudah berdiri di samping pintu mobil Lingga.
Lingga sempat terkejut melihat Glen ada di sana. Bukan takut, tapi dia enggan berurusan dengan laki-laki brengsek sepertinya.
"Turun!", pinta Glen pada Lingga. Lingga pun turun dari truknya. Kuli angkut yang ada dibelakang sontak ikut turun saat melihat bos nya turun karena ada seseorang yang memintanya untuk turun.
Glen menoleh cepat pada orang-orang Lingga yang berpenampilan yah... begitu lah. Badan tak besar, tapi otot-otot mereka tercetak dan tak lupa badan mereka yang mengkilap karena keringat yang terpantul sinar matahari senja.
"Jadi, ini pekerjaan kamu di kampung ini?", tanya Glen dengan nada meremehkan Lingga.
"Iya. Ada masalah?", sahut Lingga datar.
"Begitu sikap kamu dengan om kamu?", tanya Glen kesal.
Glen sudah menduga, jika Syam ada di kampung ini berarti Lingga juga ada di sini!
"Abang, bang Lingga!", teriak Zea sambil berlari menghampiri Lingga.
"Ze...Zea?", Lingga cukup terkejut ada Zea juga di sini. Gadis itu menghampiri Lingga den memeluk nya penuh kerinduan. Tak lama kemudian, Helen pun turut menghampiri Lingga.
"Tante Helen!", sapa Lingga pada tantenya. Helen tak menyahuti apa-apa. Dia hanya menatap Lingga dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kamu pergi dari rumah, meninggalkan semuanya untuk jadi seperti ini Ga?",tanya Helen lirih.
Lingga tersenyum tipis, terserah anggapan tantenya seperti apa. Dia sudah tak peduli!
"Lingga bahagia Tante. Aku dan istriku serta keluarga ku, bahagia meski tak bergelimang harta dari papa!", jawab Lingga.
Anak buahnya tak menyangka jika bos nya adalah orang kaya sejak dulu. Padahal yang mereka tahu selama tiga tahun terakhir mereka bekerja pada Lingga, Lingga berjuang keras untuk sampai ke titik sekarang.
"Maaf Tante, Ze...Abang harus pulang dulu!", kata Lingga berpamitan pada Tante dan sepupunya tapi tidak dengan om nya.
"Abang tinggal di mana? Zea masih mau sama Abang!", rengek Zea. Sepupu kecilnya masih sama, manja dengannya.
__ADS_1
"Rumah Abang jelek Ze. Lain kali saja ya!", katanya sambil mengusap kepala sepupunya.
Lingga heran dengan perubahan om nya yang semakin arogan sejak mengetahui jika ia memiliki Syam dari perempuan yang ia lecehkan.
"Lho, pak Lingga!", sapa Andre pada Lingga. Lingga cukup mengenal Andre karena Andre sempat memesan banyak batako pada Lingga saat perluasan pabriknya.
"Pak Andre!", sapa Lingga sopan.
"Glen, Lo kenal sama si juragan?", tanya Andre pada sahabatnya. Bukan Glen yang menjawab, melainkan Zea.
"Bang lingga Abang Zea, om!", kata Zea pada Andre. Andre menautkan alisnya, bingung!
"Maaf pak Andre, kami permisi dulu!", pamit Lingga. Lalu ia menghampiri Zea yang sepertinya enggan untuk di tinggal.
"Abang!", rengek Zea.
"Lain kali, kita bertemu lagi Ze!", Lingga menepuk pipi Zea dengan pelan.
"Lingga...duluan Tante!", ujar Lingga pada Helen yang masih tak mau menyapa nya dengan halus. Padahal dulu keduanya begitu dekat satu sama lain.
Lingga pun meninggalkan keluarga Tantenya. Diikuti anak buah nya yang kembali masuk ke dalam bak dump truk.
Lelaki itu menekan klakson tanda menyapa mereka.
"Beneran dia sepupu Zea? Keponakan Lo dong?", tanya Andre pada Glen.
"Tepatnya, keponakan Helen, Dre!"
Andre mengangguk paham.
"Pantas dia hebat! Soalnya dia memang berbakat dan dari turunan orang hebat!", puji Andre yang tidak tahu masalah apa yang menimpa keluarga Glen.
"Hebat apanya? Dia hanya supir dump truk!", sahut Glen. Andre menoleh lalu tertawa pelan.
"Kalian kan saudaranya? Masa ngga tahu?", tanya Andre.
Helen, Glen dan Zea langsung menoleh pada Andre. Andre yang di pandang horor seperti itu pun salah tingkah.
"Serius? Kalian ngga tahu?", tanya Andre lagi. Tak ada respon apa pun dari Helen atau Glen.
"Gue kasih tahu. Pak Lingga, juragan beras di sini. Dia punya pabrik penggilingan beras. Kebun sayurnya banyak, dia juga jadi pemasok sayur dan beras ke kota-kota. Belum lagi pabrik batako dan batu batanya. Malah yang gue denger, dia juga punya minimarket sama kafe di kota. Hebat ya, masih muda tapi ladang bisnisnya luar biasa!", puji Andre.
"Benarkah???", tanya Helen.
__ADS_1
"Iya. Dan yang gue ceritain, orang yang udah nyumbang perbaikan jalan ini ya itu tadi... keponakan kalian. Hebat banget! Gue kagum sama dia!", kata Andre lagi.
Glen cukup terkejut mendengarnya. Sedang Helen sendiri berpikiran berbeda. Dia harus memberi tahu Gita jika Lingga baik-baik saja setelah ia keluar dari kediaman Arya Saputra.