Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 57


__ADS_3

Salim buru-buru mematikan ponselnya dari pada harus menunggu tuan besarnya ngomel.


"Kenapa kang?", tanya Bik Mumun.


"Ngga teh!", jawab Mang Salim.


"Oh, mau sarapan sekarang?", Bik Mumun menyajikan nasi goreng ke dalam mangkok besar.


"Nanti saja. Nunggu majikan bangun. Kaya mereka kecapekan di tambah suasananya dingin, jadi betah lama-lama di kasur ya teh?!"


"Heheh muhun. Di sini emang dingin. Tapi kalo diem wae mah, badan nya malah ngga enak."


"Ya maklum atuh teh, mereka kan orang kota. Apalagi non Angel malah baru datang dari luar negeri. Pulang ke Indonesia ngga tiap tahun juga."


"Oh, atuh bule dong ?",tanya Bik Mumun.


"Logatnya iya, tapi mukanya lokal kok. Kan anaknya kakaknya mas Lingga." Bik Mumun pun mengangguk paham.


"Saya ke belakang ya teh, mau liat orang kerja di ladang."


"Muhun, sok atuh...!"

__ADS_1


.


.


Sekar menyapu ruang tamunya. Tidak terlalu kotor, tapi sudah kebiasaan baginya menyapu ruangan. Karena dia bingung akan melakukan apa. Mau masak, Mumun sudah melakukannya.


Mencuci pakaian, sudah di giling mesin cuci. Paling menjemurnya pun nanti saat matahari terbit.


Kadang Sekar hanya mengurusi bunga-bunga nya di teras samping. Perempuan yang sudah tak lagi muda itu tetap cantik meski sudah mulai berumur.


Bunga-bunga yang ia tanam sudah mulai berbunga dengan berbagai macam jenis dan warna.


"Buk!", Galuh menepuk bahu Sekar.


"Kenapa Luh? Ada yang kamu rasakan?", tanya Sekar cemas.


"Ibu...ibu, kenapa kalian terlalu berlebihan seperti itu memperlakukan aku sih? Ngga ada Abang, ibu yang over khawatir begitu!", Galuh menduduki dirinya di bangku. Perempuan yang tengah hamil itu merajuk dengan wajah cemberutnya. Dan hal itu membuat sesekali di balkon atas tersenyum.


"Atuh bukan over namanya Luh. Ibu kan cemas. Lagi pula Abang ngga di rumah. Takut kamu teh tiba-tiba melahirkan. Ibu takut, kalo...kalo terjadi seperti dulu lagi. Ibu ngga mau kamu sama calon cucu ibu kenapa-kenapa."


Puja mengernyitkan alisnya, seperti dulu???

__ADS_1


"Insyaallah sekarang kami baik-baik saja ibuku yang cantik. Waktu itu kan memang sedang awal dan gawat-gawatnya pandemi Bu."


"Iya, ibu tahu. Tapi... seandainya saja penanganan kalian tidak terlambat karena kendala biaya, mungkin semua tidak akan begini. Cucu ibu pasti sudah besar."


"Ssst... istighfar bu. Ibu ngga boleh ngomongin kaya gitu."


"Tapi apa yang ibu katakan bener kan Luh? Coba bapak mertua kamu itu punya hati nurani sedikit saja, kalau tidak mau memandang kamu dan Lingga, setidaknya lihat lah calon cucunya. Tapi apa???"


Apa ini??? Apa banyak yang aku tidak tahu???? Puja bertanya-tanya sendiri. Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama Lingga kembali ke tanah air. Kenapa mama dan papanya tak memberi tahu apapun????


"Sudah Bu, sudah! Jangan di bahas. Galuh ngga enak sama mama, sama kak Puja juga. Mereka baik sama Galuh. Jadi, Galuh mohon. Lupakan semua yang sudah berlalu Bu!"


"Kamu kelewat baik Galuh?! Tapi kenapa papa mertua mu....!"


"Ibu, tolong! Galuh minta tolong. Tetap lah berpura-pura ibu tak tak tahu seperti apa papa mertua Galuh bu. Galuh tidak enak sama mama dan kakak ipar. Galuh harap, ibu mengerti maksud Galuh."


Sekar terlihat menarik nafas dalam-dalam.


"Demi kamu dan Abang, Luh!", kata Sekar lalu meninggalkan Galuh yang masih duduk di bangku taman.


Puja ingin mencari tahu semua yang sudah terjadi. Tapi dia harus menunggu Lingga terlebih dahulu. Karena Lingga harus menjelaskan semuanya hingga mereka berada di titik ini.

__ADS_1


__ADS_2