Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 154


__ADS_3

Lingga sampai ke rumah menjelang tengah malam. Janji nya yang hanya sebentar pada Galuh nyatanya tidak dia tepati.


Lelaki itu terkejut melihat sang istri yang sedang duduk menyandarkan punggungnya ke head board ranjangnya dan Ganesh berada dalam pangkuannya.


Sepertinya Ganesh meminta haknya dan Galuh sudah terlanjur ngantuk. Beruntung Galuh mendekap Ganesh erat. Ada bantal pengganjal yang meminimalisir Ganesh terguling.


Ada perasaan bersalah di sudut hati Lingga. Bisa-bisanya dia berjanji tidak akan lama pergi. Kenyataannya dia kembali hampir tengah malam dan pasti istrinya repot sendirian.


Lingga mengambil Ganesh pelan-pelan dari pangkuan Galuh. Meski sudah sangat pelan, tetap saja Galuh terkejut.


Mungkin reflek dan intuisi seorang ibu.


"Abang?", gumam Galuh lirih saat tahu jika suaminya lah yang mengambil Ganesh dari pangkuannya.


"Maaf Abang bikin kamu kaget Yang. Perasaan Abang sudah pelan banget ambil Ganesh nya."


Lingga meletakkan Ganesh di kasur mini nya. Tak lupa ia memasang selimut bayi untuk Ganesh.


Galuh menatap Lingga yang baru saja meletakkan Ganesh di tempat tidurnya. Menyadari sang istri terus menatapnya, Lingga duduk di samping Galuh.


"Maafin Abang Yang, tadi banyak yang harus Abang obrolin sama papa." Lingga mengusap kepala Galuh pelan.


Tapi tanpa di duga, Galuh menepis nya sedikit kasar dengan mata yang berkaca-kaca.


"Abang ijin cuma sebentar! Tapi apa? Ini udah mau pagi!", kata Galuh. Semarah apa pun ibu muda itu, dia tak ingin mengusik tidur sang putra.


"Iya, abang minta maaf sayang. Maafin Abang!", Lingga masih berusaha untuk membujuk Galuh.


"Abang ngga tahu tadi Ganesh nangis terus. Ganesh di gendong ibu juga masih rewel. Sampai Ganesh tidur sendiri karena capek nangis. Aku juga kasian sama ibu. Ibu udah gendong-gendong Ganesh terus. Aku minta ibu istirahat. Itu tugas aku, bukan tugas ibu! Apa aku belum layak jadi ibu bang?"


"Astaghfirullah Yang! Jangan bicara seperti itu. Abang minta maaf!", Lingga memeluk tubuh mungil istrinya.


"Abang ngga bisa di hubungi, telpon mama sama papa juga ngga di angkat! Aku ngga layak jadi ibu! Aku ngga bisa jadi ibu yang baik bang!!!", sahut Galuh sambil menangis di pelukan suaminya.


"Ya Allah, Yang. Abang minta maaf!", Lingga mengecup puncak kepala Galuh berkali-kali. Dia benar-benar merasa bersalah malam ini.


Ponsel Lingga kehabisan baterai, ponsel mama papanya pasti ada di kamar karena mereka mengobrol di ruang tamu tadi.


"Hiks...hiks...aku capek bang!", Isak Galuh.


"Istighfar Yang, astaghfirullahaladzim! Jangan ngomong seperti itu. Kamu ibu yang hebat, ibu yang kuat! Maafin Abang yang belum bisa sepenuhnya mendampingi dan ngertiin kamu. Maafin Abang!", Lingga mengecup berkali-kali puncak kepala Galuh.


Di peluknya tubuh mungil itu hingga beberapa saat kemudian, tak ada suara apapun lagi dari Galuh.


Lingga melonggarkan pelukannya sebentar lalu melihat wajah istrinya yang ternyata sudah tertidur.


Lelaki itu menghapus sisa air mata yang masih ada di pipi Galuh. Dadanya nyeri melihat istrinya bersikap seperti tadi. Ternyata psikis Galuh belum pulih.


Perlahan Lingga membaringkan tubuh Galuh sebelum membenarkan posisi bantal Galuh. Setelah melihat istrinya dalam posisi nyaman, Lingga pun bangkit lalu menuju ke lemari untuk mengganti pakaiannya.

__ADS_1


Setelah itu, ia pun tidur di samping Galuh dan memeluknya begitu erat. Lingga tak sanggup jika harus melihat Galuh seperti itu lagi.


Ganesh hanya bangun sekali. Itu pun karena pup. Lingga yang menggantikan diaper tanpa membangunkan Galuh.


Jam dua dini hari, Lingga bangun dan memeriksa Ganesh lagi yang masih tidur nyenyak. Galuh juga terlihat lelap dalam tidurnya. Dia mendengar mobil yang biasa angkut sayur.


Lelaki itu pun bangkit lalu keluar mengenakan sarungnya. Tak lupa ia mengambil beberapa lembar uang sebagai uang jalan pekerja kebun yang bertugas mengirim ke pasar induk.


Sesampainya di pintu belakang yang menghadap kebun, ternyata sudah ada Syam di sana.


Bocah kecil itu sudah membereskan pekerjaan yang harusnya di tangani oleh Lingga atau pun Galuh.


Mobil yang sudah penuh dengan sayuran pun berangkat. Syam masih berdiri melihat mobil pengangkut sayur itu menjauh.


''Dek!", panggil Lingga hingga membuat Syam menoleh.


"Abang?"


"Kan ada Abang, udah tugas Abang dek. Kenapa kamu malah ngeduluin Abang heumm?"


"Adek tahu Abang capek! Toh ini kan emang kewajiban adek!"


Lingga merangkul bahu Syam.


"Abang tidur lagi aja!"


"Kamu juga dek! Ini masih malam banget!", titah Lingga.


Lingga mengacak lembut rambut Syam. Mereka pun berpisah di depan tangga. Lingga menuju kamar nya di dekat tangga, Syam naik ke lantai dua.


Lingga pun melanjutkan tidurnya di sebelah Galuh yang saat ini tengah memeluk bayi mungil mereka.


.


.


.


Lingga sedang melipat sarung nya saat Ganesh terbangun. Galuh sendiri masih terpejam. Mungkin karena fisik dan mentalnya juga lelah hingga perempuan itu tertidur pulas.


Lelaki itu tak tega membiarkan putra nya menangis. Dan tangan kekar itu terulur mengambil Ganesh dari kasur mungilnya.


"Shhhh...Shhh...anak ayah udah bangun? Cup...cup...haus ya sayang?", kata Lingga menimang-nimang Ganesh.


Beruntung Ganesh mau menghentikan tangisannya. Yang Lingga tahu, bayi seusia Ganesh harus di susui dua jam sekali. Meski tidak semua sih, tergantung bayi nya juga. Tapi Lingga rasa, Ganesh memang lapar dan haus.


Jadi, Lingga terpaksa membangunkan Galuh.


"Yang! Sayang?", Lingga menepuk pelan lengan Galuh. Dan benar saja Galuh langsung bangun.

__ADS_1


"Pelan-pelan yang!", kata Lingga yang melihat Galuh terburu-buru bangun. Padahal dia tahu sekali jika luka di perut Galuh belum lah sembuh.


Galuh tampak meringis kecil.


"Ganesh udah bangun dari tadi bang?", tanya Galuh. Ia pun menoleh ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima pagi.


Lingga mengangguk dan tersenyum.


"Iya Yang. Susuin Ganesh yang, kayaknya haus sama lapar banget!", Lingga menyerahkan Ganesh pelan-pelan ke pangkuan Galuh yang sudah ambil posisi.


Tak berapa lama, Ganesh pun mendapatkan haknya. Bayi itu sangat kuat menghisap sumber kehidupannya. Galuh di buat meringis karena ulah bayi itu.


Lingga sendiri merasa ngilu melihat ringisan Galuh. Terlihat sekali jika Galuh merasa sakit. Tapi pelan-pelan Galuh pun mulai beradaptasi. Meski bibir nya sesekali meringis.


"Abang mau bikin teh, kamu Abang buatin susu ya?"


"Aku belom gosok gigi bang?!"


"Iya nanti kalo Ganesh udah selesai asi, Abang gantiin pegang Ganesh. Kamu bisa mandi dulu."


Galuh pun mengangguk. Lingga pun keluar dari kamar mereka. Galuh memandangi punggung kekar suaminya yang hilang di balik pintu.


Perempuan itu mendesah kasar tapi tangan nya terulur mengusap kepala Ganesh dengan lembut.


"Maafin ibu Nesh! Pasti ayah kamu kecapean semalaman."


Beberapa menit kemudian, Lingga sudah membawa segelas susu hangat untuk Galuh. Sedang untuk lingga sendiri, ia membawa teh manis.


"Udah bobo lagi Ganesh nya?", tanya Lingga yang duduk berhadapan dengan Galuh. Galuh mengiyakan dengan anggukan.


"Kenapa semalam Abang ngga bangunin aku sih bang?", tanya Galuh yang melihat diaper Ganesh ada di tempat sampah.


"Abang liat kamu capek banget Yang. Abang ngga tega banguninnya."


Mata Galuh berkaca-kaca lagi. Cepat-cepat Lingga meraih istrinya dalam pelukannya.


"Hei? Jangan nangis lagi Yang! Abang ngga suka liat air mata di pipi istri Abang yang cantik ini!", Lingga menghapus air mata Galuh.


"Kenapa Abang baik banget sama aku? Padahal semalam aku udah marah-marah ngga jelas sama Abang!"


"Sssstttt....ngomong apa sih yang. Udah, jangan bahas itu lagi. Pokoknya Abang yang salah, abang ngga akan ulangi lagi. Ya? Jangan dibahas lagi!"


Galuh mengangguk dalam pelukan suaminya.


****


10.05


Insyaallah dua bab ✌️

__ADS_1


Haturnuhun 🙏🙏🙏


__ADS_2