
"Ibu teh mondar-mandir kunaon?", tanya Mumun.
"Eh, ngga bik. Itu tadi Syam telpon katanya Abang nyuruh Syam nemenin Galuh di rumah sakit."
"Neng Galuh teu nanaon kan Bu?", tanya Mumun yang tiba-tiba ikut cemas karena melihat raut wajah Sekar yang tak biasa. Padahal... tidak tahu saja si Mumun apa yang majikannya rasakan. Bukan cemas, tapi sedang tegang karena akan bertemu dengan seseorang yang mengusik hatinya. Ciyeeee....😆
"Ngga apa-apa Bik. Cuma mungkin Galuh butuh teman ngobrol aja!", jawab Sekar berusaha tenang agar si bibik tidak bertanya lagi. Takut saja kalau terlihat oleh art nya tersebut, seorang Sekar sedang deg-degan padahal hanya mau ke rumah sakit, berdua mang Salim.
"Oh ya udah atuh, ibu siap-siap aja. Nanti kalau mang Salim datang, bisa langsung otewe hehehhe. Urusan rumah mah pasti beres sama Mumun!", kata perempuan bertubuh gempal itu.
Justru itu Mun, saya deg-degan kalo Mang Salim datang! Gumam Sekar lirih tapi dasar telinga Mumun yang kewarasannya di atas rata-rata pun mendengarnya.
Please, jangan kan Mumun tembok aja sekarang punya telinga kan??? 🤭
"Ibu deg-degan ketemu mang Salim?", Mumun memicingkan matanya dengan gaya detektifnya.
"Apa sih Bik? Aya-aya wae!", kata Sekar menoleh berusaha mengerjakan pekerjaan lain yang sebenarnya tak penting.
"Hayooo lho Bu, ngaku aja hehehe! Sama Mumun mah rahasia aman!", kata Mumun sambil pura-pura mengunci mulutnya.
"Bik Mumun!", Sekar sedikit malu dengan wajah memerah.
"Hehehe tuh kan ibu, udah ngga usah malu sama saya atuh. Saya juga tahu, mang Salim teh suka curi-curi pandang sama ibu. Pernah bibik tegur juga sih hehheeh?!", kata Mumun cengengesan.
"Hah?", Sekar menautkan alisnya.
"Si ibu mah ngga peka. Mang Salim kan kasep Bu, masih singel lain aranna?", Mumun mengetuk-ngetuk dagunya.
"Naon ah Bik!", kata Sekar tak sabar.
"Mang Salim mukanya ngga cocok jadi supir sebenarnya ya mungkin jadi pengusaha,kaya nya di panggil Aa masih pantes juga deh. Harusnya mah jangan mamang!", lanjut Mumun.
Sekar memutar bola matanya jengah. Mumun memang art nya tapi sudah ia anggap anggota keluarganya sendiri.
Bik Mumun terkikik pelan.
"Mang Salim ngga pede aja Bu, dia menyadari kalo dia cuma supir masa iya suka sama majikannya. Makanya dia minder, memendam perasaan sendiri lebih baik kayanya. Menurut mang Salim sih!", kata Mumun dramatis.
"Mulai ngaconya si bibik mah! Udah ah...dari pada dengar bibik yang omongannya ngelantur, mending siap-siap aja!", kata Sekar seperti seorang gadis yang sedang menahan malu karena di ledek oleh art nya.
"Ciye....ibu salting! Ngga apa-apa Bu, namanya jodoh ngga pandang kasta bu!", teriak Mumun saat Sekar memasuki kamarnya.
Bik Mumun menggeleng pelan. Dia tahu Salim menyukai majikan mereka, tapi karena statusnya... akhirnya Salim sadar diri. Dan ternyata... majikannya pun menyukai Salim. Bisa ia lihat jika akhir-akhir ini, Sekar terlihat lebih riang
__ADS_1
Padahal sebelumnya, Mumun tahu seperti apa seorang Sekar. Sikapnya seolah terlihat jauh lebih tua di bandingkan usianya. Sedang sekarang??? Sekarang nenek bercucu satu itu seperti gadis yang sedang jatuh cinta.
Mumun menggeleng sambil tersenyum.
"Semoga jodoh deh!", monolog Mumun sambil meneruskan pekerjaannya.
.
.
.
Sekar sudah rapi dengan gamis nya. Sudah gamis ke lima yang ia coba tapi yang terakhir lah yang jadi pilihannya saat ini.
Ia mendesah pelan sambil bercermin menatap wajahnya sendiri.
"Kamu sudah tua Sekar, sudah punya cucu! Apa masih pantas sikap mu seperti ABG labil begini?", tanya Sekar pada dirinya sendiri di cermin.
Tapi saat teringat ucapan Mumun tadi, tiba-tiba wajahnya kembali tersipu. Jadi selama ini....dia tak 'merasakan' sendiri.
Deru mobil yang ia kenal memasuki halaman rumahnya. Mendadak dia jadi salah tingkah. Ia mondar mandir di dalam kamarnya.
Tok...
Tok...
Tok...
Mulut Sekar ternganga mendengar panggilan dari Mumun di balik pintu. Perempuan cantik yang usianya hampir kepala lima itu hanya mampu menggeleng tak percaya jika art nya sedang meledeknya.
Sekar meraih tasnya lalu membuka pintu kamarnya. Bik Mumun sedang menyapu lantai entah untuk yang ke berapa kali nya.
"Jangan cemberut atuh Bu, pasang wajah senyum begini!", Mumun memberi contoh cara ia tersenyum dengan gigi yang tampak terlihat sempurna.
Sekar menggeleng pelan.
"Saya senyum, tapi ngga harus nyengir lebar begitu bik. Bukan bintang iklan pasta gigi!", kata Sekar. Bik Mumun terkekeh geli.
"Udah ah, saya pergi. Bibik kalo pulang jangan lupa kunci semua pintunya!", titah Sekar.
"Siap ibu ku anu gareulis!", sahut Mumun dengan tawa khas nya.
"Assalamualaikum!", pamit Sekar.
__ADS_1
"Walaikumsalam, hati-hati Bu! Bilang sama mang Salim jangan ngebut-ngebut biar lamaan sampai rumah sakitnya!",Mumun kembali meledek. Kali ini Sekar tak menanggapi. Dia langsung meninggalkan art nya begitu saja. Sekar lelah jadi bahan ledekan art nya sendiri.
Sekar menyiapkan mental saat membuka pintu ruang tamunya. Hal yang pertama ia lihat adalah Salim yang sedang menatap ke arahnya. Sekar berusaha untuk tersenyum agar tak terlihat canggung. Tapi....tetap saja...?!?!
Ya Allah, apa pantas setua ini aku masih berpikir untuk jatuh cinta? Batin Sekar.
"Maaf Bu, mau langsung berangkat?", tanya Salim pada Sekar.
"Ia mang!", jawab Sekar singkat yang tak berani menatap mata Salim. Salim mengangguk patuh. Dia akan membuka pintu belakang, tapi ternyata Sekar membuka pintu depan untuk dirinya sendiri.
Salim membuang nafas lewat mulutnya.
Ibu sengaja sekali membuat ku tremor! Batin Salim sambil menutup pintu untuk Sekar.
Sekar sendiri juga heran, kenapa dia malah memilih duduk di depan padahal sudah di bukakan oleh Salim???
Sekar memukul kepalanya sendiri hingga Salim masuk dan duduk di balik kemudi.
"Jalan Bu?", tanya Salim pada Sekar. Sekar mengangguk tipis. Lalu Salim pun melajukan kendaraannya menuju ke rumah sakit.
.
.
.
"Kakak mau syam beliin makan apa?", tanya Syam pada Kakaknya.
"Kakak lagi ngga pengen makan Dek!", kata Galuh berusaha tersenyum seolah menunjukkan dirinya baik-baik saja di depan sang adik.
"Kak, kakak ngga boleh sakit tahu! Kalo pas kakak sakit terus ternyata Ganesh di ijinin pulang, yang mau rawat Ganesh siapa?", bujuk Syam.
Galuh tersenyum, adiknya memang selalu saja punya alasan untuk memaksa nya.
"Ya udah, beli makan nya di kantin saja ya! Jangan keluar dari area rumah sakit!",pinta Galuh.
"Siap kak!", Syam pun meninggalkan Galuh yang masih betah berlama-lama di tempat ia duduk.
****
11.25
Segini dulu ya, terimakasih 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1