
Glen membanting pintu kamar ia menginap. Marah? Ya, Glen tidak hanya sekedar marah tapi juga kecewa. Dia tak pernah berpikir jika akan ada yang memanfaatkan momen tersebut. Tapi untuk apa???
"Mas!", teriak Helen yang tentu tidak akan terdengar oleh Glen yang sudah menghilang di balik pintu.
"Arghhhh!", Helen mengacak rambutnya dengan kesal. Bagaimana bisa Shiena merekam dirinya saat berada dalam klub malam. Oke! Jika itu hanya saat dirinya mabuk. Tapi... tidak hanya itu!
Shiena merekam video semau ucapannya dan yang paling menjijikkan adalah Shiena membiarkan dirinya di jamah oleh para lelaki muda yang entah siapa. Helen sendiri tidak mengingatnya bahkan dia saja tidak mengenal siapa para lelaki muda itu.
Wajar bukan jika Glen marah???
Selama ini Helen dikenal sebagai perempuan yang lembut dan beratitud baik di mata umum dan keluarganya.
Bagaimana jika video itu menyebar? Tidak hanya dirinya yang akan malu dan dirugikan tapi juga keluarga besarnya.
Lantas apa sebenarnya tujuan Shiena melakukan semua ini padanya?
Selama ini ia tak pernah berurusan dengan Shiena. Jangan kan bermasalah, hubungan pekerjaan pun hampir tak pernah terjalin. Tapi kenapa Shiena melakukan semua ini????
Glen sudah berjalan keluar menuju restoran dimana papa dan anaknya sarapan. Zea terlihat ceria bersama opa nya.
Baru saja Glen mendudukkan pantatnya, ponselnya berdering nyaring dari nomor yang tadi mengirim video.
Ponsel Surya pun berdenting menandakan ada yang mengirimkan chat.
[Hallo!]
Suara Glen sama sekali tak bersahabat. Sedang Surya sendiri mengeratkan rahangnya setelah menerima pesan yang entah dari siapa karena tidak ada nama kontaknya di benda pipih tersebut.
[Hallo? Anda siapa?]
Suara nyaring Glen yang terdengar emosi membuat Zea tersentak.
[Hallo Om Glen yang tampan!]
Glen menautkan alisnya. Dia tak mengenal suara perempuan yang menghubunginya.
[Kamu siapa?]
[Sttt jangan galak-galak dong Om]
[Saya tanya kamu siapa?]
[Aku? Mantan calon keponakan ipar eh .. apa ya tepatnya heheheh?]
[Jangan basa basi kamu siapa dan tujuan kamu apa?]
[Jangan galak-galak dong Om. Pantas aja Tante Helen sampai mabok begitu]
[Shiena?]
[Yupz!]
[Apa mau kamu? Kami ngga pernah ada urusan sama kamu!]
[Stttt....emang ngga ada sih Om. Cuma mau minta sedikit bantuan aja sih!]
Shiena mencoba untuk membuat kesepakatan.
[Maksudnya apa?]
[Bagaimana kalau kita ketemu aja Om!]
[Katakan mau kamu apa?]
[Ih, galak banget sih Om Glen ini! Oke, aku kasih tahu ya Om mau ku apa! Aku mau Tante Helen atau Om Glen membujuk om Arya agar mundur dalam tender besar Xxxx itu. Ayolah om, kalah tender sekali-kali buat perusahaan om Arya ngga bakal bikin dia jatuh miskin! Tapi....kalo foto dan video-video itu menyebar...bukan hanya Tante Helen yang malu kan? Tapi seluruh keluarga besar kalian dong! Apalagi...Tante Helen kan juga adik iparnya om Arya. Waaahh....apa kata kalangan pebisnis Om????]
Shiena tertawa puas meski tak mengeluarkan suaranya. Sebenarnya dia tak ada niat untuk memperalat Helena seandainya dia bisa membujuk Lingga waktu itu.
Beruntungnya, salah satu berondongnya ada yang menunjukkan foto dan video itu karena ingin bertemu lagi dengan Tante Helen.
[Bang***!!!]
[Oopss! Jangan kasar-kasar dong Om! Pikirkan dulu ya Om baiknya gimana? Bye om Glen yang ganteng]
Tut....Tut...Tut...
Sambungan terputus bersamaan pula dengan Helen yang menghampiri suami, mertua juga anaknya.
__ADS_1
"Mas...aku!"
"Cukup!", potong Glen dengan dadanya yang naik turun. Emosi Glen sungguh berada di puncaknya.
Shiena benar-benar memanfaatkan momen dimana kondisi Helen tak sadar. Bahkan tentang hadirnya Syam atas kesalahan di masa lalunya saja menjadi konsumsi orang lain.
"Papa ngga nyangka kamu sampai seperti itu!", ucap Surya lalu menggandeng Zea yang tidak tahu permasalahan keluarganya.
.
.
"Mang, ibu sama mama Gita udah di rumah sakit ya?", tanya Syam pada Mang Salim.
"Sudah den!", jawab mang Salim.
"Panggil Syam aja atuh Mang!", kata Syam.
"Atuh ngga sopan Den!", jawab mang Salim.
"Kenapa?"
"Kan Aden mah majikan saya!", kata Salim.
"Yang majikan mang Salim kan mama Gita. Bukan Syam!"
Salim tersenyum dan menggeleng pelan. Dia baru saja menjemput Syam dari sekolahnya lalu membawa Syam ke rumah sakit untuk menemui kakak dan keponakannya.
"Kak Galuh udah siuman belum ya?", gumam Syam tapi Salim mendengarnya.
"Alhamdulillah sudah Den!"
"Oh ya? Alhamdulillah!", sahut Syam tersenyum. Salim mengangguk pelan.
"Oh iya Mang, mang Salim orang Sunda juga?", tanya Syam. Entah sejak kapan bocah itu cerewet. Padahal biasanya agak susah berinteraksi dengan orang baru.
"Muhun den, mamang asli Bogor!", jawab Salim.
"Oh, Deket dong kalo mau mudik dari Jakarta. Anak istrinya di kampung juga mang?", tanya Syam.
"Heheh saya mah masih sendiri den. Keliatan udah tua banget ya?", tanya Salim sambil tersenyum.
"Hehehe atuh ngga apa-apa den", sahut Salim.
Suasana kembali hening. Salim hanya mengintip Syam dari spion.
Seandainya saja saya bisa menjatuhkan hati pada seseorang yang tepat Syam! Sayangnya, perempuan itu ibu kamu. Seseorang yang tidak mungkin saya gapai. Saya hanya seorang supir, Syam! Batin Salim.
Mobil yang Salim kendarai pun melesat menuju rumah sakit.
.
.
"Papa istirahat deh!", pinta Lingga.
"Heum, nanti papa ke hotel depan aja!", kata Arya.
"Kenapa ngga pulang aja Pa. Di rumah papa bisa lebih nyaman. Bisa istirahat nanti bik Mumun masakin papa."
"Ngga lah, kejauhan rumah kamu Ga. Lama kalo papa mau liat Ganesh!", sahut Arya.
"Ya Allah, Pa!", Lingga hanya menggeleng heran. Dulu papanya terlihat begitu membenci dirinya juga Galuh. Tapi lihat lah sekarang????
Sejak kehadiran bayi mungil itu, papa yang arogan dan galak nyatanya penyuka anak kecil.
"Oh ya, mama di kamar Galuh?", tanya Arya.
"Iya. Mama sama ibu yang nemenin Galuh."
"Kan papa sudah sewa perawat khusus buat bantu Galuh selama dirawat!", Arya mulai dalam mode sok berkuasanya.
"Pa, mereka juga butuh istirahat kali. Ya udah ngga apa-apa. Kan ada kita, anggota keluarga pasien."
Arya terdengar mendengus pelan. Lingga lagi-lagi menatap takjub pada perubahan sikap papanya.
Ting....Ting ...
__ADS_1
Ponsel yang ada di saku Arya berdenting. Ada seseorang yang mengirimkan video Helen mabuk parah dan bercumbu dengan para brondong di salah satu klub malam. Bahkan ada obrolan tentang rahasia keluarga yang justru Helen ucapkan di sana.
Arya tak langsung menghubungi balik si pelaku pengirim video tersebut.
Justru lelaki itu tersenyum miring seperti biasa. Bisnis memang kejam! Why....????
Arya tak perlu menebak siapa yang mengirimkan video tersebut. Karena dia yakin jika ujung-ujungnya pasti berhubungan dengan megaproyek yang akan segera di perebutkan oleh beberapa perusahaan besar termasuk perusahaan Arya sendiri.
Selama ini Arya selalu memenangkan tender tersebut dan sekarang ada yang ingin mencoba membuat dirinya mengalah hanya dengan sebuah video yang tak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
[Kamu pikir saya peduli?]
Arya mengirim chat tersebut lalu memasukkan ponsel itu kedalam sakunya.
"Ada masalah kantor Pa?", tanya Lingga yang ternyata juga tadi sedang berbalas pesan dengan Burhan.
"Heum? Bukan masalah besar. Oh iya, papa mau bertemu menantu papa!", ucap Arya. Lingga mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Ayo, Pa!", ajak Lingga. Lelaki beranak satu itu merasa seperti anak kecil lagi yang dekat dengan papanya. Pernah merasakan seperti ini! Tapi setelah ia menginjak bangku kuliah, papanya semakin tegas mencekoki dirinya dengan bisnis dan bisnis bahkan dengan jurusan kuliah yang ia tak suka. Beruntung saat di Kanada, ia memilih jurusan yang ia ingin meski tak sepenuhnya di pakai untuk pekerjaannya saat ini.
Sepasang bapak dan anak itu berjalan menyusuri lorong menuju ke kamar Galuh.
"Assalamualaikum!", ucap Lingga saat memasuki kamar Galuh.
"Walaikumsalam!", jawab ketiga perempuan di dalam kamar tersebut.
Galuh tampak salah tingkah melihat kehadiran papa mertuanya. Bagaimana tidak? Dia tak memakai jilbab di tambah lagi penampilannya yang....wah...'nggak banget' bahasa anak Jaksel mah 😆
"Pa, papa udah makan?", sapa Gita.
"Nanti papa makan di hotel depan saja!", jawab Arya.
"Papa ngga tidur dari semalam?", tanya Gita lagi.
"Ngga ma, pengen liatin Ganesh! Cucu papa!", jawab Arya sambil menatap Galuh yang juga sedang menatapnya.
Galuh tersenyum tipis.
"Anda sudah memberikan nama untuk cucu kita, tuan Arya?", tanya Sekar. Untuk pertama kalinya Sekar melihat senyum tulus seorang Arya.
"Iya. Itupun jika kalian berkenan, tidak keberatan", jawab Arya.
"Nama yang bagus kok Pa, bukan begitu Galuh, Bu Sekar?", tanya Gita. Galuh dan Sekar pun mengangguk setuju.
"Ganesh Rajendra Mahaputra", lanjut Arya.
"Nama yang bagus, khas orang Jawa!", kata Gita.
''Ngga cuma orang Jawa Ma, siapa pun bisa memakai nama itu. Itu mengambil bahasa sansekerta. Kalo mau tahu artinya cek Mbah Gugel saja!", kata Arya.
"Galuh yakin, papa akan memberikan nama yang terbaik untuk cucu papa! Tidak hanya nama panggilan, tapi sebuah makna dan doa yang terkandung di dalam nama tersebut."
Arya mengangguk tipis.
"Boleh bicara berdua dengan Galuh?", tanya Arya meminta persetujuan pada Lingga, Sekar dan Gita.
Ketiga orang itu saling berpandangan lalu menatap Galuh bersamaan. Galuh mengangguk tipis.
"Iya Pa!", jawab Lingga. Lalu ia mengajak mama dan juga ibu mertuanya. Tinggallah Galuh dan Arya di dalam ruangan tersebut.
Arya mendekati brankar Galuh. Posisi Galuh belum bisa sepenuhnya tegak karena jahitan di perutnya masih cukup nyeri. Tapi setidaknya hal itu saja sebuah prestasi melihat dirinya di operasi belum dua puluh empat jam yang lalu.
"Maaf!", kata Arya mengawali pembicaraan mereka.
****
20.38
To be continue 🤗🤗🤗
Maafkan daku klo aplot nya lama. Swearrrr di dunia nyata lagi sibuk pake banget. Para bocil perpisahan padahal mah lulus teka lulus esde tapi vibes nya kaya wisuda S1 😆😆😆😆
Kalian kaum mamak pasti paham lah ya
Jadi harap maklum klo up nya baru bisa malem.
Terimakasih....🙏🙏🙏
__ADS_1
Selamat berakhir pekan ✌️🙏🙏✌️🙏