
Cuma mau bilangin, baca nya hati-hati pakai hati 🤭
Selamat membaca....🤗🤗🤗
****
Penghuni rumah itu masuk ke dalam kamar mereka masing-masing, termasuk Arya dan Gita yang sedang menginap di sana.
Meski sudah masuk ke dalam kamar, nyatanya sepasang suami istri yang sedang perang dingin itu masih sama-sama diam.
Galuh meletakkan Ganesh di atas tempat tidur lalu ia mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi.
Jika biasanya dia akan berpesan pada Lingga agar menjaga Ganesh saat dia di kamar mandi, kali ini dia pergi begitu saja. Berharap suaminya akan pengertian tanpa di minta.
Lingga memandangi punggung istrinya yang hilang di balik pintu kamar mandi. Sebenarnya tanpa di minta istrinya pun, Lingga akan menjaga buah hati mereka.
Ada notif di ponselnya yang ternyata email dari Burhan. Seperti biasa, laporan bulanan yang baru selesai Burhan kerjakan.
Setiap selesai mengerjakannya, Burhan langsung mengirim laporannya entah itu sore, malah bahkan tengah malam.
Lingga berbalas pesan dengan Burhan. Dia akan mengecek pembukuan kafe dan minimarket setelah urusannya selesai.
Burhan tentu tak menanyakan urusan apa hingga bos nya memilih untuk mengeceknya nanti-nanti. Tak lama kemudian, Galuh keluar dari kamar mandi. Ia langsung merebahkan diri di samping Ganesh. Di keluarkannya dua sumber kehidupan Ganesh. Tidak dua-duanya, tapi salah satunya saja.
Ganesh yang sudah mulai mengantuk pun cepat memejamkan matanya di sela isapan nya pada sang ibu.
Lingga memperhatikan istri dan anaknya meski sibuk berbalas pesan dengan Burhan. Setelah merasa cukup , Lingga tak bertanya lagi pada orang kepercayaannya tersebut.
Lingga meletakkan ponselnya lalu beranjak ke kamar mandi. Ponsel Lingga berdering beberapa detik lalu berdenting.
Lebih dari lima menit suaminya tak keluar dari kamar mandi, dentingan ponsel suaminya kembali terdengar beberapa kali.
Setelah melepaskan hisapan sang putra, Galuh menghampiri ponsel suaminya. Dia hanya khawatir jika ada kepentingan mendesak mengingat sudah hampir jam sepuluh malam.
Galuh memicingkan matanya melihat rentetan pesan dari nomor yang tak di beri nama di ponsel Lingga.
Selama ini keduanya tak pernah menyimpan rahasia apapun di ponsel. Tidak ada yang curiga dengan pasangan masing-masing karena memang saling percaya.
Tapi entah kenapa sekarang hatinya sedikit tergelitik untuk membuka ponsel suaminya. Di baca nya pesan dari orang tak di kenal dengan pelan. Hatinya kesal bukan main membaca pesan dari seseorang yang sudah di pastikan jika berasal dari kaum hawa.
Tapi tak satupun pesan yang Lingga balas. Bahkan pesan itu di kirim sejak beberapa Minggu yang lalu.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Lingga cukup terkejut saat melihat sang istri tengah memegang ponselnya.
Lingga menghela nafas panjang lalu mendekati istrinya. Mendengar suaminya mendekat, Galuh meletakkan kembali ponsel Lingga. Dia bangkit dari duduknya di kursi meja rias.
Tapi Lingga menahannya dengan memegang lengan Galuh. Galuh pun menghentikan langkahnya menuju ke ranjangnya.
"Kita harus bicara!", kata Lingga.
"Bicara saja dengan mantan mu atau pengagum kamu!",sahut Galuh ketus.
__ADS_1
"Kamu???", tanya Lingga. Galuh memalingkan wajahnya. Lingga memaksa Galuh berhadapan dengannya.
"Kamu panggil Abang apa? Kamu???", ulang Galuh. Galuh tak menjawab pertanyaan suaminya.
"Begini kamu marah sama Abang?", tanya Lingga menatap mata istrinya. Galuh tak sanggup membalas tatapan suaminya. Dia menyadari jika dirinya tak bisa seperti biasanya.
"Yang, apa sebegitu salahnya kalau Abang ingin kita benar-benar mandiri Yang?", tanya Lingga lirih.
"Dari kejadian tadi harusnya Abang menyadari kalau memang sebaiknya kita di sini!", jawab Galuh.
"Jadi... sebenarnya dari awal kamu ngga mau kita beli tanah itu? Membuat rumah untuk keluarga kecil kita, iya?"
"Bang...!"
"Abang pengen kita mandiri Yang. Pahami itu!", kata Lingga mulai terpancing emosi.
"Di sini pun kita mandiri Bang. Kita memang berada di atap yang sama dengan keluarga Ibu, tapi kita tetap punya privasi kan? Lalu apa salahnya kita tetap di sini?", Galuh pun kembali ngegas.
"Oh...jadi selamanya kamu mau di sini? Jika selama ini ibu sendiri, Abang memaklumi. Kita pun merawat ibu sama-sama, ngga ada bedanya dengan ibu kandung sendiri. Tapi sekarang beda situasi Yang! Ibu juga punya keluarga sendiri. Kita..."
"Ibu kan ngga keberatan juga kan tinggal bareng kita bang!", kata Galuh kekeh.
"Apa salah, Abang ingin memberikan tempat tinggal untuk istri dan anak-anak Abang sendiri? Salah???", tanya Lingga.
Galuh tak menjawabnya.
"Yang... Abang juga pengen seperti papa, mendiang bapak yang menyediakan tempat bernaung yang nyaman untuk anak istri Abang. Kalau dulu Abang belum mampu, Abang memaklumi... menyadari. Sedang sekarang? Alhamdulillah kita punya rejeki yang cukup untuk sekedar membangun rumah sederhana Yang!"
"Lihat Abang, Yang?!", Lingga menarik dagu Galuh.
"Apa?", tanya Galuh yang seolah sedang menantang suaminya.
"Kamu masih kekeh dengan pendapat kamu? Tetap di sini?"
Galuh tak menjawab pertanyaan suaminya. Dalam sudut hatinya, ia pun memaklumi pendapat Lingga. Benar apa yang di katakan oleh Lingga. Tapi menurut Galuh, berada di atap yang sama dengan ibunya juga sebenarnya tak masalah.
Galuh takut jika nantinya justru ibu serta bapak tirinya akan berpikir yang tidak-tidak ketika keduanya memaksa untuk pindah dari sana.
Karena tak ada jawaban apa pun dari istrinya, Lingga melepaskan tangannya dari bahu Galuh.
"Baiklah! Lakukan apa yang kamu mau!", kata Lingga pada akhirnya. Dada Galuh naik turun mendengar ucapan suaminya barusan.
"Dan soal chat itu, seperti yang kamu tahu! Tidak ada satu pun yang Abang balas karena Abang tidak peduli!", kata Lingga yang berjalan ke sofa. Mungkin dia akan tidur di sana atau memilih mengecek laporan dari usahanya di jakarta.
Tapi ternyata, justru Lingga merebahkan dirinya di sofa yang panjangnya tak sebanding dengan dirinya yang tinggi.
Berbantalkan lengan sofa, Lingga merebahkan dirinya lalu menutup matanya dengan lengannya. Galuh mengusap wajahnya dengan kasar.
Mungkin kali ini Galuh harus mengalah. Apa yang suaminya katakan memang ada benarnya. Itu keinginan wajar seorang suami, seorang ayah yang ingin memberikan tempat untuk keluarganya.
Galuh melihat Ganesh yang masih anteng di posisinya. Akhirnya, ia mendekati suaminya.
__ADS_1
"Bang!", panggil Galuh yang jongkok di samping kepala suaminya. Tak ada sahutan apa pun dari Lingga.
Galuh memaksa menarik lengan Lingga untuk membuka matanya. Lingga mendengus pelan, tak mau menatap istrinya.
"Aku minta maaf bang! Maaf, belum bisa memahami Abang!", kata Galuh. Lingga membuka matanya, tapi tak membalas ucapan istrinya.
"Bang!", panggil Galuh sekali lagi. Sayangnya, Lingga masih bergeming.
Karena sikap suaminya begitu dingin, Galuh berinisiatif untuk memulai 'aktifitas' yang biasanya di sukai suaminya. Eh ... keduanya.
Perempuan itu langsung menarik diri tepat di atas tubuh suaminya. Lingga pun langsung membuka matanya karena terkejut dengan sikap istrinya tersebut.
Kedua pasang mata itu saling berpandangan. Galuh berinisiatif mengikis jarak. Lingga pun tak menolak apa yang istrinya lakukan.
"Maaf!", kata Galuh lirih. Tak ada jawaban apapun dari Lingga, hanya ada adegan iya-iya yang selanjutnya mereka lakukan hingga keduanya sama-sama menyalurkan emosi lewat kegiatan tersebut.
.
.
.
Syam memasuki kamar yang di sediakan untuknya. Rumah Glen tentu jauh lebih mewah di banding tempat dirinya tinggal di kampung.
Sebenarnya, Surya sudah meminta dirinya untuk menginap di rumahnya. Tapi, Syam mengingat ucapan Abangnya. Jangan sia-siakan usaha Glen yang ingin dekat dengannya.
"Istirahat ya Syam! Kamar papa di samping! Panggil papa kalo kamu butuh sesuatu!", kata Glen mengusap puncak kepala Syam dengan penuh kasih sayang.
"Iya Pa!", sahut Syam. Di melihat kamar seberangnya yang bertuliskan nama Zea. Gadis itu langsung memasuki kamarnya setelah tiba di kediaman Glen.
Mungkin terlalu lelah selama di perjalanan.
Begitu pula dengan Helen yang memasuki kamarnya. Mungkin sama lelahnya.
"Papa juga istirahat!", pinta Syam.
"Iya! Selamat beristirahat!"
Syam mengangguk pelan. Beberapa saat kemudian, Glen pun meninggalkan Syam yang juga menutup pintu kamarnya.
Bocah tampan itu memandangi kamarnya yang begitu mewah baginya. Dia meletakkan tasnya di samping lemari bergambar Batman.
Syam tersenyum melihat pigura yang bergambar dirinya dengan Zea dan Glen.
Semoga hubungan kita selalu baik-baik saja! Gumam Syam. Setelah itu, ia pun membersihkan diri lalu beristirahat.
*******
Kemarin ngga up. Entah hawanya sedang .....🤔😔
Betewe... terimakasih atas dukungannya selama ini. Semoga...masih bisa melanjutkan tulisan receh ini. Haturnuhun 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
18.51