
"Kita pulang besok pagi Pa?", tanya Gita.
"Heum!", sahut Arya sambil memainkan ponselnya. Ia sedang berkirim pede Surya yang mengatakan jika dirinya dalam perjalanan menuju ke rumah Lingga.
"Pa?", Gita mencolek lengan suaminya. Arya pun menoleh.
"Apa ada yang papa sembunyikan dari mama selama ini?", tanya Gita. Arya mendengus sekilas. Malas! Itu yang Arya rasakan. Dia enggan mengatakan apa yang seharusnya istrinya tahu.
Biarlah orang lain tetap mengecap dirinya laki-laki yang tak punya hati. Setidaknya, gengsinya tidak akan turun.
"Tidur lah ma! Papa sibuk!", jawab Arya. Gita menggeleng pelan lalu memeluk suaminya dari belakang yang sudah tak lagi sixpack.
"Terimakasih!", kata Gita. Arya yang tidak tahu makna ucapan terima kasih dari istri nya pun tak menanggapi. Ia meletakkan ponselnya di meja belajar Syam.
"Papa mau istirahat!", kata Arya sambil melepas pelukan istrinya yang sudah sama tuanya dengan dirinya.
Mau tak mau Gita pun ikut berbaring di atas ranjang bersama Arya yang memunggunginya.
"Mama tahu, papa baik! Tapi entah apa yang membuat papa seperti selama ini. Hanya papa yang tahu alasannya!", kata Gita yang tidur menatap punggung Arya. Sedang Arya sendiri sebenarnya belum mengantuk sama sekali. Ucapan istrinya tentu saja ia dengar dengan baik.
Arya mencoba mengabaikan apa yang Gita ucapkan. Tapi karena ia tidur cukup lama tadi siang, dia belum mengantuk sampa saat ini.
.
.
"Dek?", panggil Sekar pada Syam yang tidur sambil di usap-usap kepalanya.
"Iya Bu?", tanya Syam tanpa menoleh.
"Boleh ibu tanya sesuatu?"
__ADS_1
Syam mengubah posisi nya jadi berbaring.
"Tanya apa Bu?"
"Ehemmm!", Sekar berdehem sebentar.
"Boleh ibu tahu apa yang membuat kamu... dekat dengan tuan Arya?"
"Memang tuan Arya kenapa?", tanya Syam.
"Tidak apa-apa. Ibu hanya heran. Kamu jarang banyak bicara dengan orang yang baru kamu temui. Tapi...kenapa dengan tuan Arya yang baru kamu temui...kalian bisa sangat dekat?", tanya Sekar.
"Ibu! Ibu tahu tidak kalau tuan Arya yang sudah menolong kak Galuh saat ibu mau melahirkan Syam?", tanya Syam menatap mata ibunya. Sekar pun mengangguk.
"Iya, ibu tahu Syam. Karena... gara-gara biaya operasi ibu yang mahal, kakak kamu menjual ginjalnya."
Syam menunduk sesaat lalu mendongak menatap ibunya.
"Syam tahu, Syam mungkin memang belum dewasa Bu. Tapi...Syam paham dengan semua yang sudah terjadi selama ini. Syam bisa menerima jika dulu ibu sempat benci syam karena kehadiran Syam yang tidak ibu harapkan. Tapi...dari situ Syam 'dipaksa' belajar untuk dewasa oleh keadaan."
"Syam tidak pernah benci atau marah ke ibu saat itu."
Sekar mendekap putranya dan mencium ubun-ubun Syam dengan penuh kasih sayang.
"Dan soal Tuan Arya, Syam tahu kalau beliau orang baik. Sekalipun jika berbicara, suaranya keras dan kasar tapi beliau baik."
Sekar mengangguk perlahan.
"Ibu bisa bayangkan tidak seandainya saat itu kakak tidak bertemu dengan tuan Arya lalu menolong nya?"
Sekar menundukkan kepalanya tapi tak menjawab apa-apa.
__ADS_1
"Mungkin....ibu tak tertolong dan aku tidak pernah ada!", kata Syam.
"Tuan Arya sudah memberiku nama yang baik dan juga mengazani ku, Bu! Itu juga... tindakan seorang ayah kan?", tanya Syam. Jika membahas tentang ayah, Syam memang cukup sensitif.
"Abang sudah kamu anggap Abang dan ayah sekaligus kan?", tanya Sekar. Syam mengangguk.
"Iya. Abang laki-laki yang hebat. Syam mau seperti Abang!", Sekar mengusap lagi kepala Syam.
"Syam sudah hampir sebelas tahun Bu. Bukan anak kecil yang bisa di bohongi seperti ini itu."
Sekar menghela nafas panjang. Ya, anak bungsunya memang cerdas dan jauh lebih pandai di banding anak seusianya.
"Jika di tanya, apa Syam ingin punya ayah? Syam jawab iya Bu, dengan Abang, Syam merasakan kasih sayang yang mungkin lebih dari sekedar layaknya kakak ke adik. Tapi tetap berbeda Bu...."
"Saat bersama Tuan Arya, meski suaranya galak begitu...", Syam menghentikan kalimatnya.
"Apa kasih sayang ibu, kakak dan Abang belum cukup dek?", tanya Sekar.
"Cukup! Syam bahagia memiliki kalian!", jawab Syam. Sekar tersenyum tenang. Jika Sekar mau, sebenarnya banyak rekan bisnis Lingga yang mencoba mendekati Sekar. Sayangnya, Sekar lebih memilih sendiri sampai seusia ini.
"Ya udah, bobok dek. Besok sekolah?", pinta Sekar. Syam pun mengangguk pelan. Dia tak langsung tidur, pikiran bocah itu melayang ke mana-mana.
Di mata Syam, tuan Arya tetap lah orang baik yang berjasa dalam hidupnya. Perlahan, Syam ingin mencoba membuat tuan Arya luluh dan mau menerima kakaknya sebagai menantu dengan layak seperti yang mamanya Angel terima.
Lama kelamaan, mata lentik Syam pun mulai terpejam. Merasa sang putra sudah terlelap, Sekar mengusap kepala Syam lagi.
Sekar merasa bersalah sendiri. Andai dulu ia tak menolak pertanggungjawaban ayah Syam, mungkin Syam tidak akan merasakan hal pahit sejak dalam kandungan. Yang bahkan Sekar sendiri tak tahu jika akan ada Syam dalam rahimnya.
Perempuan berusia empat puluh itu pun hanya mampu menghela nafas. Semua sudah terjadi dan tidak bisa di rubah.
****
__ADS_1
Ada yang nunggu ga??? 🤭
Terimakasih 🙏🙏🙏