
"Ibu sama mang Salim kenapa kaya orang lagi berantem gitu?", celetuk Syam.
Sekar dan Salim hanya saling lirik tapi Sekar lebih dulu memutuskan untuk tidak menatap Salim lama-lama.
"Ngga kok, siapa yang berantem?", tanya Sekar balik.
Setelah itu Sekar masuk ke dalam rumah lebih dulu di bandingkan dengan Syam dan Salim. Jika biasanya Sekar mempersilahkan Salim untuk sekedar mampir minum kopi, tidak kali ini.
Wajar saja kan jika Syam mempertanyakan hal tersebut?
Syam juga melihat mang Salim agak berbeda cara memandang ibunya. Otak anak kecil itu cukup bekerja dengan cepat menyadari jika kedua orang tua itu sedang dalam kondisi yang tak biasa. Dalam artian yang positif tentunya!
Mungkin cerita pada Abangnya, dia bisa mendapatkan pencerahan 😄
"Saya langsung pulang ya Den!", pamit Salim.
"Ngga mau minum kopi dulu Mang? Nanti Syam yang buatin deh!", tawar Syam.
Anak itu mulai hangat pada siapapun sejak dia bisa berdamai dengan kondisi sekarang yang sudah di terima oleh keluarga kandungnya.
"Makasih den, lain kali saja. Permisi den, Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!", jawab Syam. Tapi sekelebat ia melihat ibunya tengah menutup tirai jendela saat dirinya menoleh ke arah rumah.
Syam menggeleng pelan, sebenarnya ibunya dan mang Salim kenapa? Batin Syam. Baru setelah itu dia masuk ke dalam rumah yang pintunya masih terbuka.
Karena tadi di mobil dia sudah tidur, saat ini hilang sudah rasa kantuknya. Bingung ingin melakukan apa, akhirnya dia memilih main ponselnya. Kalau mau nge-game PS, tidak seru kalo tidak ada partnernya.
Syam melihat story WhatsApp Lingga, foto suasana kafe yang ramai menjadi status wa abangnya tersebut.
Tanpa pikir panjang, Syam menghubungi Lingga dengan video call. Sekali dua kali dering, Lingga tak mengangkatnya hingga Syam lelah sendiri.
"Huffft...mungkin Abang sibuk!", monolog Syam sambil merebahkan diri berbantalkan kedua tangannya.
Tapi beberapa menit kemudian, Lingga yang menghubunginya balik. Senyum di wajah Syam pun langsung terbit. Dengan semangat ia meraih ponselnya.
[Assalamualaikum, Abang!] pekik Syam senang.
[Walaikumsalam, dek! Pasti lagi kepo sama suasana kafe ya?] ledek Lingga.
[Huum, rame ya bang!]
[Iya. Mau lihat?]
Syam mengangguk patuh. Lalu setelah itu Lingga pun mengarahkan ponselnya dengan kamera belakang. Terlihat suasana kafe yang memang ramai tapi tidak bikin sumpek.
Lalu, terlihat keluarga Lingga yang sedang berkumpul di meja. Jika tadi ia tersenyum lebar karena mengagumi kafe baru kakaknya, kini senyum itu memudar.
Terlihat sekali Zea dan Angel bahagia bersama para orang tuanya. Meski senyum itu memudar, bibirnya masih menciptakan lengkungan senyum tipis.
[Gimana dek, suka ngga?]
[Huum, Masya Allah banget kak. Syam suka]
[Lain kali kita ke sini bareng-bareng sama ibu, kakak sama Ganesh juga]
[Iya bang]
"Siapa yang telpon Ga?", tanya Arya.
__ADS_1
"Syam Pa!", jawab Lingga.
"Siniin, papa mau ngobrol!",pinta Arya.
Lingga pun memberikan ponselnya pada Arya.
[Hai anak ganteng?]
Arya menyapa Syam dengan ramah.
[Hai papa Arya]
Syam pun tersenyum menunjukkan gigi putihnya.
[Belum tidur jam segini sih?]
Arya melihat jam di tangannya, padahal di ponsel juga ada 🤭
[Heum, tadi abis dari kost kakak di mobil malah tidur. Jadi ngga bisa tidur deh sekarang]
[Oh...gitu!]
Tiba-tiba ada rekan bisnis Arya yang menghampiri Arya.
[Syam, papa ada rekan bisnis kamu ngobrol sama Abang dulu ya!]
[Iya, Pa!]
Glen cemberut melihat keakraban antara Syam dan Arya. Meski dengan Glen sendiri hubungan Syam sudah jauh lebih baik karena setiap harinya selalu video call, tapi dia masih ada rasa tidak terima saat Syam juga memanggil Arya dengan sebutan papa.
[Hallo Dek?]
[Eh iya bang. Abang masih sibuk? Kalo sibuk matiin aja telponnya!]
[Eum...Syam bingung nanyanya bang]
Lingga menautkan kedua alisnya.
[Bingung kenapa? Tinggal tanya aja apa yang bikin adek penasaran, biasanya gitu kan?]
Syam pun mengangguk.
[Iya sih. Cuma bingung ngawalin ceritanya gimana hehehe]
[Eh...dasar!]
Setelah itu Syam pun menceritakan tentang ibunya yang sekarang sering tersenyum dan terlihat bahagia.
Begitu pula saat Syam melihat mang Salim yang suka curi-curi pandang pada ibunya.
Lingga cukup terkejut dan sesekali menggaruk tengkuknya. Dia bingung menjelaskan pada adik iparnya karena semua yang Syam katakan barulah praduga.
Kecuali, Syam sudah konfirmasi pada salah satunya. Entah itu Sekar atau pun mang Salim.
[Emang orang pacaran suka berantem ya Bang?] tanya Syam tiba-tiba.
[Pacaran apa sih Dek???]
[Ya...ngga sih bang. Cuma heran aja tadi ibu sama mang Salim kaya lagi berantem. Diam-diaman gitu]
__ADS_1
Lingga semakin keras memijit pelipisnya. Adiknya sudah remaja, bukan anak kecil. Rasa penasarannya jauh lebih besar. Makanya, seusianya harus di dampingi agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang menyesatkan.
[Mungkin keduanya sama-sama lagi capek Dek, positif thinking aja. Oke? Udah malam gih, bobo! Ngga usah mikirin yang ngga perlu Syam pikirkan. Ya?]
[Huum, iya bang. Ya udah bang, Syam tutup ya. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Syam pun mencoba untuk memejamkan matanya agar bisa kembali tidur meskipun besok dia libur. Tapi dini hari nanti ada jadwal pengiriman sayuran dari kebun bawah sana.
.
.
"Kamu balik ke rumah lho Ga, kamu udah janji sama Mama!", kata Gita.
"Iya, mama!", jawab Lingga. Setelah kafe tutup keluarga Arya pun pulang. Begitu pula dengan keluarga Glen yang langsung pulang menuju ke rumahnya.
Arya dan Gita ikut ke dalam mobil yang Puja kendarai sedang Lingga lebih dulu ke minimarket untuk mengambil ranselnya. Burhan sendiri sudah kembali ke kost nya yang jaraknya tak terlalu jauh dari minimarket dan kafe berada.
Dua mobil beriringan memasuki halaman luas di depan kediaman Arya.
Vanes dan Angel lebih dulu masuk ke dalam kamar mereka. Sedang Arya , Gita dan kedua anaknya memilih duduk di ruang tengah.
"Ga, waktu Alex ke rumah mu dia sedang ngurusin bisnis penginapan di kampung mu kan?",tanya Arya.
"Iya, Pa. Kenapa?"
"Papa juga pengen bikin penginapan di sana."
"Uum, nanti aku tanya Alex deh Pa. Barangkali dia punya info orang yang mau jual tanah di sekitar situ."
"Oh ya Ma, menurut mama kita beli rumah yang udah jadi atau bikin Ma?", tanya Arya.
"Beli? Bikin di mana?", tanya Gita. Sebenarnya dia sudah tahu rencana suaminya, tapi Puja sudah menceritakan tentang Papa nya pada sang mama.
"Di kampung lah ma, biar papa bisa lebih dekat dengan Ganesh!"
"Oh, bikin aja kalo bisa yang sederhana Pa. Mama pengen gitu punya hunian kecil terus dekat sama sawah juga. Udah gitu, bikinnya dari bambu. Pasti dapat banget feel nya!", kata Gita sambil menepuk dagunya dengan telunjuknya.
"Papa kabulkan!", sahut Arya hingga membuat Gita tersenyum. Begitu pula dengan kedua anaknya yang sangat bersyukur papanya yang sudah berubah menjadi lebih baik.
"Maaf ma, pa, kak! Lingga masuk ke kamar dulu. Ini Galuh juga telpon!", pamit Lingga.
"Iya Ga, bibik udah beresin kamar kamu kok."
"Ya ma, duluan ya semua!", Lingga pun sedikit berlari menaiki tangga untuk mencapai kamar yang sudah sangat lama tak ia huni. Dia pun tidak ingin membuat sang istri terlalu lama menunggu Lingga menjawab panggilan teleponnya.
******
21.30
Selamat malam. Selamat beristirahat 🤗. Terimakasih ya ...
Oh ya boleh sharing g seee?
Kadang sebagai sesama reader (Mak othor juga reader karya othor lain lho 🤭), suka aneh gitu ada aja komen yang kasar-kasar gimana lah. Tidak di sini sih heheheh
Meski kadang yang di kasarin tokohnya, tapi kok kayanya gimana ya?Ngena ngga tuh sama si othornya 🤔🤔🤔🤔
__ADS_1
Dah lah...di kira ghibah online lagi 🤭🤭🤭🤭
Terimakasih banyak-banyak 🙏🙏🙏