Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 185


__ADS_3

Arya membaca pesan dari menantunya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Gita melihat senyuman suaminya yang beberapa bulan terakhir terlihat makin sering terlihat di wajah tampannya yang sudah mulai mengeriput.


[Papa juga senang, akhirnya kalian menemukan jalan tengah]


Begitu balasan dari Arya pada Galuh melalui chatnya. Setelahnya ia meletakkan ponselnya lagi di atas mejanya.


"Kayaknya seneng banget Pa?", tanya Gita yang meletakkan segelas air jeruk lemon hangat di hadapan suaminya.


"Heum, iya Ma. Lingga memang batal membeli tanah pak haji. Tapi....papa sempat bilang sama Galuh. Apa tidak sebaiknya mereka membuat rumah di sebelah rumah Sekar saja? Dan...ya...baik Lingga atau Galuh ternyata setuju."


Gita meraih telapak tangan suaminya lalu menciumi punggung tangan suaminya yang sudah tak kencang lagi kulitnya.


Arya menautkan kedua alisnya melihat tingkah nenek dua cucu tersebut.


"Maafkan kami yang selama ini tidak pernah memahami cara papa sayang terhadap mama juga anak-anak kita. Harusnya, sebagai istri...orang yang paling dekat dengan papa, mama lebih paham. Tapi..."


"Ssssttt....papa yang harusnya meminta maaf ma. Papa terlalu gengsi dan arogan selama bertahun-tahun. Nyatanya, apa yang baik menurut papa belum tentu baik menurut mama dan anak-anak kita."


Gita mendekatkan kepalanya di dada sang suami. Tangannya melingkar di pinggang Arya. Arya sendiri mengusap kepala Gita yang kini sudah berbalut hijab meski berada di dalam rumah karena mereka berdua akhirnya memutuskan untuk mempekerjakan orang untuk membantu mereka berdua di rumah sederhana tersebut. Tapi, di malam hari mereka tetap tinggal berdua di rumah tersebut.


"Syam mengirim foto dan video lagi ke Dufan dengan Glen. Syam keliatan senang sekali Ma!", adu Arya pada istrinya.


"Heum, syukurlah! Mama juga senang kalo Syam bahagia dan bisa menikmati liburannya di sana. Tapi...mama lebih senang lagi, Helen menerima kehadiran Syam di tengah-tengah keluarga mereka. Meski harus melewati banyak insiden, setidaknya saat ini hubungan mereka jauh lebih baik."


Sepasang suami istri itu pun masih mengobrol banyak hal. Dari hal-hal kecil hingga nostalgia masa kecil anak-anak mereka.


.


.


.


"Syam wa aku bang. Mereka lagi liburan di Dufan!", kata Galuh memberi tahu suaminya.


"Iya."


Jawaban Lingga sangat singkat. Bagaimana pun dia ingin mengecewakan istrinya padahal Syam pun mengirimkan foto dan video juga padanya.


"Oh iya Yang, gimana kalo sore ini kita jalan-jalan naik motor sama Ganesh?", tanya Lingga.


"Naik motor mah sanes jalan-jalan atuh bang!", kata Galuh.


"Ya... maksudnya mah... pergi gitu Yang...!", kata Lingga manyun. Tapi tangannya tetap bergerak memasukkan beberapa uang ke amplop yang sudah di beri nama karyawannya. Hari ini memang jadwal Lingga memberikan gaji untuk para karyawannya di pabrik.


"Hehehe iya Abang ku sayang!", rayu Galuh.


Singkat cerita, keluarga kecil tersebut mengendari sepeda motor mereka mengukur jalan kampung. Ini pertama kalinya Ganesh di ajak ala-ala sunmori 🤣🤣🤣 oleh kedua orang tuanya. Padahal cuma satu sepeda motor 🤭


Bayik berusia tiga bulan itu terlihat seperti boneka hidup karena di pakaikan jaket tebal plus topi rajut yang menutupi kepalanya. Meski jalan pelan, nyatanya angin berhembus terasa menerpa wajah ketiganya.

__ADS_1


"Dingin banget Yang, Ganesh ngga apa-apa?", tanya Lingga.


"Ngga apa-apa bang!", jawab Galuh. Lingga kembali memelankan laju kendaraannya. Jika Lingga biasa menempuh perjalanan ke pabrik hanya lima menit, kali ini dia harus berjalan lamban bak siput hingga membutuhkan waktu lima belas menit.


Kedatangan bos nya, para karyawan pabrik batako terlihat antusias. Apalagi, mereka bisa melihat wajah Ganesh yang begitu menggemaskan. Terakhir melihat Ganesh, bayi itu masih terlihat begitu mungil saat akikah beberapa waktu lalu.


Tak berbeda jauh dengan sambutan anak pabrik batako, di pabrik penggilingan beras pun sama. Meski bos nya jarang datang, tapi mereka tetap bekerja dengan baik.


Setelah satu jam berurusan dengan para pekerjanya, saatnya mereka bertiga benar-benar jalan-jalan menikmati sore.


Masih jam setengah lima sore. Matahari masih terlihat jelas bersinar di kampung yang sejuk itu. Sesekali mereka bertemu dengan para tetangga. Menyapa dan sesekali bertegur sapa Lingga lakukan. Alhasil motor mereka sering berhenti.


Tibalah mereka di sebuah tempat di mana mereka pertama kali di pertemukan hingga berujung menjadi pasangan suami istri hingga sekarang.


"Turun dulu Yang!", ajak Lingga setelah mereka berhenti di depan pondok atau sejenis poskamling itu.


"Mau ngapain Bang?", tanya Galuh heran meski ia pun menuruni motor dengan pelan karena sambil menggendong Ganesh.


Lingga memarkirkan motornya di tempat yang rata dan sedikit menjauh dari pinggir jalan untuk menghindari tersenggol kendaraan yang melintas di jalan tersebut.


"Mau bernostalgia Yang. Udah berapa tahun coba pertemuan pertama kita di sini?", tanya Lingga pada istrinya.


Galuh terdiam. Entah dia sedang mengingat-ingat atau memikirkan hal lain.


"Berapa tahun ya bang? Sebelas? Dua belas tahun?", tanya Galuh pada suaminya.


"Ngga apa-apa kamu lupa Yang, yang penting Abang ngga!", kata Lingga tersenyum. Meski sudah empat tahun di kampung, mereka baru ke tempat itu sekarang. Kenapa????


Biasanya hanya lewat, tak pernah berhenti seperti saat ini.


"Abang kecewa ya?", tanya Galuh. Lingga terkekeh pelan.


"Ngga lah, ngapain kecewa. Namanya juga lupa, manusiawi Yang!", kata Lingga merangkul bahu Galuh lalu mengajaknya ke pondok tersebut. Masih banyak yang tak berubah di bangunan tua itu.


Lingga menatap sekitar pondok tersebut. Masih rumput ilalang dan pohon karet yang mendominasi. Tak ada bangunan rumah yang ada di sana. Entah memang itu kebun milik Pemda atau milik perorangan. Nyatanya, sejak dirinya menginjakkan kaki di kampung tersebut bertahun-tahun yang lalu tatap tak berubah. Hanya kondisi aspal saja yang berbeda.


"Apa Abang pernah terpikirkan buat merubah bangunan itu?", tanya Galuh. Lingga menggeleng.


"Bukan hak milik kita Yang. Bisa saja Abang membelinya, sebagai tempat bersejarah untuk kita. Tapi...."


"Tapi apa????", tanya Galuh.


"Rasanya sombong sekali Abang membeli hal yang sepertinya tak perlu. Bukan tidak perlu atau tidak penting Yang. Tapi....sekalipun suatu saat nanti tempat ini beralih fungsi, ingatan Abang masih akan tetap sama!"


Galuh tersenyum dan reflek berjinjit mencium rahang suaminya.


"Cowok tengil yang menyebalkan dan blagu itu sekarang jadi bapaknya anakku! Padahal pertama kali ketemu... astaghfirullahaladzim!!!!", kata Galuh menggeleng tapi dengan senyumannya.


Lingga tertegun mengusap rahang yang sempat di cium istrinya. Meski sudah biasa seperti itu, tapi tempat dan situasi membuat ia melayangkan pikiran di masa lalu.

__ADS_1


Saat keduanya larut dengan jalan pikiran mereka masing-masing, seorang lelaki berambut putih tersenyum melihat sepasang suami istri itu. Lingga dan Galuh yang merasa kasian melihat kakek tua berjalan pelan dengan tongkatnya pun menghampiri kakek tersebut.


"Hampura bah, arek kamana? Sorangan?", tanya Galuh pada kakek itu. Kakek itu hanya mengangguk pelan.


"Arek ke tongoh!", jawabnya. Lingga menggaruk pelipisnya.


"Jauh ngga? Biar suami saya aja yang antar. Udah sore!", kata Galuh. Lingga tak keberatan jika harus mengantarkan kakek itu. Tapi... bagaimana dengan anak dan istrinya....?


"Ngga. Ngga jauh kok." Lalu kakek itu menatap sepasang suami istri itu bergantian.


"Tetaplah bersama karena meskipun pertemuan pertama kalian terlihat buruk, kenyataannya sekarang kalian sudah bahagia meski harus melewati banyak rintangan dan perih. Jangan pernah meragukan takdir!", kata kakek tersebut mengulas senyum lalu kembali berjalan meninggalkan keduanya sambil memegang tongkatnya.


Galuh dan Lingga sama-sama bingung mendengar penuturan kakek tersebut seolah dirinya tahu jika sepasang suami-isteri itu bertemu di tempat ini.


Setelah punggung kakek itu terlihat jauh, Galuh dan Lingga baru menyadari. Keduanya mengucek kedua matanya. Memastikan si Kakek tadi berjalan pelan dan di bantu tongkat tahu-tahu sudah ada di ujung atas jalan.


"Astaghfirullah Yang, tuh kakek manusia bukan ya Yang?", tanya Lingga pada istrinya.


"Bukan!", jawab Galuh asal.


"Lha...????", lingga tampak bingung.


"Manusia atuh bang. Lamun bukan jelema mah, kunaon?", tanya Galuh.


"Pake bahasa Indonesia yang baik dan benar Yang!", kata Lingga lesu.


"Yuk ah pulang, keburu magrib nanti bang! Kasian Ganesh. Pamali masih di luar mau magrib."


"Iya nyonya Lingga...iya!", Lingga menyalakan motornya lalu memutar arah ke arah kampung mereka.


"Kalo tuh Kakek manusia mah, harusnya masih kekejar Yang", celetuk Lingga.


"Ya Allah bang, masih bahas aja!", Galuh memegang bahu Lingga agar bisa naik ke motor. Lingga meringis tipis.


Kendaraan roda dua itu pun melaju ,niat hati ingin menyapa si kakek tadi sepasang suami istri itu tak menjumpai beliau. Entah berbelok di mana atau mungkin dijemput setelah tiba di tanjakan tadi.


"Mikir apa?",tanya Galuh menepuk bahu suaminya. Ganesh sedang meminta haknya meski sedang berada di atas kendaraan.


"Nggak apa-apa Yang !"


"Bohong! Mikirin kakek tadi ya ?",tebak Galuh. Lingga akhirnya mengaku.


"Positive thinking aja paling udah ada yang jemput", kata Galuh. Lingga pun mengangguk pelan meski dalam hatinya ia masih penasaran. kenapa????


Lingga seperti tidak asing dengan wajah kakek tersebut. Tapi siapa ???


****


Maaf ngga sengaja kehapus 😭🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2